isis dan osiris

Isis dan Pangu

Gerundelan John Kuan
isis dan osiris
Gambar diunduh dari theusesofenchantment.com

Kecuali datangnya sakit dan bencana, pada umumnya, kita jarang memiliki perasaan yang mendalam terhadap kematian.    Kematian seolah adalah sesuatu yang begitu jauh dari kita. Atau begini saja: kita tidak merasa kematian mempunyai hubungan dengan kita. Tapi Jean-Paul Sartre berkata: ” Dimulai dari sesaat dilahirkan, kita akan selangkah-selangkah berjalan menuju kematian. “Kesadaran terhadap kematian sering menyebabkan perubahan sangat besar dalam kehidupan.Orang Mesir Kuno memiliki renungan yang dalam dan kokoh terhadap kematian.

Peradaban baru mulai, memanfaatkan lumpur kaya kandungan yang dibawa banjir Sungai Nil mengembangkan pertanian, membentuk kota, mendirikan negara. Namun, di awal mulainya kemajuan peradaban, juga merupakan awal mulainya rasa tak berdaya terhadap kematian, orang Mesir menciptakan mitologi begini:

Dewa utama Osiris dan adik perempuannya Isis mengikat sebagai suami-isteri, melahirkan seorang anak lelaki bernama Horus; mereka hidup bahagia seperti di dalam hampir semua cerita.

Osiris adalah lambang kebenaran, kebaikan, ketekunan, namun menimbulkan kebencian dan iri dari Dewa Kegelapan Set; setelah membunuh Osiris, Set memasukkan tubuh Osiris ke dalam peti kayu, dibuang ke dalam Sungai Nil.

Isis yang kehilangan suami, siang malam menangis. Dia menyembunyikan anaknya Horus di rawa berilalang, meminta dewi laut menjaganya, dan sendiri mengembara ke empat penjuru, mencari tubuh suaminya.

Setelah melewati berbagai kesulitan dan derita, Isis akhirnya berhasil menemukan tubuh Osiris. Dia bersujud di sisi tubuh kaku itu, menjerit pilu, berharap Osiris bisa hidup kembali.

Isis harus segera menyembunyikan kembali tubuh Osiris, balik menjemput anaknya Horus. Tak duga, Set yang penuh benci dan dengki, menggunakan kesempatan ini, dengan segala cara berhasil menemukan tubuh Osiris, agar bisa tuntas membinasakan Osiris, dia mengoyak tubuh Osiris menjadi potongan-potongan kecil, lalu ditebarkan ke dalam Sungai Nil.

Isis yang kembali bersama anaknya, menemukan suaminya telah menjadi serpihan, luar biasa sedih, konon, airmata pilunya mengalir jadi banjir Sungai Nil yang datang setiap tahun di awal musim panas.

Walaupun begitu, Isis tidak menyerah, dia mencari ke setiap sudut, mengumpul kembali setiap potongan tubuh Osiris yang hanyut di dalam sungai, menggunakan jarum dan benang menyatukan serpihan-serpihan itu, dia akan dengan setiap jahitan mengembalikan tubuh suaminya.

Karena airmata Isis, banjir tahunan Sungai Nil membawa datang endapan lumpur yang kaya kandungan, menyuburkan tanah, membangkitkan pertanian; karena cinta Isis, tubuh Osiris dari serpihan utuh kembali, hidup kembali.

Alam dewata tersentuh, banyak dewi-dewi membuka sayap, mengibaskan angin kehidupan, Anubis membawa datang linen, selapis-selapis dibalut dibungkus, membantu Isis menghidupkan kembali suaminya Osiris.

Menurut cerita, itulah mumi Mesir yang pertama.

Di dalam mumi tersimpan sedih pilu orang Mesir Kuno terhadap kematian, cinta kepada yang telah mati, harapan yang teguh dan berkobar terhadap hidup kembali.

Orang Mesir terlalu teguh atau mungkin bisa disebut keras kepala, mereka percaya, asalkan tubuh masih ada, sekalipun disobek jadi serpihan, tetap bisa dijahit utuh kembali; mereka percaya, asalkan tubuh ada, pasti ada kemungkinan berlanjutnya hidup.

Osiris kemudian dinobatkan sebagai Dewa Kematian, di mulut pintu maut menerima orang-orang yang sampai di alam lain. Di dalam banyak makam-makam Mesir Kuno masih meninggalkan pahatan atau mural begini: Osiris merentangan kedua tangan menyambut, Anubis dan isterinya Isis berdiri di samping menemaninya, juga ada dewi-dewi yang membuka sayap, mengibas angin hidup kembali.

Mumi-mumi kering mengerut yang tersimpan di British Museum, bisa membuat orang terguncang, dengan cara yang begitu mendalam dan sedih meneror yang hidup, menyaksikan bentuk terakhir dari hidup ini!

Orang Mesir terlalu rasional, mereka samasekali tidak menghindari kematian sebagai suatu kenyataan, mereka menciptakan orang mati menjadi mumi, mereka menggunakan granit memahat patung-patung raksasa, mereka terus berharap kekekalan tubuh ini.

Cara Mesir menghadapi kematian adalah khidmat dan pilu.

