di balik air mata

Di Balik Sebuah Tangisan

Oleh Nia Oktaviana
di balik air mata
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Sejenak kupejamkan mata, menelan semua kepahitan hidup yang terkadang memaksa kita menitikkan air mata. Akan seperti apapun usahanya untuk menutupi dan menghentikan tetesan air mata , semua itu hanya bagian dari usaha yang akan sulit terwujud dalam menghentikan sebuah tangisan. Hati nurani memang tak pernah berkata dusta tentang perasaan seseorang terhadap sebuah kesedihan, kebahagiaan, kerinduan, kekecewaan, kekaguman atau bahkan kasih sayang yang bisa menjadi alasan demi menetesnya air mata.

Menangis itu indah saat kita bisa berbagi sebuah tangisan bersama orang yang kita sayangi.
Menangis itu menyedihkan ketika orang yang kita tangisi tak pernah mempedulikan kita.
Menangis itu istimewa saat setiap tetesan air mata jatuh di tangan seseorang yang kita sayangi sedang menggenggam tangan kita.
Menangis itu mengharukan saat selembar kertas berisikan tentang puisi kerinduan terhadap orang yang telah tiada terbasahi oleh tetesan air mata.
Menangis adalah kerinduan saat seorang kekasih terpaku di hadapanmu lalu mengusap air matamu.
Menangis itu menyakitkan saat kita merasa iba memandangi seseorang yang kita sayangi terbaring sakit tak berdaya.
Menangis itu kekecewaan saat perasaan tulus kita kepada seseorang hanya dipandang sebelah mata
Menangis itu kagum saat kita melihat seorang sahabat yang berhasil meraih impian besarnya.
Menangislah untuk sebuah kebahagiaan dan kesedihan yang telah mewarnai sepanjang kisah hidupmu.

Bicaralah pada Tuhan Yang Maha Mendengar untuk segala keluh kesahmu di setiap malam yang tak seorang pun bisa mendengar setiap tangisanmu.
Hadapkan dirimu pada Tuhan Yang Maha Melihat atas ketidakberdayaanmu terhadap dunia dan orang-orang yang berlaku tidak adil terhadapmu.
Menangislah selepas kau bisa, agar setiap beban hidup tidak tersimpan dan membusuk terlalu lama dalam hatimu.
Karena dibalik sebuah tangisan selalu tersimpan banyak makna di dalamnya.

Iklan

3 thoughts on “Di Balik Sebuah Tangisan”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s