Issa di Ruang Transit

Puisi John Kuan

Sebagai secangkir teh kau di ruang
transit Frankfurt atau Taipei
perlahan menguap dan ambar.
Tidak peduli 17 silabel atau 200 tahun
cuma diberi 2 jam menginjak bumi

O semut transit
termangu di tepi cangkir
kita pergi atau pulang

.
Bayang pesawat di dalam cangkir
udara mekar harum melati, terhadap waktu
lengket di atas koper, tahu almond
bertabur bintik matahari, daun teh melayang
turun, ke arah kenangan kita bergeser

Mozart di dalam iPod
86 miliar neuron
Mondar-mandir, buang waktu

.
Kau melewati jembatan Jepang
kolam teratai Monet, berhenti pada sekeping
dinding kaca. Dunia luar senyap, satu pesawat melintas
dua kali kau hilang anak istri: “ Apakah hidup pahit? “
“ Anicca, gradasi cahaya kukurung dalam 17 silabel “

Kikuk, lupa hafal dialog drama
Sepasang kecoa beradu antena:
kirim sinyal cinta

.
Dengan sepasang mata haiku kau mengukur
stamina Wordsworth membaca Prelude: Akhirnya
kau membuat aku mengerti, apa artinya waktu
secangkir teh, begitu penuh di celah perjalanan beku
hati-hati tambah susu, gula, perlahan dicicip, diaduk

Kirim 1 giga salju
sebelum jadi Buddha
di atas tusam tua

.
Secangkir teh, dari panas lalu hangat lalu dingin
Sekelumit perasaan, dari puisi lalu mimpi lalu hidup
Di duniamu, tempo secangkir teh adalah kau angkat kepala
telah menemukan sebuah dunia mungil utuh, bagai sebutir
embun menetes ke dalam secangkir teh di ruang transit sibuk

Satu partikel melati
kecap, cuka, wasabi
Dunia transit

Iklan

Melihat Jianzhen di Jepun

Puisi John Kuan

golden-hall
Toshodaiji Nara Nara pref02s3s4560” by 663highland663highland. Licensed under CC BY 2.5 via Wikimedia Commons

Setelah kau nirwana lebih dari 12 abad

Sepasang matamu yang buta masih belum lelap

Berpijar, menyorot ke dalam kelam dunia

若葉して 御目の雫    ぬぐはばや

wakaba shite / onme no shizuku / muguwabaya

Basho ingin dengan tetesan hijau tunas baru

Menyeka duka di dalam bola matamu

Awal musim dingin tahun pertama tarikh Tianpo

Dua biksu Jepang dari Chang’an ke Yangzhou

mohon di depan Kuil Daming

bertemu denganmu di antara pagoda dan kuil agung

kau tegak kokoh bagai sebuah candi

dua biksu kelana gugup membuka mulut

Bahasa Tang logat Jepun bagai angin subuh lembut bercampur kukuh

pelan dan tegas melewati puncak pagodamu

Kau berkata gunung dan sungai negeri berbeda,

angin dan bulan pada langit serupa

Dharma Buddha Negeri Jepang walau jaya, namun belum ada

orang menyebarkan Vinaya, tumben hari ini ada undangan,

saudara-saudara yang duduk bersila, siapa mau ikut

menyeberang? Murid-muridmu saling tatap

bagai air muka kolam beku, tak tampak satu riak pun

Kau lalu dari ujung kerongkongan lempar kepada mereka sebiji

batu maha besar: menyeberang laut kelabu

Aku mau coba jalan susah, hari ini tiada orang pergi

Ai, pergi aku!

Begitu kau gerak, Buddhisme baru dan sejarah penyebaran

benda seni Tiongkok juga bergerak, dan selembar

sejarah baru maritim ikut terbuka

Begitu kau gerak, air di kanal yang membelah Kota Yangzhou,

murid-muridmu yang tertegun dan bimbang,

semua roh generasi setelahmu juga ikut bergerak

( dan saya mesti bagaimana gerak pena, di dalam syair, menulis ceritamu

seolah sungguh seolah tidak itu? Bagaimana menarik kursor

buka jendela baru, membuktikan makna hidupmu? )

[ Shoku Nihongi ] menggunakan seratus kata

Membonsai 12 tahun penyeberanganmu yang lima kali

ingin hemat tinta mencatat detil perjalananmu yang gagal

serta orang-orang yang kau bawa:

Pengrajin giok, tukang gambar, tukang ukir, tukang sulam,

Pematung, tukang batu, kelasi lebih kurang 185 orang

Juga daftar barang-barang yang siap kau bawa:

Avatamsaka Sutra aksara emas 1 jilid. Mahaprajnaparamita Sutra aksara emas 1 jilid.

Mahasamnipata Sutra aksara emas 1 jilid. Mahaparinirvana Sutra aksara emas 1 jilid.

Tripitaka 100 buku. gambar Manjusri 1 lembar

gambar Buddha 1 lembar. patung tembikar sepuh emas 1 buah.

Shoji enam daun gambar Bodhisatwa 1 papan. Shoji gambar peredaraan bulan 1 papan.

Panji dojo 120 lembar. Panji manik 14 potong.

Kotak kitab berlapis kulit mutiara 50 buah. Bejana tembaga 20 buah.

Permadani 24 lembar. Kasaya 1.000 helai. Baju biksu 1.000 pasang.

Tempat duduk 1.000 buah. Ember tembaga 4 buah. Piring tembaga besar 40 buah.

Piring tembaga sedang 20 buah. Piring tembaga kecil 44 buah

Tikar rotan putih 14 lembar. Tikar rotan pancawarna 6 lembar

Wangi kasturi 20 formula. Gaharu, wangi operculum, wangi sumbul,

damar kruing, benzoin, akar puyan, kemenyan arab

lebih dari 600 kati. Haritaki, getah hingu, gula merah, gula tebu

lebih dari 500 kati. Madu 10 botol, tebu 80 ikat,

koin perunggu 10.000 ikat, koin kepala tungku 10.000 ikat,

koin tepi ungu 5.000 ikat, sepatu serat ganja 30 kotak.

