Buku, Musik dan Film

Gerundelan Binandar Dwi Setiawan

Ini hanya sekedar catatan. Cara saya untuk menghabiskan waktu, cara yang lumayan menyenangkan. Juga untuk mengingat periode-periode dalam waktu yang telah saya habiskan selama dua puluh tiga tahun ini, mengenai beberapa karya yang sedikit banyak menarik minat saya, menguras perhatian saya, dan atau bahkan menginspirasi saya, mengubah cara berpikir. Setidaknya ini bisa dikatakan sebagai rangkuman tentang tiga hal yang selama ini selalu memiliki peran dalam kehidupan saya, entah sebagai penyakit entah sebagai suplemen, entah sebagai dokter entah sebagai perawat, entah sebagai obat entah sebagai racun, atau apapun lainnya yang lebih luas dari penggambaran penggambaran d iatas itu,  yakni Buku, Musik, dan Film.

Yang pertama adalah tentang buku. Buku, dalam hemat pemikiran saya adalah cara paling brilian sekaligus paling dermawan dalam dunia kita untuk berbagi. Melalui sebuah buku, kita bukan hanya bisa berbagi segala apa yang telah kita tahu atau kita anggap sebagai pengetahuan, tetapi juga bisa berbagi tentang keresahan-keresahan, tentang apapun yang kita ingin bagi. Hal istimewanya, buku acap kali melakukan sesuatu lebih dari yang dia bisa, paham tidak maksud saya, sebagai contoh saja, jadi kadang-kadang ada seorang penulis yang mengandalkan beberapa kalimat sebagai penggambar sesuatu, sebenarnya yang digambarkan oleh penulis adalah rumah tapi bisa terjadi yang tertangkap oleh pemahaman pembaca justru apartemen, hotel, atau bahkan istana. Itulah kenapa kemudian pena menjadi lebih tajam dari pedang.

Saya pertama kali menamatkan sebuah buku, maksud saya menghabiskan dari halaman pertama sampai halaman terakhir, ketika usia kelas tiga atau kelas empat sekolah dasar, barangkali umur delapan atau sembilan tahun, buku itu sekitar tiga ratus sekian halaman. Waktu itu saya merasa biasa saja, baru di kemudian hari setelah agak remaja saya sadari kalau menamatkan buku setebal itu merupakan hal yang agak di luar kebiasaan anak-anak seumuran itu. Buku itu sudah saya lupa judulnya maupun pengarangnya, covernya berwarna hitam dengan gambar Ka’bah yang dikelilingi jutaan manusia, kertasnya sudah buram dengan prosentase gambar yang hanya sekitar lima persen dari keseluruhan halaman. Berkisah tentang perjalanan hidup dua puluh lima rasul yang wajib dipercayai. Saya tidak tahu karena apa, mungkin karena itu buku pertama yang saya selesai baca, jadi buku itu cukup berkesan, seperti peletak dasar pertama mengenai bagaimana baik itu, atau bagaimana buruk itu, bahkan tanpa mengurangi hormat saya sedikitpun, buku itu jauh lebih mengajari saya ketimbang kedua orang tua saya.

Setelah buku itu, saya mengalami rentang waktu yang relative panjang tanpa membaca buku, kecuali buku pelajaran tentunya. Oh ya, tentang buku pelajaran, di usia antara kelas empat sampai lulus sekolah dasar ada dua tema dalam pelajaran yang selalu saya suka, yakni fisika yang waktu itu masih menyatu  dalam bidang pelajaran  ilmu pengetahuan alam dan sejarah yang masuk ke dalam bidang pelajaran ilmu pengetahuan sosial. Untuk fisika, saya menyukai tema bunyi dan gelombang, atau tentang tata surya yang menjelaskan gambaran awal untuk saya mengenai matahari, planet, bulan, dan benda-benda langit  lainnya. Untuk sejarah, saya menyukai tentang tema kerajaan-kerajaan, era di mana Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, Jepang belum masuk ke wilayah bersebut Nusantara. Saya menyukai tentang bagaimana Raden Wijaya membangun Majapahit, bagaimana sebuah keris bisa membunuh tujuh keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung, favorit saya tentunya penggambaran bagaimana sebuah kerajaan telah runtuh tetapi kemudian salah seorang keturunan rajanya berhasil melarikan diri untuk membangun kerajaan yang baru. Waktu itu saya berkeyakinan bahwa sesungguhnya setiap kerajaan yang ada di Nusantara ini pasti sejatinya dipimpin oleh satu keturunan yang sama, keyakinan itu sampai sekarang belum berubah. Kedua hal itu, fisika dan sejarah, buku-bukunya selalu saya baca berulang-ulang, beberapa teman sekolah saya mengira saya seorang penghafal yang kuat , tapi yaa sebenarnya tidak, itu lebih karena saya menyukai dan karena memang saya baca berulang-ulang, jadi yaa mudah saja bagi saya mengingat materi-materinya.

