pandawa

Nilai Sufistik Dunia Pakeliran (Pewayangan)

Resensi Riza Fitroh Kurniasih*)

“Hanonton ringgit menangis asekel muda hidepan, huwus wruh tuwin, jan
walulang inukir molah angucap” (Lukman Pasha)

pandawaMakna dari kalimat di atas adalah bahwa ada orang melihat wayang menangis, kagum serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara.
Begitu membaca buku Tasawuf Pandawa (Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) sekan-akan kita diajak menelusuri pemikiran penulis, kemudian berdialog dan selanjutnya seakan-akan kita menjadi sutradara dadakan yang mempunyai peran terbesar atas alur sebuah peristiwa. Pembaca diberi kebebasan dalam mengembangkan pemahamannya akan isi buku ini, pembaca menjadi dalang sekaligus lakonnya.
Muhammad Zaairul Haq menyadari bahwa wayang merupakan hasil kebudayaan yang sarat akan nilai kehidupan sehari-hari. Lima belas tahun yang lalu kita masih bisa melihat pertunjukan wayang di desa-desa dengan penuh hikmat. Pertunjukan wayang ini selain sebagai penghibur juga berperan besar dalam penyebaran Ad-dienul Islam. Namun, kini kesenian wayang sudah kehilangan gaungnya, ia hanya sebatas cerita turun temurun secara lisan yang diturunkan oleh pendahulu-pendahulu kita, dan kenyataannya kini kian lama kian terkikis. Bahkan wayang kembali menjadi perbincangan elit segelintir orang saja. Melihat kondisi seperti ini rupannya penulis dengan penuh kesadaran ingin menghadirkan kembali nilai-nilai yang terdapat di dalam jagad pakeliran. Sebagaimana diungkapkan di dalam bukunya “Wayang sebagai kesenian sudah habis, tetapi sebagai budaya ia masih hidup dalam diri kita”, nilai-nilai yang terdapat di dalamnya memang tidak pernah akan hilang.
Di dalam buku ini diceritakan terjadinya perang Bharatayuddha, yang mengisahkan terjadinya perang besar antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Perang besar antara tokoh protagonis dan antagonis, satu peperangan yang membuka hijab kegelapan dan kejahatan, satu peperangan yang mengisahkan arti penting dari kemuliaan dan kebenaran. Peperangan besar yang memiliki makna simbolik bahwa kebenaran pasti akan menang dan kejahatan bagaimanapun besar dan dahsyatnya pasti akan terkalahkan.
Di sisi lain perang saudara ini bisa menjadi cermin dari setiap insan sepenuhnya bahwa kecenderungan setiap manusia adalah menyukai harta benda serta kekayaan. Kecenderungan setiap manusia adalah marah serta tidak ikhlas ketika harta benda mereka diusik sedemikian rupa apalagi dijajah atau diambil secara paksa.
Disebutkan oleh Muhammad Zaairul Haq, sang penulis buku ini, bahwa Korawa selalu hidup dalam dunia kegelapan, bermegah-megahan serta tak pernah memikirkan kebutuhan rohaninya. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh pendidikan yang diajarkan kepada Korawa, yaitu pendidikan kegelapan. Ini simbol dari kebutaan yang dialami oleh sang ayah serta tabiat sang ibu yang ikut-ikutan membutakan kedua matanya dengan kain. Kebutaaan ini secara simbolik memiliki arti bahwa kegelapan selalu menyertai putra-putra mereka. Keberpalingan Gendari dari mensyukuri nikmat Tuhan berupa penglihatan dapat diartikan sebagai keberpalingan Korawa, dan Korawa memilih menjadi pengikut kegelapan.
Pesan lain yang dimunculkan dalam buku ini adalah tentang kekalnya suatu kaum karena perbuatan mereka sendiri. Sebagaimana tersebut “sesungguhnya kekalnya suatu bangsa adalah selama akhlaknya kekal (mereka masih memiliki akhlak yang baik) tetapi jika akhlaknya sudah lenyap, musnah pulalah bangsa itu”. Tidak dapat dipungkiri jika akhirnya Korawa hilang dari peradaban oleh tingkah mereka sendiri, dan akhirnya Pandawa-lah yang menjadi pemenangnya.
