lukisan a hadi

Wasiat Emak

Cerpen Susan Dwi

lukisan a hadi
ilustrasi diunduh dari foto lukisan ibu anak karya A Hadi di situs bejubel.com

Ada yang berbeda di serambi rumah Emak malam ini. Ketiga putranya yang sudah lebih dari lima bulan tak pernah menampakkan batang hidung, tiba-tiba datang berkumpul. Satu tujuan mereka, membicarakan wasiat Emak. Aku turut diundang karena sore tadi hanya aku yang berada di sisi wanita itu sebelum nafas terakhirnya terhembus.

Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu,

“Emak minta salah seorang putranya menggantikan Emak berjualan di pasar,” ucapku lirih.

Edi, putra sulung Emak mengernyitkan dahinya. Ia menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskannya ke udara. Aku menahan batuk. Melihat wajah Edi, aku jadi teringat Emak yang dulu selalu mengeluhkan kebiasaan buruk Edi semasa muda. Judi adalah kawan akrab lelaki itu hingga akhirnya Emak harus menjual sawah warisan Simbah untuk menutup hutang putranya.

“Emak tidak sebutkan nama?” tanya Edi. Alis kanannya sedikit terangkat. Mimik mukanya menyiratkan kecurigaan. Sepertinya ia tak percaya padaku.

Aku menggeleng. Aku ingat betul, apa yang diucapkan Emak. Meski dengan terbata-bata, aku dapat mendengarnya dengan jelas.

“Itu saja?”

Aku mengangguk lemah.

“Emak tak bicara soal warisan?” Tono menyesap kopi pekatnya. Di ujung bibirnya tampak ampas kopi yang tertinggal.

Huh, kau bahkan tak mau merawat Emak! Sekarang minta warisan?

Aku menggeleng lagi. Ingin sekali aku mengumpat karena kesal pada putra kedua Emak itu. Meski ia adalah suami kakakku, namun kadang aku tak habis pikir. Bagaimana mungkin Mbak Yuli bisa memercayakan setengah masa hidupnya kepada lelaki mata duitan dan pelit macam Tono.

“Kita bagi saja biar adil,” Agung, putra bungsu Emak yang sedari tadi asyik menikmati pisang goreng sisa tahlilan, menyampaikan usul. Serentak Edi dan Tono mengangguk setuju.

“Lalu wasiat Emak?” aku terperanjat. Acara membahas wasiat terakhir Emak berubah menjadi ajang pembagian warisan.

“Kita bahas nanti saja,” Agung menyunggingkan senyum di wajahnya. Matanya menghakimiku, isyarat aku tak diperbolehkan ikut campur dalam pembagian warisan. Dengan lunglai, kutinggalkan tiga bersaudara itu.

***

Mendung kelabu menggantung kian rendah di langit gelap. Hawa dingin bertiup mengiringi gerimis yang sejak satu jam lalu hadir bersama galau di hatiku. Malam ini makam Emak pasti basah. Mungkin akan sebasah pipi Emak jika melihat betapa rakus ketiga buah hatinya. Sejauh ini, tak terlihat setitik pun air mata mengaliri wajah mereka karena sedih.

Edi yang tinggal di kota, bahkan rela menempuh perjalanan empat jam demi membahas warisan yang mungkin ditinggalkan Emak untuknya. Padahal, lebaran kemarin ia tak dapat meluangkan sedikit waktunya untuk sekedar mencium tangan Emak.

Tono, kakak iparku, putra kedua Emak. Meski hidup dalam gelimang harta, tak serupiah pun ia pernah berikan pada wanita yang telah menghadirkan dirinya di dunia ini. Aku, adik kandung istrinya, juga tak dibiayai sekolah. Tiga tahun lalu, lelaki itu malah ’membuangku’ di rumah Emak. Meski begitu, justru aku dapat bernafas lega karena tak jadi putus sekolah. Emak menghidupiku layaknya putra sendiri.

Agung, putra bungsu yang tak pernah absen meminta-minta pada Emak. Usianya sudah menginjak kepala tiga, memiliki seorang istri dan dua orang anak. Namun tak pernah sekali pun ia memberi nafkah yang layak pada keluarga dengan jerih payahnya sendiri. Cerita dari Emak, istrinyalah yang bekerja sejak mereka menikah. Tiga tahun pertama menjadi buruh pabrik. Tiga tahun selanjutnya jadi buruh tani di sawah Tono. Tiga tahun terakhir, mengadu nasib di negeri tetangga. Kabar yang kudengar, istri Agung tak kirim uang lagi sejak tiga bulan lalu.

