Arsip Kategori: Flash Fiction/Fiksi Kilat

Sepatu Bapak

Fiksi Kilat S.P. Wardani

Untuk bapakku, lelaki  yang pantang menyerah. Untuk bapakmu, ayah yang paling kauhargai keberadaannya. Untuk seluruh ayah di negeriku tercinta.

Pukul 12 siang, di suatu hari, di awal tahun 2005.

sepatu-bapak
gambar diolah dari annida.online

Kami membunuh waktu dengan bermain bersama ketika menunggu Bapak pulang dari menjajakan sepatu kulitnya. Aku, Bimo, adikku yang paling kecil, dan Ibu.   Canda tawa menepiskan lapar dari ingatan kami. Meski perut kami sesekali berbunyi, mendentangkan waktu diisi kembali, kami harus bertahan menunggu kepulangan Bapak dari menjajakan sepatu kulitnya. Memang perih perut kami, tapi itu tak berarti jika dibanding perih kaki Bapak yang menghujamkan sedikit nelangsa di hati kami.

Bapak bukan pedagang sepatu. Tetapi Bapak sedang menjajakan sepatu.  Sepatu satu-satunya yang setiap hari menemaninya bekerja sebagai pendidik sebuah SMP di desa Sawit, Boyolali. Kami tahu persis sepatu itu. Susah payah Bapak menyisihkan sisa gaji guru yang tak seberapa untuk membeli sepatu itu. Dan lapar di perut kami tidak mau diberi janji. Meski begitu, Bapak tidak mengajarkan kami untuk berhutang atau mencari jalan-jalan pintas. Memberdayakan apa yang dimiliki, itu yang senantiasa ditanamkan pada kami.

“Jangan pernah menyerah pada keadaan. Ikhtiar. Selalu berusaha, insyaallah, Tuhan akan menunjukkan jalan.” Begitu pesannya pada kami ketika semangat kami merapuh menapaki hidup yang semakin sulit. Serba berkekurangan.

Melawan kekurangan, Bapak menyempatkan diri mengajar les di rumah. Pernah Bapak mengajar murid SLB, yang terbelakang mentalnya. Aku tahu mengajar anak seperti itu menguras tenaga Bapak, dan kadang menguras emosi juga. Kamu tahu, itu melakukan hal semacam itu membutuhkan kesabaran luar biasa. Meski begitu, Bapak tidak mengeluh, malah justru sangat menyayangi muridnya itu. Bapak ingin melihat muridnya lancar mengikuti pelajaran di sekolah. Kadang sukar kupahami ketulusan macam apa yang Bapak punya saat mengajar murid-muridnya, tak pelak Bapak menjadi guru matematika favorit bagi murid di sekolahnya.

Pernah suatu hari di hari ulang tahun Bapak, murid-murid di salah satu kelas yang diajarnya, memberikan kejutan ulang tahun berupa nyanyian ulang tahun dengan gitar dan kado untuk Bapak. Bapak menceritakan kejadian itu kepada kami sambil menangis haru. Haru karena tak menyangka ternyata murid-muridnya menyayangi dan memperhatikan Bapak. Mungkin diberikan kejutan ulang tahun adalah hal yang biasa bagi sebagian orang, namun tidak bagi Bapak yang tidak pernah sekalipun merayakan ulang tahunnya.

Semangat hidup yang tak pernah surut itu tidak hanya dinasehatkan, tetapi juga dicontohkan oleh Bapak. Berusaha, apapun caranya, selama masih di jalan-Nya, itu akan menjadi berkah. Begitu selalu pesannya pada kami. Dan menjual sepatu kulit Bapak, nyata menjadi satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan kami saat itu.

