Kejadian

Puisi Binandar Dwi Setiawan

Ternyata bukan hanya segala yang kau sadari saja yang diperhitungkan oleh aturan aturan kejadian, tetapi juga untuk segala yang tidak kau sadari, untuk segala yang kau anggap tidak ada, untuk segala yang kau pikir tak pantas dijadikan pertimbangan aturan kejadian. Bajingan, semuanya terlalu tidak terjangkau akal untuk terjelaskan. Aku lukis begini saja, mereka – faktor faktor itu, segala yang kau tahu, segala yang tidak kau tahu, segala yang kau kenal, segala yang tidak kau kenal, segala yang kau anggap ada, segala yang kau anggap tidak ada- bagaikan para anggota senat yang hendak merumuskan sebuah keputusan saling berebut mengajukan pendapat dan argumen, sedangkan keputusannya sendiri bagaikan kejadian yang terjadi. Sang kejadian, memutlak sedemikian kuat tak bisa kau sanggah, tak bisa kau interupsi.

Mungkin kau bisa mengatur rencana ini itu, tetapi ketika kejadian telah benar benar terjadi pas sempurna sesuai dengan yang kau rencanakan sesungguhnya itu sama sekali tak berhubungan dengan sang rencana yang kau lahirkan. Aku tak sedang menakut nakutimu, tetapi memang begitulah faktanya. Aku tak sedang mengurangi kebesaranmu, tetapi memang kau adalah sesuatu yang kecil, yang bahkan demi kehalusan bahasa maka kukatakan sebagai sesuatu, sejujurnya kau sama sekali bukan sesuatu. Aku mohon, jangan kemudian lantas bertanya, “Siapa aku…?”, kau tak pantas untuk pertanyaan itu.

Ketika kau berdiri, kepalamu hanya akan dipukul untuk kau menunduk, ketika kau menunduk, punggungmu hanya akan dipatahkan untuk kau membungkuk, ketika kau membungkuk, sendi sendimu hanya akan dilepas dari tempatnya untuk kau menyungkur. Ancuuk, memang begitulah faktanya, semakin banyak kehidupan yang kau keras kepalai untuk kau hidupi, semakin banyak pula pilihan cara untuk membunuh kehidupanmu. Maka putuskan segera, apa yang kau pilih, mati dibunuh atau membunuh pembunuhanmu. Iya, menjadi kekallah, itulah impian para pemberani.

Ini bukan tentang penderitaan atau kebahagiaan, bukan tentang pesimis atau optimis, ini tentang kejadian dan ketidakpantasan yang dijadikan menuntut tentukan apa yang terjadi.

Kau tak berarti apapun. Tak menguasai apapun, tak memiliki apapun, tak memberhaki apapun. Ada yang sudah benar benar ada dan tak bisa mungkin disifati dengan ketiadaan, sedangkan kita tak lain hanyalah keadaan yang diingini semata. Maka kaulah wujud keinginan itu, dan bukankah keinginan dalam geraknya yang bagaimanapun tetaplah merupakan pelayan dari yang memilikinya. Semoga kau kini tahu, dan tak dikalahkan oleh tangismu.

Menjadi bebaslah kekasih, jangan pandang para ironi sebagai rantai yang membelenggumu. Sayang , kau memintaku menjadi diriku sendiri, dan kau tahu, satu satunya cara menjadikan aku sebagai diriku sendiri adalah dengan menjadikanmu sebagai dirimu sendiri. Jika kau tahu betapa rindunya aku terlepas darimu, mungkin kau akan segera pergi. Sayangnya yang kau tahu hanyalah bahwa aku begitu mencintaimu, ketahuilah aku, kenalilah aku sekeras kepala aku berusaha mengenalmu. Bahwa aku sesungguhnya menguasai, bahwa aku sesungguhnya memiliki, bahwa aku sesungguhnya memberhaki. Bahwa kau dan aku tak bisa bersatu dan tak bisa berpisah itu benar adanya, tetapi bukankah kau tahu jika fakta itu tetap saja tak mencegahku menantangmu menjadi pemberani.

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s