Tentu, juga tidak mencatat kapal menabrak karang, seluruh muatan

kurang lebih terbawa ombak, deskripsi gerak hati kalian yang terkurung di pantai

Lebih tidak usah sebut penelusuran terhadap hal-hal abstrak

semacam kesabaran, ketidakpastian, keyakinan

Pelayaran kelima, tetap bertolak dari Yangzhou

Angin badai membuat kapal kalian mabuk pusing haluan

Hanyut 14 hari mendarat di ujung selatan Pulau Hainam

Bulan Yangzhou merah bara terbit

di langit Laut Cina Selatan. Di antara pokok kelapa

dan pokok pinang, suara seruling merembes dari celah mimpi

udara kering, pantai pasir putih, kalian lewat segugus-segugus

bunga warna-warni, sepanjang jalan kau bangun

kuil, ceramah Vinaya, sebar Dharma dari Danzhou sampai Sanya

Saya tidak pasti apakah kalian juga mencerahkan

penduduk asli yang suka main tato ngecat gigi

tapi saya bisa pasti sederet pohon ara di luar kuil Kaiguan

pasti pernah mendengar kau menyebar Dharma, bahkan amat sukacita

Setelah menyeberang Selat Hainam, panorama Guilin juga tidak mampu

menyembuhkan kawan seperjalananmu, biksu Jepun

Seperti dicatat buku sejarah, mati ( di tengah perjalanan ), dia datang

ke tanah leluhurmu mengajak kau terapung ke tanah leluhurnya: di atas peta waktu

dia telah mendorong Tiongkok ke arah timur ½ centimeter

tentu kau akan tersedu, ada versi mengatakan kau buta karena itu

ada versi mengatakan cuaca dan stamina jatuh

ada versi mengatakan pada pelayaran ke enam yang sukses

kau baru buta mendarat di Okinawa  pada tahun 753 Masehi

Bulan 2 Tahun 6 Tenpyo-shoho, kalian tiba

di Osaka, Bulan 4 sampai di Nara kau lakukan prosesi jukai

kepada Kaisar Shomu dan putrinya Kaisar Koken di Todai-ji

tahun itu, kau telah 67, sejarah peradaban Jepang

Kuno baru mulai ke dalam mesin pencari data simpan dokumen

Tahun 3 Tenpyo-hoji, Toshodai-ji berdiri

Di sini kau ceramah Dharma, mengajar Vinaya, Hondo yang hening

Di dalam cahaya petang berpijar bagai mimpi

Bagai bayangan utuh Dinasti Tang. Murid-murid dan tukang-tukang

yang mengikuti kau menyeberang, satu papan satu papan

satu genteng satu genteng membangun kuilmu. Bayang kuil

bersambung bayangmu, bersambung senyum Kwan Im

di atas altar, bersambung wangi rumput dan jamu di udara, tumbuh

tumbuh, memantul ke dalam selembar-selembar sejarah arsitektur,

sejarah kerajinan, sejarah seni, sejarah pengobatan Jepang…

Kau tentu tidak bisa melihat bunga teratai dan sakura di sisi setapak

tapi kau bisa menciumnya, kau tahu hilang penglihatan bagai seekor anjing buru

terikat di dalam bola mata, kau tahu kau dan tanah lelehurmu terpisah sebentang

laut dan sebuah negeri kepulauan yang susah payah, namun kau berdiri

kau duduk kau tidur kau berjalan: seorang biksu kelana dengan langit dan bumi

sebagai atap meja dan tikar, seorang warga semesta

yang tidak bisa melihat cahaya bintang semesta

rindu kampung halaman, tentu masih punya…

terhadap gugus awan di atas kepala, terhadap jerit serangga,

terhadap umat. Kau rindu bayang dedalu di Yangzhou, rindu

kitab kau salin karam ke dasar laut. Dan laut

juga satu bagian kekaisaranmu yang misterius, serupa derita

adalah laku dan tobat selalu ada di dalam hidup. Kau tentu

tidak kelihatan gagah pucuk atap kuilmu , tapi kau tahu

di ujung lintang atapmu, ada genteng menonjol lengkung

bagai tanduk mimpi, bagai ekor burung, bagai sepasang

ikan sisa nabi, berenang di dalam akuarium semesta. Mereka adalah

kacamata selammu, sepasang mata kau yang lain

Mata yang berpijar di dalam kelam malam

Musim semi tahun 7 Tenpyo-hoji, muridmu bermimpi balok lintang rubuh

Buru-buru mematungmu, dua tiga bulan

kemudian kau meninggal dunia. Balok tetap kokoh,

yang patah terbang naik jadi cakrawala, di puncak mimpi

Tentu kau masih punya airmata, gelantung

di dalam malam lembab yang ingin menetes, atau biarkan

ia menetes, menyusuri elevator waktu yang transparan dan terang

dari Dinasti Tang milikmu, dari cakrawalamu

mengalir lewat daun pisang muda Basho

mengalir lewat gunung dan sungai pelukis Kaii Higashiyama

mengalir lewat jaring maya bermata jarang

menetes di atas jendela layarku

di Kuil Daming, matamu berpijar

di Tosodai-ji, di Balai Bayangan

kau mengatup, mata yang telah buta

bukankah itu juga benderang?

Inti hidup pada suka duka

Saling mengikat, pahit seolah manis

Inti seni pada cermin

ilusi, memantul inti hidup, saya mengambil

Pelepah Basho, mencuri peti kemas tukang cerita 

di dalam jendelaku yang tidak nyata, kau

demikian hidup, pakai jubah

duduk bersila, buka mata tersenyum

di atas sungai, awan tipis angin sepoi

Jariku menyentuh layar kristal

Mengayuh di atas gelombang elektron

Perlahan menabrak buka

tirai matamu, biarkan yang di dasar sungai

sebutir airmata mengarung ribuan tahun

masih belum sampai tepian, meluap

ke permukaan, perlahan

menetes: sebagai bukti

kesungguhanku

welas asi

mu

Catatan:

Jianzhen adalah seorang pendeta Budha dari Cina yang menyebarkan ajaran Budhisme di Jepang. Lihat referensi.

RAHASIA MENULIS EMPAT LARIK PUISI CINA KLASIK

Oleh Ahmad Yulden Erwin

rahasia-menulis
Gambar diunduh dari lifeofafemalebibliophile

Begini bisa saya bagi rahasia menulis empat larik puisi Cina klasik. Sebentar ada pikiran mengira cuma ingin menara sendirian? Tapi, untuk berbagi bukannya mesti jadi ribuan pucuk rumput, tahan dalam gigil, pas sepasang terwelu mandi embun? Tidak peduli, saya hanya ingin berbagi, begini cukuplah:

“Rahasia menulis empat larik puisi Cina klasik dimulai dengan hati dan pikiran seorang pelukis. Larik pertama tak usah ragu lukis suatu lanskap atau peristiwa atau topik tertentu dengan kata-kata. Larik kedua biar jadi kelanjutan larik pertama. Larik ketiga beralih ke topik lainnya. Larik keempat jadilah sari bagi tiga larik sebelumnya.”

