BUDAK

taken from shutterstock.com
“Jadi, menurutmu ini layak disebut berita?” tanyaku pada Bang Madi agak kurang percaya.
Bang Madi, kawanku di desk kriminalitas memandangku dengan heran, kalau tidak bisa dikatakan agak aneh.
“Ada yang salah dengan pertanyaanku?” tanyaku lagi.
“Hmmm…sepertinya iya,” jawabnya,” berapa tahun kamu kerja di koran?”
“Seumur dengan anakku yang di TK, Bang.”
“Dan kamu belum tahu mana berita dan mana yang tidak?”
“Bukan begitu Bang. Maksudku…., sorry, kenapa kita mesti memuat berita seperti ini?”
“Kenapa?” Bang Madi berdiri dari duduknya dan berjalan ke arahku,” karena mereka suka membacanya dan koran kita laku!”
“Tapi…., kenapa? Kenapa kita mesti mengumbar kekerasan? Kenapa kita menjajakan aurat? Kenapa kita mesti….,” kata-kataku terhenti di tenggorokan.
“Kenapa tidak kau lanjutkan?”
“Coba Bang lihat ini. Janda dicekoki miras diperkosa enam belas berandalan. ABG penjaja seks tewas overdosis. Apa tidak ada berita yang lebih mendidik masyarakat?”
“Mendidik atau tidak, itu nomor sekian, Gus. Kita hanya perlu berpikir bagaimana koran kita laku, itu saja.”
“Tapi aku tidak setuju dengan cara pandang seperti itu Bang.”
“Koran ini tidak membutuhkan persetujuanmu untuk dapat terbit, Gus. Kalau kamu tidak puas, mungkin tempatmu bukan disini.”
“Sepertinya memang bukan disini tempatku,” kataku dongkol sambil pergi meninggalkannya.
”Datanglah kemari kalau kamu berubah pikiran!” masih kudengar Bang Madi berteriak.
Aku sudah tidak perduli lagi. Aku tidak akan pernah kembali. Tidak akan!
*****
Sepuluh bulan sudah aku resmi jadi pengangguran. Istriku mulai uring-uringan karena uang belanja tersendat-sendat seperti bantuan kemanusiaan yang entah nyangkut dimana. Uang pesangon sudah tandas sebulan yang lalu. Untuk menyambung hidup, terpaksa istriku sering lembur sampai pagi hanya untuk menyelesaikan jahitan agar uang jasanya dapat segera diminta. Atik, anakku satu-satunya, menjadi lebih sering rewel karena tidak pernah lagi dibelikan boneka mainan. Tidak ada lagi Barbie. Tidak juga Mister Bear. Kami tidak pernah lagi jalan-jalan ke shoping atau sekedar nonton film bersama. Tidak mampu lagi. Begitu mahalkah harga sebuah idealisme?
“Makan tuh idealisme!” jerit istriku suatu pagi saat kami sarapan seadanya. Tempe yang siap kurencah sontak melompat keluar dari mulutku.
“Sampai kapan Mas mempertahankan idealisme konyol itu? Sampai kita semua mati?” sembur istriku lagi.
“Sabarlah Wik. Aku juga tidak mau mati konyol. Sebentar lagi aku akan mendapat pekerjaan,” sahutku berusaha menghibur.
“Akan itu kapan? Besok? Lusa?” katanya mulai menangis.
“Yah…, entahlah,” jawabku sembari mengambil rokok dan pergi meninggalkan istriku yang masih ngoceh kesana kemari dengan tangis yang menjadi-jadi.
