cerita bersambung

Wanita Itu Bernama Marida #4

Cerbung Willy Wonga

Aku teringat lagi akan wanita itu.
“Ini Marida,” kata Andre di hari ketika wanita itu muncul lagi. Ternyata seucap janji tentang cinta seumur hidupku tidaklah mudah dijalani. Ternyata cintaku pada Andre suatu hari, hari wanita itu datang, membara menerabas sekat kebencian yang telah kurenda sebelumnya. Kebencian terpendam akibat diabaikan demi wanita-wanita cantik pasangan kencan, juga teman minumnya, menemui saatnya mencuat seperti nanah dari bisul pecah.

cerita bersambung
gambar diunduh dari bp.blogspot.com

“Marida, dia akan sering berada di rumah ini. Aku harap kamu bersikap baik pada dia,” Andre kembali bersuara memecah hening, memperkenalkan wanita itu. Aku terguncang: aku harap kamu bersikap baik pada dia!!
Tentu masih ingat aku akan kecantikan seperti itu. Natur hanya dipoles sedikit bedak. Aku menatap pesona di tengah ruang makan ini. Berdiri semenjulang Andre meski kini dia kenakan sepatu berhak. Dengan blazer biru langit. Kami bersipandang seberang menyeberang. Dia akhirnya lempar senyum, aku melengos mentah-mentah.
Tidak dibilang kalau kemungkinan ini terpikirkan. Bahwa Andre akan mendatangkan seorang wanita untuk menetap, bukan hanya sekedar teman kencan. Dari gelagatnya aku telah memastikan akan datang hari ini. Sungguh mengerikan punya pikiran demikian. Membagi Andre dengan wanita lain, bukan cuma terbakar cemburu tapi aku ingin mati sekalian saja. Meskipun sampai hari ini aku belum mati-mati juga.
Senyumnya terkembang lagi, aku tetap merasa senyum semacam itu ditulus-tuluskan. Drama permusuhan pasti tertangkap pada mata nan elok di sana. Oh, mata serupa sepasang kejora. Aku tiada berdusta. Meski tengah mempertahankan sesuatu yang masih samar dalam benak, aku mengakui kalah dalam hal keindahan rupa. Marida, nama wanita itu, punya wajah dua kali eloknya dariku. Kecantikannya makin menjadi-jadi saja. Bibir terbentuk sempurna, mengubah sepotong senyum yang -pasti biasa bila bertengger pada bibirku-, jadi sesuatu mirip rekahan kuncup mawar menyepuh mentari. Belum lagi pipi mahaindahnya. Aku berani bertaruh Andre akan menggadaikan semua miliknya hanya untuk merengkuh mahkluk di depanku. Tetapi nyatanya dia tidak mengeluarkan sedikit pun biaya memboyong Marida ke sini. Puja bercampur kutuk mengharubiru hatiku.
“Aku harap kamu suka dengan kado dariku.” Bicaranya sepotong. Tetapi suara seolah bermelodi dalam gendang telinga. Aku jadi limbung menyadari menyerah pada tawanan sebuah kecantikan yang sebentar lagi menguasai rumah ini. Setelah beberapa tahun hanya milik kami berdua, mungkinkah kini Andre telah memilih seorang lain untuk memiliki andil dalam hidup kami masing-masing? Lalu di mana akan dia taruh para gadis pasangan kencannya? Apakah aku akan makin tersingkir dalam persaingan yang tidak adil ini?
“Kupikir kamu punya nama bagus. Aleksandra kan? Kamu tahu betapa cantiknya nama itu?” pujian pura-pura. Jelas-jelas dia sedang memperolok titik lemahku, aku membatin. Aku selalu menyesal kenapa tidak dilahirkan secantik wanita seperti dia. Padahal ibuku cantik pula, kendati tetap kalah dari manusia mahakarya pelukis semesta ini. Bila ibuku kalahnya cuma sekali, aku dua kali.
