CAKRA MANGGILINGAN: Harapan Sebuah Perputaran Menuju ke Arah Lebih Baik

Oleh: Rere ‘Loreinetta

Cakra manggilingan bagi sebagian masyarakat adalah filosofi atau keyakinan berputarnya roda kehidupan baik mikro maupun makro. Demikian pula dengan berputar dan terbatasnya kekuasaan.

Bentuk melingkar cakra manggilingan, atau bentuk lain yang tertutup itu dimaksudkan sebagai model membuat keseimbangan. Bila salah satu bagian tidak berfungsi sesuai peran dan atau kecepatan berputarnya, maka keseimbangan itu akan terganggu dan bahkan bisa hancur. Bilamana masih memungkinkan, akan dilakukan perbaikan (recovery) pada titik kerusakan itu hingga pulih kembali, atau terjadi keseimbangan baru.

Hukum alam Tuhan memang mengatakan sebuah kondisi tak stabil akan membuat ‘pergerakan’ untuk menuju kestabilan, tapi apa yang terjadi di alam hampir selalu, perjalanan menuju kestabilan itu menyebabkan ke ketidakstabilan-ketidakstabilan baru yang selisihnya justru semakin banyak ketidakstabilannya daripada kestabilannya.

Perlu dahi berkerut untuk memikirkannya memang, tapi begitulah teori itu. Pemahaman yang membuat pemikirnya konon menjalani kehidupan sufi dan tak henti-hentinya selalu memuja kebesaran Ilahi.

Mencoba membawa pengertian hukum alam ini kepada sebuah hukum sosial peradaban umat manusia. Yang tentunya juga semakin logis bila kita mengatakan bahwa ‘perjalanannya’ akan semakin tidak stabil tinimbang hukum alam. Karena yang terlibat di sini adalah umat manusia yang jauh dari sempurna pemahaman, akal, pikiran dan perilakunya tarhadap peri kehidupannya di muka bumi ini.

Sebuah ketidakstabilan yang ‘memaksa’ setiap orang untuk selalu bergerak, selalu berpikir, selalu mencari hal baru, selalu mencoba memperbaiki, dan di antara sekian banyak perbaikan di muka bumi ini, sebagian justru menimbulkan masalah baru, yang bisa jadi lebih besar membuat ke ketidakstabilan baru dari kestabilan yang diperoleh dari perbaikan sebelumnya, menimbulkan semangat untuk tetap bergerak, semakin berpikir, semakin mencari hal baru, demikian seterusnya.

Sebuah siklus yang terjadi pada sebuah komunitas peradaban sekelompok umat manusia pada satu daerah dan satu ras tertentu. Dan menariknya, perputaran siklus ini di daerah lain dan suku bangsa lain bisa berbeda, ada yang berputar cepat ada yang pelan, ada yang suatu ketika sebuah ras mencapai kejayaannya, sementara saat yang sama ras lain mencapai kejumudan. Dan di lain waktu, yang jaya menjadi jenuh, sementara yang di bawah, tumbuh membaik.

Itulah semua yang mungkin digambarkan sebagai kejadian ‘roda berputar’. Roda tak tampak yang begitu besar, menjangkau segala sisi kehidupan, baik yang bersifat hukum alam, maupun hukum sosial, dan melibatkan semua faktor yang ada di alam semesta ini.

Dan yang membuat kagum adalah ketika para filsafat dan budayawan Jawa dulu ternyata juga sudah melihat perputaran roda itu, dan membuat sebuah ungkapan pemikiran : CAKRA MANGGILINGAN

Ketika manusia mampu merubah diri k earah lebih baik dan lebih baik lagi,

Perkembangan potensi manusia tentunya tidak akan berkembang pesat apabila mental spiritual, dan pola pikirnya masih terbelenggu oleh sistem nilai yang diam-diam mengikat kesadaran dari dalam alam bawah sadar itu sendiri.
Agama pun sesungguhnya bukan untuk mengungkung mental, mengurung kesadaran dan kebebasan berpikir, serta membelenggu kemampuan jelajah spiritual manusia.

Sebaliknya, sungguh ideal di saat mana agama dipahami sebagai guidance (pemandu jalan) agar potensi dan prestasi manusia mampu mengembangkan kemampuan pikirnya secara maksimal, dengan orientasi yang terarah, bermanfaat sebagai berkah bagi alam semesta dan seluruh isinya.

Pada hakekatnya peran semua agama bukan bertujuan untuk membatasi perkembangan potensi diri, kreativitas dan inovasi manusia. Melainkan menjaganya agar jangan sampai inovasi manusia disalahgunakan sehingga membuat kerusakan-kehancuran di muka bumi. Sebagai contoh, bila kita percaya bahwa Tuhan itu berkah bagi alam semesta maka dinamit bukan untuk digunakan membunuh manusia lainnya, melainkan untuk menciptakan energi yang dimanfaatkan bagi kesejahteraan umat, serta menjaga dan melestarikan anugrah Tuhan berupa lingkungan alam.

Dapat dibayangkan besarnya prestasi apabila manusia mampu mendayagunakan potensi diri yang lebih besar lagi, hingga mencapai 50 %-nya saja. Sebab biar seberapa pun kemajuan dan kedahsyatan potensi manusia seperti contoh di atas, kenyataannya bagian yang 90% potensi masih terpendam di dalam diri dan dibiarkan sia-sia begitu saja.

Maka tugas masing-masing kita adalah bisa membuka, menggali, mengenali, mengembangkan, lalu memanfaatkan potensi diri lebih baik daripada hari ini.
Bukan untuk mengejar kepentingan pribadi, melainkan untuk menggapai kebaikan yang lebih utama, yakni menghayati makna berkah bagi alam semesta, dengan berprinsip memanfaatkan hidup kita agar berguna bagi sesama, seluruh makhluk, dan lingkungan alam.

Apabila prinsip ini kita terapkan dalam lembaga terkecil keluarga, niscaya keluarga anda akan harmonis, tenteram, selamat, sejahtera, dan selalu kecukupan rejeki. Kalis ing rubeda, nir ing sambekala.

Semoga kita semua akan terlindung dari segala kefakiran ;
fakir kesehatan, fakir harta, fakir ilmu, fakir hati nurani, fakir budi pekerti.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa :
Sebuah ketidakstabilan yang ‘memaksa’ setiap orang untuk selalu bergerak, selalu berpikir, selalu mencari hal baru, selalu mencoba memperbaiki, dan di antara sekian banyak perbaikan di muka bumi ini, sebagian justru menimbulkan masalah baru, yang bisa jadi lebih besar membuat ke ketidakstabilan baru dari kestabilan yang diperoleh dari perbaikan sebelumnya, menimbulkan semangat untuk tetap bergerak, semakin berpikir, semakin mencari hal baru, demikian seterusnya.

Sebuah siklus yang terjadi pada sebuah komunitas peradaban sekelompok umat manusia pada satu daerah dan satu ras tertentu. Dan menariknya, perputaran siklus ini di daerah lain dan suku bangsa lain bisa berbeda, ada yang berputar cepat ada yang pelan, ada yang suatu ketika sebuah ras mencapai kejayaannya, sementara saat yang sama ras lain mencapai kejumudan. Dan di lain waktu, yang jaya menjadi jenuh, sementara yang dibawah, tumbuh membaik.

Itulah semua yang mungkin digambarkan sebagai kejadian ‘roda berputar’

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s