Dua jam berlalu, Bapak pun pulang. Seperti biasa kami mencium tangannya. Beliau terlihat gembira pulang membawa makan siang untuk kami dan seiris buah semangka yang dibelinya di jalan. Kami membaginya bertiga dan menggigitnya tiga kali hingga tandas tinggal kulit buahnya. Bapak tersenyum menyaksikan kerakusan kami. Senyum bahagia demi melihat anak-anaknya kembali bercahaya. Kebahagiaan yang menepiskan ingatan bahwa ia sendiri belum menyantap nasi sehari itu. Ia melupakan dirinya sendiri demi kebahagiaan kami semua.

“Ini nasi dan lauknya. Mari kita nikmati bersama,” kata Bapak membuyarkan keasyikan kami. Ia tahu bahwa kami belum cukup kenyang.

Nggih, Pak,”jawab kami hampir berbareng.

Ibu bergegas ke dapur mengatur makanan kami supaya cukup dimakan berempat. Alhamdulillah, siang itu kami makan dengan lahapnya. Senyum dan semburat bahagia kembali mengembang di paras Bapak. Tapi aku tak kan pernah lupa bahwa hari itu kami makan sepatu kulit kesayangan Bapak.

***

Dan bila surya mulai tenggelam,
malam pun menjelang,
ingin rasanya aku tidur dalam dongengmu.

@kaki Merbabu suatu ketika.

Cerita yang Lewat di Depan Pintu

Fiksi-fiksi Mini Ragil Koentjorodjati

1. Lonceng Tengah Malam.

Hari hampir natal. Maria, aku mengenalnya sebagai perempuan berkubang kemiskinan, seperti biasa menunggu lonceng tengah malam. Hari gelap memanggil, gegas ia bersimpuh di depan altar, berdoa pada malaikat pelindung. Kemiskinan, siapapun tidak menginginkannya. Itu sebabnya ia rajin berdoa.

Lalu malam itu, malam menyambut saat Sang Juruselamat dilahirkan, kyrie eleison mengema di kejauhan. Maria bersimpuh di depan gua. Airmatanya berlinang, ia menunggu lonceng tengah malam. Menunggu Sang Juruselamat. Hingga larut. Tepat tengah malam, sepi pecah berkelontang. Bukan lonceng yang berdentang, hanya sebuah bom yang diletakkan dan meledak tidak pada tempatnya. Maria lumat. Sepertinya Tuhan punya cara yang berbeda untuk menyelamatkannya.

2. Tekad

Ia tidak menyangka kekasihnya akan menulis begini di fesbuk: yakinlah, orang baik pasti indah pada akhirnya; orang jahat bisa saja indah pada akhirnya.
Sejak membaca status kekasihnya itu, ia memilih untuk menjadi orang jahat yang mencintai kekasihnya.

3. Saksi Hidup

Sepertinya sudah cukup lama ia di sana, menyaksikan nyawa-nyawa meregang lepas dari raga, satu demi satu. Tidak sekedar satu dua musim, barangkali bermusim-musim sebanyak bilangan terhitung dari helai-helai uban ibuku yang tercerabut dan tumbuh berulang kali. Itu lebih dari sangat lama aku kira. Ia sudah berdiri tegak pada saat ibuku seumur anak pemain boneka. Dan ia masih tegak hingga ibuku menimang cucunya. Entah berapa nyawa yang telah disaksikannya pergi pada masa sepanjang itu.

Meski tak lagi setegar dulu, tetapi basah embun pagi dan terik matahari tetap semacam hiburan baginya. Ia telah banyak menyaksikan orang mati. Kadang memang ada yang cukup mengerikan, misalnya, aku juga ingat kejadian itu, seorang lelaki terseret mobil di dingin aspal pagi hari, terseret 200 meter sebelum sebuah bus melaju melindasnya dari arah berlawanan. Terlalu pagi kejadian itu hingga orang mengira sebatang pelepah pohon kelapa luruh ke jalan. Semacam krak mendadak tanpa bunyi decit rem. Deru mesin lebih keras dari jerit kematian. Memang, lelaki itu tengah memanggul pelepah kelapa untuk bahan kayu bakar di pagi hari. Rupanya pelepah itu terlalu panjang hingga membawanya ke alam baka.