Berikut beberapa puisi empat larik Cina klasik dari dinasti Tang:

Mendaki Menara Bangau

Karya Wang Zhihuan (688 – 742)

Mentari putih menyusuri bukit berakhir,
Sungai kuning menuju lautan mengalir.
Ingin melempar mata sejauh ribuan Li,
Mendaki sajalah ke tingkat lebih tinggi.

Peristirahatan Rusa

Karya Wang Wei (701 – 706)

Gunung kosong tidaklah nampak insan,
Hanya terdengar cakap orang bergema.
Pantulan cahaya mentari masuk hutan,
Kembali menapaki lumut tanpa terasa.

Pulang Saat Malam Badai Salju

Karya Liu Changqin ( ? – 786)

Petang datang gunung purba menjauh,
Hawa gigil rumah putih beku merapuh,
Terdengar anjing menyalaki pintu kayu,
Orang pulang waktu malam badai salju.

Apa benar saya tengah berbagi? Sayangnya, ini justru satu Koan Zen Jepang terbaca sebelum dini hari:

Dua orang putri dari seorang pedagang sutera di Kyoto,
Yang tertua dua belas tahun, yang muda delapan belas,
Seorang samurai bisa membunuh musuh dengan katana,
Tetapi gadis-gadis itu membunuh orang dengan matanya.

100 Baris Hujan dan Ombak Buat Fa Hien

Puisi John Kuan

Kadang  membacamu  di depan jendela,  beri  titik

dan koma  pada perjalananmu   yang  tanpa tanda

baca.  Di luar jendela adalah laut kelabu dan hujan

Satu  kapal melintas.  Entah pukul  berapa  petang

Kadang    menerka  perjalananmu   sampai  di tepi

Sungai Musi, duduk di ujung dermaga melihat riak,

belajar tegar bagai sebuah jangkar.Di sana kadang

ada  kapal kadang  ada  badai kadang  cuma  sisa

ombak  putih segerombol. Perjalananmu  memang

tidak  pernah mudah, salju  dan pasir gurun penuh

catatan  kakimu. Angin beku buih ombak melewati

celah-celah  aksaramu. Sulit  membayangkan kau

yang enam puluh melangkah keluar gerbang Kota

Chang’an,  bertahun-tahun  jalan kaki  kau simpul

jadi  sebaris  kalimat  pendek: [  di atas  tidak  ada

burung   terbang,  di bawah  tidak   ada   binatang

merangkak, tulang belulang putih sebagai markah

jalan. ]  Lalu  kau melewati  Dataran  Tinggi Pamir,

mengutip   jejak    Buddha   dari   Mingora  hingga

Pataliputra, menyalin kitab 3 tahun. Kau sudah 68.

 

Saya  sedang  mengatur sudut  pandang berbeda,

menarik   titik   temu  jejak   kakimu  dan kata-kata

mati   semu.   Sekuntum   awan    tengger   di luar

jendela,   sekelompok-sekelompok   turis   sedang

membentuk  garis  pantai. Bunyi-bunyi  Sanskerta

terbang  keluar  kitab  tua  berbaur dengan aroma

kopi dan lembaran kontrak dagang. Setelah tanda

tangan, sepotong basa-basi, sedikit mitos,saatnya

makan siang.  Orang memang  bukan terbuat dari

angan-angan dan tanah liat saja. Pada satu sudut

panorama laut sewaan, melihat  kapal datang dan

pergi, melihat  kau ikut Air Gangga mengalir turun

18   yojana    berlabuh   di Campa,   konon   dekat

Bhagalpur,  ke hulu  50  yojana  merapat  di mulut

Teluk   Benggala.   Kau   catat  nama   negeri   ini:

Tamralipti.  Awan bergeser keluar sudut pandang,

sebuah   kapal   mengisinya,  bentuk  sepenuhnya

ditentukan muatan, warna dermaga dengan corak

Dun Huang, arah angin dengan suka duka,2 tahun

kau salin kitab buat gambar. Tahun itu 410 Masehi

 

Gelas  dan  sendok garpu  tidak  mampu menahan

angin  meniup naik taplak meja, menelanjangi satu

kaki  meja  serat kasar, berkibas  dan mengancam

dari  badai laut jauh. Awan hitam mengusir orang-

orang  kopi  petang,  ada  pohon begitu  saja luluh

daun.  Dua  biksu  tua   berlindung   di mulut  pintu

pencakar  langit.  Kau  melanjutkan perjalananmu,

numpang sebuah kapal niaga. Menyusuri bau kari

ditiup  Angin Musim Barat, sepanjang pantai timur

India, lalu barat  daya. 14  siang dan malam. Saya

mencegat  sebuah   taksi  berlari keluar gumpalan

awan hitam, sodor satu alamat asing kepada supir,

dari Pakistan katanya, serahkan pada Google Map

Hujan turun,  gudang-gudang  mengelupas, orang

sedang bongkar muat, rintih gerigi motor bergetar

melawan rintik hujan.  Apa kau juga bawa kompas,

jubah usang,patung Buddha gaya Gandhara?Baca

rasi bintang  dan  arah angin? Salin Dirgha-agama

dan   Samyukta-agama,   mendalami  tata  bahasa

Sanskerta 2 tahun. Kau  sebut  negeri  ini:  Sinhala

 

Apa  bisa  menerjemah  bulan Kowloon  jadi bulan

Maladewa? Taifun di Shatin menjadi badai di atas

Samudera  Hindia?  Angin  mengiris  kaca jendela

perpustakaan, saya sedang melihat  apa yang kau

kemas, bergulung-gulung Agama dan Vinaya,buat

mencerahkan  kampung halaman? Kau naik kapal,

isi 200 orang, 2 hari layar  berkembang, lalu badai

naik  kapal  pecah,  kau  diseruduk  13  hari  angin

ganas. Kandas di atol. Saya juga kemas, bergegas

keluar  kamar   hotel  berbau  insomnia dan kukus

ikan. Mengejar jatuh tempo  tiket  kelana  di awan,

mimpi  memang  mudah  jadi material: terjemahan

catatanmu,  titik  koordinat, membawa  ingatan 16

abad  ke dalam   perut Airbus  350.  Duduk di atas

awan,  baca  perjalananmu   yang  disalin seorang

misionaris:  James  Legge, dia  juga  pipa  budaya

seperti kau. Membentang dari Barat ke Timur. Kita

suka  membawa  barang   aneh  menerjang waktu.

