kepada Ayah

Puisi Ragil Koentjorodjati
Ayah…
Ingatkah engkau ketika musim jagung menguning dan burung kepodang sibuk membangun sarang?
Engkau berkata kepadaku,

: seorang lelaki tidak boleh menangis.
: Kala panen gagal,
: Kala tikus dan babi hutan merusak ladang kita,
: Kala ditinggal pergi orang tua,
: Kala kehilangan orang tercinta,
: seorang lelaki tidak boleh menangis.
: Adalah dada lelaki tempat kubangan air mata bersemayam,
: namun bukan air matanya,
: Otot-ototnya tidak mengejang untuk melahirkan,
: Tetapi menggumpal menjadi bantal bagi bayi yang dilahirkan,
: Pundak lelaki adalah tempat tangan-tangan lemah bergantung,
: Jika engkau menangis bahumu lunglai
: Pandanganmu kabur
: Di benakmu hanya mendung
: Dan tanganmu sibuk menghapus air matamu
: Engkau kehilangan banyak waktu untuk membantu

Ayah,
Bermusim-musim panen telah berlalu,
Sungai-sungai kita tak lagi jernih,
Dan hijau lebih nyala di lukisan ruang tamu
Mendungku tak jua luruh
Meski aku paham sepenuhnya,
Pantang bagi lelaki untuk menitikkan air mata.

25 Nov 2011

2 tanggapan untuk “kepada Ayah”

  1. Kubangan itu juga perlu saluran untuk sirkulasi Mas, agar tertampung air yang baru, jika tak kau ijinkan mengalir keluar, kau akan merusak tanggulnya.
    Biarkanlah mengalir perlahan, dari pada merusak yang sudah kokoh.

    Aku kog jadi ikut merasa sedih ya 😦

    Suka

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s