rose in the rain

Sore Berhujan di Adelaide

Cerpen Vivi Fajar A
Editor Ragil Koentjorodjati

rose in the rainMusim gugur baru saja tiba di Adelaide. Suhu udara yang selama musim panas seringkali melampaui empat puluh derajat celcius di siang hari mulai stabil di angka dua puluhan derajat saja minggu-minggu ini. Sejuk dan segar, mengingatkanku pada hawa dingin Lembang atau kawasan Puncak, tempat yang lazim didatangi wisatawan saat berlibur. Berkeliaran di siang hari di alam terbuka tidak lagi merepotkan dan menguras keringat. Perlengkapan semisal sun cream dan kacamata hitam mulai jarang kusentuh, seringkali tetap tersimpan rapi dalam tas atau saku celana kargo cokelat tua yang setia menemaniku ke mana-mana.
Seperti hari ini, aku memulai hari dengan mengecek perkiraan cuaca di tengah siaran berita pagi di televisi. Cuaca tampaknya akan lumayan bersahabat, suhu tertinggi diperkiraan tiga puluh tiga derajat, sedang suhu terendah dua puluh lima derajat, dengan probabilitas turunnya hujan tiga puluh persen saja. Jika dibandingkan dengan Jakarta di musim kemarau, tentu hari ini bakalan kalah panasnya, tetapi setelah mengecap hawa dingin saat musim dingin tahun lalu, bagiku angka tiga puluh derajat menjadi pengingat untuk tidak mengenakan jaket atau kaus tebal apalagi berlengan panjang di siang hari. Salah kostum bisa benar-benar dihindari jika orang serius mematuhi saran sang peramal cuaca. Ini juga yang menjadi salah satu pelajaran paling berharga bagiku semenjak menginjakan kaki di Adelaide, “percayalah pada ramalan cuaca”.
Menyaksikan acara ramalan cuaca di pagi, siang atau sore hari kini telah menjadi kebiasaan rutinku. Selain informasinya yang hampir selalu akurat, pembawa acara biasa tampil cantik dan menarik, bergaya bahasa lugas dan tampak cerdas di mataku. Ah, jadi teringat pada acara serupa yang ditayangkan saluran televisi nasional Indonesia yang kebetulan juga ditayangkan oleh saluran berita stasiun televisi nasional Australia, dengan pembawa acara amatir yang seringkali tergagap-gagap saat bicara dan dandanan ala kadarnya, acara ramalan cuaca ala Indonesia menjadi tayangan yang lebih baik dilewatkan, tinimbang membuat sakit mata dan menimbulkan gerundelan tak sedap walaupun cuma dalam hati.
Beres dengan remeh temeh urusan rumah, pukul setengah sebelas siang aku memutuskan keluar menuju kampusku di wilayah North Terrace, yang merupakan bagian pusat kota Adelaide, dengan mengendarai skuter matic merah seratus sepuluh cc, produk unggulan dari Jepang yang lumayan populer di jalanan kota ini. O ya, jika membayangkan pengendara sepeda motor di jalanan kota ini, jangan bayangkan jumlahnya sebanyak biker di Jakarta yang jutaan jumlahnya. Sebagai ibu kota negara bagian Australia Selatan (South Australia),dengan luas 870 km2 dan berpenduduk hampir 1.500.000 orang, pengendara sepeda motor di metropolitan Adelaide hampir bisa dihitung dengan jari alias tidak banyak. Jalanan dikuasai oleh mobil pribadi, selebihnya adalah bus umum dan trem. Harap maklum, di negeri empat musim seperti di sini, sepeda motor bakalan tidak sering digunakan. Siapa yang mau berbasah-basah atau kedinginan terterpa angin kencang di musim gugur atau dingin serta terpanggang panas matahari saat cuaca ekstrem singgah di Adelaide? Menurutku saat ternyaman menjajal jalanan Adelaide dengan sepeda motor hanya di musim semi, yaitu saat hawa dingin telah menguap, udara menghangat dan pemandangan di sepanjang jalan luar biasa cantiknya, saat bunga-bunga berwarna warni mulai muncul bermekaran dan banyak gadis mulai menanggalkan jaket tebalnya berganti model pakaian yang lebih beragam dan layak konsumsi bagi mata lelaki. Namun, hari ini tentulah salah satu pengecualian, dengan tingkat kepercayaan diri mencapai delapan puluh sembilan persen, aku keluar ditemani si merah.