Demikian  kau  ombak  dan  angin  90 hari, masuk

Selat  Malaka, berlabuh di kota  pelabuhan: Javadi

 

Melewati sebaris gugusan cahaya perak, kita telah

sampai   di mana?  Biru  di bawah   itu  langit  atau

lautan?  Lewat  puncak salju, tampak lagi satu tahi

lalat    dunia.  Tidak    peduli     orang-orang   demi

sepotong  agar-agar  di dalam mangkuk Laut Cina

Selatan baku hantam,  kita  bicara. Bicara tentang

perjalananmu  yang 14.600 kata  hanya  750  buat

angin dan ombak laut, sisa 4 patah buatku[ Javadi.

Mayoritas agama Hindu. Dharma Buddha tak usah

cerita. Menetap 5 bulan ]  Saya mendarat di dalam

hangat    tropis.  Pulang.  Kau  juga,  kapal   tujuan

Guangzhou,  di atas  ombak  85  siang dan malam

mendarat   di Laoshan.   Hujan   turun  lagi,  entah

berapa petang. Tahun 414,saya melihat kau mulai

menerjemah;  genteng   memutih;   pintu  tertutup.

Koi    sembunyi   di dasar    kolam;  warna    emas

terpendam  di bawah  air keruh. Pekarangan batu;

kerikil   hitam   di atas batu  putih. Helai rambutmu;

uban dan salju. Kita berjalan ke ujung lorong, buka

secelah pintu kayu, melihat  pelangi  di ujung  atap

Jalur Maritim, Mademe Bovary dan Bisbol

Oleh John Kuan

++
Sudah hampir dua tahun saya memusatkan jelajah baca pada jalur perdagangan antara Tiongkok dengan Asia Tenggara dari berbagai jaman, berharap suatu hari dapat menulis sebuah buku tentang para pelaku sejarah di dalam jalur perdagangan ini, namun sampai hari ini masih belum menunjukkan hasil. Saya juga sangat serius mengikuti setiap berita yang berhubungan dengan tema di atas, sehingga sering menemukan berita-berita yang tak terduga. Misalnya, beberapa waktu lalu di dalam kamar sebuah hotel, saya menonton sebuah berita dari salah satu stasiun tivi di Tiongkok tentang sebuah tempat yang bernama [ Kampung Taiwan ] di Henan. Berita ini bisa merebut perhatian saya karena menurut cerita tivi pemukiman tersebut dimulai oleh seorang penjaga kuda. Apa pula hubungannya penjaga kuda denganku? Tentu ada. Ceritanya dia adalah penjaga kuda seseorang yang bernama Huang Ting, dan Huang Ting ceritanya lagi adalah anak buah Koxinga, sekarang hubungannya dengan tema abadi saya sudah sangat erat. Koxinga adalah Zheng Chenggong, dan mungkin adalah Orang Asia pertama yang mengalahkan Kekuatan Maritim Barat pada abad ke-17. Kembali lagi ke berita tivi, diceritakan bahwa setelah Zheng Chenggong meninggal dunia, seorang bawahannya bernama Huang Ting bagaimana dan bagaimana menyerah pada Pemerintah Qing, lalu membawa seorang penjaga kuda bersamanya menyeberangi Selat Taiwan menetap di Henan, Huang Ting tidak meninggalkan jejak, malah keturunan penjaga kuda ini yang terus berkembang, dan dari sanalah cikal-bakal [ Kampung Taiwan ] di Henan. Tivi bercerita bahwa penjaga kuda ini adalah orang suku asli Taiwan, juga ada prasasti didirikan di kampung tersebut untuk mengenangnya. Buat membuktikan di dunia ini memang ada perihal begini, Tivi juga menegaskan bahwa penduduk kampung ini [ memiliki sifat khas suku asli Taiwan yang pintar menunggang kuda dan berpanah, suka berburu ]; selain itu, tata cara pemakaman di kampung tersebut juga sangat unik, mesti di dasar liang kubur diletakkan sekeping papan, agar roh yang meninggal dunia bisa mengarungi lautan balik ke Taiwan dan sebagainya dan seterusnya.

++
Cerita [ Kampung Taiwan ] ini saya duga hanya bual belaka.
Apakah Zheng Chenggong punya seorang bawahan bernama Huang Ting atau tidak? Patut dicurigai. Andai ada, Huang Ting yang diceritakan menyerah kepada Pemerintah Qing sekitar 20 tahun setelah Zheng Chenggong meninggal dunia, tentu sudah seorang jenderal renta, apakah masih harus menunggang kuda ke atas perahu menyeberangi lautan untuk menyerah diri kepada Pemerintah Qing? Sangat mencurigakan. Andai tidak naik kuda, darimana pula datang penjaga kuda suku asli itu? Sesungguhnya pada jaman Klan Zheng, di Taiwan ada berapa ekor kuda juga pantas dipertanyakan. Berdasarkan surat Zheng Chenggong kepada penguasa Belanda di Taiwan, meminta si bule menyerah, di akhir surat dia berkata akan [ naik kuda menunggu ], kalau begitu, di luar Fort Zeelandia setidaknya ada satu ekor kuda; sekalipun ada bukti teks, saya tetap curiga ini hanya sekedar ungkapan yang berkembang biak dari retorika seorang ahli perang. Lagipula, penjaga kuda yang dikatakan adalah suku asli Taiwan itu, sekalipun suku asli Taiwan cukup banyak, masing-masing memiliki kelebihan, tetapi saya belum pernah mendengar ada yang sangat mahir menunggang kuda. Sebenarnya saya kira pada era Kangxi ( 1661 – 1722 ), kuda itu macam apa rupanya mereka juga tidak begitu tahu, bagaimana pula sudah dituduh sebagai penjaga kuda? Mungkin orang yang mengarang cerita Tivi ini sangka semua suku asli pasti mahir menunggang kuda dan memanah, maka jalan pikirannya kian tarik kian serong, sehingga menyebut penduduk kampung tersebut memiliki sifat khas, yaitu [ mahir menunggang dan memanah, suka berburu ]. Berpikir yang bukan-bukan saja.
Mengenai di dasar liang kubur diletakkan sekeping papan, agar roh yang meninggal dunia mudah pulang dan sebagainya dan sebagainya itu, kemungkinan adalah penemuan besar yang dikocok keluar dari suatu tim kecil dari semacam [ Akademi Sains Sosial ] mereka. Saya juga pernah membaca cerita dengan semangat gaya bicara penelitian [ Akademi Sains Sosial ] begini, tentang rahang Orang Batak dan rahang Orang Shaanxi yang katanya besar dan kotak dan sebagainya dan seterusnya, bahkan menuduh orang-orang dari kampung anu dan anu yang kemungkinan adalah keturunan Batak atau Shaanxi dengan menunjukkan ciri khas mereka: berahang besar. Waktu itu reaksi pertama saya adalah: Yang berahang besar takutnya bukan orang-orang kampung anu dan anu, tapi kuda nil.