Mengenai kesadaran orang Cina Kuno terhadap kematian adalah begini:

pangu
Gambar diunduh dari 2.bp.blogspot.com

Pangu yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, suatu hari mati, dia rebah di atas bumi, dagingnya berubah menjadi tanah ladang, tulang-belulangnya berubah jadi pegunungan, keringatnya mengalir jadi sungai-sungai, rambut, janggut dan bulu tubuhnya berubah jadi rumput dan pohon, mata kirinya menjadi matahari, mata kanannya menjadi bulan, nafasnya menjadi awan dan angin di langit…

Saya selalu menyukai cerita ini, seperti banyak cerita di dalam mitologi Nusantara, sedih pilu terhadap kematian berubah menjadi keceriaan hidup baru, hidup perorangan mengikat menyambung dengan segala hal dan segala benda di dalam semesta, kematian menjadi semacam persembahan, kematian adalah bentuk cinta yang lain…

 

     Bunga gugur itu bukan benda tiada rasa,

     menjelma jadi lumpur musim semi lindungi bunga.

落红不是无情物,

luòhóng bù shì wúqíng wù

化作春泥更护花。

huà zuò chūnní gēng hù huā

Tiba-tiba teringat sepenggal puisi penyair Dinasti Qing: Gong Zizhen ( 1792 -1841 ) ini. Tafsir terhadap kematian yang begini, lebih matang, lebih cermat, mungkin adalah kearifan yang diperoleh dari pengamatan terhadap perubahan alam. Ini juga sangat mirip dengan orang Ibrani Asia Barat Kuno yang berkata di dalam injil: Sebiji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, akan tumbuh keluar lebih banyak biji gandum lagi.

Tidak tahu juga apakah karena Pangu, orang Cina setelah periode Lima Dinasti ( 907 – 960 ) menjadi kurang begitu melukis figur manusia, tetapi sangat suka melukis pemandangan alam. 

Kesukaan orang Cina melukis pemandangan alam benar-benar sangat terkenal dan tidak usah diceritakan lagi. Pemandangan alam seolah bentuk lain dari figur manusia. 

Pegunungan adalah tulang belulang manusia, ladang dan sawah adalah daging manusia, hutan adalah rambut manusia, dan sungai-sungai besar yang terus menerus mengalir, pasti adalah airmata dan cairan darah yang tidak henti mengalir dari jaman ke jaman. 

Saya berulang kali menceritakan kisah Isis dan Pangu ini kepada orang-orang di sekitar saya, terus berusaha mencari penjelasan yang masuk akal di dalamnya. Namun, setelah beberapa kali menceritakan, akhirnya saya menemukan bahwa bagian terbaik dari cerita-cerita kuno ini, bukan berada pada penjelasan yang masuk akal, tetapi pada cerita mereka yang disampaikan dengan begitu asli dan polos.

Sejak adanya istilah ‘ sastra ‘ yang amat merepotkan ini, dan malangnya lagi sejak ‘ sastra ‘ terus-menerus diulas oleh peneliti-peneliti di sekolah-sekolah tinggi, cerita pun karam.

Saya agak malu pada umur segini masih sering kepergok terjerumus bersama anak-anak kecil di depan rak-rak buku dongeng, sesungguhnya saya belum pernah benar-benar terlepas dari cengkeraman legenda, dongeng, mite, dan lain-lain yang pokoknya bernama cerita.

Setelah menulis Isis dan Pangu, saya merasa sedikit bosan dengan motif sendiri mencari penjelasan yang masuk akal terhadap mitologi-mitologi tua. Bersandar di kursi istirahat, teringat satu per satu legenda, dongeng, fabel yang diceritakan nenek, dari bintang sampai kupu-kupu, dari burung pipit sampai ayam jago, manusia-manusia pertama yang turun dari langit, keluar dari batu, menetas dari telur, keluar dari bambu di dalam mitologi Nusantara, Echo dan Narcissus dari mitologi Yunani, cerita-cerita Jataka. Semua cerita-cerita ini begitu sederhana, namun bukan sebuah penjelasan masuk akal yang dapat mengantikannya.

hitam dan putih
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Di dalam cerita-cerita itu, saya tiba-tiba merasa memperoleh kebebasan yang luar biasa, seolah tiba-tiba terlepas keluar dari bingkai ‘ sastra ‘ yang sesak dan membosankan itu, kembali memiliki ruang yang lapang. Di antara cerita dan cerita, di antara kenyataan dan imajinasi, di antara jaman dahulu dan jaman sekarang, dapat menerobos, tanpa sekat, datang dan pergi sesuka hati.

Kadang-kadang kenyataan yang terselubung akan menjadi kepedihan cerita, dan sejarah mungkin juga menjadi kesuraman cerita; namun, bagaimana pun hidup pasti akan berlanjut, dan bukan hanya saja berlanjut, bahkan ingin mendengar cerita-cerita bagus, cerita-cerita indah, cerita-cerita sedih, cerita-cerita yang bisa dijelaskan dan yang tidak bisa dijelaskan, sebab hidup belum berakhir, bait puisi belum berakhir, saya sering merasa tokoh-tokoh cerita-cerita tua ini di sekelilingku, mempunyai nyanyian tangisan tawa dan airmata yang sama.

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s