Dasar perempuan, maunya uang belanja beres terus, pikirku sambil melangkahkan kakiku ke taman kota. Mana pernah ia mau tahu perasaanku. Mana pernah ia tahu betapa ketakutanku menggila setiap kali menulis pembunuhan, pembantaian, perkosaan dan segala bentuk kesadisan. Mana pernah ia perduli betapa aku menggigil jijik setiap tahu ada pejabat korupsi dan aku harus menulis yang baik-baik saja, tentang reformasi, tentang clean government yang semuanya omong kosong belaka. Betapa aku ingin menangis dan memberontak setiap kali meliput kerusuhan yang membinasakan banyak jiwa tak berdosa, anak-anak yang terlantar tanpa makanan dan pakaian. Betapa aku ingin berteriak menantang dunia setiap kali ada yang mengulurkan amplop dan memesan tulisan yang baik-baik saja, seolah harga diriku hanya sebesar rupiah yang diamplopi. Mana pernah istriku mau mengerti semua itu. Mana pernah ia mau mendengarkan gejolak pikiranku.
Tapi salahku juga telah memilih istri yang hanya lulusan SMEA. Perempuan dengan otak dan cita-cita sederhana, menikah dengan pria mapan, punya anak, sedikit makan enak dan kadang pergi melancong. Sederhana sekali. Tidak perlu pusing memikirkan orang lain, apalagi idealisme. Orang lain kok dipikir, lha wong mikir diri sendiri saja pusing kok, begitu jawabnya setiap kali diajak diskusi. Bahkan, ketika orang ribut reformasi pun ia tidak ambil pusing. Mau reformasi, mau revolusi, atau apa kek, emang gue pikirin. Asal tidak repot nasi, beres sudah. Begitulah ia mengomentari berita di tv, yang kemudian mendarat ke sinetron.
Sinetron. Entah apa yang membuat istriku begitu tergila-gila dengan sinetron.
“Begitu loh Mas…, jadi lelaki itu yang lembut, sopan, penuh kasih pada istri”, begitu ucapnya setiap ada adegan yang sedikit romantis.
Romantis? Alamak…bagiku tak lebih dari stensilan picisan. Kadang aku tidak habis mengerti kenapa aku bisa memiliki istri bermental tempe seperti ini. Tetapi, entah setan mana yang merasukiku, setiap ia mengedip-kedipkan matanya, biasanya aku langsung menyerah. Mungkin inilah cinta yang logikanya tidak pernah dapat kumengerti. Sebenarnya aku atau dia yang bodoh, aku juga bingung.
Aku tersenyum sendiri mengenang kekonyolan-kekonyolan itu. Betapa aku sangat merindukannya saat seperti ini. Hal-hal yang kuanggap kelemahan itu yang membuatku tidak pernah tega untuk menyakitinya. Justeru sebaliknya, aku ingin menjaga, melindungi, membangun, serta memperbaikinya agar menjadi manusia yang lebih baik menurutku. Alangkah kasihan orang yang tidak mampu mencintai kelemahan dan kekurangan.
Teringat kelemahan istriku, aku bertekad harus mendapat pekerjaan lagi. Tak sabar mataku menelanjangi berlembar surat kabar yang memajang iklan lowongan pekerjaan disana sini, meski sebenarnya alergiku pada koran belum sembuh betul.
Dicari: sekretaris muda berpengalaman. Diutamakan berpenampilan menarik.
Dicari: sarjana teknik mesin…, insinyur pertanian…, staf akuntansi dan manajemen…
Mataku terus menari di antara deretan huruf.
Dicari: anak berumur lima tahun, hilang pada hari Senin…
Dicari: sopir pengganti…
Berita duka…
In memoriam…
Aksi massa, tiga orang tewas…
Mataku mulai pedih.
Tawuran pelajar…
WTS overdosis…
Perhatianku mulai bergeser ke artikel kriminal. Menjemukan. Semua masih seperti dulu. Aku letih. Tidak adakah irama hidup yang lebih menyenangkan untuk didendangkan? Bisnis media ini semakin hari semakin rakus melahap apa saja yang ada di dekatnya, pikirku dongkol. Koran kubuang ke selokan. Pekerjaan yang kucari tak kudapati. Aku pulang dalam kemarahan!
