cerita bersambung

Wanita Itu Bernama Marida #6

Cerbung Willy Wonga

Dan pertanyaanku selama ini akhirnya terjawab. Bahwa mengapa tiba-tiba wanita itu telah berada di rumah tidak lain dari sebuah pertumbuhan kecil pada perutnya.

Aku pernah bilang; wewangian di tubuh Marida sering membuat aku betah berada di dekatnya. Wangi siraman parfum. Sebab saat menciumnya pertama kali aku jadi teringat suatu waktu pernah wewangian macam itu jadi milik kami, aku dan Yohana. Namun semenjak Yohana sudah tidak menjejaki bumi lagi aku pun berusaha melupakan segala kelimpahan surga yang pernah kami nikmati bersama. Aku suka wangi bunga lavender dalam kemasan botol parfumnya, entahlah ini mungkin sebuah kebetulan belaka. Bukan pekerjaan mulia mengusut-usut bau tubuh. Katakan saja Andre yang belikan dia parfum serupa milik Aku dan Yohana dulu. Berarti bukan kebetulan namanya.

Setelah secara menyakitkan gagal menang dalam perang frontal, aku mencetuskan perang dingin sepihak. Lebih-lebih saat-saat hanya aku dan Marida, semisal dia menjemputku usai belajar. Dia jemput dengan sebuah mobil yang tiba-tiba beberapa waktu lalu telah bersanding dengan mobil Andre di garasi. Aku tak mau ambil pusing mengetahui apakah mobil si wanita atau dibelikan Andre untuk dia. Kendati Andre pernah menabung untuk membelikan aku sebuah mobil lain yang sampai hari ini tabungan itu belum cukup juga.

cerita bersambung
gambar diunduh dari bp.blogspot.com

“Mobil bukan barang mewah, Sayang. Aku akan membelikan satu lagi khusus buatmu.” Demikian katanya pada ulang tahunku, bukan yang kemarin itu, tetapi tiga tahun lalu.

Aku melancarkan diskriminasi terus-menerus selama perjalanan pulang itu. Apalagi Marida sering pula berputar mengelilingi beberapa tempat lebih dulu. Sekedar mengintip keramaian dan kemewahan kota dari balik kaca. Maka kupingnya kujejali sejumlah fitnah dan hinaan.

“Sampai kapan kau berhenti pura-pura jadi Yohana?”

“Maafkan aku jika aku nampak berpura-pura Aleks,” kata-katanya tidak berbelit, namun bagiku tetap kearifan dibuat-buat.

“Kau membohongi Andre bukan cuma dengan kecantikan saja. Rasanya aku lebih mencium kebusukan dari sikap baik seperti yang kau tunjukan.” Aku kunyah coklat di mulut hingga gigiku saling menekan. Gemas. Sadar aku telah sering bertindak kasar, aku tiada peduli. Marida bergeming. Dia pasti heran mendengar kata cela yang sangat pintar dan cekatan terformula oleh bibirku.

“Kau kira kau mampu bertahan setelah aku usir berkali-kali, tetapi bagiku itu tidak tahu malu.”

“Kamu kasar, Aleks. Perkataan macam itu hanya milik orang dewasa yang tidak berpendidikan. Belajarlah menggunakan kalimat yang lebih halus.” Dia tatap aku dan aku balas menantang matanya, sebelum dia memilih menghindar. Di matanya sama sekali tiada kemarahan.

“Kamu menyebabkan aku menjadi kasar, dan menyebabkan semua sikap burukku timbul.”

“Aku janji akan memperbaikinya, Aleks.” Marida pasti bosan beradu oceh, soalnya bicaranya tidak panjang lebar tiap aku menghinai dia.

Sering pula kami berhenti di tempat-tempat penjualan pakaian atau sepatu dan dia menggelontorkan sejumlah dana untuk menambah beban pada lemari pakaian dan rak sepatu. Selalu dia belikan dua. Buat kami berdua. Tetapi sogokan macam mana aku tidak surutkan dengki. Gaun yang dia belikan tak pernah kusentuh, apalagi sepatu.