Aku yakin ia tahu betul kejadian itu sebab ia di sana lebih dulu daripada aku. Para pengendara itu tak pernah ditemukan, sebab pagi terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Ia tetap diam, meski pembunuhan demi pembunuhan terjadi. Memang, bukan lagi sekedar kematian, tetapi lebih tepatnya pembunuhan. Suara dor di pagi buta, -itu berarti seorang bandeng mati-, atau lengking sirine menyayat di malam purba, -itu tandanya seseorang akan dikubur di bukit kopi-, adalah parade pembunuhan di sepanjang jalan kaki merbabu. Merapi Merbabu Komplek menjadi semacam catatan sejarah orang-orang mati tanpa sempat diadili. Dan ia di sana begitu menikmati takdirnya sebagai sepi.

Bunga: Bukan Nama Sebenarnya

Fiksi Kilat Susan Gui

Pria berseragam cokelat meminta Bunga bercerita, kemudian menyebutkan ciri-ciri orang. Bunga tidak bisa melakukan dua hal yang diminta oleh pria berseragam itu, kemudian mereka meyakinkan Bunga kalau hal itu penting untuk menentukan siapa pelakunya.

ilustrasi-perkosaan
ilustrasi diunduh dari genuardis.net

Pria berseragam itu memohon agar Bunga membuka mulutnya, dan mulai bercerita. Bunga tetap bungkam. Untuk mencairkan ketegangan di wajah Bunga, pria-pria ini membuat lelucon. Bunga menatap mereka satu persatu. Putih kulit Bunga terlihat memucat, rambutnya berantakan, dan matanya membelalak; mengisyaratkan kemarahan yang tidak lagi bisa terdamaikan.

Kejadian itu tidak lama. Pria berseragam meminta Bunga dan ibunya pulang ke rumah.

“Bunga butuh istirahat, kita akan lakukan interogasi besok malam,” ujar salah satu pria berseragam. Hanya begitu.

Bunga dan ibunya pun pulang ke rumah. Rumah yang masih dilingkari oleh garis polisi berwarna kuning. Bunga langsung masuk ke kamarnya, sedangkan ibunya hanya menatap sedih.

***

Angin seperti memburu. Derunya begitu riuh, dan manusia dibiarkan gigil, memeluk diri masing-masing. Dalam kesunyian malam, angin bertiup seperti siulan alam. Binatang malam pun seperti tidak berani mengeluarkan suara; lindap dan senyap. Ada purnama, di balik rerimbun bambu, tampak bias cahaya lebih kemilau dari kemarin.

Di dalam rumah, sedari tadi tidak ada suara apapun. Kamar ini senyap, rumah ini sunyi. Tidak ada bunyi gelas, bunyi panci, apalagi suara manusia berbicara satu sama lain. Semua seakan tandas bersama dinginnya malam.

Air matanya belum kering betul ketika ia menaruh bedak pupur putih. Begitu pelan. Begitu letih. Asanya telah luruh, tinggal pudar serupa kusam warna celak yang menghias matanya. Hari-harinya menghitam sehitam kelopak matanya, memancarkan kepedihan dari luka yang paling dalam. Kaca yang sedari tadi ditatapnya, seakan tidak bergeming. Siapakah yang mampu mengerti derita ini, pikir Bunga.

Bunga berdiri, mendekat pada jendela segi empat yang sedari tadi dibiarkan terbuka. Angin tidak berhenti memburu masuk, Bunga memeluk tubuhnya sendiri. Lalu perlahan dia seperti melihat bayang-bayang seorang lelaki yang berdiri, badannya gigil.

Brakkk, sekuat tenaga Bunga menutup jendela, menguncinya, lalu menangis terisak. Bunga mendorong meja riasnya, menutupi jendela yang baru saja dikuncinya. Gegas dan gugup, Bunga mengambil selimut, menutupi tubuhnya, membebat dada sekencang-kencangnya dan sedikit juntai selimut jatuh ke lantai.

