parade orang

Torsa Sian Tano Rilmafrid*

Cerita Bersambung Martin Siregar

Bagian 1.
parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

Tigor memang sudah sangat acap hidup dalam kondisi yang menegangkan. Anak polisi yang tinggal di pinggir pantai penuh dengan berbagai kasus kriminal penyelundupan barang antar Negara, menempa dirinya bermental baja keras tidak cengeng. Bapaknya termasuk polisi bermoral. Tidak seperti kawan-kawan sejawatnya. Walaupun polisi berpangkat rendah, tapi bisa saja hidup mewah sejahtera kaya raya, karena dengan gampang menawarkan diri menjadi pelindung para toke-toke penyelundup yang memasukan barang ilegal dari Melano ke negara Trieste. Bapak Tigor hidup seadanya, tidak mau jadi kaki tangan penyelundup hingga sering dituduh oleh sejawat maupun keluarganya sendiri dengan sebutan : Bapak Sok Moralis. Ia sama sekali tidak tergiur ikut dalam kancah kaki tangan penyelundupan antar negara.
Ketika abang sulung Tigor tamat dari SMA, secara mendadak Bapaknya minta pensiun dini. “Lebih baik aku berladang menanam semangka dan mangga golek, daripada sekantor dengan manusia manusia bejat di kantor polisi busuk itu” kata Pak Kurus. Maka sejak Tigor SMP kelas 2 catur wulan 2 tahun 1975, di tanah leluhur Pak Kurus, bapak kandung Tigor menghabiskan hari-harinya bersama istri tercinta. Bertani seperti ketika mereka masih muda.
Tentulah pelabuhan bebas Pangkoper harus menciptakan kondisi kota yang mampu memfasilitasi kebutuhan para pelaku berbagai jaringan penyelundupan. Seluruh kota penuh sesak dengan tempat-tempat hiburan semarak kegemerlapan malam, ramai gadis penghibur para pelaku bisnis penyelundupan. Tempat semua pihak yang terlibat bercokol setiap malam melakukan transaksi sambil menikmati hiburan. Mulai dari preman kelas kambing peminum tuak murah sampai kelas mafia kaliber puluhan milyar, tentara dan polisi pangkat rendah sampai ke tingkat perwira tinggi berkeliaran memenuhi seluruh sudut kota Pangkoper.
Kota Pangkoper semakin semarak lagi, karena di kota yang sama itu para nelayan penangkap ikan dalam jumlah besar juga melakukan transaksi. Paling sedikit setiap bulan terjadi pembunuhan sesama nelayan dan pembakaran pukat harimau oleh nelayan tradisonil. Berbagai asal usul daerah tempat tinggal nelayan berkecamuk hiruk pikuk di tengah laut saling sikut menyikut berlomba menangkap ikan.
Oleh sebab itu dengan mudah ditebak, bahwa Pangkoper pastilah sebuah kehidupan kota yang penuh dengan kasus-kasus kekerasan kriminal sadistis. Demi untuk menyelamatkan barang selundupan mobil mewah, elektronika, narkoba, sampai dengan penyelundupan mainan anak-anak berharga murah, adalah penyebab utama dari pertikaian antar anak manusia sepanjang waktu di kota Pangkoper.
Saut Hasudungan, abang sulung Tigor, memang ditawarkan Pak Kurus untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Tapi, sebagai tindakan protes terhadap bapak kandungnya yang sok moralis itu, Saut Hasudungan lebih memilih sebagai pengusaha kedai tuak. Walaupun dia sadar, kehidupannya kelak kemudian hari pasti lebih sejahtera apabila menerima tawaran bapaknya masuk ke perguruan tinggi.
Sedangkan adiknya, Rosita Dameria, tamat SMA tahun 1977 kebetulan berotak encer dengan senang hati menyambut tawaran bapaknya untuk melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di ibukota propinsi Rilmafrid. Sebuah perguruan tinggi ternama di negara Trieste. Anak bungsu keluarga itu adalah Tigor, sama sekali tidak tertarik dengan pola hidup kedua orang tuanya yang menghabiskan waktu bercocok tanam sepanjang hari.
Tapi, walaupun begitu, moral bapaknya yang dituduh sok moralis, secara utuh lengket di dalam jiwa Tigor. Tigor tidak merokok apalagi minum minuman keras berpesta pora narkoba seperti kawan-kawan sebayanya. Kegemarannya sepulang sekolah adalah ngobrol dengan para nelayan di rumah gubuk pinggir pantai. Melalui dialog intens, Tigor dengan tekun menguras segala informasi tentang kehidupan para nelayan yang miskin papa sengsara. Dan, ikut menghujat pejabat negara yang terus menerus melindungi pukat harimau dan segala bentuk penyelundupan di pelabuhan bebas Pangkoper tempat Tigor dilahirkan. Kebiasaan Tigor berikutnya adalah membaca novel. Seluruh novel karangan Mario Fuzo bertema intelijen dan kehidupan mafia Italia sudah habis digarapnya.

bersambung…

*)Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’
Iklan

6 tanggapan untuk “Torsa Sian Tano Rilmafrid*”

  1. Suka dengan tema cerita, gaya penulisan yang lugas dan pemilihan katanya. Sambil menikmati kopi saya membayangkan andai cerita ini menjadi sebuah novel, pasti akan jadi novel cadas. Silahkan bang Martin, kemaslah ini dalam bentuk novel.

    Ulurlah cerita ini sepanjang dan senyata mungkin, agar terurai segala kisah yang katanya basi yang rapat disembunyikan di ruang kaca.

    Karena disembunyikan di ruang kaca tentu kita bisa menatapnya dari luar, entah dengan berlinang airmata atau dengan gemeletuk gigi. Menyalin kisah-kisah dalam ruang kaca itu sedemikian rupa, itulah yang kulihat dari tarian jemari bang Martin dalam tulisan ini. Apa adanya…

    Suka

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s