cerpen agus wepe

Mana Ina

Cerpen Agus Wepe

1

Kami duduk berhadap-hadapan di meja foodcourt[1] yang paling ujung, dekat kios nasi Bu Bodro. Dalam piringku teronggok dua centong nasi, dua potong mendoan, selada dan kecambah rebus, disiram dengan kuah sate. Di sebelahnya tergeletak segelas es teh dengan bongkahan esnya yang besar-besar. Bu Bodro jelas lupa bahwa aku tak boleh kebanyakan es. Ina mengamatiku membuang bongkahan-bongkahan es itu tanpa ekspresi. Ah—Ina, mana senyummu itu?

Ina tak memesan apa pun. “Kau tak makan?” tanyaku. Ia hanya menggeleng tanggung. “Di sini makanannya terlalu banyak vetsin,” jawabnya. Ah, terlalu banyak hal yang telah kupikirkan. Ina pun sudah dewasa. Ia pasti tahu kapan saatnya lapar, dan kapan saatnya untuk berselera-makan. Tapi ia tidak makan sedari pagi. Aku tahu—aku sudah tanyakan pada ibunya tadi pagi. Sarapan buatan ibunya tak terjamah. Kuputuskan untuk bangkit dan mencari Bu Bodro.

Kupesankan Ina sepiring nasi berlauk tempe dan selada rebus. Sudah jelas ada makanan tanpa vetsin begini, kenapa ia masih tak mau makan? Terlalu banyak aku bertanya, terlalu banyak alasan yang telah ia persiapkan.

Kulihat ia mengetuk-ngetuk terali besi yang memagari foodcourt dengan kuku jarinya. Kusodorkan makanan kepadanya. “Makan,” kataku. “Kalau kau tak makan, nanti aku dimarahi ibumu.”

Yang kumaksud adalah ibu angkatnya. Ia sangat perhatian kepada Ina. Ia menikah dengan ayah Ina karena ia steril[2], dan ia sangat menyayangi Ina sebagaimana anak kandungnya sendiri.

Ina makan dan sesekali berhenti untuk memainkan sendoknya. Rautmukanya masih datar. Suasana hari ini pun benar-benar datar. Spanduk iklan obat maag yang melekat di terali sesekali berkibar pelan, tertahan oleh buntalan plastik berisi air yang digantungkan pada kedua ujungnya. Angin semilir tanggung. Meski foodcourt ini menghadap lapangan luas, pusaran angin kecil yang biasa menerbangkan dedaunan kering pun tak muncul kali ini. Tapi aku makan dengan lahap. Di kejauhan, pemilik kios lain memutar musik koplo keras-keras. Jari-jari kakiku mendadak bergerak membuat ketukan.

Dua bulan lalu, semua masih terasa menyenangkan. Kami begitu girang menjajal hal-hal baru; mendaftar ke klub pecinta alam, pergi ke seminar kewirausahaan sambil bergandengan, mencoba makanan di restoran yang baru dibuka, atau sekedar cekikikan sambil mengepas baju di mall. Kami tutup facebook kami, berharap ini tak akan jadi ajang mencari obyekan lagi.

Lihatlah kini—Ina jadi begitu membosankan. Ia tak pernah lagi mencubit. Ia tak pernah lagi mengingatkan untuk bangun pagi. Tak pernah ada lagi resep-resep baru yang ia ceritakan. Yang ada hanya tatapan yang seakan menuntutku untuk melakukan sesuatu.

“Aku tak lapar. Mas tahu itu. Mas harusnya tahu itu.”

Kutengok piringnya—masih penuh, lauk dan sayurnya teraduk-aduk kacau.

“Aku selesai,” kataku. Ina hanya menatapku, masih dengan mengaduk-ngaduk makanannya. Makanan kubayar. Semua, milikku dan Ina.

“Selesai,” tegasku. Aku melangkah keluar. Ina memanggilku kembali. “Mas!” teriaknya—“Aku pulang sendiri”.

Aku hanya membuang wajah.

Dari kejauhan, kulihat Ina makan dengan lahapnya—sambil sesenggukan.

