Satu Sudut Cerita

Puisi John Kuan

1.

Minke tidak tahu dirinya kembali menjadi pembukaan sebuah novel.

Sudah dua tahun di ibukota jual-beli peluh, kulit, perut dan hasil bumi

Sesekali juga sejarawan bawah tanah rangkap geolog jarang ke lokasi,

katanya tidak penting. Apalagi hari ini, tapi hari ini sungguh G30S/PKI

Hari ini adalah absolut, bukan apalagi. Novel masa kini ingin pembukaan

baru kembali: Belum pernah melihat langit melengkung begini rendah

dan mendung, sekalipun kilat berkali menyapu genangan tinta dramatis.

Minke keluar dari UG pencakar langit mencari otak kecil, dia lepas-tangkap

di dalam sebuah taksi melaju di antara spasi kata-kata dekoratif. Minke

kaget, tidak pernah melihat badai ibukota bisa demikian membabi-buta

mengaduk jiwa seorang penjual-beli, juga mengaduk jiwa neokapitalis

juga jiwa supir taksi poskolonialisme, bahkan jiwa seorang pemain filem

menempel di kursi, ingatan dan tekad adalah pemercik api otomatis, sejarah

sial negeri malang ditransfusi lewat pembuluh darahnya ke ujung nozel

membakar mesin, mendinginkan cuaca tropis, melesat di jalan demokrasi

Tapi beberapa puluh kaki di bawah tanah, beberapa jiwa bergelombang

tapi bukan kaget. Minke kembali masuk ke UG pencakar langit, kelihatan

otak kecil duduk di satu sudut, satu sudut sejarah, dikepung hantu bisu

Otak kecil sedang melamun, seperti dapat mimpi bagus, bermimpi sulur

merambat di bawah tanah jadi hutan, mengantar air hujan, dan api,

hantu bisu tersenyum, hilang mendebu di dalam udara rima Angkatan 66.

gambar diunduh dari lil4ngel5ing_files_wordpress_com

2.

Minke dari gesekan rima Angkatan 66 menyusup ke dalam mimpi siang

Bersama otak kecil bernostalgia ——— hari itu juga celaka gelap, berdua

somnabulisme di dalam hujan miring, seandainya memang ingin caci-maki

mereka harus menghujat terlahir di dalam sebuah novel, di latar jaman

celaka gelap itu. Tapi memorial adalah tidak perlu, masa muda mereka

tidak usah dikenang hari ini. Mereka hanya perlu antar air hujan dan api,

melewati sebumi genangan hening. Minke menemukan latar telah jadi danau

beberapa bongkah awan hitam sedang menyelam, di atas pencakar langit

kilat sedang geram mengasah gigi. Dan otak kecil melihat latar makin kuyup

akhirnya menjelma jadi lumpur hitam. Bayangkan penjual-beli peluh, kulit,

perut dan hasil bumi bersama sekerat otak kecil bahu membahu meratap

seseorang tidak perlu identitas, seperti sang priyayi sesat di dalam lumpur.

Mungkin ini sedikit OOT: Beberapa tahun kemudian, ketika otak kecil bertatap

muka dengan regu penembak Sang Maut, mungkin akan teringat tahun 2000

suatu petang di depan rumah jagal sebuah kota provinsi, nama tidak penting

Rumah jagal itu telah telantar, dikuasai sekelompok seniman jadi rumah seni.

Namun seni eksperimen pura-pura itu membuat lambung luka. Mereka lebih

memilih keluar mengisap udara masa lampau: Di dalam ketenangan mengisap

habis bau darah terakhir. Tidak tahu mati berapa banyak babi, di udara

seakan penuh roh babi. ” Mungkin juga ada roh manusia ” Seseorang mulai

berbicara dunia-akhirat. ” Coba bayangkan, setelah mati apapun tidak ada ”

3.

Memori selalu di saat termenung berpapasan, menoleh kemudian melongo

Otak kecil terayun-ayun dalam perjalanan pulang, tidak tahu siapa berkedip

mata kepadanya, meniru senyum Maut, tapi senyum begitu hanya bikin orang

menguap. G30S tiap tahun pasti lewat, otak kecil tiba-tiba sadar sesungguhnya

novel ini tidak perlu sebuah pembukaan baru. Kalau curhat, otak kecil memang

ada sedikit. Tulis novel juga sudah pernah, namanya [ Curhat Tahun Celaka ]

Cerita tentang seorang lahir salah ruang dan waktu, negaranya dibombardir

guru kebenaran agung, bahkan rumah sakit bersalin juga, orang itu gunakan

waktu setahun taruh nyawa dewasa, tapi lupa dia mesti belajar bahasa apa,

tunjuk langit dalam hati: Cepat atau lambat kalian pasti akan mencicipi lihainya

Curhat Tahun Celaka! Novel terlalu absurd, apalagi kenyataan. Ketika otak kecil

sampai di rumah, Minke masih berjalan di alur cerita, berputar di dalam indeks

tapi tidak tersesat, hanya hampir menginjak bibir jurang negara. Pengawal alur

cerita menghardik, figuran juga memohon, namun dia samasekali tidak hirau

Minke amat jelas destinasinya, otak kecil juga tahu. Sebuah negara memalukan,

sebuah pemerintah memalukan, pejabat menggosok aus suatu hari suatu bulan

di kertas almanak, menetaskan berapa butir hukum, orang-orang tidak peduli,

mau cinta bisa cinta, mau pisah bisa pisah, alam tukar musim, hati siapa terluka?

Begitulah, otak kecil sampai di rumah, hanya dengan kaleng bir dia berbisik

Menyewa sepetak utopia di antara pasar moderen dan pasar tradisional, juga

diberi bonus neraka, sulur merambat sampai sini, transportasi air hujan dan api.

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s