Ketika pernyataan di atas kita sinkronkan dengan pilar-pilar yang ada dalam rumah tangga islam, “buniyal islamu ‘ala khomsin”. Lima pilar utama yang akan menjadikan umat islam kokoh, rukun islam menjadi pondasi kita dalam beragama islam. Rupanya hal inilah yang ingin dicerminkan oleh keluarga pandawa yang senantiasa memenuhi kebutuhan jasmani serta rohaninya.
Puntadewa sebagai simbol seorang yang sabar dan mampu mengayomi saudara-saudaranya. Puntadewa memiliki sebuat jimat bernama jamus kalimasada, jimat ini bermakna syahadatain. Di mana syahadatain di sini merupakan pondasi awal bagi seorang ketika dirinya telah percaya sepenuhnya terhadap keberadaan Allah Swt. Dengan kata lain, seseorang tidak akan bisa mencapai kesempurnaan bangunan islam dan iman sebelum ia bersyahadat.
Kehidupan spiritual selalu identik dengan olah-batin, hal ini menjadi sarana untuk mendapatkan kesempurnaan hidup. Yang padanya dicari suasana yang sejiwa dan sesuai dengan prinsip-prinsip hidup, sehingga batin menjadi siap ditanami dengan berbagai ilmu kerohanian. Dalam konteks keislaman, muka Bima (Werkudara) seperti orang menunduk dan belakangnya yang tiinggi digambarkan seperti orang sedang sholat. Dia tidak melayani orang lain jika pekerjaannya sendiri belum selesai. Isyarat bahwa sholat tidak boleh dibatalkan.
Titisan Bathara Indra yang memiliki sifat sebagai seorang yang tekun dan khusyuk dalam bertapa, pancaran mukanya cerah seperti matahari, menjadikan dirinya seorang kesatria yang terkemuka. Di sisi lain Arjuna juga sosok yang mampu khusyuk dalam bertapa dan tabah dalam menghadapi godaan. Dalam konteks keislaman sosok Arjuna dicirikan dengan orang yang selalu berpuasa, menahan diri dari godaan-godaan duniawi.
Nakula sebagai seorang yang tak pernah lupa terhadap segala hal yang dialaminya. Begitulah gambaran seorang yang selalu mensucikan diri akan keberadaan hartanya. Dalam keluarga Pandawa ia layaknya dewa pengobat, senang mengeluarkan zakat. Titisan dari Bathara Aswin ini identik dengan manusia tipe “zakat” arti bakunya yakni orang yang suka beramal atau shodaqoh kepada fakir-miskin.
Kembaran dari Nakula, yaitu Sadewa tercitra sebagai seorang yang tampan, cerdas, rajin, serta patuh dan berbudi bawaleksana. Sadewa menjadi seorang yang ahli peternakan, Sadewa tumbuh menjadi manusia yang “sebenarnya” kaya raya. Digambarkan sebagai sosok manusia yang mampu (secara materi) melakukan ibadah haji dikarenakan hartanya yang cukup, kaya dan terpenuhi sandang pangan serta dermawan.
Secara keseluruhan cerita wayang sebenarnya mendidik, tetapi orientasi pendidikan itu berupa penyajian kejadian yang artinya dapat dirasakan dan ditafsirkan oleh penontonnya menurut kemampuannya masing-masing dan kapasitasnya masing-masing. Pesan yang disampaikan melalui sajian peristiwa ini menggambarkan bagaimana perjalanan seorang manusia menjadi insan kamil, yang dimulai dengan muhasabah al-nafs, kemudian al-iffah dan yang terakhir adalah tazkiyatun nafs.

pandawaJudul buku : Tasawuf Pandawa
(Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa)
Penulis : Muhammad Zaairul Haq
Penerbit : Pustaka Pelajar
Harga : Rp. 50.000
Tahun : 2010
Tebal : 399 halaman
ISBN : 978-602-8479-91-2

*) Peresensi adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta Program Studi Pendidikan Biologi Semester IV

Iklan

2 tanggapan untuk “Nilai Sufistik Dunia Pakeliran (Pewayangan)”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s