Dua Tiga Perihal Teh Susu Masa Kecil

Puisi John Kuan

1.

Dari kaleng teh oolong masa kecil
pertama kali mengenal sungai dan gunung
Tiongkok, kata kakek: awan dan kabut
Gunung Wuyi terkurung di dalam kerutan daun.
Duduk di pelantar, ombak putih, pantai abu-abu
camar berputar, teriak, kami tujuh mulut delapan lidah
berebut cicip dan tanya: Kakek injak awan atau ombak datang?
Angin menyobek daun pisang, buah jambu jatuh di atap,
ayam berkokok petang, jauh dekat bunyi ketuk tambal kapal,
matahari tropis, punggung telanjang, bau damar terbakar
Sungai meliuk keluar kaleng, gunung berlapis,
ranting dedalu menyentuh muka meja, ada seseorang,
amat kecil, menuntun kuda, menoleh di ujung jembatan,
beberapa helai daun jambu terbang ke atas meja,
gunung dan sungai di kaleng ikut bergetar, asap
gubuk membumbung, suara seruling merayap keluar
mulut jendela di tepi sungai, hujan baru jatuh di dermaga
Suatu hari aku pasti ikut perahu berlayar: lautan jauh,
cinta platonik, mulut menghafal sabda Guru dan puisi Tang
hati ikut angin amis terombang-ambing di Laut Mediterania.

2.

Dari kaleng susu kental masa kecil
pertama kali mengenal Olanda, negeri air, negeri bunga,
negeri berbagai ternak, padang rumput dipotong kanal-kanal
Sapi perah hitam putih, yang muda bagai nyonya bangsawan
yang tua bagai kepala keluarga. Domba putih, rumput hijau,
gerombolan babi hitam menganguk-anguk,
seolah apapun setuju, anak ayam berjuta, kambing hutan
berbulu panjang, tapi tidak tampak bayang manusia
Petang, ada orang di atas geladak kapal kecil
duduk memerah susu, langit barat dikuas kuning emas
di jauh ada suara peluit kapal uap, selebihnya senyap
pemerah susu lebih suka tutup mulut
Tong-tong penuh susu bergerak perlahan-lahan
truk, kereta api, menuju kota dekat dan jauh
Anjing tidak menyalak, sapi tidak melenguh
kuda tidak menyepak kandang, malam hitam pekat,
beberapa mercusuar berkedip cahaya lemah

3.

Dari botol minyak ikan masa kecil
pertama kali mengenal Eropa Utara, ternyata juga ada
polusi, grafiti, dan sapaan petang kincir angin,
voltase 220, bak mandi lebar dan dalam,
pintu kamar berpalang, perlu hati-hati,
sekitar Helsingor, Kastil Kronborg, ada perkara Hamlet
Sepanjang malam putih bulan Juli, tanpa buka lampu
juga bisa membaca lembaran-lembaran melankolis
Kierkegaard, filsafat selalu kebutuhan sekunder,
warna abu-abu merpati, domba sesat mengembek pedih
Soren Kierkegaard sepanjang hidup cuma pernah ke Berlin
Selain tidak pindah ke negeri tetangga, hatinya pun utuh diberikan
bisa ratap bisa tertawa, atau sambil ratap sambil tertawa
hijau tua Finlandia, hijau hambar Islandia,
ungu Swedia, cokelat Norwegia
Denmark hitam putih kuning, seolah kejadian itu
persahabatan Nietzsche dan Brandes yang mengepul
satu lalluby di tengah badai telah kabarkan keheningan.

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s