Wajahnya yang tertutup pupur menjadi lebih putih dari sebelumnya. Pucat dan pasi. Bunga seperti kebingungan, televisi yang sedari tadi tidak diacuhkan tiba-tiba menarik perhatiannya.

Terkesiap Bunga pada sebuah berita, tubuhnya kaku. Si pembawa berita mengatakan kalau seorang calon hakim agung baru mengeluarkan sebuah pernyataan kontroversial tentang pemerkosaan. Lelucon di tengah malam buta, ketika angin lebih dingin dan gemirisik daun lebih menyeramkan dari ribuan petir yang menghantam bumi.

“Yang diperkosa dengan yang memerkosa ini sama-sama menikmati. Jadi, harus pikir-pikir terhadap hukuman mati.”

Bunga melolong sejadi-jadinya. Lelucon di tengah dunia yang tidak lebih waras dari pada kegilaan dunia.

Prangg..Bunga melempar vas bunga ke televisi yang masih riang memberitakan pernyataan sang hakim agung. Air mata terus mengalir, Bunga berbisik pelan.

“Katakan bagaimana saya melindungi diri sendiri. Ketika binatang dari segala binatang mengendap dan masuk tengah malam dan diam-diam. Tidak ada yang lebih binatang dari manusia yang berperilaku binatang, bukan manusia namanya jika dia berani melukai perempuan.”

Televisi masih terus menyala, kacanya belum remuk benar. Gambarnya menjadi siluet dengan kemiringan 180 derajat, dan suaranya menjadi seperti gemerisik sesarang semut. Bunga terus meneteskan air mata.

Bunga menatap jendela, pelan berbisik “Orang itu binatang, sekali pun melihat aku memohon tapi tetap dia lesakkan kelaminnya hingga menembus jantung hati.”

Keras Bunga memukul dadanya. Ada suara orang mengetuk pintu kamar Bunga, memanggil-panggil nama Bunga untuk keluar dari kamarnya.  Bunga harus segera ke kantor polisi untuk divisum. Suara ibunya terdengar terisak dari balik pintu. Ada sekerat luka dalam dada yang tidak bisa dijawab dengan kalimat mana pun. Bunga mengambil gelas kaca dan melempar ke pintu.

“Bunga Bu.., dikoyak paksa dan si hakim agung membuat lelucon pemerkosaan. Tidak pernah ada lelucon selucu ini, dan tidak pernah ada kenyataan sepahit ini. Kita hidup di antara, kita tidak berada di mana-mana. Kehilangan hanya tentang apa yang biasa di tempatnya tapi tidak lagi bisa kita temukan.” Jerit Bunga dari dalam kamar.

Ibunya semakin terisak dan mengetuk pintu kamarnya dengan lembut, “Keluarlah Nak..”

Bunga mendekat ke pintu, menyentuh gagang pintu, lalu merambat pelan pada kayu-kayu pintu kamar. Tangannya mengambil pecahan gelas.

“Ibu, tidak pernah ada orang yang menginginkan terluka. Jika kita bisa hidup lebih benderang dari cahaya tanpa harus menjadi lilin, kenapa kita memilih untuk membakar diri kita seperti lilin. Ibu, aku ingin main komidi putar, makan gulali, ke taman yang membuat aku kembali hidup,” isak Bunga, tangannya memegang serpihan kaca dari telivisi.

Ibu Bunga terisak kembali. Darah mengucur dari tangan kecil Bunga. Sepintas, Bunga seperti mendengar lelucon pria berseragam itu, lelucon yang sama dengan apa yang dibilang oleh sang hakim agung. Kuping Bunga mendengung gaduh.

“Ibu, aku diperkosa, dan lelaki itu membuat lelucon tentang pemerkosaan. Siapa yang lebih waras ibu?” Suara Bunga pelan sekali, hingga akhirnya tidak terdengar apa-apa.

