detik waktu

Detik

Gerundelan Alra Ramadhan
detik waktu
gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Pernah terpikir olehku bahwa dunia ini akan berakhir bahagia. Bahwa kehidupan ini akan memberi akhir yang menyenangkan bagi semua manusia. Bahwa akhir kehidupan ini tak sebegitu ngeri. Bahwa dunia ini berakhir dengan penuh pengertian Yang Maha. Bukan berakhir dengan berbagai perhitungan dan hukuman-hukuman, seperti yang diceritakan kitab-kitab, guru agama, atau kyai. Di suatu senja yang memerah aku terpikir hal tersebut.
“Kau sudah sinting!”
Demikian kata salah satu teman rumah kontrakku ketika suatu hari kuceritakan apa yang terserak dalam pikiranku tersebut.
“Tidak kawan,” timpalku.
Aku diam sejenak, mendeham.
“Percayalah, kehidupan ini berakhir bahagia kelak. Dan hal yang kukatakan ini bukan pula tanpa alasan. Alasan, tepatnya dasar teori, itu begitu banyak. Semuanya bercampur, melebur, dan lantas kutarik kesimpulan sederhana bahwa kehidupan ini berakhir dengan damai.”
“Peradaban,” kataku lagi kemudian. “bukankah dapat dipandang sebagai suatu proses bagaimana manusia menunjukkan kemampuannya dalam menaklukkan alam semesta?”
Mungkin saja bila Adam tak diturunkan ke dunia ini, beliau akan tetap hidup bergantung pada Tuhan. Di surga, atau sekali waktu berjalan-jalan di sekitar neraka bila bosan atau kedinginan. Tapi Tuhan sungguh baik, kawan, Ia tetap tak mau Adam yang dibuat-Nya dengan sesempurna mungkin itu hanya bermanja-manja saja di khayangan. Maka ditakdirkan oleh Yang Maha demikian:
Makhluk yang sudah ia ciptakan sebelumnya, malaikat, salah satu di antara mereka membangkang ketika Tuhan memerintahkan bersujud kepada Adam. Keduanya beradu, Tuhan dan pembangkang tersebut.
“Aku hanya mau bersujud kepada-Mu,” kata pembangkang itu.
Tuhan pun menghukum malaikat tersebut: melemparkannya, dengan kengerian yang kau sendiri tak bisa bayangkan, ke padang tanah gersang. Lantas memburukkan rupanya, menjadi apa yang disebut iblis.
Aku menghela napas.
Ketika satu saat malaikat pembangkang tersebut hendak mencari kawan, digodalah Adam dan Hawa. Ia masuk ke taring ular dan lantas berbicara pada Adam agar memakan buah terlarang yang ada di surga. Tuhan, meskipun aku sendiri tak mengerti bagaimana Yang Maha Tahu bisa ‘kecolongan’ atas tindakan tersebut, lantas menghukum Adam dan Hawa dengan hukuman yang sama dengan apa yang didapatkan si pembangkang: turun ke dunia. Dihilangkan-Nya kemewahan surga, terbukalah aurat di antara keduanya, tapi keduanya terpisah sedemikian jauh di dunia ini.
“Inilah alasanku!!” kataku. Kawanku tetap diam.
“Usaha,” lanjutku.
Itulah usaha manusia pertama untuk yang pertama kali. Mereka berdua berjalan, berjalan, dan berjalan sedemikian jauh, untuk bertemu. Mereka berjuang agar mereka dapat berjumpa kembali dan kemudian dapat saling mengisi dan melengkapi. Tuhan masih tetap Maha Baik, mereka dipertemukan. Lalu terjadilah putra dan putri dari mereka. Dunia semakin meriah. Putra-putrinya pun disilangkan, maka semakin berkelompoklah manusia. Kemudian, terjadilah peradaban manusia. Malaikat pembangkang yang membuat istana di gua tua yang mendengar berita tersebut tak bisa menerima begitu saja keputusan Tuhan. Bagaimana mungkin ia dihukum, tanpa mendapatkan kemudahan, hanya gara-gara tak mau bersujud. Sedang Adam Hawa yang makan buah terlarang, masih diberi kemudahan. Ia menggoda Adam, juga Hawa, juga keturunan peradaban manusia tersebut.
“Hingga detik terakhir,” demikian niatnya.
