puisi dan kopi

Issa di Ruang Transit

Puisi John Kuan

Sebagai secangkir teh kau di ruang
transit Frankfurt atau Taipei
perlahan menguap dan ambar.
Tidak peduli 17 silabel atau 200 tahun
cuma diberi 2 jam menginjak bumi

O semut transit
termangu di tepi cangkir
kita pergi atau pulang

.
Bayang pesawat di dalam cangkir
udara mekar harum melati, terhadap waktu
lengket di atas koper, tahu almond
bertabur bintik matahari, daun teh melayang
turun, ke arah kenangan kita bergeser

Mozart di dalam iPod
86 miliar neuron
Mondar-mandir, buang waktu

.
Kau melewati jembatan Jepang
kolam teratai Monet, berhenti pada sekeping
dinding kaca. Dunia luar senyap, satu pesawat melintas
dua kali kau hilang anak istri: “ Apakah hidup pahit? “
“ Anicca, gradasi cahaya kukurung dalam 17 silabel “

Kikuk, lupa hafal dialog drama
Sepasang kecoa beradu antena:
kirim sinyal cinta

.
Dengan sepasang mata haiku kau mengukur
stamina Wordsworth membaca Prelude: Akhirnya
kau membuat aku mengerti, apa artinya waktu
secangkir teh, begitu penuh di celah perjalanan beku
hati-hati tambah susu, gula, perlahan dicicip, diaduk

Kirim 1 giga salju
sebelum jadi Buddha
di atas tusam tua

.
Secangkir teh, dari panas lalu hangat lalu dingin
Sekelumit perasaan, dari puisi lalu mimpi lalu hidup
Di duniamu, tempo secangkir teh adalah kau angkat kepala
telah menemukan sebuah dunia mungil utuh, bagai sebutir
embun menetes ke dalam secangkir teh di ruang transit sibuk

Satu partikel melati
kecap, cuka, wasabi
Dunia transit

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s