***

2

cerpen agus wepe
Gambar diunduh dari kompasiana.com

Seorang perawat masuk dengan sebuah baki. Sebentar ia bercakap dengan Harjiyo, kemudian menyuntikkan sesuatu ke selang infusnya. Ia kemudian meletakkan sebuah wadah berisi dua butir pil ke atas meja. Sanah, istri Harjiyo, mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga suster berusia tigapuluhan itu. Yang dibisiki kemudian mengajak berbincang di luar.

“Ini biasa terjadi, Bu. Memang biasanya badan ngilu, mual-mual—ini efek samping obatnya. Ibu mendampingi saja, diajak ngobrol dan berdoa. Memang harus telaten, Bu.” terang suster itu.

“Tapi saya ndak tega melihatnya, Sus. Bapak itu sudah kering-kerontang, tinggal tulang. Masih mau disuruh sakit-sakit begini.”

“Iya, Bu, saya tahu. Mungkin ada orang yang sangat Bapak sayangi, atau yang bisa membuat perasaannya tenang. Ibu bisa mendatangkannya ke sini. Ibu bantu saja agar Bapak merasa nyaman, ya.”

“Iya, Sus.”

“Baik Bu. Saya pamit dulu. Nanti jika butuh sesuatu, saya ada di pos perawat di ujung sana. Mari, Bu.”

Wajah Sanah masih terlihat khawatir ketika perawat itu pergi. Sebentar terdengar suara batuk-batuk dan erangan Harjiyo. Tergopoh-gopoh Sanah masuk untuk menenangkan suaminya itu.

“Ina mana, Nah?” tanya Harjiyo.

“Nanti sore, Pak. Pasti dia datang.” Sanah berkilah.

“Betul itu? Badanku sakit, Nah.”

“Iya, Pak. Nanti pasti hilang sakitnya.” Sanah mengelus kaki Harjiyo.

“Aku mati saja, Nah.”

“Hus—ini Ina sebentar lagi datang.”

Harjiyo menunggu hingga petang, hingga ia tak mampu lagi menahan sakit di tubuhnya. Ia jatuh tertidur. Hingga larut Ina tak datang.

***

3

Entah karena tayangan iklan televisi atau suatu sebab lain, sore itu Aning mencoba membuat teh yang paling sedap sedunia. Barangkali teh hangat itu mampu mencairkan kegundahan yang mengerak di hati suaminya. Bismillah, Tuhan pasti tahu jalan terbaik.

Hanya ada Aning dan Hendro di rumah. Hari magrib, namun si anak semata wayang belum juga pulang dari kampus. Hendro yang sedang rebah di kursimalas mendadak terbangun mendengar suara nampan beradu dengan permukaan meja. Aning mengambil tempat duduk di samping suaminya.

“Teh, Pak.”

Hendro menggosok matanya.

“Ya. Lha Ina mana?”

Aning mengangkat bahu. “Mungkin ke rumah Anam. Tadi pagi ‘kan, dijemput Anam ke kampus. Lagian, hapenya ketinggalan.”

“Oh—”

Hendro menyeruput tehnya, lalu membuang napas keras-keras. Aning senang mendengarnya. Teh sore ini memang enak, ternyata. Ya, mungkin memang inilah saat tepat untuk mendekati suaminya.

“Pak.”

Jantung Aning berdebar. Ia harus mampu membujuk Hendro.

“Kita jenguk Bapak, ya?” rayunya. Hendro terkesiap. Ia kira istrinya tak akan membahasnya kali ini. Namun, rupanya Aning masih selalu dihantui rasa bersalah terhadap mertuanya.

“Pak?”

Hendro masih ragu. Bapak marah. Bapak marah kepada Aning. Bapak marah karena Ina ikut tinggal dengan Aning. Tapi Bapak sakit. Sekarat malah.

“Kita bahas nanti,” tukasnya.

“Nanti kapan, Pak?”

“Ya nanti! Kita tunggu Ina pulang!”

