tears become rain

Sepatu Bapak

Fiksi Kilat S.P. Wardani

Untuk bapakku, lelaki  yang pantang menyerah. Untuk bapakmu, ayah yang paling kauhargai keberadaannya. Untuk seluruh ayah di negeriku tercinta.

Pukul 12 siang, di suatu hari, di awal tahun 2005.

sepatu-bapak
gambar diolah dari annida.online

Kami membunuh waktu dengan bermain bersama ketika menunggu Bapak pulang dari menjajakan sepatu kulitnya. Aku, Bimo, adikku yang paling kecil, dan Ibu.   Canda tawa menepiskan lapar dari ingatan kami. Meski perut kami sesekali berbunyi, mendentangkan waktu diisi kembali, kami harus bertahan menunggu kepulangan Bapak dari menjajakan sepatu kulitnya. Memang perih perut kami, tapi itu tak berarti jika dibanding perih kaki Bapak yang menghujamkan sedikit nelangsa di hati kami.

Bapak bukan pedagang sepatu. Tetapi Bapak sedang menjajakan sepatu.  Sepatu satu-satunya yang setiap hari menemaninya bekerja sebagai pendidik sebuah SMP di desa Sawit, Boyolali. Kami tahu persis sepatu itu. Susah payah Bapak menyisihkan sisa gaji guru yang tak seberapa untuk membeli sepatu itu. Dan lapar di perut kami tidak mau diberi janji. Meski begitu, Bapak tidak mengajarkan kami untuk berhutang atau mencari jalan-jalan pintas. Memberdayakan apa yang dimiliki, itu yang senantiasa ditanamkan pada kami.

“Jangan pernah menyerah pada keadaan. Ikhtiar. Selalu berusaha, insyaallah, Tuhan akan menunjukkan jalan.” Begitu pesannya pada kami ketika semangat kami merapuh menapaki hidup yang semakin sulit. Serba berkekurangan.

Melawan kekurangan, Bapak menyempatkan diri mengajar les di rumah. Pernah Bapak mengajar murid SLB, yang terbelakang mentalnya. Aku tahu mengajar anak seperti itu menguras tenaga Bapak, dan kadang menguras emosi juga. Kamu tahu, itu melakukan hal semacam itu membutuhkan kesabaran luar biasa. Meski begitu, Bapak tidak mengeluh, malah justru sangat menyayangi muridnya itu. Bapak ingin melihat muridnya lancar mengikuti pelajaran di sekolah. Kadang sukar kupahami ketulusan macam apa yang Bapak punya saat mengajar murid-muridnya, tak pelak Bapak menjadi guru matematika favorit bagi murid di sekolahnya.

Pernah suatu hari di hari ulang tahun Bapak, murid-murid di salah satu kelas yang diajarnya, memberikan kejutan ulang tahun berupa nyanyian ulang tahun dengan gitar dan kado untuk Bapak. Bapak menceritakan kejadian itu kepada kami sambil menangis haru. Haru karena tak menyangka ternyata murid-muridnya menyayangi dan memperhatikan Bapak. Mungkin diberikan kejutan ulang tahun adalah hal yang biasa bagi sebagian orang, namun tidak bagi Bapak yang tidak pernah sekalipun merayakan ulang tahunnya.

Semangat hidup yang tak pernah surut itu tidak hanya dinasehatkan, tetapi juga dicontohkan oleh Bapak. Berusaha, apapun caranya, selama masih di jalan-Nya, itu akan menjadi berkah. Begitu selalu pesannya pada kami. Dan menjual sepatu kulit Bapak, nyata menjadi satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan kami saat itu.

Dua jam berlalu, Bapak pun pulang. Seperti biasa kami mencium tangannya. Beliau terlihat gembira pulang membawa makan siang untuk kami dan seiris buah semangka yang dibelinya di jalan. Kami membaginya bertiga dan menggigitnya tiga kali hingga tandas tinggal kulit buahnya. Bapak tersenyum menyaksikan kerakusan kami. Senyum bahagia demi melihat anak-anaknya kembali bercahaya. Kebahagiaan yang menepiskan ingatan bahwa ia sendiri belum menyantap nasi sehari itu. Ia melupakan dirinya sendiri demi kebahagiaan kami semua.

“Ini nasi dan lauknya. Mari kita nikmati bersama,” kata Bapak membuyarkan keasyikan kami. Ia tahu bahwa kami belum cukup kenyang.

Nggih, Pak,”jawab kami hampir berbareng.

Ibu bergegas ke dapur mengatur makanan kami supaya cukup dimakan berempat. Alhamdulillah, siang itu kami makan dengan lahapnya. Senyum dan semburat bahagia kembali mengembang di paras Bapak. Tapi aku tak kan pernah lupa bahwa hari itu kami makan sepatu kulit kesayangan Bapak.

***

Dan bila surya mulai tenggelam,
malam pun menjelang,
ingin rasanya aku tidur dalam dongengmu.

@kaki Merbabu suatu ketika.

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s