bayi mungil

Pengumuman: Artikel Terbaik III Lomba Menulis Opini dengan Tema Aborsi

Aborsi Bukan Tanggung Jawab Individu

Oleh: Inggi Tri Noviarianti

bayi mungil
Ilustrasi: ceritayosi.files.wordpress.com

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, aborsi diartikan sebagai pengguguran. Dan aborsi juga dibedakan menjadi dua, yaitu aborsi kriminalis dan aborsi legal. Aborsi kriminalis adalah aborsi yang dilakukan dengan sengaja karena suatu alasan dan bertentangan dengan undang-undang yang berlaku. Sedangkan aborsi legal adalah pengguguran kandungan dengan sepengetahuan pihak berwenang.Sementara itu, yang lebih berbahaya dan secara tidak langsung sedang menjadi trend di jaman sekarang adalah aborsi kriminalis, dan pelakunya adalah mayoritas pelajar dan mahasiswa. Berkembangnya jaman bukan membuat generasi muda makin pintar malah makin sesat. Pergaulan yang menggila, kebebasan yang keblabasan, dan mulai terkikisnya budaya timur, mungkin tiga hal tersebutlah yang menjadi pencetus lahirnya pikiran sempit yang tak bertanggung jawab. Dan pada akhirnya yang menjadi korban adalah perempuan serta calon manusia yang tak berdosa.

Di era globalisasi di mana pertukaran budaya sedang gencar dipromosikan, menggeser budaya kolot ke budaya modern, yang kini berpacaran di tempat-tempat umum sudah bukan hal tabu lagi malah dapat dilihat dengan mata telanjang oleh semua orang, seperti tontonan adegan romantis gratis. Tapi sayang, mereka tidak mengimbanginya dengan proses kontrol diri. Dan nasi telah menjadi bubur.

Sebenarnya tidak semua kesalahan harus ditumpahkan kepada dua insan yang sedang dimabuk cinta saja namun peran masyarakat, pemerintah dan orang tua juga sangat berpengaruh penting. Jika tiga elemen tersebut bersatu padu dan saling berpegangan tangan untuk lebih peduli maka persentase tingkat aborsi akan turun dengan signifikan dan nasib generasi muda juga akan terselematkan.

Peran masyarakat dibutuhkan untuk mengurangi beban batin bagi para perempuan yang sudah terlanjur mengandung. Biasanya, para tetangga malah menggunjing, mengolok, dan bergosip jika diketahui memiliki tetangga yang hamil duluan sebelum nikah. Bukankah hal inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya aborsi? Bukankah seharusnya yang tua yang dewasa? Rangkul dan dekati, karena tidak ada satu manusia pun yang luput dari khilaf dan dosa. Setiap manusia berhak mempunyai kesempatan kedua, dan mereka semua juga tahu, bahwa hanya keledailah yang akan jatuh untuk kedua kalinya di lubang yang sama.

Selain itu, ada fakta yang mencengangkan, jasa aborsi dijadikan sebagai lahan untuk mengais rejeki. Yang lebih menyedihkan lagi, yang menyediakan jasa tersebut adalah mereka yang berkecimpung di dunia kesehatan yang katanya berpendidikan serta memiliki tugas mulia menolong sesama. Sangat disayangkan, kesempatan dan keahlian yang telah dianugerahkan oleh Tuhan disalahgunakan hanya untuk mengantongi pundi-pundi dari hasil membunuh yang sudah tentu haram.

Dan untuk peran pemerintah sendiri, masih terkesan malu-malu kucing dalam bersosialisasi pada masyarakat luas. Karena dapat dilihat, bahwa para pelaku aborsi masih lebih takut aibnya tersebar luas dari pada resiko dari aborsi itu sendiri, yaitu yang biasanya sering terjadi adalah pendarahan dan tidak jarang berujung pada kematian. Acara talkshow di televisi memang sudah ada yang membahas mengenai bahaya aborsi namun masih kurang intens. Masih sekedar topik pilihan. Seharusnya bisa dibuatkan iklan di televisi, seperti iklannya keluarga berencana yang dibintangi oleh pasangan artis papan atas, dengan slogan yang membahana dan selalu terngiang di otak pemirsanya.

Meskipun nantinya pemerintah sudah getol mengkampanyekan anti aborsi tapi jika peran orang tua tidak ada, mustahil persentase aborsi di seluruh dunia bisa menurun. Karena pada hakekatnya, yang sedang dibutuhkan remaja bukan belaian pacar yang jika berlebihan akan berakibat fatal namun mereka butuh perhatian, pengertian, dan persahabatan dari orang tuanya. Jangan sungkan jika berdiskusi mengenai pacar anak-anak kalian, jangan menggurui juga jika anak sudah mulai membahas soal ketertarikan mereka pada lawan jenis, dan ini yang lebih penting jangan pelit waktu pada anak sendiri. Nah, bukan teori yang sulit kan? Sekarang tinggal mempraktekannya saja.

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s