++
[ Akademi Sains Sosial ] adalah kata benda yang suka menakuti orang.
Sains saja sudah sangat menegangkan, Sains Sosial lebih tegang lagi. Sekarang ini seperti banyak sekali ilmu pengetahuan dilahirkan di bawah nama ini, amat rumit, kadang-kadang sebelum masuk menelusuri sudah sesat di ambang pintu.
Beberapa waktu lalu membaca sebuah buku terbitan Tiongkok, di dalam kata pengantar menabrak kalimat begini: [ Pokoknya, saya bersuka cita merayakan buku ini bisa diterbitkan secara terbuka; saya yakin buku ini akan membantu membangun dan mengembangkan Mitologi Komunisme negara kita. ]
Oh, Budha! Apa itu [ Mitologi Komunisme ]?

++
Saya pernah mendengar juga pernah membaca beberapa mitos penciptaan, amat beragam, namun seringkali bisa menemukan benang merah yang menyambung bagian masing-masing, saling terhubung, datang dari berbagai tempat di dunia, seolah mereka pernah bertemu, bersentuhan, dan saling menyebabkan pengaruh. Hanya saja para pakar tidak mengakui itu adalah disebabkan oleh saling mempengaruhi, dengan ketus menganggap semua itu memang terjadi secara alamiah, ini adalah satu hal yang betul-betul aneh.

++
Tetapi sepotong yang di bawah ini sungguh membuat saya merana:
Awalnya bumi kacau dan kosong, namun di langit sudah tumbuh pohon teh di setiap sudut, bahkan roh daun teh telah berubah jadi bintang matahari dan bulan yang menyinari seluruh langit. Daun teh melihat bumi gelap gulita, memohon Pencipta yang maha bijak mengijinkan mereka turun ke bumi, berharap dapat membuat bumi menjadi indah, sekalipun harus menanggung dosa serta bersusah payah juga tidak peduli. Pencipta yang maha bijak memetik 102 lembar daun teh, dengan angin badai mengantar mereka melayang ke bumi, maka di dalam perjalanan meluncur ke bumi ini, daun yang berangka ganjil menjelma jadi 51 bujang perkasa, daun yang berangka genap menjelma jadi 51 gadis jelita. Waktu itu bumi dikuasai oleh roh jahat, merah putih hitam kuning empat roh jahat yang merajalela. Bujang dan gadis daun teh berperang melawan roh jahat, setelah menghabiskan sembilan puluh ribu tahun akhirnya berhasil memusnahkan roh jahat, lalu mengembangkan berbagai macam tumbuhan, dan mereka sendiri yang ganjil dan yang genap saling berpasangan, maka terciptalah manusia.

++
Mitos penciptaan begini tiada duanya, adalah milik suku minoritas Tiongkok barat daya yang dipanggil suku Palaung. Menurut cerita, budidaya dan pengolahan daun teh adalah pusat kehidupan ekonomi suku ini, sebab itu daun teh mereka pantunkan sebagai leluhur. Garis besar ceritanya kurang lebih begini, detilnya saya juga tidak sepenuhnya tahu. Narator mampu melekatkan mitologi dengan kehidupan ekonomi, bisa jadi yang beginilah yang disebut [ Mitologi Komunisme ]
Kalau mengikuti jalur ini, maka mitos penciptaan Venezuela atau Kuwait atau Brunei mestinya dengan Minyak Bumi sebagai leluhur, Jerman dengan Bir dan Sosis, Amerika Serikat dengan Coca Cola dan McDonald, Hawaii dengan Industri Pariwisata, Jepang dengan Toyota, Selandia Baru dengan Buah Kiwi, Thailand dengan Durian Montong sebagai leluhur, masing-masing turun ke bumi berperang dengan roh jahat sembilan puluh ribu tahun.

++
Mitos sejak mula memang sudah ada
Yang disebut [ Mitologi ] awalnya memang tidak ada, suatu hari orang ingin menceritakan mitos dengan [ penjelasan yang tepat ], maka diadakan, dirancang agar siap dipergunakan, oleh sebab itu [ Mitologi ] adalah menggunakan landasan XX mengembangkan seperangkat cara dan teori yang berhubungan dengan mitos.
[ Mitologi Komunisme ], saya terka adalah dengan Komunisme sebagai landasan, lalu mengembangkan seperangkat cara dan teori yang berhubungan dengan mitos.

++
Tao sejak mula sudah ada, namun [ Taoisme ] awalnya memang tidak ada.
Suatu hari Taoisme berjaya, setiap fraksi memiliki pemikiran sendiri, lalu saling membuat garis pemisah, lalu perlahan mengeliat keluar Taoisme Guru A, Taoisme Guru B dan Taoisme Guru C, saling berebut hak suara, saling menyingkirkan. Sesungguhnya setiap orang yang mampu merenung pasti tahu, tidak peduli Taoisme Guru A Guru B atau Guru C semuanya adalah sudah di ujung aliran, atau bahkan ujung aliran juga bukan.

++
Puisi juga begitu.
Ada puisi terlebih dahulu baru kemudian ada Ars Poetica.
Setelah ada Ars Poetica, lalu ada Ars Poetica dengan XY-isme dan Ars Poetica dengan YX-isme, serta berbagai isme-isme lain yang berbeda
Puisi dengan adanya Ars Poetica lalu menjadi gundul licin, lalu menjadi pucat pasi; dan dengan adanya Ars Poetica XY-isme dan Ars Poetica YX-isme, puisi pun habis. Sebab itu Tao berkata: Orang suci tidak mati, penjahat besar tidak berhenti.

++
Tuhan?
Tuhan ada atau tidak? ( Ini sangat tergantung manusia )
Teologi? Andai Tuhan seolah seakan semacam seperti anggap saja ada, atau pernah ada, atau akan ada, maka biarkan saja Tuhan ada bersama kasus yang belum diputuskan ini. Sekalipun demikian, Teologi awalnya memang tidak ada, kalau begitu apakah masih perlu membahas Teologi MN-isme atau NM-isme?

