berjalan di kegelapan

KEBADHEGAN HIDUP

Cerpen John Darsanto
berjalan di kegelapan
Ilustrasi dari blogspot.com
Ada dua orang pemuda tengah berjalan di sebuah jalan kecil desa. Mereka sudah bersahabat lama. Sambil berjalan mereka tengah serius membicarakan tentang siapakah dirinya di hadapan Tuhan. Dan hari itu mereka sepakat berangkat ke sebuah desa kecil terpencil di ujung jalan kecil itu untuk menemui penasehat saktinya.
Kedua pemuda itu memiliki beberapa kesamaan dan perbedaan pandangan dalam melihat eksistensi hidupnya. Kedua pemuda itu sama-sama percaya kepada Tuhan. Juga sama-sama tidak beragama. Mereka sama-sama memiliki pandangan bahwa agama itu membelenggu. Keduanya juga sama-sama menjunjung tinggi segala bentuk perbuatan baik, menolong sesama, berbagi rejeki, berprasangka baik terhadap orang lain, tekun bekerja, dan mensyukuri hidupnya.
Tetapi mereka juga memiliki beberapa perbedaan. Saat mereka berdoa, yang seorang suka dengan keheningan, gelap sunyi dan tersembunyi, tanpa sepengetahuan siapa pun. Pemuda hening itu memandang bahwa berdoa adalah komunikasi pribadi antara dirinya dengan Tuhannya. Sedang yang seorang lainnya suka dengan berekspresi, kadang doanya hanya berupa suatu nyanyian yang dia ciptakan sendiri, kadang berupa tangisan dan ratapan, kadang sekali waktu berupa teriakan saat dia senang atau pun saat protes kepada Tuhannya. Bagi pemuda ekspresif itu berdoa merupakan komunikasi emosional antara dirinya dengan Tuhannya.
Dalam perbedaan itu kedua pemuda itu saling menerima dan menghormati satu dengan yang lainnya. Akan tetapi kini mereka sedang mengalami krisis keyakinan karena perbedaan cara pandang yang menimbulkan silang pendapat serius.
Baik Si Hening maupun Si Ekspresif sama-sama meyakini bahwa diri mereka diciptakan Tuhan penuh dengan keistimewaan dan keunikan masing-masing. Sehingga Si Hening yakin bahwa tak ada sedikitpun alasan untuk tidak mencintai Tuhannya. Untuk itulah Si Hening senantiasa berbuat berbagai kebaikan kepada sesama sebagai wujud cintanya kepada Tuhannya. Sedangkan bagi Si Ekspresif memiliki keyakinan bahwa Tuhannya sangat mencintainya, sehingga dia berbuat berbagai kebaikan kepada sesama itu merupakan wujud ungkapan terima kasih kepada Tuhannya.
“Aku merasa tak pantas mendapat ampunan Tuhan,” kata Si Hening
“Kenapa?” Si Ekspresif bertanya dengan nada memprotes pernyataan Si Hening “bukankah kita sama-sama menyakini bahwa Tuhan itu Maha Baik dan Maha Ampun?”
“Ya karena itulah,” jawab Si Hening “sementara aku justru penuh kebadhegan hidup, perbuatanku masih jauh dari wujud cintaku pada Tuhan Yang Maha Baik dan Maha Ampun. Aku masih belum mampu memberangus kemaksiatan di sekelilingku. Ketidakadilan dan keserakahan sering hanya kubiarkan berlalu di depan mataku seakan semua itu tak pernah terjadi di depanku. Aku belum mencintai Tuhan sepenuh hatiku. Apa pantas aku menyebut diriku sebagai orang yang dikasihani Dia Yang Maha Baik dan Maha Ampun?”
“Ah, itu hanya perasaanmu saja,” kata Si Ekspresif. “Menurutku justru karena kebadhegan hidup kita itulah maka aku hanya mengandalkan Dia Yang Maha Baik dan Maha Ampun. Dia tahu semuanya tentang hidup kita. Dia menerima setiap kelemahan kita selama kita mengandalkanNya.”
“Itu terserah menurutmu,” kata Si Hening, “menurutku kebaikan Tuhan itu hak prerogatif Dia. Kita boleh mengandalkan Dia tetapi kasihNya mau dilimpahkan ke kita atau tidak itu adalah hakNya. Maaf, aku tidak sanggup kalau harus mendikte Tuhan.”
“Bukan mendikte Dia, Tuhan tidak bisa didikte, Tuhan di atas segala-galanya. Masalahnya ketika kamu mengandalkanNya itu kamu percaya atau tidak akan kuasaNya? Kalau kita percaya, tentu tak ada yang mustahil bagiNya.”
“Ya aku tahu, tak ada yang mustahil bagi Dia selama kita percaya. Tetapi apa wujud bahwa kita percaya sementara berbagai kemaksiatan, kejahatan, keserakahan dan ketidakadilan terjadi di depan mata kita dan kita biarkan? Apa pikiran percaya kita itu sepadan dengan cintaNya? Apa kita berpikir atau merasa percaya itu sama dengan percaya itu sendiri? Apakah ketika kita berpikir mencintai itu sama dengan mencintai itu sendiri? Menurutku tidak.”
“Terserahlah.” Si Ekspresif diam sejenak sambil mendengarkan suara hatinya. “Memang kita harus lebih banyak belajar bersyukur.”
“Maksudmu?”
“Yah… bersyukurlah karena Tuhan sudah memberi kita akal pikiran,” kata Si Ekspresif dengan suara agak sedikit keras. “Tuhan, aku bersyukur kepadaMu…,” teriaknya beberapa kali sambil tangannya diangkat ke atas dan wajahnya memandang langit.
