Tiga Cerita, Tiga Peristiwa

Puisi Rara Wardhani

ilustrasi dari kaskus

Babak I :
Sekarang katakanlah, siapa yang sebenarnya sedang bersenandung lagu kemenangan, aku, kamu, kita atau mereka. Maafkan aku, tapi aku menikmati pertarungan ini, saat ribuan mata bocah, ribuan hati tak bermakna, ribuan jiwa melirik, meradang, melihat, memandang, dengan sebongkah penuh tanda tanya di dalam jiwa dan pikiran mereka. Seperti api dalam sekam yang siap membakar seekor kambing ukuran besar, Aku menikmati waktuku, saat para bocah berseradak seruduk seperti kerbau, berguling-guling seperti cacing dibawah panasnya terik matahari mencari jawaban tapi tak pernah pasti, oh ada apa gerangan dengan takdir-Nya kali ini. Di mana pun aku berada, aku adalah aku. Yakinlah bisik-bisik di antara rindangnya pepohonan yang lantas terbawa oleh angin dan terdengar olehku tak lagi memerahkan telingaku, pun kau berteriak lantang, wahai kau yang bernama aku, apalagi yang kau punya jika matamu pun tak lagi jujur. Lucu, aneh, dramatis, dengarlah kau yang bernama kau, tidakkah kau yang mencontohkan aku hingga tak seekor semut tahu beda mata (hati) yang jujur dan mata (hati) yang berlumpur.

Babak II :
Maafkan aku, tapi mata (hati) ini terampas dari tempatnya di saat hari naas itu ada seorang pujangga turun dari langit berperang melawan pendekar yang perkasa dan si pujangga memenangkan pertandingannya, menikmati peperangannya dan merampas mata (hati) ini dan tinggalah aku yang bernama aku tersiksa karena tak lagi bermata (hati). Oh sedih, oh merana hati, oh mengering jiwa, apalah arti jiwa jika tak berhati pun tak bermata, tak lagi jujur tak lagi telanjang hanya penuh tulisan bertuliskan hm karena, hm begini, hm begitu. Oh oh oh.. kembalikan mata (hati) kembali di tempatnya, agar aku yang bernama aku kembali bercerita tentang cinta lain yang menggelora liar di dalam jiwa raga dan tak lagi terpasung oleh sebuah peristiwa bernama ego.

Babak III:
Wahai kau sang pujangga, apakah ada dusta berkejaran dengan ego di dalam jiwa dan pikiranmu atau kau hanya sekedar permainan kata-kata tanpa makna bersembunyi di balik sebuah peristiwa bernama iba. Semoga kelak kau memahami, bila sebuah jiwa tanpa rasa tanpa hati hidup maka apalah artinya hidup. Dan disaat jiwa ini berbasuh luluh, peluh, bermandikan pedih, sejuta propagandamu itu makin meroket dan merobek hati. Duh Sang Maha, saat seorang pujangga sibuk berdusta, tidakkah KAU lihat ada air mata (hati) yang mengalir tak henti di pipi seorang perempuan mengisyaratkan sebuah luka yang dalam. Beginikah rasa bila seorang pengemis tua lapar dan haus berjalan gontai di depan sebuah toko roti, maka hanya bau saja yang mampu dirasa, hanya fantasi saja yang tercipta. Pedih, sedih dan luka.

Dan bacalah babak demi babak yang sudah tercipta maka tidakkah tidak ada yang bersenandung lagu kemenangan kecuali hanya senandung kesedihan yang tercipta.

Papua, 10 Agustus 2009

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s