++
Kita membiarkan segala macam aliran Ars Poetica eksis, maka kita juga harus berlapang dada biarkan mereka eksis dengan bebas, biarkan mereka menentukan yang mereka sendiri anggap benar sebagai benar, dan yang tidak sebagai tidak, menyanjung, membual, mengencet, mendakwa, dengan suara bising menara Babel, hiruk-pikuk, hingga selamanya. Satu-satunya syarat kita adalah: Jangan menggunakan Ars Poetica intervensi denyut nadi dan wajah puisi, juga pilihan organis puisi
Pilihan organis puisi.

++
Pilihan organis puisi berada pada puisi sendiri, atau dalam praktek, dikendalikan oleh penyair. Seorang penyair yang fokus dan progresif akan menggunakan tameng struktur organis ini di atas prinsip keindahan dan superioritas menceritakan isi hati pikiran dalam mengejar ketertarikan, disebut sebagai daya cipta. Daya cipta yang dengan penyelesaian gaya khas penyair sendiri sebagai tujuan ini, sebutlah, di saat gaya selesai, juga merupakan saatnya topik tersebut secara penuh telah disampaikan.
Gaya adalah segala-galanya.
Ketika Flaubert sedang menulis sebuah buku yang benar-benar dia inginkan, waktu itu adalah tahun 1852, sebuah buku yang tidak menggambarkan realitas dan dunia manusia: [ Sebuah buku yang tidak bersentuhan dengan perihal apapun, sebuah buku yang tidak bisa ditarik hubungan dengan unsur-unsur masyarakat luar. ] Dia berkata: [ Sebuah buku dengan kekuatan dan kelenturan yang menonjol begini, dan tidak pecah dijungkir balik. ]
Inilah [ Madame Bovary ]

++
[ Madame Bovary ] tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Siapa mau percaya sebuah novel klasik yang menulis realisme ternyata tidak ada hubungannya dengan [ realita ]? Sebuah buku dengan pemaknaan paling ketat boleh disebut sebagai karya klasik novel realis abad ke -19, apa yang ditulis ternyata tidak ada hubungannya dengan perihal apapun dengan dunia luar.
Gaya itulah segala-galanya. [ Akulah Madame Bovary, ] kata Flaubert.

++
[ Realita ] tidak mungkin menjadi sastra, hanya gaya bisa menjadi sastra.
Realisme mulai populer di Perancis tepat pada masa Flaubert menulis [ Madame Bovary ], awalnya adalah sekelompok pelukis ingin memindah dan menuangkan realita ke atas kanvas, sebagai semacam gerakan kesenian melawan Romantisme. Baudelaire menganggap Realisme adalah tidak pantas ( decorum ), jauh dari estetika, sebab ia tidak mampu dengan efektif membuat daya khayalmu bekerja, demi sastra atau seni bekerja. Flaubert lebih selangkah lagi mengungkapkan, [ Madame Bovary ] yang dia tulis itu berpijak pada posisi anti Realisme.
Namun kau bagaimana bisa menolak realita? Tidak bisa.
Tetapi [ deskripsi jujur ] atau [ reaksi ] terhadap realita tidak akan menjadi sastra. Kau mesti menggunakan kepekaan daya imajinasimu dan kekuatan pengetahuanmu mengumpul, mengembang, menyerang, memasuki semua unsur, kualitas, kejadian dalam luar realita itu, mengelola ia dan melatih kekuatan teks mu, membuat ia dicabut seolah tidak usah didorong, namun tetap bulat dan utuh, sendiri menjadi satu telaah, tafsiran, sistem yang tidak perlu menunggu benda luar membantu dan akan terus berdenyut, inilah gaya yang kau ciptakan, dan yang kau andalkan untuk mencipta lebih banyak gaya lain lagi. Oleh sebab itu dikatakan gaya itulah segalanya, memang gaya adalah segalanya.

++
Ketika Flaubert mulai menulis [ Madame Bovary ] umurnya sudah lewat tiga puluh, masih belum pernah menerbitkan karya, samasekali tidak dikenal, tapi sesungguhnya dia telah menyelesaikan tidak sedikit cerpen dan dua buah naskah novel, salah satu adalah yang berbentuk otobiografi [ L’Education Sentimentale ], satu lagi adalah yang luar biasa itu [ La Tentation de Saint Antoine ]. Sebelumnya dia pernah membacakan semua bagian [ La Tention de Saint Antoine ] untuk kawannya; kawannya setelah mendengar, memberi saran agar dia nyalakan api dibakar saja. Flaubert tidak membakarnya, kemudian menghabiskan sekitar dua puluh tahun memperbaiki, hingga tahun 1874 baru diterbitkan, angin kritik Paris tidak terlalu buruk.

++
[ Yang saya kuatir adalah buku ini sifat hiburannya banyak atau sedikit. ] Satu tahun lebih setelah Flaubert menyelesaikan [ Madame Bovary ], begini dia menulis surat kepada seorang temannya: [ Sisi itu agak lemah, aksi adegan tidak cukup. Tetapi, saya juga menganggap konsep sudah merupakan aksi, sekalipun dengan konsep mengendalikan perhatian pembaca agak sulit. Andai gaya sudah tepat dan menonjol, seperti masih bisa dilakukan. Saya sudah tanpa henti menulis lima puluh lembar naskah tanpa aksi apapun… ]
[ Hidup, ] lanjutnya sambil berpikir: [ memang seharusnya demikian. Bercinta adalah aksi, ujung pangkal mungkin hanya satu menit, namun waktu buat masa persiapan mungkin saja beberapa bulan. ]

++
Gerak dan diam.
Konkret dan abstrak.
Lima puluh lembar naskah tanpa aksi apapun, apakah mungkin?
Dengan konsep menjaring pembaca, membuat dia tidak buyar konsentrasi, apakah mungkin? Hanya ketika konsep itu, serangkaian konsep itu dihadirkan dengan gaya yang bagus, saya pikir, mulai ada sedikit kemungkinan.
Seorang novelis jika mempunyai keberanian secara terus-menerus menulis lima puluh halaman penuh tanpa terjadi plot cerita apapun, malah di dalam penjabaran, perubahan, dan penjelasan yang berulang terhadap konsep bisa didorong ke depan, menitip gerak pada diam, maka dia akan termasuk seseorang yang luar biasa di dalam kelas elit seni, tidak lagi seorang novelis biasa. Tentu, nasibmu ada pada tingkatan saya terpesona dan terpukau pada lima puluh lembar naskahmu itu sebagai bukti. Terima kasih.
Andai kau adalah seorang penyair
Bagaimana tidak mencoba abstrak? Silakan pakai
Konkret menjelma jadi abstrak
Tidak bisa diukur, dikategori
dibanding, dideskripsi, diungkapkan bahkan
Juga bukan konsep, adalah abstrak

