Jangan Salahkan Jika Rakyat Kecil Berbohong!

image: 2.bp.blogspot.com
Sekali lagi kita terperangah adanya kasus ironis di negeri ini. Ny. Siami dan keluarga adalah pemicunya ketika prinsip-prinsip mereka bertentangan dengan kepentingan warga . Lalu beramai-ramai media massa (koran dan elektronik) termasuk pengamat moral menghakimi bahwa moral warga bobrok dan bahkan beberapa mencanangkan perlunya gerakan nasional kejujuran.
Saya tidak hendak mentertawakan perjuangan mereka yang mengutamakan kejujuran. Saya tidak hendak mentertawakan “kebodohan” Ny Siami dan keluarganya. Sungguh, saya juga turut prihatin dengan kondisi mereka. Tetapi saya juga harus tertawa sekeras-kerasnya. Mengapa? Karena di tengah hiruk-pikuk bahwa kejujuran itu penting TIDAK ADA yang bertanya mengapa yang dijadikan contoh dan diangkat media NY SIAMI? Mencermati isu itu, mau tidak mau saya jadi berprasangka buruk, bagaimana mungkin memperjuangkan kejujuran dengan mengelabui atau membuat pembodohan “bagaimana jujur yang seharusnya”.
Ada banyak korban-korban keculasan masyarakat di negeri ini. Ada banyak orang yang hancur karena jujur di berbagai instansi dan pelosok negeri. Tetapi mengapa Ny Siami yang diangkat? Apakah itu hanya kebetulan belaka media menemukannya? Mengapa bukan orang-orang penting yang diambil contoh sebagai tauladan bahwa kejujuran memang pantas diperjuangkan? Secara kasar media hendak mengatakan: lihat, orang kecil saja bisa jujur, mengapa kamu tidak?
Kejujuran dalam Belenggu Kekuasaan
Di mata saya, Ny Siami adalah wujud konkrit rakyat kecil yang benar-benar tertindas dari segi apapun. Lalu di mana letak pembodohan itu? Ketika orang lemah, tertindas secara politik, ekonomi bahkan tertindas dalam menafsirkan keutamaan, tetapi diposisikan untuk berjuang melawan masyarakat yang culas, pemilik kekuasaan yang tidak jujur, DI SITULAH pembodohan itu. Di tengah masyarakat yang serba kekurangan, mereka harus bertahan hidup dengan menjunjung tinggi keutamaan. Rakyat kecil harus fair play, tetapi pemilik modal dan kekuasaan boleh tidak fair play. Itulah yang saya sebut kejujuran dalam belenggu kekuasaan. Mengambil contoh pada titik akhir akibat dari satu persoalan menjadi sangat picik dalam kondisi Indonesia yang serba sakit.
Mari kita lihat posisi sekolah dalam persoalan itu. Mengapa mereka melakukan upaya “contek massal”? Apakah penganjur strategi contek massal dinilai tidak jujur di mata atasannya? Di situ muncul berbagai paradok yang tidak semudah mengatakan bahwa setiap orang harus jujur. Mungkin saja jika tidak dilakukan langkah “contek massal” akan berakibat pada kerusakan yang lebih luas karena banyaknya siswa yang tidak terselamatkan. Bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga kerusakan mental.
Perkembangan kejujuran membutuhkan situasi kondusif dari pemegang kekuasaan dan pemilik modal. Mereka juga harus jujur ke bawah jika menuntut yang di bawah berbuat jujur. Mereka harus memberi ruang yang lebih luas untuk berbeda pendapat demi menemukan kebenaran. Sangat tidak adil menuntut yang di bawah dengan alasan loyalitas pada kelompok, mereka harus jujur pada yang di atas, tetapi yang di atas bersikukuh, demi keutuhan komunitas, yang di atas boleh berbohong bahkan menyebarkan berbagai kebohongan. Ini tidak hanya berlaku pada sektor swasta, tetapi juga sektor pemerintah. Kejujuran justeru harus ditegakkan di mulai dari para pemimpin agama, pemerintah, bos-bos perusahaan, sehingga orang kecil mudah untuk menyerahkan loyalitas dan kejujuran pada siapa mereka mengabdi. Jadi, seandainya Ny Siami memilih tidak jujur, saya pun tetap mengerti pilihan itu. Karena sistem yang dibangun oleh orang-orang yang tidak jujur, dikelola orang-orang tidak jujur, hanya akan menghasilkan ketidakjujuran baru. Jangan salahkan jika rakyat kecil berbohong.
Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s