Periode selanjutnya yakni usia sebelas sampai empat belas tahun ,saya juga tak banyak membaca. Beranjak ke usia lima belas saya mulai mengenal novel sebagai bacaan yang asyik. Saya bertemu dengan Sherlock Holmes, seorang tokoh rekaan fiktif Sir Arthur Conan Doyle, saya membaca semua novel Sherlock Holmes, kalau tidak salah hanya empat atau lima buah tapi kini mengembang menjadi begitu banyak dan tak pernah benar-benar Sir Arthur Conan Doyle yang mengarangnya. Ada satu prinsip Sherlock Holmes yang saya kagumi, yakni ketika setiap dugaan tak memiliki bukti kebenarannya, maka dugaan terakhir yang tersisa semustahil apapun itu, itulah kebenarannya. Melalui Sherlock Holmes saya juga belajar bahwa setiap manusia seharusnya berpikiran terbuka terhadap setiap kemungkinan.

Setelah Sherlock Holmes, saya tertarik dengan bacaan sastra, khususnya cerpen dan novel. Tetapi rupanya saya mengalami apa ya namanya, semacam kesalahan atau mungkin boleh dibilang ketidaktepatan dalam memilih sebuah karya. Saya katakan tidak tepat karena waktu itu saya sering memilih bacaan terbaik dalam jenisnya saat pertama kali, jadi ketika saya ingin membaca lagi yang sejenis, saya tidak menemukan satu pun karya yang lebih baik. Sebagai contoh saya pertama kali membaca novel detektif, yaa Sherlock Holmes-nya Sir Arthur Conan Doyle, mencari lagi yang lain bertemu  dengan Poirot-nya Agatha Christie, yaa kecewa jadinya. Kalau novel-novel pencerahan pertama kali The Alchemist-nya Paulo Coelho, dan sampai sekarang tak ada novel sejenis yang sebaik The Alchemist. Di dunia cerpen ada Godlob-nya Danarto, ini benar-benar kumpulan cerpen mahakarya, yang bahkan cerpen-cerpen Danarto lainnya sekalipun tak ada yang bisa menandinginya.

Bertemu dengan The Alchemist itu seperti bertemu dengan jatidiri. Bertemu dengan kalimat-kalimat yang saya sendiri mencarinya selama ini. Kebanyakan hal dalam The Alchemist adalah hal-hal yang sebenarnya saya sudah memahaminya, hanya saja tak bisa menjelaskannya dalam bentuk kalimat. Jadi membacanya adalah pengalaman yang hebat bagi saya, lembar per lembarnya selalu membuat saya tercengang, kadang-kadang sambil merasa laahhh ini ni. Setelah Coelho, saya bertemu dengan karya-karya Leo Tolstoy, Rabindranath Tagore, Ben Okri, Dostoyevsky, Kafka, Ernest Hemmingway, Stephen King, Kahlil Gibran,… Mereka itu adalah nama-nama terbaik bagi saya di dunia satra, tetapi tetap saja saya memilih Coelho sebagai yang paling hebat. Salah satu hal hebatnya adalah kemampuannya menyajikan  pelajaran-pelajaran terdalam dengan cara seakan akan itu sebagai pelajaran-pelajaran teringan. Membaca Coelho itu seperti mendapatkan emas dengan cara memetik dari pohon, kita tak perlu bersusah susah sesusah menggali tanah ratusan meter ke dalam.

Oh, ya, tentang Kahlil Gibran saya ingin memberi catatan sedikit. Waktu itu nama ini begitu populer di kalangan lingkungan sekolah saya, hampir setiap teman tahu dan pernah membacanya. Tapi tidak tahu kenapa saya tidak begitu tertarik dengan karya-karyanya, mungkin karena di dalam pikiran saya ada semacam persepsi  bahwa menulis seperti Kahlil Gibran itu gampang, saya anggap gampang karena memang yang ditulis hanya inti-intinya, langsung ke pelajaran-pelajarannya. Kahlil Gibran tidak pernah atau jarang sekali menyembunyikan atau menyamarkan pesan-pesannya, bagi saya karya-karya Gibran terlalu tersurat. Sedangkan menurut saya, penulis yang hebat itu yang bisa memberi pesan dengan tanpa menyertakan kalimat pesannya secara langsung. Karya sastra yang hebat itu adalah sebuah rumah sederhana yang di dalamnya tersimpan almari perhiasan yang terkunci rapat yang tidak seorangpun tahu keberadaannya kecuali penulis dan pembaca yang sebijak penulis itu sendiri. Konteksnya, Gibran terlalu mengumbar almari perhiasannya hingga semuanya tahu.