Aku mengatakan untuk singgah di toko buku. Sebelum aku memaksa, Marida sudah suka rela menelusuri toko-toko yang ada dalam daftar mulutku. Dia tidak kesal, hanya menunggu di mobil sementara aku berlama-lama, pernah sejam lebih, mencari buku terbaik akan aku baca.

“Kamu tidak merasa bersalah?” sadar bahasa dan cara pengungkapan ledakan kemarahanku terkadang sering keluar jalur, aku tetap memaksakan membahasnya. Rasanya tidak cukup dengan bertindak, seperti membiarkan dia menunggu terlalu lama, atau mengusik waktu tidur siangnya dengan memutar penuh volume piano saat jari-jemariku bertingkah tidak setulus hati.

“Karena menyukai Andre? Andre butuh cinta yang berbeda, Aleks. Kamu tidak pantas bersikap mengikat. Dia mencintaimu, kamu mesti tahu itu. Tetapi dia tidak cukup dengan hanya memilikimu. Dia mau ada orang menggantikan tempat Yohana. Kamu tidak boleh berpikir egois.”

“Egoiskah mempertahankan seseorang yang kita cintai? Aku kira egois itu pantas tersemat pada dirimu.” Kami sama-sama wanita dewasa, pikirku, jadi aku terpikir pula kadar pemahaman kami sama.

Pernah sekali aku menghina bahwa dia mau menumpang tenar lewat karir Andre. Wanita itu tersenyum kecut, sejenak menampakan gusar pada raut. Sebelum gusar itu gegas seketika berganti diamnya yang seolah tabah.

“Mainkan sekali lagi Aleks.” Suatu siang Marida berhenti dari kursus memasak otodidaknya setelah mendengar dentingan piano.

“Bagus?” aku terpengaruh akan suara pemujiaannya dan lupa sejenak bahwa bisa saja itu akal bulus. Pura-pura senang.

“Kamu akan melampaui Andre dalam hal memainkan piano. Aku baru tahu kamu sehebat itu, ayo mainkan sekali lagi bagian terakhir tadi!”

“Itu hanya lagu bodohnya il Divo. Aku sudah sering memainkan lagu itu dan tidak ada yang benar-benar istimewa.”

“Siapa itu il Divo?

“Kamu tidak tahu? Setiap orang yang mengenal Andre mengenal musik. Il Divo para gelandang dari italia.” Aku mengoloknya. Menertawakan kebodohan Marida tentang sebuah nama grup musik.

“Mainkan sekali lagi lagu il divo itu.”  Dia bersungguh. Aku makin menertawakan, mengejek dengan memelodikan lagu itu dengan tidak terlalu benar. Tetapi Marida duduk di kursi sebelah dan terpaku mendengar. Kemudian bertepuk tangan.

Marida benar tidak tahu malu. Semakin aku keras mengingkari kehadirannya di rumah dia makin kerasan menghadapiku. Percekcokan kami berlarut-larut, bahkan sekarang aku syukuri Andre sering tidak pulang sampai larut. Dengan alasannya sebagai pencipta lagu. Jangankan hingga larut, hingga subuh seperti sebelum kala dia masih hanya denganku di rumah ini, aku sudah tak peduli. Sebab aku bisa bebas merajam dendam pada wanita itu.

Hmm, terlalu banyak aku bicarakan dendam. Juga terlalu banyak menjual kata cinta. Tapi sebanyak itu pula hatiku merasai keduanya. Cinta hidup berdamping dengan benci yang berbuah dendam. Saat menghabiskan akhir pekan dengan memilih menonton film di bioskop bertiga, aku tersiksa menahan penderitaan batin. Aku dan wanita itu duduk di sisi-sisi Andre. Mereka berbicara sepanjang pemutaran film sementara aku berkesan mendalami cerita di layar. Cemburuku sampai ke ubun-ubun, mungkin akan muncul asap tidak lama lagi dari ubun-ubunku.