Tuhan tetap Maha Baik, peradaban tersebut diizinkan tetap berusaha dan berjuang. Entah berapa abad setelah era Adam Hawa, konsepsi pertama yang dicari adalah tentang Tuhan. Sembari berburu, lalu bercocok tanam, menunggu hujan, atau pun ketika membangun keluarga dan anak turun. Segalanya dikaitkan dengan Tuhan Tertinggi: tak terkonsepkan. Tapi manusia sungguh makhluk Tuhan yang pantang menyerah. Mereka menguji seberapa tangguh mereka melawan alam semesta buatan Tuhan. Tidakkah ini bentuk pembangkangan pula, kawan?
Kawanku diam.
Dan hingga sekarang, di antara beberapa manusia telah banyak mencipta benda untuk menaklukkan keterbatasan mereka. Manusia, termasuk aku dan kau, mulai dapat mengendalikan kekuatan yang besar dan yang kecil. Aku contohkan, ribuan tahun lalu manusia memanfaatkan keberadaan hewan untuk dapat dimakan dan tetap bertahan hidup. Manusia memanfaatkan kulitnya untuk berlindung dari badai. Juga taringnya untuk berburu hewan selanjutnya, atau bila dirangkai, jadilah pemanis di leher mereka. Tetumbuhan dibabat, dijadikan tempat tinggal yang lebih hangat dari bebatuan gua. Dedaunan dapat dimasak. Bebuahan bisa menjadi cemilan ketika menunggu buruan lengah.
Dan berabad berlalu, manusia menemukan alat untuk mempersingkat jarak. Dengan telepon, jarak jauh sekali pun mereka tetap dapat saling bersapa. Atau dengan internet, berbicara, bahkan melihat foto atau pun gambar gerak dapat dilakukan dengan mudah. Manusia telah dapat memperluas kemampuan indera mereka, melebihi yang diberikan Tuhan.
Kau pikir Tuhan marah?
“Tidak kataku!!” Tuhan, bagiku, tetap Maha Baik. Berabad berlalu lagi, orang tuli kini sudah dapat mendengar suara dari yang lain dengan alat bantu yang pastilah buatan manusia. Petir, dapat ditangkal dengan sebuah kabel yang terhubung ke tanah, kekuatannya dapat dikendalikan ke arah tanah dengan itu. Motor juga mobil, menaklukkan waktu, mempersingkatnya, sayang tak memikirkan dimensi ruang. Manusia tak hanya berdiam di dunia, mereka menjelajah dunia lain, planet lain, meneliti sumber cahaya kehidupan, lain sebagainya.
“Dan bukan tidak mungkin esok, lusa, atau beberapa waktu nanti, Tuhan dapat dijelaskan dengan akal sehat yang dimiliki manusia,” kataku sembari mengepulkan asap kretekku.
“Pemikiranmu terlalu sederhana, kawan!!” katanya bersungut.
“Hmm, mungkin…”
Tapi bisa saja, suatu hari manusia dapat merumuskan bagaimana Tuhan. Bentuk-Nya, singgasana-Nya, dan lantas takjub melihat mata Tuhan. Mereka kembali menemukan yang telah berabad tak diketahui manusia: Tuhan. Aku rasa, Tuhan menakdirkan Adam dan Hawa tak bercerita tentang wujud-Nya. Karenanya berabad kemudian barulah manusia sadar akan kehadiran Yang Maha.
Dan di suatu senja yang mulai memerah inilah aku terpikir bahwa akhir dunia ini adalah bahagia: ketika, suatu saat kelak, Tuhan dapat terumuskan oleh manusia. Dan manusia yang mulanya menentang kehadiran-Nya menjadi percaya. Tak lagi ada peperangan keyakinan, tak ada lagi alasan manusia dapat menyerang agama lain karena keyakinannya lebih benar.
Saat itulah Tuhan ikut turun ke dunia, memberi penghargaan kepada manusia atas apa yang diperjuangkannya. Tuhan bertemu mereka tanpa perantara barang kabut pun—seperti ketika Musa bercengkerama di Sinai. Saat itulah, manusia mendapat bukti nyata bahwa mereka berasal dari satu sumber Yang Maha. Manusia kembali percaya pada satu Tuhan Tertinggi yang kekuasaannya sungguhlah amat dahsyat.
Kemudian dunia bosan menari……

Malang, 21 Maret 2012
Alra Ramadhan, Lahir 9 Maret 1993 di Kulon Progo, salah satu nama kabupaten di D.I. Yogyakarta.. Saat ini berkuliah di Jurusan Teknik Elektro Univ. Brawijaya, Malang.. Lebih lanjut, dipersilakan berkunjung di @alravox..
Iklan

4 thoughts on “Detik”

  1. Ping-balik: Detik | ALRA RAMADHAN

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s