Godlob, lain lagi ceritanya. Saya membaca Godlob hanya karena bertemu secara sepintas saja dengannya di taman bacaan langganan saya. Berapa kali bertemu tak pernah saya ambil untuk saya bawa pulang ke rumah. Hingga ketika akhirnya saya bingung memilih buku apa yang hendak saya baca, si petugas taman bacaan merekomendasikan Godlob. Godlob ini berisi sekitar belasan cerpen, yang menurut saya semuanya bagus. Danarto sangat khas dengan cerpen-cerpen yang ceritanya tak masuk akal, tokoh-tokohnya unik, seringkali tokohnya bukan manusia, temanya tasawuf. Tasawuf yang biasanya berbentuk bukan cerpen, ditangannya bisa menjadi cerpen, bisa menjadi begitu profokatif. Godlob ini semacam asap yang kemudian saya telusuri terus , membuat saya bertemu dengan apinya, yakni  karya-karya Ibnu Arabi, Al Hallaj, Syekh Siti Jenar, Syekh Ahmad Sirhindi, Al Junayd, dan lain lain sejenisnya. Jika soal kualitas cerpen setelah Danarto ada lagi nama besar yang semua karyanya saya suka, AA Navis.

Setelah Godlob dan The Alchemist, filsafat menjadi semacam mainan baru bagi jiwa kanak kanak saya, saya begitu enjoy menikmati berbagai macam bahasan filsafat, awalnya sebuah buku berjudul Socrates Café, kemudian buku-buku yang bersifat kajian yang banyak saya baca,termasuk di dalamnya ada Bhagavad Ghita. Begitu banyak istilah, begitu banyak pemahaman, begitu banyak versi, itulah filsafat menurut saya, filsafat itu hanya makanan pikiran, hanya memancing kita untuk berlatih berpikir, tak pernah benar-benar kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga sekaligus tak pernah benar-benar terlepas dalam kehidupan sehari-hari, perannya seperti kunci yang hanya berguna saat kita hendak masuk dan atau saat kita hendak keluar rumah, selebihnya tidak. Semua jenis filsafat itu kemudian ditendang lenyap oleh nama baru yang kemudian begitu menginspirasi saya. Lao Tze. Ketika Karl Marx mengatakan manusia itu harus super fisik, tak berperasaan, kuat, bisa mengalahkan yang lain. Ketika Sidharta Gautama mengatakan yang suci adalah dia yang pikirannya baik, perkataannya baik, perbuatannya baik. Lao Tze justru mengatakan orang suci adalah dia yang suka tertawa terbahak bahak, bicaranya ngawur, dan lain lain. Lao Tze adalah kejelasan jalan tengah yang hebat antara Marx yang super fisik dan Gautama yang super rohani, antara Musa yang super manusia dan Isa yang super malaikat. Lao Tze menyuruh kita untuk berbuat mengerahkan sekuat-kuatnya apapun daya yang kita punya, tapi setelah itu berlepas diri akan hasilnya. Berbuat tanpa berbuat, mengajar tanpa kata-kata. Menjadi tidak menonjol, wajar, selaras dengan alam. Menjadikan diri kita sekuat alam semesta tapi sekaligus serendah hati makhluk terlemah. Pertemuan dengan Lao Tze memungkasi keinginan saya untuk menjelajah berbagai jenis aliran filsafat.

Setelah periode itu, saya menjadi lebih tertarik untuk menulis daripada membaca. Dan seringkali yang membuat saya membaca karena saya mengalami kemacetan ide ketika menulis. Puthut EA, iya, nama inilah yang kemudian mengajari saya banyak hal tentang bagaimana menulis itu. Sebenarnya saya tidak begitu menyukai tentang materi-materi tulisannya, tetapi karena gaya bahasanya terlampau enak untuk dinikmati makanya saya jadi membaca hampir semua karyanya. Satu yang tampaknya enak untuk dibagi adalah novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Novel ini memang bukan sebuah novel berkualitas wah, tapi lagi-lagi gaya bertuturnya yang membuat saya jatuh cinta dengan novel ini, berkisah tentang perjalanan seorang penulis yang mencari pasangan hidup. Di samping novel ini, ada lagi karya Puthut EA yang sangat brilian bagi saya, yakni Makelar Politik, hanya kumpulan esai esainya tentang hal-hal menarik baginya, tapi Makelar Politik mempunyai kebisaan yang luar biasa untuk dibaca saat luang ataupun saat sibuk, saat sedih ataupun saat senang, saat kopi ataupun saat dehidrasi.

Di tengah-tengah semua yang telah saya ceritakan tadi, saya juga bertemu dengan buku-buku populer seperti Chicken Soup, Harry Potter, Ippho Santosa, Laskar Pelangi, Supernova, dan banyak lagi lainnya, tapi tampaknya tidak menarik untuk saya turut sertakan dalam tulisan ini.

Yaa sekedar begitulah sharing tentang buku dalam kehidupan saya, kalau saya punya waktu luang berbarengan dengan mood iseng menulis lagi, pasti akan saya lanjutkan share tentang musik, terus juga tentang film. Semoga bisa memberi sedikit manfaat bagi anda yang punya waktu luang berbarengan dengan mood iseng membaca note ini.

Salam berbagi…!!! Jreeng Jreeeeenkkk…!!!

(Red=Nah, sekarang bagaimana pengalamanmu dengan buku? Buku apa saja yang paling memberi inspirasi pada hidupmu)

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s