Tak terasa kedua pemuda itu sudah berjalan begitu jauh. Mereka juga tak menyadari bahwa di dekat situ ada sebuah kuburan tua. Kuburan itu pun tak begitu terlihat seperti kuburan karena tertutup oleh banyaknya pepohonan di sekitarnya. Di kuburan itu ada seorang lelaki tua yang sedang mencabuti rumput di atas sebuah pusara baru. Di atas pusara itu masih terlihat bunga yang baru saja mengering dan nisan kayu yang masih berbau cat. Dan lelaki tua itu melihat dua pemuda yang lewat di dekat kuburan itu lalu menegur mereka.
“Hai anak muda, apa yang sedang kalian lakukankan?” hardik Lelaki Tua itu.
Kedua pemuda itu tak ada yang menjawab karena terkejut. Si Ekspresif lebih terkejut lagi setelah menyadari bahwa dia baru saja berteriak-teriak di dekat sebuah kuburan.
“Mohon maaf, Pak,” kata Si Ekspresif menyengir sambil membungkukkan badan ke Lelaki Tua itu
“Kelihatannya kalian bukan orang sekitar desa sini ya?” Lelaki Tua itu mendekati kedua pemuda tersebut “Tadi kok teriak-teriak seperti itu, memangnya ada apa?” selidik Lelaki Tua itu dengan logat bahasa ndesonya.
Kedua pemuda itu pun tak menjawab, mereka hanya saling berpandangan.
“Kalian hendak ke mana?” tanya Lelaki Tua itu lagi.
“Kami hendak ke desa di ujung jalan ini, Pak,” jawab Si Ekspresif
“Ya, kami hanya ingin berbincang-bincang dengan penasehat spiritual kami. Kami memiliki sedikit perbedaan pandangan yang ingin kami tanyakan kepada penasehat spiritual kami. Mohon maaf Pak atas ulah kami baru saja,” tambah Si Hening.
“Ya udah… ini Bapak juga mau pulang. Memang ada masalah apa to, Nak?” tanya Lelaki Tua itu sambil mengangkat cangkulnya dan meletakkan di pundaknya sambil berjalan beriringan dengan dua pemuda itu.
“Bapak juga tinggal di desa ujung jalan ini?” tanya Si Ekspresif agak gugup
“Ya, saya tinggal di rumah pertama di mulut desa,” jawab Lelaki Tua itu mulai ramah. “Nampaknya ada urusan yang sangat penting?”
“Ya kami ingin berbagi rasa tentang hidup dengan dukun sakti yang ada di desa Bapak.” Si Ekspresif yang langsung menjawab.
Dahi Lelaki Tua itu berkerut karena sedikit kaget. “Dukun sakti?… siapa yang kalian maksud?” katanya sambil menoleh memandangi wajah kedua pemuda itu.
“Seorang lelaki tua sebaya Bapak yang tinggal sendirian di mulut desa itu juga.” Si Ekspresif yang menjawab lagi. “Beliau penganut ilmu kepercayaan. Dan kami senang berdiskusi dengan beliau karena kami juga penganut kepercayaan.”
“Kebetulan kami berdua punya pandangan berbeda tentang keyakinan kami. Bapak tentu kenal beliau juga kan?” tambah Si Hening mencoba mengambil hati Lelaki Tua itu.
“Oh, tentu…. tentu. Beliau itu adik saya. Beliau memang satu-satunya penganut ilmu kepercayaan di desa ini, Nak.” Wajah Lelaki Tua itu nampak bersinar tetapi sesaat kemudian meredup kembali, “namun saya sangat prihatin dengan nasibnya karena orang-orang di desa kami menganggap beliau orang kafir. Berkali-kali beliau diadili warga, bahkan aparat desa pun menutup mata atas aksi massa tersebut. Kini rumahnya sudah dibakar habis karena menurut warga desa beliau dianggap menyebarkan ajaran sesat.” Lelaki Tua itu diam sesaat, kemudian melanjutkan kata-katanya dengan suara lebih menggema,”tetapi saya juga bangga dengan adik saya, Nak. Secara diam-diam saya mengikuti ajaran adik saya karena banyak nasehatnya yang lebih baik dibanding orang-orang yang mengaku beragama. Ada satu nasehat yang selalu saya ingat, Nak, yaitu ‘tindakno opo kang kudu kok tindakke, awit siro kabeh wis nganggo busananing aji ” kenang Lelaki Tua itu. “Tetapi gara-gara nasehat itulah rumah adik saya dibakar warga saat adikku terbaring sakit tak berdaya di dalam rumahnya.”
“Berarti pusara itu tadi…?”
Lelaki Tua itu pun mengangguk sambil mengeluarkan selembar kertas dari dalam slepennya, dan di kertas itu tertulis “…lan kabeh busananing aji iku mung nuntun siro marang kabecikan mring titah sami.
Kedua pemuda itu pun saling berpandangan. Tak ada yang tahu apa yang ada dalam hatinya selain Tuhannya.

Semarang, Februari 2012

Catatan:
kebdhegan: sesuatu yang tidak pantas, mirip aroma comberan
ndeso: dari desa
tindakno opo kang kudu kok tindakke, awit siro kabeh wis nganggo busananing aji: lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan sebab kamu sudah beragama
slepen: tempat tembakau, biasa dimiliki oleh orang-orang desa yang punya kebiasaan merokok langsung dari tembakau racikan sendiri
lan kabeh busananing aji iku mung nuntun siro marang kabecikan mring titah sami: …dan semua agama itu hanya mengajarkan kebaikan terhadap sesamanya

One thought on “KEBADHEGAN HIDUP”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s