“Aku minta rumah saja,” sayup terdengar suara Tono. Kami hanya terpisah selembar bilik bambu yang jadi dinding rumah Emak. Jangankan suara, asap rokok ketiga orang itu mampu menyelinap melalui celah anyaman bambu. Kulekatkan telinga pada daun jendela.

“Aku minta semua ternak,” Agung meninggikan suara seperti takut jatah warisannya direbut kedua kakak lelakinya.

“Aku yang memutuskan. Aku anak tertua,” Edi berseru tak ingin kalah.

Aku menahan nafas agar dapat jelas mendengar percakapan mereka. Aku telah menduga sejak awal, Edi akan menggunakan dalih ’anak tertua’ sebagai senjata dalam pembagian harta.

“Tono dapat semua ternak. Agung dapat semua sawah. Rumah Emak jadi bagianku. Adil kan?” Edi beranjak meninggalkan kedua adiknya yang melongo melihat kakaknya jadi hakim.

***

Malam belum usai. Hawa dingin melingkupi seluruh desa yang baru saja diguyur hujan. Aku harus merapatkan sarung untuk mengusir gigitan udara malam. Aroma pohon bambu yang tumbuh mengelilingi pekarangan Emak menyeruak. Suara katak meramaikan nyanyian jangkrik di tengah guyuran hujan. Ramai yang senyap. Sunyi karena malam ini aku tak mendengar cerita Emak tentang ketiga putranya lagi.

Tubuhku terbaring. Mataku terpejam. Tetapi aku masih terjaga. Sekitar sepuluh jam sejak kepergian Emak, hatiku sudah dipeluk kerinduan padanya. Biasanya, tiap jam tiga pagi, Emak mengendap-endap berangkat ke pasar karena takut membangunkanku. Jika aku terlanjur bangun, Emak selalu menyuruhku kembali ke kamar untuk kembali tidur.

Rasa kasihan menggelayut di benakku. Mengira-ngira salah serta dosa apa yang dulu telah diperbuat Emak hingga Tuhan memberinya tiga orang anak lelaki berperangai buruk. Aku yakin, darah Bapak begitu kental mengaliri pembuluh nadi mereka.

Tiga puluh tiga tahun Emak menjanda. Suami Emak juga tak pernah kembali dari rantauannya. Hanya dua kali Bapak pulang kampung. Kepulangannya yang terakhir untuk mengurus cerai. Lelaki tua itu hendak menikah lagi setelah bertemu seorang janda di kota.

Anganku terbang melayang.

Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu,

Sepenggal kalimat itu terurai dari bibir Emak menjelang ajalnya. Dengan air mata bercucuran karena ketiga putranya tak sempat mendampingi di saat terakhir. Suaranya begitu lirih dan tersendat-sendat oleh nafas yang hampir putus.

Sebenarnya sejak lusa kemarin, Emak telah meminta mereka untuk menuntun Emak mengucapkan syahadat. Rupanya, wanita itu telah merasakan kehadiran malaikat pencabut nyawa di sisinya. Sayang, meski aku telah pontang-panting menyusuri desa untuk menjemput Tono dan Agung, mereka bergeming. Banyak urusan, kilah mereka.

Meski nyaris putus asa, nama Edi terlintas di ingatanku. Sengaja kupinjam telepon di balai desa untuk menghubunginya. Tetapi dengan menelan kekecewaan, aku harus mendengar penolakan yang begitu kejam.

Katakan pada Emak, aku masih banyak pekerjaan. Belum lagi, aku harus cari uang dulu buat ongkos. Bilang saja, lebaran tahun ini, aku sempatkan ke sana!

Aku menarik nafas dalam-dalam. Berusaha mengisi sistem pernafasanku dengan udara yang lebih bersih. Asap rokok bertebaran dari luar ruangan itu. Tono dan Agung terus saja membakar tembakau di serambi depan. Mereka tengah asyik berbincang seolah tak ada kantuk yang membebani mata keduanya.

Banyak hal yang mereka bahas. Sayang, semua hanya omong kosong. Kurasa mereka tak berminat membuka memori untuk mengenang kebaikan Emak semasa hidup.

Aku terhenyak. Harusnya mereka bersyukur karena memiliki ibu yang begitu penyayang dan sabar. Dan mestinya mereka menyesal karena belum dapat membalas kebaikan Emak dengan cara yang pantas.