++
Mencoba. Bereksperimen. Mengarang.
[ Kalau diceritakan agak sedikit absurd, ] Flaubert berkata: [ Saya kira saya bisa menggunakan ritme puisi buat esai, dengan catatan tanpa mengubah tampil luar dan format esai; juga menduga bisa meniru kegagahan orang menulis kitab sejarah atau epik yang megah itu menulis suka duka kehidupan biasa… namun bagaimanapun juga, ini tetap merupakan sebuah eksperimen yang sulit dan berat, karangan yang memikat. ]
Dia memang dengan semacam struktur kalimat esai menulis novel, juga seolah menulis dengan nafas puisi, kadang-kadang memang bisa membuat orang terpukau setengah mati. Misalnya menulis muncul dan pencarian cinta nafsu, air salju menetes dari payung kecil Emma yang kencang, ketika dia dan Rodolphe sedang dibelit asmara, buah-buah ranum dari pucuk pohon menggelantung, binatang malam di dalam taman bunga kasak-kusuk…

++
Membaca bab sembilan [ Madame Bovary ] memang seperti membaca sebuah puisi:
Bagian 1: Telah berlalu enam minggu, Rodolphe juga belum kembali, lalu ada suatu senja, tiba-tiba dia muncul
Bagian 2: Putaran waktu baru sampai Oktober, alam luar dikurung dalam kabut.
Bagian 3: di antara dedaunan, di atas tanah, di setiap sudut ada pantulan cahaya, bergoyang berpijar, seolah helai-helai bulu kolibri yang jatuh. Sekeliling sehamparan hening. Ada rasa manis menyebar datang dari pepohonan.
Bagian 4: Tiba-tiba dia teringat tokoh-tokoh perempuan di dalam buku-buku yang pernah dia baca; seorang dan seorang perempuan yang berselingkuh sedang dengan panduan suara menguraikan perasaan mereka buat membangkitkan ingatannya.
Bagian 5: Sejak hari itu mereka setiap malam akan saling menulis surat. Emma menyimpan suratnya pada celah dinding batu di bawah balkoni di ujung taman, dekat tepi sungai, kemudian Rodolphe akan datang mengambil, dan meninggalkan suratnya di tempat yang sama. Dia selalu merasa suratnya terlalu pendek.
Bagian 6: Pagi itu, hari belum terang Charles sudah berangkat, dia tiba-tiba ingin seketika pergi melihat Rodolphe sekejap mata.
Bagian 7: Kadang-kadang papan yang dilintangkan buat sapi menyeberang hilang, dia mesti berjalan menyusuri dinding di sepanjang sungai. Tepi sungai amat basah dan licin, dia memegang akar dan batang bunga layu yang tumbuh di sela-sela tembok melangkah, kemudian memutar masuk ke dalam ladang, di atas tanah bajak yang lembut berburu langkah, sepatu botnya penuh dengan tanah lumpur, dan ketika dia melewati padang rumput, sepotong syal melilit di lehernya ikut angin menari.
Bagian 8: Perpisahan selalu memakan seperempat jalan baru selesai. Setiap kali Emma menangis.
Bagian 9: Suatu hari ketika dia juga begitu saja datang tanpa janji, tiba-tiba sudah muncul di rumahnya, Rodolphe mengerutkan dua alis, jelas menunjukkan tidak senang. [ Kenapa? ] Dia bertanya: [ Sakit? Ada apa? Beritahu aku ]

++
Flaubert: Menurut pandangan saya, novelis tidak memiliki hak sembarangan mengeluarkan pendapat terhadap hal apapun di dunia ini. Di dalam mengarang, dia seharusnya meniru tuhan: Menyelesaikan pekerjaan dengan baik, tutup mulut.

++
Menyelesaikan pekerjaan dengan baik, adalah menaruh kata pada posisi yang tepat, sehingga menyebabkan ia dan kata-kata yang berdekatan atau bahkan berjauhan dengannya dapat menghasilkan interaksi yang berlapis, oleh sebab itu akan memberikan seluruh kekuatan yang terpendam, memperagakan sepenuhnya penyampaian maksud yang khas dan fungsi yang spesifik, melalui gabungan bentuk, suara, makna, melalui gerak gelombang frekuensi yang tumpang tindih menyediakan makna kepada teks yang ikut dibangunnya, makna dasar dan makna asosiasi.
Inilah maksud menyelesaikan pekerjaan dengan baik, seperti yang kita ketahui, kurang lebih begini.
Flaubert selangkah lagi berpendapat, di dalam proses mengajak kata-kata ikut membangun agar bisa menyediakan makna, kau seharusnya memilih semacam teknik representasi atau demonstrasi, seperti bab 9 [ Madame Bovary ], sekalipun sedemikian hancur dipetik saya lalu disusun kembali menjadi sebuah puisi narasi sembilan bagian, juga dapat kelihatan Flaubert bagaimana fokusnya representasi, demonstrasi, dan tidak ingin dengan mudah membiarkan pendapat subjektif pengarang menerobos masuk — sering lebih hati-hati menjaga jarak plot cerita dengan pengarang daripada filem-filem modern.
Inilah maksud pengarang mesti [ tutup mulut ]

++
Pengarang tidak mengeluarkan pendapat, sisa pekerjaan tentu harus ditanggung pembaca — dengan bahasamu menyampaikan pendapat. Sangat alamiah, seandainya pembaca ingin duduk dan berdiri sama rata dengan penulis, mesti konsentrasi melihat semua kemungkinan dari kata-kata yang hadir di depan mata, mengail pengalaman, masuk ke tubuh teks, coba menemukan hatinya waktu mengarang.

