novel nh dini

Metamorfosis Gadis Desa: dari Pembantu Rumah Tangga ke Penari Telanjang

Resensi Thomas Utomo

novel nh diniNamaku Hiroko selesai ditulis Nh. Dini tahun 1974. Tiga tahun kemudian atau tepatnya tahun 1977, PT Dunia Pustaka Jaya yang kala itu digawangi sastrawan Ajip Rosidi menerbitkannya dalam bentuk novel. Sempat cetak ulang sebanyak dua kali, sebelum akhirnya hak penerbitan Namaku Hiroko berpindah ke Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada 1986. Di tangan GPU, Namaku Hiroko—sampai saat ini baru mengalami cetak ulang sebanyak sembilan kali. Untuk sementara, cetakan terakhir keluar pada Mei 2009. Apa sesungguhnya keunggulan dari novel bertokoh utama Hiroko ini, sampai-sampai mengalami cetak ulang berkali-kali, bahkan menjadi banyak kajian skripsi, tesis, dan disertasi, baik mahasiswa lokal maupun manca?

Secara sinoptik, novel ber-setting Jepang—dan sebagian kecil Indonesia—usai Perang Dunia II ini, memaparkan alur kehidupan Hiroko Ueno, seorang gadis udik yang merantau bekerja ke kota sebagai pembantu rumah tangga; guna memutus rantai kemiskinan yang membelit dia dan keluarganya sekian generasi. Mula-mula, Hiroko bekerja pada sepasang suami-istri berusia lanjut. Pertengkaran majikan suami-istri yang terus-menerus terjadi, nyaris setiap hari dan kematian neneknya, membuat Hiroko pindah bekerja pada sepasang suami-istri muda yang baru dikaruniai bayi merah.

Di rumah majikan yang baru, Hiroko mengenal Sanao, adik lelaki nyonya rumah yang menurut Hiroko, memiliki daya tarik demikian kuat, sehingga dia tidak berdaya mengabaikannya. Sanao adalah golongan pemuda cendekia yang datang menginap di rumah kakaknya guna mengikuti ujian yang diadakan oleh salah satu pabrik terbesar di daerah Kansai. Pemuda inilah yang kemudian mengenalkan Hiroko pada dunia dewasa: pergaulan intim antara lelaki-perempuan. Hal ini terjadi saat majikan Hiroko pergi pesta di pinggir kota.

“…… betapa hati perawanku melonjak kegirangan ketika tangannya (Sanao—pen) meraba leher dan tengkukku, kemudian turun membelai dadaku. Tangan dengan pergelangan pipih, dengan jemari kuat namun halus, bergerak dengan kemauan pasti serta keahlian tersendiri. Aku diam tak bergerak. Terayun antara mimpi dan kesadaran. Kenikmatan baru mulai kukecap, perlahan, seperti menghemat sesuatu yang lezat. Akhirnya aku terbaring setengah memejamkan mata. Napasnya dekat menghangati mukaku. Dengan pasrah, kubiarkan ketegapan laki-laki membuka jalan ke dunia dewasa yang berisi teka-teki, tetapi sekaligus penuh janji gairah bagiku…(hal. 48)”.

Sejak pengalaman bersama Sanao, yang kemudian berulang, pikiran Hiroko jadi lebih terbuka dalam memandang sekeliling. Selain wawasan yang lebih terasah berkat buku-buku yang dipinjamkan Sanao, Hiroko juga jadi percaya diri dalam menanggapi bentuk mukanya yang bulat gemuk, dengan rambut yang tegang kaku, kusut, kurang terurus, juga pergelangan tangannya yang menggembung dan betis yang membengkok. Menurut Hiroko, bentuk tubuhnya tersebut tidaklah menarik dan karenanya dia dijangkiti rasa rendah diri. Namun Sanao yang beraut muka tampan dan berperawakan gagah penuh kejantanan, berkenan menggaulinya secara intim. Hal ini membuat Hiroko penasaran dan bertanya-tanya: gerangan apa yang menyebabkan Sanao tertarik pada dirinya? Jawaban atas pertanyaan itu baru terkuak pada malam terakhir Sanao menginap di rumah kakaknya. Rupanya, Sanao terpikat pada sepasang dada Hiroko yang ranum menggiurkan, juga karena pinggul Hiroko yang berisi, amat menggairahkan.