“Kenapa Mas Edi pilih rumah, ya?” pertanyaan seputar warisan. Agung, putra Emak yang paling bodoh itu selalu encer otaknya bila berhubungan dengan uang.

“Karena Emak pasti menyimpan semua hartanya di rumah,”

“Oh, pantas saja kau tadi juga minta warisan rumah Emak,”

“Tentu saja,”

Aku menghela nafas cukup panjang.

Mereka ini terbuat dari tanah atau api? Raganya manusia, hatinya iblis!

“Lalu bagaimana dengan Bowo?”

Tono menyebutkan namaku. Semakin kutajamkan pendengaran. Inilah yang aku cemaskan. Aku belum tahu bagaimana nasibku selanjutnya. Siapa yang akan berbaik hati untuk membiayai hidupku. Jelas Tono tak akan bersedia menampungku.

***

Sekali lihat saja, aku dapat merasakan betapa lapuknya lapak Emak. Dindingnya terbuat dari papan triplek dengan anyaman bambu yang tersusun berantakan. Rembesan air sisa hujan semalam tampak merayapi bagian bawah yang menancap ke tanah. Sementara selembar seng berkarat jadi atapnya. Beberapa lubang kecil tersebar di sana. Aku yakin jika hujan datang, Emak akan kuyup. Apabila tengah hari, pastilah panas mendera.

Aku terpaku cukup lama. Lapak ini sudah reyot. Beberapa bulan lagi mungkin saja, atap beserta dindingnya runtuh akibat diterpa angin.

Inilah lapak yang tiga bersaudara itu berikan padaku. Tadi pagi, diam-diam mereka mengadakan rapat rahasia. Edi, Tono, dan Agung akhirnya sepakat memberikan wasiat Emak kepadaku.

“Pakailah lapak itu untuk mencari nafkah,” ujar Edi tadi pagi sebelum pulang, kembali ke kota. Aku sedikit kesal. Mereka tak berniat turut tahlilan selama tujuh hari di rumah Emak. Tono dan Agung juga berencana untuk pulang ke rumah masing-masing. Dari percakapan yang kudengar, minggu depan mereka baru akan kembali ke rumah Emak untuk pengurusan perihal warisan.

“Emak ingin salah seorang dari putranya yang mewarisi lapak itu,” sanggahku. Meski dalam hati aku tak keberatan diberi mandat berharga dari Emak.

“Lapak itu sudah diwariskan padaku, sekarang jadi hak milikku, kan?”

Tono dan Agung mengangguk-angguk. Aku juga.

“Ya sudah, kuberikan padamu. Tolong dirawat, ya?” sorot mata Edi menampakkan rasa iba yang dibuat-buat. Bergegas ia pergi dengan mengendarai motor.

Aku menghirup udara semampuku. Aroma pasar yang basah menyengat, berjejalan masuk memenuhi rongga dadaku. Matahari cukup terik. Tiada tampak lagi penjual dan pembeli berkeliaran. Cuma aku.

Kujejakkan kaki memasuki lapak Emak. Aku menelan ludah. Ini lapak yang digunakan Emak semasa hidup untuk mengais rezeki. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya, tetapi juga untuk menafkahiku. Kini lapak telah menjadi milikku.

Lapak seisinya adalah wasiat Emak. Harusnya mereka tidak terlalu serakah dan mengabaikan keinginan wanita yang telah memelihara mereka sejak kecil.

Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu,

Kulangkahkan kaki perlahan. Dua langkah, empat langkah. Aku berhenti pada titik di sudut lapak dan berjongkok.

Kugali tanah lempung yang becek dengan jemariku kuat-kuat. Keringat membasahi keningku. Nafasku memburu. Sebuah kotak kayu jati teronggok di pojok ruang gelap yang sempit itu. Aku menelan ludah seolah haus sedang mencapit kerongkongan. Mataku perih. Beberapa tetes peluh menyelinap melewati deretan bulu mataku yang tipis.

Tanganku tergetar ketika membuka kotak itu.

Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu, karena di sana Emak menyimpan semua warisan untuk mereka.

***

 

*) Susan Dwi, mahasiswa kelahiran Surabaya 1987, kini tinggal di Surabaya.

 

Baca cerita pendek lain:
Menembus Waktu
Mata Kelinci Bertelaga Teduh
Algojo

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s