wanita peminum kopi

Perempuan dengan Secangkir Kopi

Cerpen Jimmo Morison
Editor Ragil Koentjorodjati
wanita peminum kopi
Ilustrasi dari shutterstock
Apa yang bisa kubuat dalam hidup ini selain menyanyi. Ya, hanya itu keahlianku. Memainkan lagu dengan gitar tua yang kubeli dari seorang teman dengan cara mencicil. Hampir semua pengunjung café suka dengan lagu yang kubawakan, bahkan ada yang mengundangku untuk acara keluarga atau pernikahan. Rata-rata mereka suka. Tapi tidak dengan perempuan berkemeja lengan panjang dan be-rok mini yang diam tanpa ekspresi, sepertinya sama sekali tidak menikmati musik yang kumainkan.
Aku berkesimpulan seperti itu, karena dalam empat hari berkunjung ke Café ini, perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi. Saat tamu lain memberi tepuk tangan, perempuan itu tetap diam. Dengan pelan tangannya mengambil kopi di depannya dan meneguk perlahan, sepertinya menikmati setiap cecapan dan rasa di lidahnya, sama sekali tidak terpengaruh dengan suara tepukan. Kemudian matanya menatap panggung dengan tatapan tak peduli. Perempuan itu duduk sendiri, dan lebih sering sendiri, walau kadang beberapa temannya datang untuk sekedar mengobrol. Ketika teman-temannya terhipnotis lagu yang kumainkan, perempuan itu tetap saja tak peduli.
Hampir setiap datang ke Café perempuan itu melakukan kebiasaan yang rutin. Datang, duduk lalu memesan beberapa gelas kopi sampai café tutup. Selalu begitu. Dia tak peduli dengan lagu, obrolan atau suara gaduh apa pun di café. Di tengah kebisingan, perempuan itu mempunyai dunianya sendiri yang berbeda dan tenggelam di dalamnya.
“Kau lihat perempuan berkemeja panjang itu?” tanyaku pada Roni, salah satu pelayan tersenior di café. Roni hanya menoleh sepintas kemudian pergi membawa pesanan untuk tamu. Beberapa menit kemudian Roni menghampiriku yang masih duduk di sela istirahat menyanyi.
“Kau suka?” tanya Roni sambil lalu. Belum sempat kujawab pertanyaannya, ia sudah pergi lagi. Entah, mengantar pesanan ke meja yang mana, aku tidak terlalu peduli. Beberapa detik kemudian Roni datang kembali.
“Perempuan itu selalu memberi tips banyak. Wajar kalau kau menyukainya.” Roni nyerocos sesukanya, kemudian pergi lagi sebelum aku menjelasan maksud pertanyaanku. Kesal juga mengikuti polahnya. Ia berbicara sesukanya sedang aku, setiap hendak membuka mulutku ditinggalnya pergi. Sialan!
Lagu lawas sekitar akhir delapan puluhan kumainkan. Sepasang sejoli, entah mereka suami istri atau bukan, ikut menyanyikan. Mungkin pasangan itu generasi akhir delapan puluhan. Tapi yang jelas bukan mereka yang kuharapkan ikut menyanyi. Perempuan dengan secangkir kopilah yang kuharapkan. Tapi sekali lagi harapanku untuk membuat perempuan itu menyanyi atau sekedar memberi tepuk tangan, sirna. Perempuan itu sama sekali tidak peduli dengan lagu yang pernah hits di akhir delapan puluhan. Dan perempuan itu juga tidak peduli dengan usahaku menyanyikan lagu sesempurna mungkin.

