melankoli sungai

Narasi Sungai

Puisi Ahmad Yulden Erwin

Sungai adalah sebuah metafora dari perjalanan, sedetik yang mengalir di ujung jemari waktu, kemudian bergeser, meluapkan tepi-tepinya, tertawa dan menangis, mencatat gigil terakhir di antara dua alir mata air. Meski angin mungkin saja berjinjit di antara ranting-ranting waru. Seekor belalang menatap tenang puncak sekeping batu. Air mengalir. Tepian penuh gelagah, sangkik plastik, kaus kaki hitam, dan angin yang jatuh menembus daun-daun waru dan sayap belalang dan, seperti tak percaya, sebangkai mimpi yang terapung di tengah permukaan sungai — timbul tenggelam. Kau bertanya: Masih lama? Aku menjawab: Entahlah. Angin memeluk arus di tepian sungai. Laut membayang dalam mimpi arus sungai. Kita seperti berada dalam lingkaran, katamu. Akhir menjadi awal yang baru, kataku. Kau melangkah perlahan ke dalam mataku. Aku melangkah perlahan ke dalam senyummu. Aku mesti pergi, katamu. Aku mesti kembali, kataku. Sepasang sayap kecici itu berkepak terbang, menyeberangi sungai yang mengalir di antara jejak-jejak kaki, melupakan arah mata angin. Kau tak ingin menunggu? tanyaku. Seperti batu yang dikutuk itu? jawabmu. Dua bayangan itu tertawa dalam mimpi bangkai seorang pemburu yang terapung di tengah sungai. Kupikir kita berdua telah menemukan sesuatu, katamu. Atau telah kehilangan yang bukan-sesuatu, kataku. Sungai di antara dua mata air itu bertemu. Sepasang mata mendekap lindap dua bayangan di bawah pohon waru. Masih lama? tanyaku. Entahlah, jawabmu. Aku pergi, kataku. Aku pulang, katamu. Kita cuma bertukar tangkap dengan lepas, katamu. Entahlah, kataku.

 

melankoli sungai
gambar diunduh dari facebook Ahmad Yulden Erwin

Kita berdua melompat ke sungai itu. Timbul tenggelam. Sesaat. Kemudian kau mengayuh mataku. Aku pun mengayuh senyummu. Aneh juga, kita berdua seperti mencecap sedikit rasa garam di arus sungai itu. Seperti di muara? tanyaku. Sudah dekat? jawabmu. Keraguan kita berlompatan seperti dua ekor mujair yang mengejek kail seorang pemancing. Selembar daun waru tua terambing di permukaan sungai. Mungkin sedang menuju muara yang entah di mana. Mungkin rindunya pada laut di ujung muara tak habis memantulkan cahaya matahari, di antara gelembung arus, yang berteduh di sela rumpun gelagah. Kita bukan pencari, katamu. Hanya sepasang peziarah, kataku. Lalu kau teringat perayaan musim panen padi tahun lalu. Dan aku teringat sewaktu angin pagi melepas kuntum-kuntum bunga layu tenggelam di telaga itu. Terlalu sepi di sini, katamu. Terlalu piuh di sana, kataku. Kita tahu, ada yang tak mungkin kembali, meski kita telah bersiap untuk melangkah pergi, menatap ke belakang setiap jejak kaki, di jalan setapak berlumpur itu, tanpa perlu merasa perih, tanpa perlu merasa kehilangan…

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s