hujan-malam

24 Posisi Matahari (3)

Kolom John Kuan

☉大暑

 ——— rumput mati kunang-kunang lahir; tanah lembab udara basah; hujan lebat menyapa

jejak kaki
ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com

Orang tua di dalam cerpen Borges [El Libro de Arena] akhirnya menyelipkan buku yang menghabiskan seluruh uang pensiunnya itu ke dalam rak berdebu di Perpustakaan Nasional Buenos Aires. Ini adalah sebuah metafora yang sangat puitis: Mungkin hanya pengetahuan dapat menelan pengetahuan; tulisan dapat menampung tulisan. Borges berkata: [Tidak peduli pasir ataupun buku, sama-sama tak bertepi]. Dia bukan cuma menguasai semiotika, dia juga seorang pakar teori sastra dan seni yang penting, saya kira tentu bukan [pasir] yang menjadi perhatiannya, itu hanya sekedar simbol buat mengumpamakan pengetahuan manusia yang terus menggelembung.

Setiap kali membaca kembali cerita ini, akan timbul keingin-tahuan: kenapa dia berkata pasir tidak bertepi? Apakah pasir di sini berarti gurun, namun gurun juga bertepi. Atau mungkin maksudnya lebih abstrak, tempat sebiji pasir terakhir jatuh itulah batas gurun. Tak bertepi yang dimaksud Borges, mungkin ingin mengatakan ketika sejurus angin berembus, gurun akan mempunyai bentuk baru, batas baru, semacam amorfos.

Hari panas bisa membuat saya teringat gurun, tetapi lebih sering pulau kecil tempat lahirku. Petang turun sendiri ke pantai, mengutip siput, mengutip kerang, mencari lokan, mentarang, ketam bakau. Di bibir pantai yang berbuih saat pasang naik selalu ada yang tak terduga, dapat sebiji bola kaki, sebuah mainan plastik, seekor ikan mati, mayat anjing; kadang-kadang juga lari terbirit-birit melihat mayat manusia atau disengat sembilang. Seringkali juga terbangun di tengah malam negeri asing, pikiran kacau, melihat keluar jendela, seolah di luar berlapis-lapis pencakar langit ada segaris pantai panjang, bukan berpasir putih, tetapi lumpur pasir abu-abu penuh jejak kaki. Itulah magis realismeku. Sangat kempes.

☉立秋

 ——— angin mengiris; kabut turun; tonggeret pekik dingin

Daun itu bulat lonjong, kurang lebih sebesar telapak tangan, sedikit menguning, hampir tembus pandang, taruh di telapak tangan dapat jelas kelihatan jaringan urat-urat daun yang halus dan rumit. Tepinya samar-samar ada gerigi kecil, seluruh gerigi menunjuk ke satu arah, dari pangkal daun hingga ujungnya yang meruncing, bagai selembar jahitan yang paling rapi dan indah. Saya bertanya penduduk setempat yang istirahat di taman, kata mereka daun bodhi. Saya ingat daun bodhi jauh lebih besar, ujung daun yang runcing mungkin dua tiga kali lipat lebih panjang dari yang di tanganku.

kekuatan daun
Ilustrasi dari Inankittikaro.com

Saya suka daun bodhi, mungkin ada hubungannya dengan cerita-cerita tentang Buddha Gautama. Membayangkan seorang pertapa duduk di bawah pohon bodhi di Bodgaya mendengar suara angin lembut melewati sela dedaunan, atau mungkin daun-daun dengan tenang jatuh, menyentuh bumi, menimbulkan getaran seketika di hati. Namun renungan tetap hanya sekedar renungan, daun ini bisa saja tidak ada hubungannya dengan cerita. Seorang teman yang belajar botani sering memberi saya jawaban yang tidak serupa, katanya: tangkai daun walau kecil tetapi sangat kuat, sebab harus menopang beban seluruh daun. Dia juga berkata: Kebanyakan gerigi di tepi daun adalah siasat pertahanan, dan terhadap ujung daun yang meruncing indah dia menjelaskan: Ujung daun yang runcing umumnya adalah buat pembuangan air. Dia melengkapi: terutama di daerah tropis, hujan badai sering datang tak terduga, air hujan yang terlalu banyak tergenang di permukaan daun akan menyebabkan daun mudah terluka, rusak dan hancur; maka daun tumbuhan terus memperbaiki fungsi pembuangan airnya, bentuk sesungguhnya hanyalah hasil penyempurnaan fungsi dalam jangka waktu yang panjang.

Jadi kekuatan tangkai daun, urat-urat daun yang serumit sistem syaraf manusia, gerigi tepi daun yang bagai rajutan, ujung daun yang meruncing sehalus bulu itu, semua yang kusebut-sebut itu, hanya jejak berbagai penderitaan selembar daun untuk bertahan hidup dalam jangka waktu yang pelan dan panjang?

Perlu berapa lama berevolusi hingga bentuk begini? Saya bertanya teman. Dia mengangkat sedikit bahunya jawab: Mungkin puluhan juta tahun.

Jawabannya membuat saya terpelosok ke dalam keheningan. Apakah keindahan adalah ingatan terakhir dari penderitaan bertahan hidup? Apakah semacam kepedihan dalam merampungkan diri? Sebab itu indah membuat saya suka, juga membuat saya duka.

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s