Panas hatiku ini. Sesekali Andre menyadari kehadiranku dan memberikan ciuman lembut di pipi. Tetapi tidak seindah biasanya. Tawar dan terlalu basa-basi. Aku curi-curi dengar cakap mereka yang mesra, lalu aku layu lagi oleh nyeri di hati. Aku tahu mereka bicara masa depan. Wanita itu tertawa renyah seenak perut, dia mencuri momen seperti ini membalas semua penghinaan dariku. Dan pembalasan serupa itu sangat menyakitkan. Benar-benar akhir pekan yang memakan hati.

Pada sebulan terakhir ini Andre jarang keluar lagi. Apalagi di malam hari. Meski aku tetap menyebut dia dalam hati sebagai lelaki pulang subuh. Sekedar informasi saja, bahwa kedatangan Marida membuat Andre tidak pernah lagi pulang subuh. Dia jadi terbiasa pulang larut. Entahlah, pasti Andre tidak enak hati meninggalkan wanita itu sendirian sementara perasaanku terabai terus.

Dan pertanyaanku selama ini akhirnya terjawab. Bahwa mengapa tiba-tiba wanita itu telah berada di rumah tidak lain dari sebuah pertumbuhan kecil pada perutnya. Semula tak kuperhatikan, hingga suatu pagi hendak berangkat ke tempat aku belajar, kulihat gundukan samar di balik terusan yang dia kenakan. Kaki tanganku bergeletar. Betapa tidak, ternyata Andre tega berbuat curang. Bukan seorang saja dia datangkan ke rumah tetapi dua. Atau mungkin tiga bila ada dua mahluk lain pada perut Marida. Benar-benar kekejian paling menjijikan. Aku merasa makin tersingkir. Apalagi sebentar lagi Marida akan punya sekutu. Yang akan menggantikan perannya sebagai pengalih perhatian Andre dariku.

Oh, ya, Yohana, wanita berhati malaikat versiku mengajarkan; ketakjuban paling besar adalah ketika menyaksikan sesuatu tumbuh dari yang tak pernah terbayang sebelumnya. Dia mengubur dua buah biji salak di pekarangan, kemudian setiap pagi dia akan melewatkan waktu sekilas dengan memperhatikan pupus-pupus yang mungkin akan tumbuh dari balik gembur tanah. Aku kagum akan keteguhan hati Yohana, betapa dia sangat mengedepankan eksistensi Tuhan ketimbang ilmu pengetahuan. Saat kuncup-kuncup salak pertama kali membuka tirai tanah di atasnya, Yohana ingatkan aku bahwa hanya Tuhanlah yang mampu menciptakan keajaiban itu. Sains tidak punya penjelasan, menurutnya. Tuhanlah yang memberikan kekuatan menakjubkan pada tanah untuk merespon setiap benih yang ditanam, menutrisinya hingga pertumbuhan dapat terjadi. Aku percaya pada Yohana, hingga kemudian aku mencintai setiap kehidupan. Sebelum Marida turun tangan, akulah orang yang paling peduli pada tanaman di pekarangan itu. Aku kenang-kenang perasaan tak terdefenisi bila menyentuh bebungaan mekar menyeka pagi. Di waktu sebelum Marida datang lalu mendominasi kekuasaanku.

Namun ketika sebuah pertumbuhan lain terbentuk di perut Marida, pertama kali aku mengutuk keajaiban tersebut. Aku tak mau tahu apakah ini sebuah eksistensi Tuhan atau karena masalah sains yang dapat dijelaskan.

 

bersambung…

Baca kisah sebelumnya: Wanita Itu Bernama Marida #5

Iklan

One thought on “Wanita Itu Bernama Marida #6”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s