***

Kuliah berakhir sebelum pukul lima sore, kuliah ekonomi makro lanjutan dan econometrics yang membuat otakku mendidih dan mata sepat luar biasa. Tak sabar aku ingin segera pulang dan menenangkan diri sebelum mulai bergelut menuntaskan setumpuk tugas yang telah menanti. Sepertinya, perpaduan antara paper dan waktu begadang setiap malam jadi santapan lumrah bagi mahasiswa dengan kemampuan otak setara pentium dua semacam aku. Entah dengan teman-teman yang lain, yang jelas, kembali menjadi mahasiswa setelah sempat bekerja beberapa tahun tanpa menyentuh buku-buku, lumayan terasa berat buatku.
Setelah berbasa basi sebentar dengan teman kelompok belajarku, membuat janji untuk saling bertukar bahan untuk menyusun paper malam nanti, aku bergegas menuju tempat parkir. Langit sore tertutup awan hitam yang lumayan tebal. Probabilitas turunnya hujan yang tiga puluh persen itu nampaknya akan terjadi di pusat Adelaide sore ini. Whewww, berarti aku harus cepat-cepat memacu si merah kembali ke rumah. Bisa repot jika tertimpa hujan di tengah jalan.
Belum lagi mencapai jarak dua kilometer, tepat saat aku menunggu lampu lalu lintas berganti hijau, hujan deras tiba-tiba mengguyurku. Tidak dimulai dengan gerimis, datang begitu saja, rasanya bagaikan tersiram air dari berpuluh ember langsung di atas kepala. Belum lagi angin kencang khas Adelaide ikut-ikutan menyerang. Brrrrr…susah payah aku memusatkan pandangan dari balik kaca helm yang mulai berembun. Sulitnya di sini, pengendara sepeda motor tidak bisa langsung menepi dan berteduh di sembarang tempat. Terbayang ratusan motor terparkir di bawah jembatan Semanggi atau terowongan Casablanca atau berjejal-jejal di halte bus sekitar Pancoran jika hujan tiba-tiba datang seperti ini di kota kelahiranku, Jakarta. Di sini? Silakan saja kalau berani menepi dan berteduh di halte atau di tengah jalan umum seperti terowongan itu. Tidak akan ada polisi yang langsung mendatangi, tetapi tidak dalam hitungan seminggu surat denda akan mampir ke alamat rumah kita. Denda yang tidak tanggung-tanggung, ratusan dollar nilainya, jumlah yang bakal membuat mahasiswa yang bergantung pada uang bea siswa seperti aku bakalan harus berpuasa atau paling tidak absen makan malam selama dua minggu setelahnya.
Beruntung dua ratus meter setelah perempatan ini ada rumah sakit pusat Adelaide, aku berbelok memasuki pelatarannya, memarkir skuterku di tempat yang disediakan dan berlari menuju tempat yang memungkinkan untuk berteduh. Sebenarnya tidak terlalu menolong, mengingat badanku sudah basah kuyup, tetapi jika terus berkendara di tengah hujan angin, aku tidak berani juga. Hujannya sih tidak terlalu kutakutkan, angin kencangnya itu yang sering membuat badan oleng ke kiri ke kanan, dan itu berbahaya bukan saja bagiku tapi juga bagi sesama pengendara lainnya.
Bersidekap menghalau hawa dingin, aku membayangkan suasana yang lazim kutemui saat terjebak hujan di sepanjang jalan raya Kali Malang, jalanan yang biasa kulewati pagi dan petang saat berangkat atau pulang kantor. Hujan begini, yang kutuju kalau tidak halte ya warung-warung tenda yang berjejer sepanjang jalan. Tinggal pilih tenda mana yang ingin kusambangi, mulai soto, sate, bakso, seafood, bubur kajang ijo, atau bubur ayam dan sederet menu lain yang beraneka ragam jenisnya. Hujan bisa jadi pertanda memulai wisata kuliner murah meriah. Menunggu bisa jadi hal menyenangkan, segelas teh manis panas dan semangkuk bubur ayam hangat berkuah kuning nan gurih dengan taburan kacang kedelai goreng, suwiran ayam, irisan daun bawang dan bawang goreng, plus sambal kacang dan kerupuk, hmm, tak lupa obrolan basa basi dengan pemilik atau pelayan di warung tenda atau sesama pengunjung warung yang juga sedang menunggu hujan reda bisa mengurangi kesengsaraan pengendara sepeda motor yang tertahan tak bisa melanjutkan perjalanan. Cukup sepuluh atau lima belas ribu rupiah saja, bahkan terkadang kurang dari itu jika yang kupesan semata segelas kopi susu dan sepotong dua potong pisang goreng, rasanya tenteram dan damai. Ah, cuma lamunan, tapi sudah cukup membuat perutku bereaksi suka cita melagukan keroncong Bandar Jakarta. Ini Adelaide, bung, batinku mengingatkan. Tak ada satu pun pedagang kaki lima di tengah kota, ingin makan berarti masuk ke restoran, yang, tak cuma lumayan mahal harga yang harus dibayar, tapi juga sulit mencari yang menyediakan makanan halal. Makan saja butuh kewaspadaan, soal kehalalan makanan dan soal isi dompet. Beginilah gerangan nasib seorang mahasiswa pendatang, harus selalu pintar-pintar memilih dan berhitung jika ingin tetap bertahan hidup di perantauan.
Lima belas menit, hujan malah main deras, kulihat berkeliling, di ujung lorong menuju ruang gawat darurat, sekitar tiga puluh meter dari tempatku berteduh, berkelompok orang-orang yang juga sedang berteduh, mereka berdiri melingkari tempat khusus membuang puntung rokok. Zona khusus perokok. Cuma para perokok yang tahan berada di sana, terisolasi bersama asap yang tak hanya berhamburan di udara tapi juga ikut terhirup ke dalam paru-paru mereka, tapi entah mengapa tak pernah membuat mereka jera. Untunglah, di sini selalu tersedia zona khusus bagi pemakan asap itu, hingga manusia lain sepertiku yang tak sanggup menghirup bahkan bau asapnya, bisa tetap leluasa bernafas di zona yang lain. Lagi lamunanku membawaku ke satu halte bus yang penuh sesak di sepanjang jalan Mampang Prapatan, tak jauh dari kantorku di Jakarta, ketika lebih dari sepuluh orang berdiri berdesakan di tengah hujan, separuhnya atau mungkin lebih merokok untung mengusir rasa bosan, sementara sisanya cuma bisa menahan nafas dan berdoa dalam hati supaya hujan berhenti hingga bisa menyingkir dari sana atau merutuki dengan emosi namun tak sanggup bersuara melawan hujan asap di ruang terbatas semacam itu. Sungguh, aku kangen bau hujan Jakarta dan suasana saat menanti hujan reda, tapi juga bersyukur, di kota tempat tinggalku kini, lebih banyak manusia yang peduli orang lain contohnya saat melihat ketertiban mereka mematuhi zona perokok ini.
Mestinya saat ini senja telah tiba, langit mulai gelap, bukan semata karena mendung, tetapi karena malam mulai merambat perlahan. Di musim gugur, malam mulai datang lebih cepat, pukul delapan, tak seperti saat musim panas, kala senja baru muncul saat jam menunjukkan pukul sembilan atau lebih. Rasanya tak tenang membayangkan apartemen kecilku yang hangat, yang masih sekitar enam kilometer lagi jauhnya dari sini. Belum lagi, kegelisahanku karena kemungkinan harus melewatkan waktu sholat maghrib. Tak semua sarana publik di kota ini memiliki ruang untuk menunaikan kewajibanku yang satu itu. Karena alasan inilah akhirnya aku memutuskan menembus hujan untuk pulang. Beruntung, angin tak lagi sekencang tadi, tinggal hujan yang menyisakan rinai tipis serupa tirai di hari yang mulai gelap. Kunyalakan mesin dan bersama si merah membelah malam.