“Jadi kau akan tinggal di sini?” akhirnya muncul juga tanya dari bibirku.
“Setidaknya kita akan sering bersama.” Sahut Marida ringkas. Dia beralih duduk di kursi menyusul Andre. Senyumnya tersungging sedikit malu-malu. Kecantikan dia, pesonanya juga senyumnya itu adalah satu hal yang terpisah dari dari rasa dengki yang dia terima dariku. Sampai hari ini, aku masih sering bertanya-tanya dalam hati mengapa hanya pada wanita itu, aku tidak menaruh benci pada kecantikan rupa? Malah terbalik secara ekstrim; aku memujanya.
“Maksudmu? Apakah kalian punya hubungan istimewa?” tatapku tertuju pada Andre. Menuduhnya, sementara dia balas menantang secara terbuka. Jadi lagi-lagi tanpa persetujuanku. Perasaanku tidak penting untuk jadi bahan pertimbangan.
“Ya.” Andre meneliti wajahku, tetapi cepat-cepat kubaluti dengan senyum. Aku adalah si pemurah senyum.
“Sudah berapa lama? Sebulan?”
Andre diam sebentar, menenun sekerat curiga di hatiku. Aku tak percaya mereka tidak sedang bermain mata di balik punggungku.
“Hampir enam bulan lalu. Baru sekarang aku perkenalkan Marida ke rumah.”
Pantasan dia tahu hari lahirku. Lalu menjejalkan kado tidak istimewa itu dengan berpura-pura memperhatikanku. Puih!! Pintar sekali mereka menyamarkan dusta, dan menurut sebuah tulisanm, dusta itu kebohongan terencana. Persis macam ulah sikap mereka. Pasti wanita itu telah mengakaliku. Pintar pula Andre menyembunyikan dia selama enam bulan ini. Sementara aku hanya tahu sebatas teman-teman kencannya. Dan manusia-manusia jenis lain yang sering datang mencuri hari-harinya. Sungguh sakit diabaikan, apalagi oleh seorang tercinta.
“Marida akan menemanimu di rumah bila aku tidak ada. Kamu tidak usah kesepian lagi sekarang.”
“Aku tidak pernah merasa sepi di sini.” Padahal seharusnya aku bilang sepiku telah menggunung dan bakal muncul lahar panas dari puncaknya.
“Aleksa!” tegur Andre. Dia menuangkan susu coklat panas ke cangkir untuk diletakan depan Marida. Andre menyadari nada ketidaksukaan terselip dalam sandiwara senyumku.
“Dia belum terbiasa,” bisik wanita bersenyum palsu pada Andre. Aku jadi muak diperlakukan demikian.
“Aku bukan anak kecil lagi. Juga tidak butuh ada orang lain mencampuri hidup kami.” Aku semprotkan amarah tepat ke muka Marida, membuat Andre berang. Dia tatapku dengan dingin yang membekukan hingga suasana benar-benar senyap. Sesuatu yang baru dalam diri Andre. Napasku tertatih menahan nyeri. Sekejap aku melambungkan harap agar Marida mengulangi bisik yang sama. Meski tidak tulus sekedar meredakan angkara siap meletus di puncak bibir. Tetapi dia diam.
“Aku tidak suka kamu bersikap kasar!” aku tak berani pandang sumber bentakan barusan. Mukaku terjepit antara dua pandangan mereka. Aku kecewa untuk kesekian kali; Andre begitu menghargai perasaan Marida dan mengabaikan Aku, wanitanya selama ini.
“Aku minta maaf,” desauku. Hancur hati ini berkeping-keping. Dan aku bersimbah malu pada perempuan di sampingnya. Sekali lagi, aku jadi wanita nomor dua dan aku makin kehilangan Andre.
“Kamu jangan terlalu keras padanya,” sekali lagi bisik halus terdengar. Dalam sumpek aku mendumal di hati; wanita tipu daya. Beraninya kau mengatur Andreku!
