Mary, Mary, Godwin, Shelley #1

Kolom John Kuan

mary Wollstonecraft
gambar diunduh dari exhibition.nypl.org

Mary Shelley adalah isteri sang penyair, Shelley. Nama lengkapnya adalah Mary Wollstonecraft Godwin Shelley. Seuntai nama yang begini panjang, di antaranya (Godwin) berasal dari nama ayahnya, (Wollstonecraft) berasal dari nama ibu kandungnya. Baru lahir sepuluh hari, ibunya sudah mati; ayahnya demi mengenang isteri, seuntai nama panjang ini langsung diberikan kepada putri kecilnya.

~

Mary Wollstonecraft Godwin Shelley sangat berbakat, mandiri dan berpendirian seperti suaminya, juga menulis banyak buku. Dia adalah perempuan yang memukau, sungguh. Namun, seandainya ingin benar-benar mengenal dia, kita perlu terlebih dahulu mengenal ibunya, Mary Wollstonecraft, penulis, pemikir, pengagas dan aktivis gerakan emansipasi, seorang perempuan yang luar biasa begini. Mary Wollstonecraft di ujung abad ke delapan belas Masehi sudah sangat jelas mengetahui betapa brutal dan hipokritnya masyarakat yang dikuasai lelaki; dia tahu lelaki meminta perempuan patuh, tergantung, inferior, tidak ambisius, tidak lebih hanya karena lelaki egois dan lemah. Cita-citanya adalah pada kemandirian, menciptakan karier, sebab itu dia terus bekerja, menulis novel, menulis buku politik, bahan kuliah, catatan perjalanan, opini, dan kritik sastra, menganjurkan sebuah landasan yang memiliki kebebasan yang sesungguhnya untuk membangun sebuah masyarakat yang benar-benar demokratis.

Tahun 1792 Mary Wollstonecraft menerbitkan Vindication of the Right of Woman, berpendirian bahwa hanya ketika perempuan memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang sama, dapat bebas memilih pekerjaan, dan memiliki sebagaimana umumnya hak rakyat di atas bumi, baru mungkin ada masyarakat yang demokratis dan bermoral. Para penggagas dan aktivis gerakan feminisme di ujung abad ke dua puluh Masehi umumnya kenal dengan Mary Wollstonecraft sebagai perintis gerakan mereka.

Mary Wollstonecraft sering seorang diri mengunjungi berbagai tempat, dalam maupun luar negeri, dan pada masa itu seorang perempuan melangkah sendiri di jalan saja bisa menjadi gunjingan. Dia mendukung Revolusi Perancis, berharap perubahan di Paris suatu hari akan mempengaruhi London, memicu demokratisasi di Inggris.

~

 Satu tahun setelah Vindication of the Right of Woman terbit, William Godwin menerbitkan sebuah buku ajaib yang menganjurkan rasionalitas, pendidikan umum, dan ingin pemerintah sedapat mungkin tidak mengatur: Enquiry Concerning Political Justice, mengundang reaksi yang sangat besar. Setahun kemudian, Godwin menerbitkan sebuah cerita detektif. Ada orang percaya Godwin adalah Bapak Cerita Detektif Inggris. Namun cerita detektif bukan ditulis buat menggosok waktu, bagi Godwin, ditulis buat menyindir keadaan sosial masa itu.

Mary Wollstonecraft dan William Godwin saling tertarik, sangat pasti, bisa dibayangkan, dan keduanya sama-sama menolak institusi perkawinan. Mary Wollstonecraft samasekali tidak ragu, sebelum dirinya dan Godwin saling mencintai, dia telah melahirkan seorang anak perempuan dari hubungan dengan seorang lelaki dari Amerika Serikat bernama Imlay, menurut cerita, dia melahirkan anak perempuan ini karena pandangan politik lelaki tersebut searah dengannya; tujuan? Untuk membuktikan perkawinan sah adalah sangat tidak berarti.

~

 Mary Wollstonecraft Godwin Shelley, isteri sang penyair, sejak kecil hidup di dalam lingkungan begini, segala macam pendapat termasuk dari pemerintah dengan ibunya sebagai salah satu contoh dosa pembaharu ekstremis, seringkali melecutnya. Ayahnya, William Godwin, duduk di ruang tengah rumah tua yang penuh lemari buku, mengenang kecantikan, kebaikan, kepintaran dan keberanian isterinya. Mary kecil selalu berlama-lama duduk mendengarnya, mendengar ayahnya menceritakan kisah ibunya yang dia tidak pernah bertemu, tersentuh, sepenuh hati; mendengar sahabat-sahabat ayahnya, Coleridge, William Hazlitt, Charles Lamb, berbincang politik, sastra, dan filsafat, bahkan sering mengungkit -rupanya dia sangat menyerupai ibunya-. Ini membuat dia merasa tenang, bahagia, dan bangga. Dia sejak kecil sudah selesai membaca semua tulisan ibunya, maka setiap kali pergi ke pemakaman di St Pancras, ia hendak mengungkapkan semua pemahamannya kepada ibunya yang tidur panjang di bawah tanah. Dia demikian pasti demikian percaya diri, merasa dirinya tentu adalah kelahiran kembali ibunya. Sepanjang hidup, tanda tangannya tidak pernah melupakan kata Wollstonecraft yang panjang itu.

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s