musim

24 Posisi Matahari (2)

Kolom John Kuan

☉夏至

 ——— kijang bersalin tanduk; tonggeret mulai menjerit; si naga hijau tumbuh

Hari berikutnya saya sudah hampir lupa hamparan bukit putih itu. Melangkah pulang ke penginapan sudah menjelang malam, pada tikungan terakhir saya melihat sebuah taman. Tidak luas, membentang satu jalan pintas yang menghubungkan dua jalan utama, sederet bangku, orang-orang pulang kantor lalu-lalang. Saya pilih sebuah bangku kosong, duduk teringat bunga tung, kesukaanmu. Waktu itu umur kita berapa? 20, 23? Saya berkata saya lebih suka bunga alpinia, sebab berasal dan tumbuh liar di hutan, di dalam jelita yang pedas membawa sedikit aroma jalang yang memabukkan. Daunnya hijau berminyak lancip memanjang, sedikit menyerupai bunga gandasuli, tetapi tidak seapik itu dan agak sembrono. Daunnya juga sering dipakai buat membungkus bakcang; di dalam wangi beras bercampur sedikit wangi pedas daun yang kenyang menerima cahaya matahari dan air hujan. Bunga alpina putih porselin, satu tangkai berkerumun berpuluh kuntum. Setiap kuntum ujungnya ada sedikit merah, merah yang menggetarkan, merah yang terlalu kampungan. Bunga putih selalu dengan wanginya mengundang datang lebah, wangi bunga alpinia tidak mengecewakan, apalagi di ujung mahkotanya masih memberi tanda merah yang merebut mata, biar kumbang lebih mudah mengenalinya.

Suatu hari kamu bertanya: Apakah seorang anak muda yang belajar seni mesti menyimpan seluruh ingatan [ indah ]? Saya kira kamu bukan sedang menanyaku, kamu sedang tanya jawab sendiri, saya tentu tersenyum tanpa kata, menunggu kamu membuat kesimpulanmu. Saya tahu sendiri terlalu serakah [ keindahan ], tak terobati. Namun saya bisa memiliki berapa besar kapasitas memori, buat menyimpan segala yang ada di dunia luas ini?

Keluar taman, melangkah di kerumunan, seolah ada aroma yang mengitariku, terus mengikutiku hingga kamar penginapan. Waktu ganti baju baru menyadari rambut dan punggung melekat serpihan bunga kuning. Saya periksa di bawah lampu, ternyata adalah bunga akasia dari taman, terbawa saat duduk di bangku.

Mereka tidak bermaksud ikut masuk ke dalam duniaku, hanya saya sendiri rindu, anggap semacam jodoh, bisa diingat, bisa dilupakan.

 ☉小暑

 ——— angin telah hangat; jangkrik sembunyi di tembok; elang belajar memburu

Melangkah sendiri di kota asing sering membuat saya teringat buku-buku perjalanan Jiang Yi ( 1903 -1977 ), dia menyebut dirinya Silent Traveller. Dia menulis London, menulis Oxford, menulis Edinburgh, suasana di dalam tulisannya selalu ringan penuh humor, ditambah ilustrasi yang sangat berkarakter, kadang-kadang juga dihias satu dua buah puisi pendek, demikian kental gaya cendekiawan Cina tradisional. Ketika menulis gubuk Ratu Victoria:

Taman Kew kuasai seluruh sejuk malam,

lonceng biru habis mekar masih tersisa harum.

Percuma berkunjung jejak jelita ratusan tahun,

gubuk sepi menatap matahari terbenam.

mendaki bukit belakang Kebun Binatang Edinburg, dia menulis:

Sejenak di batu cadas duduk,

angin pinus jernih hatiku.

Melongok bibir tebing curam,

entah berapa dalam biru lautnya?

Ini sudah mendekati gaya kehampaan Wang Wei dan Wei Yingwu, namun yang ditulis adalah lanskap negeri asing, Jiang Yi berkata dia adalah kelana senyap, mungkin yang ingin diutarakan adalah sekat bahasa dan budaya antara Inggris dan Cina. Namun saya kira senyap tidak berarti bisu, mungkin lebih mendekati pengalaman indah di dalam puisi Cina yang disebut [ 忘言- wangyan; kehabisan kata-kata? ], puisi Cina yang sesungguhnya, selalu bertunas sehabis senyap.

Perjalanan penyair, ataupun penyair dalam perjalanan, kadang setelah membaca puisi-puisi begitu, akan timbul keinginan melancong, berusaha di jalan yang pernah dilalui penyair mencari lanskap yang pernah menyentuhnya, ingin mengalami suasana yang bisa menghasilkan baris-baris puisi yang indah, namun kita juga tahu itu adalah hal yang paling sia-sia. Lahirnya puisi selamanya adalah sebuah rahasia, jawaban puisi juga selamanya perlu satu perjalanan hidup untuk merampungkannya — kita bagaimana bisa hanya dengan beberapa perjalanan pendek, sudah ingin mengerti keabadian atau sampai di tujuan seberang?

Melewati jalan besar dan lorong sempit sebuah kota juga sering membuat saya terasa bagai kelana senyap, atau mungkin flaneul, pengembara di bawah pena Baudelaire, di luar gedung tinggi sesekali ada bulan jernih, kehampaan sejenak di musim semi, bahkan slogan-slogan yang kering kerontang dan kerumunan orang-orang yang basah kuyup, sering begitu menyentuh, seolah menghasilkan sesuatu yang menyerupai puisi. Namun saya tetap tidak menulisnya jadi puisi, hanya dengan cara yang sederhana mencatatnya, tunggu hingga suatu hari mungkin benar-benar dapat menjelaskan keindahan mereka, benar-benar mengerti kata-kata yang belum pernah diucapkan, sekalipun berserpih bagai angin.

…bersambung

Iklan

One thought on “24 Posisi Matahari (2)”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s