boncengan mesra

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #20

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 20

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Siang itu FDP kedatangan 2 orang tamu. Bertampang preman gaya bicara membentak-bentak dipersilahkan Ningsih duduk di ruang tamu. Ucok kawani mereka bicara. “Kalian ini memberi penyadaran atau menganjurkan urban kota memberontak.” “Pembebasan tanah sudah selesai 2 semester yang lalu, tapi kenapa unjuk rasa tetap dilakukan?” Salah seorang tamu gencar bicara. “Apa apaan ini ? Abang jangan sembarangan bicara ya… Kami belum tahu apa masalahnya, sudah langsung main bentak bentak!” Ucok keberatan atas cara tamu yang datang ini. “Kalau kami pukuli abang berdua di sini lantas kami adukan abang ingin merampok, pasti abang berurusan dengan polisi.” Armand lanjutkan bicara Ucok. Nampak kedua tamu tak menyangka dapat perlawanan dari tuan rumah. “Kalau di tempat lain abang bisa sembarangan tapi kalau di sini jangan sembarangan.” Muslimin juga naik darah nampaknya. Mendengar respon yang bertubi-tubi sang preman lontong yang 2 ekor itu mengendur.

“Begini, Dik, dekat jalan keluar menuju desa Kembang Bondar akan dibangun perumahan mewah. Tadi, masyarakatnya unjuk rasa ke DPR dan kontraktornya hampir terbunuh oleh unjuk rasa itu. Kami dengar FDP adalah organisasi yang mengorganisir masyarakat di sana.” Preman itu menjelaskan.

“Terus terang kami mendukung sikap keberatan masyarakat terhadap rencana pembangunan tersebut. “Kami punya data tentang itu. Tapi, karena terlalu banyak unsur yang bermain dalam kasus itu, kami tidak ikut bergabung,” kata DR Pardomuan.

Kedua preman itu langsung tarik diri dari FDP. Dari ucapan DR Pardomuan jelas kelihatan bahwa FDP tidak takut berhadapan dengan preman. Hanya saja kebetulan FDP tidak terlibat pada kasus yang dimaksud, maka kedua preman itu tidak dilayani. Di meja tugas Muslimin, Susanti datang berbisik,” Rupanya Ricard Lonardo tadi hampir dibunuh pengunjuk rasa.” Muslimin hanya mengangguk-angguk kecil. Lalu DR Pardomuan katakana, “Cok,…kalau mau investigasi kasus itu silahkan saja, tapi jangan bawa nama FDP. Kita sudah merubah citra.”

“Hua…ha..ha…,” ketawa semua orang yang ada di FDP. Sudah ringan rasanya perbedaan pendapat yang sempat terjadi di FDP.

Ternyata, Ricard Lonardo mendapat tantangan yang cukup serius sebagai developer. Beberapa kontraktor lokal yang tidak kebagian proyek, bersatu menggugat keberadaan perusahaan Ricard.  Ikatan alumni fakultas teknik Universitas Sandiega bergabung dengan alumni dari Universitas Zatingon mempertanyakan: “Kenapa mesti menunjuk kontraktor nasional, padahal kontrakor lokal punya kemampuan untuk mengerjakannya”. Organisasi pemuda secara bertubi-tubi setiap hari datang ke kantor Ir Ricard Lonardo minta uang keamanan. Termasuk minta jatah pemasuk pasir, semen dan material lainnya. Ini membuat rasa iba Susanti, tapi dia lebih cenderung memihak kawan-kawannya kontraktor lokal.

Kalau sudah begini, jangan harap rakyat pemilik tanah bisa menang. Kalau kasusnya begini, pastilah perwakilan kontraktor lokal diundang ke Trieste, kemudian diberi jatah pembangunan oleh departemen, sehingga kontraktor nasional tidak mendominasi pembangunan tersebut. Hanya ini persoalan di departemen, sementara persoalan keadilan di tengah-tengah rakyat yang kena gusur, pastilah ditangani militer. Trieste oh…Trieste…entah kapan keadilan dan kedamaian dapat tercipta di sini. Ucok patah semangat.

Ucok memang agak repot belakangan ini. Karena semakin santer kedengaran bahwa Dewi Lyana jatuh cinta kepadanya. Sedangkan Ucok belum tertarik untuk menjalin asmara dengan Dewi.

“Terlalu manja dan tidak tahan banting si Dewi itu. Cantiknya sih…cantik, tapi itulah…manja kali kutengok.” Inilah pengakuan Ucok di tengah-tengah Armand dan Muslimin.

“Yah,…tapi, lama kelamaan ‘kan bisa juga Dewi berubah kau bikin.” Arman mencoba menjelaskan. “Lagi pula Dewi itu dari keluarga baik-baik,” Armand menambahkan.

“Pukimak kau Mand! Berapa kau dibayar Dewi.” Ucok suntuk mendengar ucapan Arman.

“Tidak…tidak Cok, dari pada Dewi yang lugu itu jatuh ke tangan laki-laki hidung belang, kan gawat…,”  Muslimin mendukung maksud Arman.

“Ah, taiklah sama kalian berdua. Kok jadi ini yang kita bicarakan. Apa tak ada lagi pembicaraan yang lebih bermutu ?” Ucok semakin suntuk mendengar celotehan-celotehan Arman dan Muslimin. Rumah makan langganan mereka siang itu jadi gemuruh dibuat ketiga staf FDP.

 

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 19

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Iklan

One thought on “Torsa Sian Tano Rilmafrid* #20”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s