Waktu untuk Menyendiri

Puisi Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com
Jika kau ijinkan aku bertanya, layaknya seorang sahabat yang lama tak bersua, baik-baikkah engkau dengan hidupmu? Di kedalaman waktu yang membentang, seringkali aku mengirim kata. Kutitipkan pada kicau kenari. Kadang lewat denting-denting dawai yang tergetar. Atau sesekali lewat deru denging di kepalamu kala kau merintih. Aku mengirim kata.
Kata yang sama saat aku melepasmu (atau saat kau meninggalkanku? Entahlah. Aku lebih suka istilah bahwa kita hanya tidak bertemu muka). Nyatanya kata itu masih sama: semoga hari-harimu berwarna. Tidak hanya kelabu. Tidak juga selalu ungu. Tetapi warna-warna surga yang berpendar-pendar meletupkan asa. Jika engkau tak mendengar kata yang kukirim itu, mungkin engkau butuh waktu untuk menyendiri. Menyadari kilau nirwana di pejam matamu.
Jika hari-harimu meradang gersang. Perih dan letih membaluri sekujur jiwamu. Ingatlah seorang ayah yang mengusap lembut helai rambut gadis kecilnya. Demikianlah aku membelai rambutmu dengan desir angin yang menyegarkanmu. Ketika tanganku terlalu lemah untuk menopangmu, pandanglah berjuta tangan yang terulur di sekitarmu. Yang kau perlukan hanya membuka pintu hatimu atas kebajikan yang mengalir di depan kemahmu. Jika kau masih juga merasa letih, mungkin kau butuh waktu untuk menyendiri. Menyadari tangan yang membelai dan menopangmu di hembus lemah nafasmu.
Jika hidupmu terasa hancur, berkeping serupa guci terbanting di kerasnya dinding. Lukislah kumpulan lebah madu yang pernah kau cecap manis madunya. Demikianlah cinta bekerja. Ikhlas, tanpa terburu-buru. Seikhlas sang pembuat guci mengukir jiwa ragamu. Kesabaran akan menyelamatkanmu. Memungut keping demi keping serpihan hidupmu. Merangkai kembali menjadi sesuatu yang baru, yang mungkin indahnya tak kan pernah kau tahu. Jika pun begitu dukamu meluruhkan dayamu. Telapak tanganku terbuka untuk setiap tetes air matamu. Atau mungkin kau butuh waktu untuk menyendiri. Menyadari seorang sahabat yang juga pernah hancur lebur sepertimu.
Jika di waktumu menyendiri, hatimu terasa sunyi. Camkan baik-baik di ingatanmu: jangan pernah merasa sendiri. Di sunyi hatimu ada sepi hatiku. Dan Dia ada untuk menemani kita.
Iklan

6 thoughts on “Waktu untuk Menyendiri”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s