Kembali ke Dalam Cahaya

Oleh John Kuan

Saartjie Baartman lahir pada tahun 1789 di tepi sungai Gamtoos
Pada jaman kekuasaan laut sedang pasang naik, awalnya dijadikan
budak di pertenakan orang Belanda, kemudian karena bentuk alat kelamin,
lalu dibawa ke sirkus di Paris dan dilatih oleh pelatih binatang
bersama hewan-hewan lain. Setelah meninggal, tulang-belulang
dan sebagian organ direndam formalin dan dipamerkan sebagai makhluk
aneh oleh peradaban Barat lebih dari seratus tahun, hingga 2002
arwahnya baru dikembalikan ke kampung halaman. Pemimpin suku Khoisan
meletakkan di atas kerandanya sebuah busur, dan sebatang anak panah
patah, dan renungan ‘ perdamaian ‘ dan ‘ hak asasi manusia ‘ masih terus
berlanjut……

Bersama roh. Akhirnya kau kembali ke dalam nyanyian
bahasa ibu di tepi sungai Gamtoos, dengar
sepuluh ribu tebing terjal mengitari lembah sungai
dengung pemburu menguak hutan di kaki gunung
inilah maklumat puakmu peroleh dari dalam nafas,
nyanyian suci pada cahaya. Milik Afrika, milik macan tutul
Macan tutul juga mewakili satu nyanyian pulang
di sisi lain padang rumput, sebab berpisah maka luas
Sebab cinta, kemarin dan hari ini baru bermakna
Bibir dan bibir baru dapat mengucap nama bersuhu hangat
menyanyikan lagu tua tapi iramanya berjalan seiring kita.

Kau lihat, pohon ek tua dari masa kanak-kanak
baru selesai membangun sebuah sarang
Apakah bulat telur wajahmu sudah menemukan tempat
berehat di sana. Aku melihat, sinar matahari mengeram
keluar sayap lebih besar dari cahaya, lembut
berpijar, bukan lagi patung gipsum hitam
bukan lagi malam tak bertepi sebagai material
waktu mengumpal jadi Venus Hitam
Oleh sebab itu, mata dikembalikan kepadamu
agar kau melihat tanah air sendiri
Andaikan pohon ek harus diproses jadi gabus
juga dapat mengikuti berbagai anggur dan bau tubuh
bukan menyumbat jiwamu, telingamu.
Oleh sebab itu, telinga dikembalikan kepadamu
agar kau mendengar nyanyian tua
puakmu akan menginjak keluar irama
menginjak keluar bayang dan warna kulit sendiri
warna kulit dikembalikan kepadamu
agar kau sungguh menikmati cinta, bebas dan setara

Rasa dan jiwa, seluruhnya dikembalikan kepadamu

Akhirnya pulang, sudah seratus tahun lebih
setiap ruas tulang setiap malam mengetuk rasi bintang
sekalipun tidak bisa memecahkan kaca dingin Museum Nasional
Perancis, setidaknya diketuk jadi sederet peta laut HAM
dan kerangka tulangmu sebagai kompas, sebagai titik koordinat
di jaman kekuasaan laut sedang pasang
di jaman ikan terbang dan burung laut juga bisa menyalahkan penyair
Romantisme adalah ombak menggulung di angkasa
dan kampungmu, di angkasa seperti ada seekor macan tutul
sangat tenang, berbaring melihat keyakinan disalin ulang awan hitam
dan organmu, bersembunyi di dalam formalin yang lebih kelam dari hutan

Dari selembar kertas kebohongan
memulai perjalanan pergi, dan semua kebohongan telah dijual-beli
adalah sebuah kisah yang sudah ditenggelamkan jangkar
bagasi hanya berisi sakit, satu-satunya teman adalah tangan menggenggam
tajam bulan sabit. Sangat pasti, Dia menggunakan bahasa paling lurus
agar kau mendengar maut, bahkan sebagai teman karib satu perahu

Tapi itu bukan kebenaran.

Akhirnya kau pulang, bersama puakmu berterima kasih kepada hewan
mempersembahkan tubuh mereka sebagai makanan,
dua tangan menyentuh dada lalu istirahat,
tidak perlu tegak menjadi dinding lembah
tiada formalin yang mesti bertanggung jawab
kepada politik, akhirnya kau juga bisa membuka tabir seluruh malam
bagai lengkung tali busur
pada bintang sirius melintas di atas padang rumput
memburu seekor mimpi kehilangan tanduk

Terhadap masa lalu, dunia seolah-olah tidak bisa melihat atau mendengar
tulang belulang waktu, hanya mungkin di tengah jalan cerita memilih lupa
Lupa terhadap hewan istimewa yang dijinakkan di sirkus tahun itu
Sudah lebih dari seratus tahun, ada orang menerka
dia adalah herbivora. Aku berkata bukan
Kalau tidak, peradaban bagaimana bisa begini melukai orang

Olokan dan sindiran mereka waktu itu berasal dari dagingmu
Penjelajah tidak tahu, belahan selatan dan belahan utara memiliki tangkai
yang sama, menunggu hadirnya milenium yang sama
Atau menunggu fajar menyingsing yang sama?
Waktu memanjangkan lehernya, jatuh ke bumi adalah batok kepala
adalah cinta, dan juga sering dimaafkan
seperti perdamaian yang sering kita kulum di mulut
Tidak boleh disangkal simbol luka sepanjang hayatmu terlalu berat
Saatrjie Baartman, sekali lagi menyebut namamu
seluruh suku kata telah menggilukan gigi berlobang
pasti bukan karena manis, mungkin selepas membaca doa lupa berkumur

Benar. Kita masih belum kembali ke dalam cahaya
sebuah busur, sebatang anak panah patah
apakah dunia sejak ini akan gila kehidupan, gila perdamaian?

Ranting mencakar ke segala arah
ketika sinar matahari pertama pelan-pelan melebarkan
sayap, pelan-pelan bernafas di bawah pohon esok
Apakah kita juga menemukan arti bernafas?
Hari ini kabut menyelubung
hawa kelam seperti penunggang abad pertengahan
dari dalam hutan menghunus keluar sebumi daun gugur
dia bersiul bunga mawar, ke arah menanjak bersujud
agar aku mengajukan seorang gadis
suci dan akrab, lalu diberi nama Cahaya
parasnya persis seperti gadis yang suka bertanya di dalam kelas
juga bisa seperti seorang penari
di ujung kaki menemukan janji danau kepada angsa putih
atau, seperti selembar kertas warna berulang kali salah dilipat
atau lebih mirip sebuah akordion di tangan seniman jalanan
berubah jadi irama di dalam cahaya, mengitarinya

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s