“Seharian ngelayap terus. Suami macam apa kau ini. Anak istri kelaparan di rumah, eh…malah enak-enak nongkrong!” sembur istriku penuh emosi.
Tanpa dapat kutahan, kemarahanku pun memuncak!
“Diam kau perempuan sundal! Kau pikir aku suka jadi pengangguran? Ngomong yang enak sedikit kenapa. Memangnya aku sudah gila?”
“Hu..hu..hu..”
Terdengar suara tangis. Anakku, Atik, mulai menangis.
“Lihat anak kita Mas. Lihat baik-baik,” istriku pun ikut meradang,”Atik butuh susu. Ia butuh uang untuk sekolah, untuk berobat. Sampai kapan Mas mau bertahan dengan idealisme konyol itu?”
Baru kali ini kulihat istriku semarah itu. Aku tidak pernah mengira kalau ia berani melawanku, hingga aku tergagap tak bisa bicara.
“Kalau Mas mau hidup bersih terus, Mas salah telah menikahi aku karena seharusnya Mas tinggal di tengah hutan sambil merenungi segala tetek bengek kebajikan. Seharusnya Mas tidak disini, karena disini tempatnya kenyataan. Kemunafikan, kebohongan, kebiadaban, egoisme dan segala sesuatu yang Mas sebut kebobrokan mental, itu semua adalah kenyataan yang harus diterima kalau kita tetap ingin hidup. Kecuali kalau Mas bisa hidup di dasar laut, itu lain perkara!”
Istriku nyerocos terus tanpa memberi kesempatan padaku untuk membela diri. Perempuan itu sungguh aneh, pikirku. Sepuluh tahun aku menikah dengannya, tapi aku tak pernah dapat mengerti apa yang ada dalam hatinya. Bagaimana mungkin ia yang begitu tergila-gila dengan sinetron bisa berbicara tentang kenyataan hidup? Tetapi kalau dirasakan, pendapatnya benar juga. Apa gunanya aku pusing memikirkan orang lain, sementara tidak ada yang perduli denganku. Tidak ada yang perduli ketika anak dan istriku kelaparan. Untuk apa aku bersikap jujur, sementara mereka berbohong padaku. Etika, kebaikan, moralitas agama hanya dijadikan tameng untuk menindas orang lemah sepertiku. Untuk apa aku menjadi manusia kalau ternyata aku hidup di antara budak harta.
“Jadi…, apa yang harus kuperbuat?” tanyaku melunak.
“Cari pekerjaan apa pun, atau…”
“Atau apa?” sergahku.
“Atau kita cerai!”
Masyaallah! Aku meloncat kaget bagai tersengat aliran listrik 220 volt. Seingatku, baru kali ini istriku mengancam cerai. Tentu ia tidak main-main. Tak pernah terpikir olehku untuk bercerai. Sebodoh-bodohnya ia, pantang bagiku untuk menceraikan istriku. Aku harus segera mencari pekerjaan. Sulit membayangkan jika aku harus hidup tanpa Nita, tanpa Tika. Bagaimanapun aku tidak ingin kehilangan mereka. Tokh aku hanya manusia biasa. Aku bukan nabi. Aku ingin berarti bagi anak dan istriku meskipun mungkin aku harus kehilangan kemerdekaanku sebagai manusia. Setidaknya aku tidak membunuh mereka dengan pikiranku.

*****
“Selamat bergabung kembali dengan kami Gus,” sambut Bang Madi setelah aku diterima kembali sebagai reporter harian Sinar Cahaya. “Aku yakin, kau pasti kembali.”
“Terima kasih, Bang,” jawabku lemah.
“Jadi, ngomong-ngomong, sekarang kamu sudah tahu apa itu berita?” tanyanya.
“Kurasa demikian,” kataku mantab. Aku benci sekali mendengar suaraku. Aku benar-benar telah menjadi budak.

Teluk Penyu, akhir Februari 2000.

7 tanggapan untuk “BUDAK”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s