***

Lima belas menit berlalu, dan si merah kini sudah terparkir aman di tempatnya. Aku naik ke lantai dua gedung apartemen, menuju tempat unitku berada. Dingin dan basah. Tanganku yang tanpa pelindung tampak berkerut dan tubuhku yang sejak tadi tak terlindung jaket dan basah kuyup mulai menggigil. Sesaat sebelum memutar anak kunci, mataku melihat secarik kertas berperekat tertempel di pintu. Ada pesan tertulis di sana, “Bim, ponselmu mati ya? Susah kita kirim pesan. Kalau mau yang hangat-hangat, mampir ke unitnya Ninis ya, kita lagi lagi pesta bubur ayam nih.. ttd, Angga”. Ups, ya, memang sedari tadi ponselku kumatikan, kutaruh dalam tempat pensil plastik di dalam tas, khawatir terkena air dan mengalami kerusakan. Pantas saja teman-temanku tak bisa menghubungiku.
Kuputar tubuhku, dan melihat di balkon unit delapan puluh dua yang letaknya di gedung yang berseberangan dengan gedung apartemenku, tampak empat teman seperjuanganku, Nanda, Ninis, Karim dan Angga yang juga teman satu unitku sedang berkumpul sambil bercengkrama. Ninis pastilah yang punya inisiatif memasak menu lezat ini. Aroma bubur ayam racikannya sepertinya telah sampai ke hidungku. Keroncong Bandar Jakarta yang sejak tadi riuh rendah di perutku kembali memainkan iramanya. Ingin tersenyum jadinya. Tuhan memang Maha Tahu, apa yang kubayangkan sore tadi benar-benar terwujud malam ini. Bubur ayam hangat dan kesempatan berbincang akrab dengan Ninis, sang masterchef yang manis, adalah bonus luar biasa untuk hariku yang panjang. Terima kasih banyak Tuhan, rejekiMu memang tak pernah salah pintu.

Adelaide, 16 Maret 2012

Iklan

6 tanggapan untuk “Sore Berhujan di Adelaide”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s