***
Hari itu, hujan datang sejak pagi. Udara terasa lebih dingin, lembab dan tanah basah. Café menjadi sepi pengunjung. Aku sedikit malas untuk naik panggung. Bukan karena alasan, pengunjung yang sepi membuatku seperti kehilangan semangat. Mungkin perasaan yang sok artis telah masuk dalam jiwaku. Musisi tanpa album dan tanpa karya, tapi tidak salahkan kalau aku ingin dikenal walau hanya sekelas pengamen café.
Tanpa kuduga, perempuan itu datang dengan sedikit basah. Tangannya mengelap bahu dengan sapu tangan, kemudian dikibaskannya rambut tebal menghitam berkilatnya. Perempuan itu berjalan ke arah panggung dan duduk lima meter dari tempatku duduk. Biasanya perempuan itu menghindari meja dekat panggung walau sering kali kursi di sana kosong. Ia lebih suka duduk di meja pojok dekat jendela, kemudian matanya akan menatap riuh jalan yang kadang macet dan kadang lancar.
Matanya melihat sekeliling, mungkin perempuan itu sedang merasakan sesuatu yang beda di café, atau juga merasakan sepi yang tak seperti biasa. Pandang matanya jatuh ke arahku, boleh dibilang kami saling pandang walau hanya sekian detik dan mungkin punya arti, atau tidak sama sekali. Perempuan itu memanggil pelayan, bicara sebentar lalu menyulut rokoknya. Aku tak pernah melihat dia merokok. Selama perempuan ini menjadi pengunjung café, beberapa kali aku diam-diam memperhatikannya. bukan karena dia cantik atau menarik, tetapi karena dia tidak pernah bertepuk tangan, tak pernah ikut bernyanyi dan tak pernah meminta lagu. Dia yang menganggapku seolah tidak ada.
Perlahan ia mengisap rokoknya, kemudian melepaskan asapnya dengan nikmat. Asap sejenak mengapung di udara, bergumpal putih kemudian musnah. Itu serupa beban yang lama dipendam kemudian dilepas begitu saja. Matanya kembali menyapu isi ruangan hingga berhenti beberapa detik menatapku. Ah, bukan detik kukira, kalau aku hitung hampir lima menit. Terasa cukup lama dikurung pandangan yang sempat membuatku beku. Memandang orang asing dalam waktu lima menit itu aneh. Perempuan itu menggeser kursinya lalu berdiri dan berjalan ke arahku. Kemudian duduk dan meletakan sisa rokok di dalam asbak.
“Mainkan satu lagu untukku,” pinta perempuan itu setelah duduk di depanku. Tanggannya sibuk mematahkan sisa rokok dalam asbak. Tanpa kata tolong, kalimat itu terasa dingin dan angkuh, meski tidak ada nada memerintah. Mungkin itu lebih tepat sebuah ejekan.
“Aku kira kau tak mengerti musik. Buat apa kau minta lagu,” jawabku mencoba menekan suara sedatar mungkin.
“Aha..?” mulut mungilnya sedikit terbuka, kening mengerenyit mencipta lipatan alis dan bulu mata yang terlalu sulit untuk kulupa. Bahu sedikit terangkat, begitu sempurna ia berkata,”Atas dasar apa?” Nada dan gerak tubuh perempuan itu serasa membuatku tenggelam pada rasa begitu rendah. Aku mencoba tersenyum, mungkin tebakanku benar.
“Karena kamu sama sekali tidak pernah ingin mendengar musik yang kumainkan. Kalau kau tahu musik atau penikmat musik, paling tidak kau memberi tepuk tangan.” Terangku dan kembali tersenyum. Senyum yang cukup berhasil. Perempuan itu menyulut rokoknya lagi dengan ekspresi biasa di wajahnya.
“Mainkan saja musiknya, aku ingin mendengar,” ucap perempuan itu tanpa membahas kata-kataku tadi.
“Untuk apa bila kau tak menikmati?”
Perempuan itu tersenyum,kemudian mematikan rokoknya yang baru beberapa hisapan. Matanya jernih dan tajam menikam. Tepat ke mataku.
“Kau tahu arti menikmati?” tanya perempuan itu.
“Ya,” jawabku cepat.
“Jelaskan padaku,” pintanya.
Aku bingung menjelaskan dengan kalimat apa. Untuk pengertian dari sebuah kalimat menikmati, otakku bekerja keras. Pertanyaan sederhana namun otakku cukup bekerja sangat keras untuk menjelaskan.
“Ternyata kau tak bisa menjelaskan, tapi kau bisa menuduh orang dengan pikiranmu dan kesimpulanmu,” ucap wanita itu tanpa ekspresi setelah beberapa menit tidak dapat jawaban dariku. “Mainkan satu lagu untukku,” pinta perempuan itu sekali lagi. Aku hanya mengangguk dan membawa gitarku. Lagu lawas pertengahan tahun sembilan lima kumainkan. Dan seperti biasa, kulihat perempuan itu hanya meneguk kopinya, tanpa ekspresi, tanpa peduli ddengan lagu dan lirik yang kunyanyikan.