Angin menderu kencang, menelan isak tangis ibu Bunga hingga tersisa senyap. Tidak ada lagi bebunyi. Layar seperti tertutup, tidak ada lagi cerita, tidak ada lagi kata, tidak ada lagi kaca jendela, tidak ada lagi Bunga, dan cerita hakim agung yang melucu kembali menyala di televisi rusak. Suaranya sedikit serak.

Perempuan Sekat Hidup

Fiksi Kilat Agus Sulistyo
 

gambar ilustrasi
gambar diunduh dari kompas.com
Pagi pelan beringsut. Sinarnya merangkak di sekat sebuah bilik. Pelan … tak sepelan hasrat perempuan empat puluhan tahun itu untuk meninggalkan tangis hatinya. Dengan segenggam harap di telapak tangan. Sekenanya dia rapikan tubuhnya. Sesaat dia hembuskan nafasnya untuk memuntahkan rasa salah di sudut hatinya. Sebelum sekat-sekat itu menyaksikan bayang tubuh lemahnya meninggalkan ruang itu. Meninggalkan seorang laki-laki yang menjadi bagian cerita salah satu malamnya. Laki-laki yang masih terlena. Bergulat mengembalikan tenaga yang dia pakai untuk mengabulkan hasratnya.

“Terima kasih ya Mas …” katamu pelan kepadaku. Aku tersenyum. Mataku enggan beralih dari dua bocah itu. Tertawa lepas. Tawa yang menari di sela-sela percik air. Butir-butir air yang melayang ke udara terantuk telapak-telapak mungil itu.
“Ayo Le … sudah mandinya, masuk angin nanti. Pakai baju terus nanti jalan-jalan liat kembang api ya Nak …”
Mata kedua bocah itu begitu berbinar. Menyorotkan rasa hati mereka. “Horeeee nanti liat kembang api … kembang api!”
Aku ambil nafasku, aku hentakkan kuat-kuat. Terbayar sudah ketidakmampuanku membuang tangis kedua bocah itu semalaman. Kedua bocah yang tidak sempat tuntaskan mimpinya. Menyayatkan rintihan di atas bantal. Tangis kehilangan kehangatan di pekat dingin malam. Di antara deras hujan. Menanti sang ibu kembali. Kembali dari mempertaruhkan jiwanya untuk kedua buah nafasnya.

“Maafkan aku ya Mas, selalu rmerepotkanmu …”
Dan selalu saja aku hanya tersenyum. Senyum getir menertawakan kebodohanku. Ketidakmengertianku terhadap sketsa hidup yang ada di hadapanku. Aku hanya bisa memelihara rasa ini di salah satu ruang batinku. Selalu terhenti pada sebuah keinginan. Dan aku selalu datang terlambat. Datang di saat tangis-tangis itu telah pecah.
“Pak, nanti ikut liat kembang api ya …” suara anak ragilku membuyarkan anyaman di kepalaku.

“Mas, aku titip anak-anakku sebentar ya …”
Aku hanya ternganga. Seperti biasa, sorot mataku tak pernah mampu hentikan langkahmu. “Hanya sebentar kok Mas, aku sudah janji sama anak-anak …” gema suaramu hilang ditelan deru motor yang membawa tubuhmu. Terbawa serta sepotong harapan kedua anakmu.

Malam begitu cepat merayap. Membelit sebuah penantian. Secepat kilat aku datangi kedua bocah itu. Kali inipun aku terlambat! Kedua bocah itu telah melukiskan kesendiriannya di atas bantal itu. Aku dekap erat. Aku tampar kedua pipiku untuk mengusir kelemahanku. “Kita lihat kembang api … Kita bersama melihat kembang api itu …”

Aku sendiri … ketiga anakku sendiri … kedua bocah amanah itu sendiri …. Artinya kini tidak ada yang sendiri. Aku tersenyum, semakin lebar … hingga membahanakan tawaku. Bersanding dengan tawa kelima anak manusia itu!
“Tetetet … teeeeet … teeeeet …. selamat tahun baru kelima anakku!”
Tawa kami pecah. Berhamburan ke udara. Berkumpul dengan tawa-tawa lain. Tawa pijakan untuk tetap menjaga keinginan baik. Keinginan baik untuk menyongsong pintu hari baru. Langit yang biasanya muram. Ikut terkekeh-kekeh. Geli digelitik si kembang api.
 
