Adigang, Adigung, Adiguna

Renungan Agus Handoko

jika tidak mampu menjadi bintang di langit malam, jadilah sebatang lilin yang meneduhkan (retakankata)

Istilah adigang, adigung dan adiguna dikenal pada budaya jawa yang pada garis besarnya menunjukkan sifat sombong karena merasa memiliki suatu kelebihan. Kelebihan tersebut dapat beraneka ragam seperti kecantikan atau ketampanan paras, keelokan dan keindahan tubuh, status sosial – garis ningrat, keturunan priyayi atau bukan- dan bisa juga karena kepandaian ilmu pengetahuan serta kemahiran yang dipunyai. Sebagaimana tersirat dalam sebuah nasehat di komunitas jawa bahwa sifat adigang adigung dan adiguna hendaknya dijauhi dengan berpegang pada bahwa semua kelebihan hanyalah wujud kasih Sang Pencipta dan hanyalah sebuah titipan yang dikaruniakan Tuhan YME. Titipan yang sewaktu-waktu akan diambil dan diminta pertanggungjawabannya kelak.
Sifat dan perilaku Adigang sering kali digambarkan sebagai seekor menjangan atau rusa yang cantik menawan, elok rupawan dan bermahkota tanduk yang tiada duanya di dunia. Keelokan dan semua kelebihan penampilan wadag tersebut seringkali menggiring sang rusa memandang dirinya sendiri terlalu tinggi dan merasa paling berharga. Cara memandang seperti itu sering kali menjadikannya congkak, menyombongkan diri dan pamer kepada yang lain. Ia lupa bahwa karena tanduknya pula rusa mendapat malapetaka dengan dijadikan sasaran para pemburu. Ia juga lupa tanduknya yang indah begitu mudah tersangkut, terjepit di semak belukar yang kemudian menyebabkan kematiannya.
Sedang sifat dan perilaku Adigung dapat dicontohkan sebagai gajah yang besar dan kuat. Dengan segala keperkasaannya itu, ia merasa mampu melawan segala rintangan dari lawan-lawannya. Badannya gedhe ditakuti binatang lainya. Namun, apabila tidak disadari, kelebihan gajah tersebut juga menyimpan malapetaka bagi dirinya sendri. Gadingnya yang megah menjadi incara pemburu. Dan badan yang besar dan berat menyulitkannya menyelamatkan diri ketika terjerumus lubang buatan para pemburunya. Sifat adigung, mengandalkan kekuatan keperkasaannya semata sehingga tidak eling dan waspada akan marabahaya yang pada akhirnya mencelakakan dirinya.
Sifat dan perilaku Adiguna dianalogikan sebagai ular berbisa yang dengan racunnya mudah melumpuhkan bahkan membuat mati lawannya. Menggunakan kelebihannya dengan sembrono menjadikan ular dianggap sebagai binatang dan musuh yang berbahaya. Kesombongan yang bersumber dari kesaktiannya menjadikannya dimusuhi dan menjadi sumber malapetaka bagi dirinya.
Selain adigang, adigung dan adiguna di atas, jaman ini melahirkan juga adiwicara yang bisa dijelaskan sebagai sifat dan perilaku ceroboh dengan mengumbar pembicaraan. Seperti burung-burung yang berkicau ke sana kemari tanpa memperhatikan manfaat dan pengaruhnya terhadap yang mendengarkan. Dan seperti juga burung, jika kicauannya indah, burung itu akan dicari pemburu. Jika kicauannya buruk ia akan dibinasakan.
Tidak ada yang lebih pantas untuk dilakukan selain mencegah diri dari kesombongan karena berbagai karunia yang dimiliki. Eling lan wapada bahwa semua karunia hanyalah titipan Illahi. Semoga ramadhan kali ini memampukan kita semua untuk belajar mengendalikan hawa nafsu, berbenah untuk selalu sadar dan mawas diri agar menjadi lebih baik dan memberi manfaat bagi hidup dan kehidupan. Semoga. Selamat menjalankan ibadah puasa. Rahayu, rahayu, rahayu.
Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s