***
Setelah beberapa hari hujan turun, sepertinya malam ini langit mengerti, purnama bersinar terang meski kalah dengan terang lampu-lampu di setiap sudut kota. Tiga lagu sudah kumainkan. Sejak lagu pertama, mataku terus mencuri pandang ke arah meja tempat perempuan itu biasa duduk. Biasanya, sebelum aku bernyanyi perempuan itu sudah datang, paling telat lagu kedua. Kualihkan mataku ke pintu masuk berharap perempuan itu datang, namun yang kulihat hanya pengunjung café lain.
Beberapa menit lagi cafe tutup, aku menyarungkan gitarku. Segelas air putih yang dari tadi belum kuteguk kini kuteguk sampai habis. Manager café menghampiriku dan menyelipkan amplop jatah setiap selesai ngamen.
“Kau kenapa?” tanya Roni saat melihatku masih duduk di kursi.
“Enggak apa-apa,” ucapku lalu berdiri.
“Kau menunggu perempuan itu?” tebak Roni. Aku hanya menggeleng tanpa menoleh ke Roni.
“Hati-hati, jangan sampai kau nasksir kawan,” ucap Roni sedikit keras, kemudian kembali mengelap meja.
Ini hari ketiga perempuan itu tidak datang ke café, entah mengapa aku seperti kehilangan. Beberapa lagu yang diminta pengunjung tak maksimal kumainkan. Aku seperti kehilangan seseorang, seperti waktu masa SMA dulu, saat aku kehilangan cinta pertamaku. Hidup seperti hampa dan not-not yang kumainkan seperti nada-nada tak bertuan, kosong,sunyi dan tanpa makna. Perempuan itu seperti nyawa, entah sejak kapan. Walau di antara kami tidak pernah ada saling rasa, bertanya sekedar meminta nomor telepon, atau juga tidak berkencan.
Hari ketujuh, lima menit sebelum café tutup, perempuan itu mendatangiku. Entah ada sesuatu yang menahanku untuk tak segera pulang seperti malam-malam biasanya.
“Kau mau pulang?” tanya perempuan itu setelah matanya melihat gitarku yang sudah masuk dalam sarung. Aku hanya mengangkat bahuku tanpa jawaban, tapi hatiku berbunga-bunga, seperti bertemu kekasih yang lama tak jumpa.
“Kukira café sudah tutup,” jawabku. Perempuan itu tak menjawab. Kemudian ia membalikkan badannya, melangkah pergi. Aku melirik Roni, meminta sesuatu yang berharap dikabulkan. Dan sepertinya Roni paham, maka tanpa hitungan detik Roni langsung mengangguk.
“Kau mau kutraktir kopi?” tanyaku dengan suara sedikit kukeraskan sebelum perempuan itu sampai pintu keluar. Sejenak ia berhenti dan menoleh sembari menatapku. Tatapan yang tak sanggup kumengerti.
“Bukankah sudah tutup?” tanyanya dengan masih berdiri di dekat pintu keluar.
“Hari ini spesial, ada tamu yang memberiku tips lumayan,” jelasku. Kemudian perempuan itu berjalan ke arahku. Sesampai di dekatku dengan cepat dia menarik kursi di depanku. Roni kemudian datang membawakan dua gelas kopi yang mengepul nikmat.
Entah mengapa, sejak perempuan itu telat datang ke café, aku selalu memikirkannya. Dan setiap kali perempuan itu datang ke café aku seperti mempunyai kekuatan lebih untuk bernyanyi. Walau seperti biasa, perempuan itu tak peduli, dan aku tak pernah tahu dia menikmati musik atau tidak. Sekarang buatku tak penting, aku cukup bahagia dengan kedatangannya, meski kita tidak pernah ada ikatan apa-apa.
Seperti seminggu yang lalu, tiba-tiba perempuan itu hilang lagi. Aku berpikir pasti ia telat seperti beberapa hari sebelumnya, kemudian ia akan datang dan mengajakku minum kopi di café yang sepi dengan lampu temaram setelah tidak ada lagi pengunjung yang lain. Berdua menikmati kopi. Aku tak langsung menyarungkan gitarku, aku berharap perempuan itu datang seperti waktu itu kemudian memintaku untuk memainkan sebuah lagu. Dan hanya lagu itu yang dia selalu pinta, aku tak pernah tahu alasanya. Mungkin lagu itu sangat berarti untuknya atau menyimpan sebuah kenangan. Aku tak ingin bertanya, kadang bila seorang laki-laki bertanya sering kali diartikan merayu, dan aku tak ingin merayu perempuan itu. Kalaupun ada yang bergejolak dalam hatiku, cukup aku saja yang tahu, selebihnya biar Tuhan yang mengaturnya.
“Kau sudah baca koran hari in?” pertanyaan Roni membuyarkan lamunanku. Aku menggeleng.
“Bacalah,” sambung Roni.
“Sejak kapan aku baca koran?” jawabku sedikit kesal. Bukan karena pertanyaan Roni yang membuatku kesal, tetapi terlebih karena perempuan itu sepertinya tidak adakn datang malam ini.
“Mungkin berita ini bisa mengubah pikiranmu tentang Koran,” jelas Roni lalu meletakkan koran di meja. Kupandangi Roni yang meninggalkan koran begitu saja. Sejatinya aku menghindari koran karena aku muak membaca berita politik negeri ini. Setiap membaca koran aku selalu mendapatkan berita yang sama dalam kurun beberapa tahun, mungkin bertahun-tahun berita Koran di negeri ini sama, maka dari itu aku berhenti membaca koran.
Dengan malas aku mengambil koran, mataku langsung menatap sebuah foto perempuan dengan kemeja yang aku kenal di halaman depan. Di samping foto itu terpampang berita ‘SEORANG PEREMPUAN YANG DIDUGA ISTRI MUDA TEWAS DI KAMAR HOTEL DENGAN LUKA TUSUKAN DI LEHER DAN DADA’. Sedikit gemetar, kulihat meja tempat di mana perempuan itu biasa duduk. Nanar aku pandangi samar meja itu di bawah cahaya lampu temaram. Dan kini aku mengerti cara memandangnya yang dingin, tatapan tanpa ekspresi dan kenapa ia menyukai lagu yang sama, berulang-ulang.

-Ruang berantakan sehabis hujan dan sebotol air putih, 10 January 2012-

Iklan

One thought on “Perempuan dengan Secangkir Kopi”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s