Solo, Des Buncit ‘12

Perempuan Bernama Nira

Oleh Binandar Dwi Setiawan

 

siapa dirimu
gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Bintang malam ini belum cukup cemerlang untuk menerangkan kepadaku akan siapa dirimu. Kisah belum lagi berubah ketika pada titik ini aku tersentak, bahwa yang selama ini kau lakukan bukan hanya mengenalkan dirimu kepadaku, tetapi juga memaksaku untuk yakin bahwa setiap kepingan penyusun diriku tak lain dan tak bukan hanyalah kelemahan semata. Yang mendudukkan dengan jelas siapa yang dirimu, siapa yang diriku. Mungkin kau dapati aku kebingungan, saat kau tegaskan bahwa ke arah manapun aku melangkah hanyalah sekedar mendekatkan diri kepadamu, tetapi tidak. Sejatinya aku tak sedang kebingungan. Kau membuat dirimu tak bisa habis untuk kunikmati. Setiap aroma barumu mengalahkan ketakutan ketakutanku untuk maju. Sedangkan kudapati kau tak pernah lama, senantiasa baru, hanya kau yang benar benar selalu baru. Tidak ada yang lain. Memang tidak ada yang lain.
Perempuan bernama Nira. Aku tak sedang menggugat setiap keputusan yang kau ambil, adalah boleh bagimu untuk berbuat sekehendakmu, tetapi oleh hal itu adalah mungkin juga bagiku untuk tak setiap waktu bisa mengimbangi nada nadamu. Dan kau tahu sedang seperti apa aku sekarang ini. Tertunduk, tak ingin bersikap, apapun, kepadamu. Jarak yang kau ambil sekaligus yang kubiarkan terjadilah yang akhirnya membuatku memakai keberanianku, memasuki belantara ini. Keterlanjuran yang hebat. Kini tinggal aku dan diriku, sementara tak kutahu seberapa luas belantara ini, juga seberapa pantas kesiapanku menemukan ujung jalan keluarnya. Aku, hanya bagai maju menghadapi seribu musuh tanpa satu pun senjata yang kugenggam bahkan tak juga tahu apakah memang tersediakan untukku senjata. Kau andalkan keyakinanmu untuk menumbuhkan keyakinanku, bahwa aku tak bisa mati diakhiri oleh semua ini.
Nira, kapan aku sampai kepadamu. Aku juga menanyakan, apakah aku telah bergeser dari tempatku semula, lebih dekat kepadamu?. Atau hanya senantiasa membenarkan arah pandangku, agar tepat lurus langsung kepadamu. Iya, aku memang lebih dekat kepadamu, tetapi juga sekaligus kau lebih jauh kepadaku. Kau selalu mengejutkanku dengan kebiasaanmu memasuki ruangan yang kusangka tak pernah ada. Kita bergerak dengan kecepatan yang sama, setiap yang kumasuki adalah bekas keberadaanmu, dan kau pasti tahu benar sakitnya mencumbu itu semua. Kita dikenai oleh aturan hebat yang bahkan kau pun tak sanggup menghindar darinya, bahwa setiap cintaku kepadamu menguat, maka pada saat yang sama cintamu kepadaku jauh lebih kuat. Itulah yang menciptakan semuanya. Mereka, kejadian kejadian itu adalah anak anak kita, yang lahir oleh kita. Maka kita setiap saatnya selalu tertuntut untuk membahagiakan anak anak kita, meletakkan segalanya pada tempatnya masing masing. Keterlaluan, kita dikebiri oleh kebahagiaan yang memabukkan.
Nira, kapan kau ijinkan aku pulang. Untuk bermakan malam denganmu. Saja. Untuk mengetahui apa yang kau ketahui, untuk melihat apa yang kau lihat, untuk merasakan apa yang kau rasakan. Nira, aku tahu benar bahwa rindu ini sejatinya adalah kendaraku, tetapi kengerian yang ditimbulkan olehnya membuatku seakan akan merasakan rindu ini adalah kerandaku, dan aku bagai jasad yang diusungnya saja, yang tak berhak memilih akan dimana tempat pemberhentian, yang telah mati, kehilangan kemampuan untuk merasakan. Nira, jika sedetik saja kau takut suatu saat aku akan takut, maka perjalananku menujumu tak lagi hendak memberi bunga, tetapi menghunus pedang. Nira, aku menantangmu untuk melawan setiap ketakutanmu kehilangan diriku!