Pengakuan Sanao tersebut, membuat Hiroko berpikir, “Dua kekayaan yang sewaktu masa sekolah kuanggap sebagai beban, karena membedakan diriku dari kawan-kawanku, kini malah kupandang sebagai kebanggaan. Benarlah seperti yang pernah kubaca dari salah satu majalah, bahwa datangnya seorang lelaki dapat merubah anggapan seorang perempuan terhadap dirinya sendiri,” (hal. 53).

Kepergian Sanao ditambah kerewelan tuan rumah yang memaksa Hiroko melayani kebutuhan seksualnya selama delapan hari berturut-turut tanpa tambahan uang saku atau gaji ekstra, membuat Hiroko tidak kerasan bekerja di rumah pasangan muda tersebut. Setelah mencari dan bertanya ke sana-kemari, akhirnya Hiroko mendapat pekerjaan yang cukup sesuai dengan keinginannya, yakni menjadi pelayan toko. Rupa-rupanya, selain dipasrahi tugas menjadi penolong sekaligus penunjuk jalan bagi pembeli yang membutuhkan, Hiroko juga diberi tanggung jawab untuk menjadi peragawati toko guna memamerkan gaun, pakaian, atau baju yang sedang dipasarkan sesuai musim.

Bersamaan dengan itu, Hiroko berkenalan dengan Yukio Kishihara, lelaki setengah tua berpunggung miring dengan deretan gigi cokelat oleh rokok. Meskipun penampilan Yukio secara jasmaniah jauh dari kata menarik, Hiroko tetap mau berhubungan bahkan pergi keluar bersama lelaki itu. Alasannya satu: lelaki setengah tua yang mengepalai pabrik besar itu, memiliki dompet yang tebal. Sampai suatu malam, Hiroko sukarela menyerahkan tubuhnya ke pelukan Yukio, usai keduanya menonton pertunjukkan striptease. Sejak malam itu, Hiroko menjadi perempuan simpanan Yukio, dengan bayaran uang saku yang menggiurkan.

Sambil menjalin hubungan dengan Yukio, Hiroko terus memutar otak, mencari pekerjaan tambahan yang mampu memberinya gaji lumayan yang bisa mempertebal tabungannya, sehingga dia bisa memutuskan hubungan dengan Yukio. Karena semakin lama, Hiroko semakin muak dengan kelakuan dan penampilan Yukio, kecuali isi dompetnya, tentu saja.

Tanpa repot mencari, suatu malam, Hiroko mendapat pekerjaan bergaji lumayan, yaitu menjadi penari telanjang di sebuah bar. Pada saat yang sama, Hiroko berkenalan dengan Suprapto, mahasiswa asal Indonesia beraut muka tampan berkantong lumayan. Kesempatan itu dimanfaatkan Hiroko guna mencampakkan Yukio dan beralih ke Suprapto.

Baik Hiroko maupun Suprapto merumuskan bahwa, “Seorang penari telanjang seperti penari-penari lain. Pikiran penonton—itulah yang baik atau buruk” (hal. 164).

Hiroko akhirnya memutuskan hubungan dengan Suprapto, setelah tubuh pemuda itu menggendut dan gerakannya berubah lamban. Hiroko beralih ke pelukan Yoshida, suami sahabat karibnya; Natsuko. Meski sempat berselingkuh dengan Sanao; adik mantan majikannya yang dulu, hubungan Hiroko dengan Yoshida dapat berlangsung langgeng sampai memiliki dua anak. Yoshida bahkan membelikan Hiroko rumah, bar, dan toko.

“Ya. Aku puas dengan kehidupanku. Hidup di tengah kota yang beragam. Dan aku tidak menyesali pengalaman-pengalamanku,” papar Hiroko mengakhiri novel ini (hal. 242).

Secara substansial, tokoh Hiroko merupakan gambaran metamorfosis seorang gadis desa yang udik lagi naif menjadi perempuan hedonis yang bergerak maju mengejar hawa nafsunya akan uang dengan memasabodohkan segala pertimbangan moral atau kesopanan, seperti percakapan antara Hiroko dengan Yoshida,

“Apa yang paling Anda sukai di dunia ini?”

“Apa yang paling saya sukai?” Kami tetap berpandangan. “Uang!” (hal. 208).

Atau tercermin dalam pernyataannya berikut: “Masa bodoh semua hukum, baik teman, sahabat ataupun moral yang dibenarkan kebanyakan orang.” (hal. 214).