Hendro mendengus kesal. Ia ingin menyalahkan istrinya, namun keputusannya untuk menikahi seorang perempuan mandul adalah keputusan yang ia buat sendiri. Ia sudah dewasa, punya anak gadis pula. Tak adil jika ayahnya tak merestui pernikahannya dengan Aning.

***

4

Pagi hari, Ina belum pulang. Entah ia menginap ke mana. Hendro tak peduli. Aninglah yang sangat khawatir kepada Ina. Ia sudah menghubungi Anam, namun Anam sudah tak bertemu dengan Ina sejak kemarin siang. Baru saja ketika ia hendak mencari ke kampus, datanglah SMS dari Ina, mengabarkan bahwa ia menginap di tempat kos kawannya. Ini pun cukup melegakan bagi Aning.

Pagi itu juga, rupanya Aning telah merencanakan sesuatu. Selepas Hendro berangkat ke kantor, berkemas ia membawa berbagai macam makanan dalam rantang. Ibu pasti lapar, pikirnya. Ia harus berani menemui mertuanya.

Aning sampai di rumahsakit tepat ketika Sanah tengah menyeka tubuh Harjiyo. Bau pesing bercampur desinfektan menyeruak dari seluruh ruangan. Aning berkempis hidung sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

S’amlekum,” Aning menguluksalam.

Alekumsalam, mangga pinarak[3].”

Aning sedikit terkejut melihat keadaan Harjiyo yang sedemikian rupa. Rambut gondrongnya telah habis, hanya tersisa kepala licin berhias segaris urat yang menonjol dan bercak-bercak hitam penuaan. Kakek bertubuh gempal itu telah banyak mengempis, tersisa balung-kulit[4] saja.

“Bapak?”

Harjiyo ingin mengangkat kepalanya, namun tak kuat. Sanah memberi aba-aba kepada Aning untuk mendekat. Datang ia berjongkok di depan ranjang pasien. Harjiyo mengangguk lemah.

“Kamu?”

“Iya, saya, Pak. Aning.”

“Ina? Mana Ina?”

“Ina, Pak?”

“Iya, anak—kamu.”

Wajah Aning bergetar. Matanya mulai merambang. “I—iya—anak saya?”

Harjiyo tersenyum. Aning mulai sesenggukan. Lemah ia menjawab:

“Pasti, Pak. Sore ini dia pasti datang.”

“In—ini—”

“Iya, Pak?”

“Kesempatan terakhirmu, untuk tidak berbo—hong.”

Perasaan Aning semakin kacau-balau. “Bapak memaafkan saya?”

“Ma-na—In-na!”

***

5

Aku duduk di meja foodcourt yang paling ujung, dekat kios nasi Bu Bodro. Dalam piringku teronggok dua centong nasi, dua potong mendoan, selada dan kecambah rebus, disiram dengan kuah sate. Di sebelahnya tergeletak segelas es teh dengan sedikit bongkahan es. Tak ada yang mengamatiku membuangi bongkahan itu.

Tadi pagi Ina telepon. Ia katakan bahwa ia tak pulang. Kami harus bertemu. Sore ini juga. Harus ada sesuatu yang diketahui. Harus ada sesuatu yang dipahami. Akung[5] sakit, katanya. Bapak dan Ibu tidak bisa menjenguk Akung, katanya.

Aku tak pernah paham seperti apa sebenarnya jalan pikiran Ina itu. Kadang ia bisa sangat menyenangkan, kadang sebaliknya. Ia bisa jadi sangat tertutup dan pendiam. Kadang ia bisa begitu senangnya, hingga ia tak segan-segan datang ke rumah hanya untuk memberitahukan bahwa resep buatannya berhasil. Di lain waktu, ia bahkan tak mau meneuiku sama sekali ketika aku datang ke rumahnya.

Memangnya semua perempuan seperti itu?

Aku menunggu agar muncul pemahaman yang sempat tertunda.

Hingga petang Ina tak datang.

 

 

Banyumas, 22012012


[1] pusat jajanan berupa kios-kios kecil yang dihimpun di bawah satu atap

[2] mandul, tidak subur

[3] silakan masuk

[4] tulang dan kulit, sangat kurus

[5] kakek

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s