Kekasihku Pulang

Fiksi Kilat V. Fajar A.

jo artwork
gambar diunduh dari jo artwork 2010

Semua serasa tak beres di pagi menjelang kaupergi. Awan-awan hitam bergulung-gulung datang, angin dingin menusuk tulang membuatku menggigil ngilu saat membuka jendela yang kacanya masih buram tertutup embun dan percik air sisa hujan semalam. Aroma kopi hitam yang kuseduh tanpa gula memenuhi ruang makan sempit tempat kita berdua beradu pandang dalam diam yang menggelisahkan.

Kutahu kau ingin bicara, dengan serak suara tersisa, karena semalam tak kunjung henti menahan isak, hingga fajar menjemput dan memaksamu menghadapi hari dengan berat hati. Sebab kakimu akan melangkah amat jauh, menjemput entah apa yang lama bersemayam dalam pikiran sejak dulu. Lalu keheningan jadi kawan sepanjang jalan, hingga burung besi mengangkasa membawa separuh jiwaku turut serta.

Sendiri. Untuk kali ini, aku masih bisa terima, sambil diam-diam berhitung seiring hembusan nafas masygul kehilanganmu. Kutunggu, berapa lama pun itu.

—ooo—

Waktu jadi lambat. Dunia berputar di situ-situ saja. Mungkin cuma aku, sebab susah payah mengingkari betapa diri merana bila sendiri.

Tapi tak dinyana ternyata semua tak berjalan begitu lama. Tiba-tiba surat cinta dan kata manis jadi hambar tak berasa. Cerita-cerita menguap dalam ruang dan waktu yang tersia-sia. Terlampau banyak yang bisa dikerjakan tinimbang muram menunggumu datang. Pelan-pelan aku berdamai dengan sepi. Sendiri itu nikmat sekali.

—ooo—

Sudah empat kali putaran musim datang dan pergi. Ada yang tak beres di hari kaukembali. Hari begitu hangat di senja yang merona jingga. Degup jantungku berlomba dalam irama yang tak biasa. Bukankah rindu telah lama kusimpan dalam-dalam? Terkubur dalam jiwa yang kerontang tanpa pernah kusapa. Mungkin kali ini saatnya ia hadir menemukan muara.

Suara itu, langkah ringan yang mendekat, lembut sapa lewat tatapan mata penuh rasa. Entah apa. Sebab, aku hanya bisa terpaku, seperti dulu-dulu juga. Hadirku hanya buat menanti, kaupergi, kaukembali.

Senyum mengembang di wajahmu yang anggun. Kutahu, kau ingin menghambur dalam pelukku. Mendengar suaraku bergetar menyebut namamu, bukan seperti dalam surat-surat cinta itu.

Namun entahlah, apa bisa? Saat kupandangi wajahmu begitu rupa. Kucari-cari warna koral teduh matamu yang kerap kuingat dalam lamunan. Dia tak di sana. Kau tak di sana. Maafkan, tapi telah kulupa warna matamu

Isakan itu. Dua tetes meluncur di lembut pipimu. Mungkin kini kau tersadar, betapa mahal harga menunggu.