Hiroko yang semula pemalu dan lugu berubah menjadi perempuan yang penuh percaya diri, bebas, ambisius, pragmatis, materialistis, dan pemuja kenikmatan hidup (hedonis). Dia bahkan tidak ragu-ragu bergaul intim secara bebas dengan bermacam lelaki: menyerahkan keperawanannya kepada Sanao, adik lelaki majikannya, menjadi eksperimen seksual majikannya, menjadi perempuan simpanan Yukio Kishihara, kumpul kebo dengan Suprapto, menjadi perempuan idaman lain atau PIL Yoshida, suami sahabatnya, “berselingkuh” dengan Sanao, dan juga bercintaan dengan lebih banyak lelaki saat bekerja sebagai penari telanjang. Kecuali dengan Sanao, semua pergaulan intim Hiroko terjadi disebabkan karena faktor kebendaan (uang) semata. Dan ketika pergaulan intimnya dengan Suprapto mengakibatkan kehamilan, dengan enteng Hiroko menggugurkannya (hal. 71-72).

Selain bebas bergaul intim dengan beragam lelaki, Hiroko juga memiliki keleluasaan penuh dalam memilih pekerjaan. Hal ini dapat ditelusuri dari perantauannya ke kota yang mula-mula bekerja sebagai pembantu rumah tangga sebanyak dua kali, kemudian menjadi pelayan toko yang disambung menjadi peragawati, disusul menjadi penari telanjang sekaligus hostes, dan selanjutnya menjadi pemilik toko dan bar setelah menjadi PIL Yoshida. Semua pekerjaan itu dilakoni Hiroko dengan sepenuh kesungguhan dan totalitas, karena seperti pengakuannya sendiri bahwa dia adalah jenis orang yang menghirup kehidupan tanpa setengah-setengah (hal. 240).

Sesungguhnya, apabila mau, Hiroko akan mampu hidup “normal” seperti kebanyakan perempuan beradat Timur, ialah bekerja dan berumah tangga secara “wajar” tanpa menonjolkan daya pikat tubuh. Namun, Hiroko justru memilih keluar atau menyimpang dari ragam jenis kehidupan dan pekerjaan yang dikatakan “lazim di masyarakat” semata karena uang. Selain mementingkan uang, Hiroko juga amat mementingkan penampilan jasmaniah, baik diri sendiri maupun orang lain—termasuk lelaki yang hendak mengajaknya bercintaan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan sifat dan sikap Hiroko terjadi setelah dia bermukim di kota. Nilai-nilai pedesaan yang lebih mementingkan kebersamaan, sopan santun, dan toleransi perlahan-lahan Hiroko tanggalkan dan diganti dengan nilai-nilai kehidupan kota yang kerap dikatakan “modern” namun sesungguhnya produk kapitalis. Dan pada akhirnya, Hiroko berubah menjadi perempuan yang egois.

Seperti umumnya karya-karya Nh. Dini, novel ini pun sesungguhnya bermuatan gugatan terhadap dominasi kaum lelaki. Melalui tokoh Hiroko, Nh. Dini hendak menunjukkan bahwa perempuan pun mampu ber-ulah krida layaknya lelaki yang tidak mengindahkan pertimbangan moral atau hukum sopan santun masyarakat. Meskipun kelakuan Hiroko cukup membuat “ngilu” pembaca, namun barangkali hal itulah yang menyebabkan novel ini laris di pasaran dan lebih dari layak baca semata demi meluaskan wawasan. Tentu saja, daya kritis dan filter yang kuat tetap harus menjadi pegangan yang utama saat melalap novel berilustrasi sampul gadis bertelanjang dada ini.

Ledug, 1 Januari 2013

Ilustrasi Sampul Namaku HirokoJudul            :     Namaku Hiroko
Pengarang    :     Nh. Dini
Penerbit       :     Gramedia Pustaka Utama
Cetakan        :     Kesembilan, Mei 2009
Tebal            :     248 halaman
ISBN            :     978-979-655-587-1
Harga           :     Rp 45.000,00
 
 
Thomas Utomo bekerja di SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Telepon/SMS 02815730489. E-mail totokutomo@ymail.com

Iklan

4 thoughts on “Metamorfosis Gadis Desa: dari Pembantu Rumah Tangga ke Penari Telanjang”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s