Jika Kamu Lelah Mendengar ‘Budaya Perkosaan’

Artikel Lauren Nelson

Suntingan dan Alih Bahasa RetakanKata

Seseorang bertanya padaku hari ini,” Apa yang dimaksud dengan budaya perkosaan itu? Aku lelah mendengar semua itu.”

Ya. Aku mendengar dan aku juga lelah membicarakannya. Tetapi aku akan tetap membicarakannya sebab orang sepertimu terus menerus menanyakan hal yang sama.

Budaya perkosaan adalah:

 Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan meskipun ada puluhan saksi mata namun tak seorang pun berkata, “Hentikan!”

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan meskipun ada puluhan saksi mata namun mereka tidak menemukan seorang pun membantu.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan orang tua mendapatkan informasi itu namun tidak ada konsekwensi apapun karena sang lelaki berkata.”tidak terjadi apa-apa!”

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan di kemudian hari kita mendapati para pelatih mereka menjadikan itu sebagai sebuah lelucon dan tetap melestarikannya.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan meskipun para staf menenukan dokumentasi tersimpan di bawah karpet sang pelatih, mereka tetap bekerja seperti biasa.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia, dan sang pelatih mengancam reporter yang berkata,”Temukan dirimu. Jika tidak, maka seseorang akan menemukanmu”, tetapi penghuni kota lebih khawatir kehilangan pelatih mereka yang berbakat daripada kehilangan integritas.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia, mereka mengambil foto dari setiap proses perkosaan dan dijadikan lelucon di berbagai jejaring sosial, menggunakan hashtag menyebarluaskan kejahatan.

gambar dari www.rantagainsttherandom.wordpress.com
gambar dari http://www.rantagainsttherandom.wordpress.com

Budaya perkosaan adalah:

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia, dan seseorang membuat lelucon di video,”Gadis itu telah diperkosa.””Mereka memperkosa lebih cepat dari Mike Tyson!” dan yang lain terbahak-bahak.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan seluruh kota lebih berkonsentrasi meningkatkan pelayanan mereka pada program sepakbola daripada memperhatikan kenyataan anak-anak mereka di bawah ancaman tanpa rasa bersalah.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan media-media menyesalkan fakta bahwa masa depan yang menjanjikan telah dihancurkan oleh kejahatan mereka, seolah-olah mereka adalah korban.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan meskipun ia belum cukup umur, namun nama korban perkosaan berumur 16 tahun disebar luas di stasiun televisi nasional.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia, tetapi karena perkosaan terjadi di sebuah pesta seks dan minuman, orang asing di internet bisa begitu galak berpendapat bahwa perempuan itulah yang salah membiarkan dirinya menjadi korban serangan.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan anggota masyarakat menyebarkan isu: korban perkosaan mendapat ancaman pembunuhan.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia, seluruh media sosial mendokumentasikan dan memberi tahu kita untuk berhati-hati melakukan posting di media sosial.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan ketika upaya menutup-tutupi kejahatan di-ekspose para hacker, kita menyebutnya aksi teroris dan menyalahkan korban.

Ya, aku sedang berbicara tentang Steubenville. Lelah mendengar semua ini? Baiklah, mari kita berbicara sesuatu yang lain.

Budaya perkosaan adalah ketika Steubenville begitu jauh sebagai contoh pertama sebuah klub atletik yang menutupi tuduhan kekerasan seksual.

Budaya perkosaan adalah ketika kampus-kampus di seluruh pelosok negeri tidak melaporkan kejadian ke polisi namun cukup dikelola para pejabat yang terhormat yang malah melindungi pelaku dari konsekwensi perbuatan jahat mereka.

Budaya perkosaan adalah ketika universitas mengancam mengeluarkan siswa yang berbicara bahwa dia diperkosa (bahkan tanpa sempat mengidentifikasi sang pemerkosa), sebab menceritakan penderitaannya adalah sebuah pelecehan.

Budaya perkosaan adalah ketika pelawak yang sepanjang karirnya menggunakan perkosaan dan pelecehan seksual sebagai bahan lelucon, tetap dipertahankan oleh komunitas leluconnya dan tidak kehilangan penggemarnya.

Budaya perkosaan adalah ketika jurnalis mengatakan ini:

            Saya pikir, keseluruhan percakapan ini tidak benar. Saya tidak ingin seseorang pun berbicara tentang perempuan. Saya tidak ingin seorang lelaki berkata pada saya mengenai apa yang harus saya pakai, bagaimana harus berperilaku atau bahkan bagaimana minum. Dan sejujurnya, saya tidak ingin kamu berkata bahwa saya butuh senjata untuk mencegah perkosaan. Dalam kasus ini, jangan beri tahu saya bahwa meski dengan senjata, saya luput dari perkosaan. Jangan meminta saya untuk mencegah perkosaan.

…dan inilah respon masyarakat…

Budaya perkosaan adalah ketika politisi tidak mengerti bagaimana tindakan aborsi yang dicari para korban perkosaan adalah serupa dengan memperkosanya sekali lagi.

Budaya perkosaan adalah ketika para kader partai politik berkata: Tuhan kadang diperkosa, dan beberapa gadis begitu mudah diperkosa, dan perkosaan yang legal tidak akan menyebabkan kehamilan, namun mereka tidak pernah kehilangan dukungan konstituen maupun dukungan pimpinan partainya.

Budaya perkosaan adalah ketika seorang berpidato pada sebuah konvensi politik membuat lelucon kekerasan seksual dan ia membuat gedung perwakilan itu nyaris runtuh karena gelak tawa.

Budaya perkosaan adalah ketika kita menghabiskan banyak waktu untuk memberi tahu perempuan agar mengubah perilaku mereka supaya tidak diperkosa, mengembalikan kesalahan pada sang korban.

Budaya perkosaan adalah ketika hak-hak istimewa dan ketololan yang disengaja bergabung menjadi satu seperti iklan-iklan ini:

voice-for-men

BECAUSE THIS HAS BEEN A POINT OF CONFUSION – NO, ALL MEN ARE NOT RAPISTS.
THE FOLLOWING AD IS A REPREHENSIBLE ATTEMPT BY AN MRA GROUP TO UNDERMINE PRODUCTIVE DIALOGUE ON RAPE CULTURE BY FALSELY ASSOCIATING IT WITH INFLAMMATORY STATEMENTS.

WE GOOD? GOOD.

Budaya perkosaan adalah ketika perempuan berbicara keluar dan menjadikan dirinya contoh yang dibicarakan.

Budaya perkosaan adalah ketika kita melihat iklan seperti ini terlalu sering muncul di layar.

belvedere-ad

rape-jump

dominos

Budaya perkosaan adalah ketika kamu lelah mendengar ini karena membuatmu tidak nyaman dalam posisi diammu dan tidak pernah memunculkan cukup kesadaran untuk melawan semua itu,- inilah sebab mengapa budaya ini masih berkeliaran.

Yah…Maaf jika kamu lelah mendengar semua ini. Tetapi, bukankah kita tidak berharap kita tutup mulut selekas ini, bukan?

Sumber tulisan dan gambar dari rantagainsttherandom.wordpress.com

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s