Adelaide, 19 Desember 2012

–Saat aku lupa arti merindu-

Perjalanan ke Bulan

Fiksi Kilat Merry Fatma

 

gadis rembulan
gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Hari ini ada seorang teman yang sedang melakukan perjalanan ke bulan. Aku diam, tidak mengucapkan selamat berpisah padanya. Aku yakin, perjalanan ke bulan ini tidak berarti untuk selamanya, kami akan bertemu lagi. Tetapi alasanku bukan itu. Aku tidak mengantar kepergiannya, toh, nanti kami akan berjumpa kembali. Sekali lagi, bukan karena itu.
Sore ini mendung begitu pekat di langit kotaku. Aku tidak begitu tahu apakah perjalanannya baik-baik saja. Dengan enggan kuambil telepon genggam, penasaran ingin tahu kabar darinya.
Teman, bagaimana perjalananmu?
Secepat kilat di antara mendung yang pekat, kuketik deretan huruf lantas kukirim ke nomornya. Oh ya, begitu lama kami tidak saling bicara. Biasanya jika tiga hari saja kami tidak saling bertegur sapa dia akan meledekku: sombong.
Aku kira, ini sudah lebih dari selamanya kami tidak saling bicara. Apa pun alasannya, ini sudah salah. Seperti ada semacam pengkhianatan perjanjian tidak tertulis yang telah kami sepakati bersama. Aku mencoba mengingat hari-hari yang lalu, ketika segala serupa pelangi terbit usai hujan reda. Memang, aku yang menjauh saat itu. Aku mengaku. Aku terlalu cemburu perlakuannya pada teman-temannya selain aku.
Kami sudah lama bersama, baik jika engkau tahu, itu lebih dari akrab dengan kata berdua. Tentu saja ada rasa tidak rela saat satu atau dua atau bahkan serombongan teman-temannya hadir di antara kami. Apalagi kemudian aku tahu, ada salah satu yang istimewa baginya.
Barangkali ini sudah salah. Tetapi debar di dadaku lebih menggelegar dari guntur di mendung sana. Aku deg-degan menanti balasan darinya.
Tentu saja sudah kuperkirakan sebelumnya bahwa sudah tidak ada lagi yang istimewa di antara teman-temannya. Aku yang lebih dulu, seharusnya aku yang paling istimewa. Akan tetapi soal hati siapa yang tahu, bukankah cinta tidak lantas tertuju kepada siapa yang datang lebih dahulu?
pip,pip,pip… Pesan balasan darinya.
Baik-baik saja. Sombong sekali baru menyapa sekarang. Ke mana saja?

Bah, memang pada awalnya aku yang menjauh darinya. Tetapi bukankah dirinya juga tidak mencariku? Tidak merasa kehilangan aku? Aku berharap di bulan juga sedang mendung. Seperti di sini, lalu gerimis. Semoga dia tidak lupa membawa jas hujan.
Ada pelangi di ujung sini, cantik sekali. maaf aku lupa pernah berjanji untuk mengajakmu kemari.
Pesan lagi darinya. Satu permintaan maaf. Tanpa sesal. Tanpa usaha memenuhi janji. Sudahlah. Dia tinggal lama di bulan pun tidak mengapa. Aku cuma akan berdoa untuk kesehatannya. Dan untuk sisa waktunya di bulan, yang katanya akan ia gunakan untuk melakukan penghijauan.
Mengenai sisa perasaanku ini, kuusahakan untuk mengalirkannya perlahan-lahan, ke sungai. Supaya kelak bermuara di lautan, menguap kemudian menjadi hujan. Semoga kelak hujannya akan turun sampai ke bulan. Menemani perjalanannya.
 
 
*) Merry Fatma, saat ini tengah berkutat menyelesaikan skripsi di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogja.