Kemuning

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

Aku ingin bercerita tentang gadis desa bermata air dan berambut api. Gadis itu bernama Kemuning. Gadis sekokoh beringin hanya saja daun-daunnya menguning.

Ilustrasi dari imgres
Saat musim laron beterbangan, ia tertawa riang. Itu petanda satu minggu ia tidak akan kesulitan mencari makan. Peyek laron yang gurih dari laron yang malang. Ia tidak merasa perlu turut bersedih sebab ia pun satu dari berjuta laron itu. Lahir, menatap api dan lalu mati. Ia tidak merasa perlu cemburu pada kunang-kunang. Sekalipun indah dan bercahaya, kunang-kunang tidak memberinya daya. Baginya, kunang-kunang tidak lebih dari jiwa-jiwa kesepian yang mencoba menerangi dirinya sendiri. Kasihan. Buat apa hidup jika hanya menjadi fatamorgana, batinnya.

Ia hanya paham bahasa kesunyian. Hidup dan tumbuh di tanah tanpa tuan. Bagi kami, ia adalah mimpi yang tak terjangkau. Ia cantik, tapi tak lagi bunga desa sebab ia adalah Kemuning, gadis bermata air dan berambut api. Aku beritahu, engkau akan teduh bila di dekatnya, tapi akan terbakar jika mencintainya. Suatu saat engkau harus mengenalinya.

Akhir Oktober 2011

One thought on “Kemuning”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s