“Aku yang salah,,” aku tak tahan kini. Malunya diri ini mesti menyerah. Berurai air mata kutuntun tubuhku melewati mereka.
Mengabaikan pandangan-pandangan penuh kebohongan menuju kamar tidurku. Menumpahkan banjir air mata atas kecurangan Andre. Baru sekali ini Andre melontar amarah. Dan aku menangis di depan dia untuk pertama kali semenjak aku jatuh cinta. Bukan aku sengaja memang, tetapi karena senyum yang kugadai sebagai penawar luka hati sudah tak mempan. Aku menangis di atas kasur. Menumpahkan kekesalan pada lelaki yang kucintai selama ini.
Sudah kuberitahu Andre lelaki bebas. Sebebas ikan berenang di lautan. Lalu apakah wanita itu tahu pula bahwa Andre sering menghabiskan waktu dengan teman-teman kencan? Bila tidak, dengan teman minum?
Di hari Marida pertama kali tinggal di rumah Andre pergi hingga larut. Dia bilang ke Marida tidak usah menghubunginya hingga dia pulang sebab ada urusan penting. Wanita itu percaya begitu saja, sementara aku mengurung diri di kamar. Saat makan siang aku dengar ketukan di pintu kamar. Pasti Marida, mengingat Bi Imah senantiasa memanggil namaku bila menyatakan makanan telah siap di meja. Aku tak beranjak dari rebah, oleh sakit hati dan kecewa yang beranak pinak. Ketukan berulang lagi, diikuti sepotong suaranya,
“Bangunlah, aku memasak sesuatu untuk kamu coba.”
Perhatian pura-pura lagi! Belum apa-apa dia sudah unjuk kebolehan di dapur, pasti tidak lama lagi Bi Imah akan terusir. Dan aku akan mempertahankan wanita setengah baya tersebut sebagai pembantu. Persetan dia pintar masak atau keluaran sekolah koki di Itaia sekalipun jangan harap lidahku menyentuh makanan buatannya.
“Aleksandra…” aku bayangkan betapa bibir indahnya menyebut namaku hati-hati. Takut terdengar kasar serta terkesan tidak pantas mendampingi Andre pencinta seni.
“Kamu tidak boleh begitu. Tadi pagi kamu lupa sarapan lalu sekarang kamu tidak mau makan siang lagi?” dia rangkaikan kalimat perayu dalam sentuhan suara halus. Tapi aku tidak mudah disogok. Apalagi sesama wanita, sedikit banyak aku tahu perhatian macam itu kadang dibuat-buat. Dan aku bukan Andre, aku musuh besarmu! Aku biarkan beku semua ucapnya di depan pintu. Beberapa patah kata lagi terucap dari Marida sebelum dia berlalu.
“Aku tunggu kamu di meja makan, ya,”
Persetan dengan bujuk rayumu! Aku tak ingin makan sepanjang hari. Bahkan ketika malam hari, waktu Andre pulang, dan lelaki yang kini aku benci itu memanggil namaku berulang-ulang aku cuma menjawabnya dari balik pintu. Dia bilang aku harus makan malam bersama mereka berdua. Aku jawab tidak mau. Dia paksa aku membuka pintu dengan berkata akan mendobraknya. Aku katakan kalau aku sudah makan tadi sore masakan Bi Imah. Tak lama kemudian Andre pergi. Kemarahan dan kebencian yang menyala-nyala membuatku rela tidak makan sepenuh hari.
Kutekan rasa laparku dengan memikirkan semua kesalahan masa lalu ciptaan Andre agar aku punya alasan untuk makin membencinya. Malam itu aku tidur tengah malam. Setelah air mata kering dan tubuh benar-benar penat sementara besok pagi aku akan bangun kembali dengan semangat kebencian makin berkobar.

bersambung…

Baca cerita sebelumnya:

Wanita Itu Bernama Marida #3

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s