++
Suatu petang tahun lalu, cahaya matahari yang kuning pucat melewati mulut jendela menempel di atas [ Madame Bovary ] Bahasa Mandarin terjemahan Li Jianwu ( 1906 -1982 ), seorang penerjemah yang saya hormati, koleksi seorang kenalan, terbitan 1948, karena usia dan cahaya redup, buku itu tampak makin lapuk tergeletak di atas meja, hanya daya tariknya masih menggebu, membuat pikiran mondar-mandir. Di sampingnya ada sebuah buku A. Barlett Giamatti, sebuah buku yang menelaah tentang tanah impian pada Jaman Renainsans. Selain dikenal sebagai sarjana sejarah Renainsans, Barlett Giamatti juga sangat terkenal di dunia bisbol.
Ada satu masa saya juga terpaksa mempelajari dan menyukai bisbol untuk bertahan hidup; agar orang-orang Amerika yang datang sarapan pagi di kedai saya tidak terlalu bosan. Untung sekarang saya tidak usah terpaksa menyukai dan mempelajari sepak bola, kadang-kadang saya bangun tengah malam dan melihat beberapa orang lelaki dewasa duduk di depan tivi menahan kantuk, selain iba, saya merasa hidup terlalu tragis; bagaimana bisa memaksa Orang Indonesia atau dalam lingkup lebih luas Orang Asia Tenggara, atau lebih luas lagi Orang Asia hidup dalam waktu Eropa? Tetapi segala pengorbanan tentu ada gunanya. Tentu saya juga mendapat sesuatu dari bisbol, seperti yang pernah dikatakan Giamatti, di dalam permainan bisbol kita berharap pemain bisa terus maju ke base depan, tetapi kita juga meminta mereka berani [ pulang ] ke base awal — bukankah ini sama dengan jejak langkah tokoh-tokoh yang terus-menerus kita saksikan di dalam sastra? Pergi merintang bahaya, tumbuh dewasa, lalu pulang — bukankah di sini juga tersembunyi semacam filosofi pergi mencari tanah impian kemudian membiarkan pijar gemilang kembali ke dalam kebersahajaan?

Subsidi

Oleh Mubyarto

Guru Besar Ekonomi UGM

mubyarto-guru-besar-ugm
Sumber: bewe33.blogspot.com

ADA seorang pakar ekonomi, yang kebetulan pejabat eselon I di sebuah departemen, mengeluh betapa sulit meyakinkan rekan- rekannya yang non- ekonom bahwa subsidi adalah tidak sehat. APBN yang mengandung pos subsidi, betapapun kecil, adalah tidak sehat. Maka jika masyarakat dan bangsa Indonesia bisa diyakinkan untuk suatu ketika menghapuskan sama sekali pos subsidi dari APBN, ia sungguh akan merasa sangat puas (lego).

Tentu kita dapat menjamin bahwa pakar ekonomi ini adalah pakar ekonomi konvensional yang menyelesaikan studi lanjutnya di Amerika, serta sangat setia dan percaya penuh pada teori-teori ekonomi neoklasik yang tertulis dalam buku-buku teks. Maka, akan menarik untuk mengetahui reaksinya jika diajukan pernyataan Prof Joseph Stiglitz, pemenang Nobel Ekonomi 2001, yang baru-baru ini berceramah di Jakarta sebagai berikut: Textbook economics may be fine for teaching students, but not for advising government…. Since typical American style textbook relies so heavily on a particular intellectual tradition the neoclassical model.

Kalau terhadap peringatan Stiglitz ini ia bergeming (bersikukuh) dan mengatakan bahwa bagaimanapun perekonomian yang tanpa subsidi lebih sehat daripada perekonomian yang menanggung beban subsidi, kita dapat mencoba mengingatkan pernyataan John Rawls dalam bukunya, A Theory of Justice, sebagai berikut: A theory however elegent and economical must be rejected or revised if it is untrue; likewise laws and institutions no matter how efficient and well arranged must be reformed or abolished if they are unjust(Rawls, 2001: 3).

Menghapus Subsidi Pupuk

Tidak biasa Kompas marah luar biasa. Dengan judul editorial “Semoga Pemerintah Tidak Bermain Api”, Kompas hari Kamis 6 Januari 2005 menggugat pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla yang sama sekali tidak menunjukkan keberpihakan pada petani kita yang hidup dalam kemiskinan. “Bagi petani, subsidi pemerintah merupakan satu-satunya andalan bagi mereka untuk bisa bertahan.” Lebih lanjut ditulis: “Kalau kita ingatkan pemerintah untuk tidak bermain api, sama sekali tidak ada keinginan untuk memanas-manasi keadaan.” “…. Terus terang kita bertanya-tanya ke mana sebetulnya arah keberpihakan pemerintah ini.” “…. Pemerintah sangat tidak suka kalau dikatakan liberal. Tetapi, sepertinya negara yang paling liberal dan membuka seluruh pasarnya adalah Indonesia.”

 

Kita yang sedikit tahu seluk ekonomi pertanian Indonesia, yang pernah protes keras keluarnya Inpres No 9/1975 tentang TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi) bulan April 1975, dapat memahami “kemarahan” Kompas. Mengapa Dr Susilo Bambang Yudhoyono yang menulis disertasi Doktor tentang “Pembangunan Pertanian dan Perdesaan” rupanya tidak mengetahui ada anggota kabinet yang mengkhianati misi pemerintahannya untuk berusaha meningkatkan kesejahteraan petani?

 

Rupanya sangat banyak pejabat pemerintahan SBY-Kalla yang berpikiran persis seperti pakar ekonomi konvensional yang disebut pada awal tulisan ini. “Bagaimanapun, segala jenis subsidi harus dihapus karena subsidi dalam bentuk apa pun dan berapa pun adalah penyakit yang kalau dibiarkan akan menggerogoti kesehatan perekonomian Indonesia.”

 

Terlihat jelas dalam iklan pemerintah untuk membela rencana kenaikan harga BBM yang diberi judul “Subsidi BBM selama ini dinikmati golongan mampu dan orang kaya”, bahwa pemerintah bertekad jalan terus dalam rencananya menaikkan harga BBM meskipun mahasiswa dan masyarakat yang “berakal sehat” menolaknya melalui berbagai argumentasi ekonomi yang rasional.

 

Jika pemerintah bertekad menghapus segala bentuk dan segala jenis subsidi, tanpa pandang bulu, mungkin rakyat masih berusaha memahaminya. Tetapi, yang aneh memang pemerintah justru tidak konsekuen karena sama sekali tidak ada tanda-tanda akan menghapus subsidi bunga/dana rekapitalisasi perbankan yang dimasukkan dalam pos pengeluaran APBN. Jika subsidi pupuk ZA dan SP-36 yang dihapus hanya bernilai Rp 400 miliar, mengapa subsidi Rp 45 triliun yang sudah berjalan lima tahun, yang notabene dinikmati oleh “penjahat-penjahat perbankan”, tidak ada tanda-tanda akan dihapus?

 

Rakyat yang hanya sedikit tahu logika ekonomi, tetapi sangat paham ukuran-ukuran keadilan, pasti memprotes kebijakan pemerintah yang sangat tidak adil ini. Pemerintah dengan menaikkan harga BBM bermaksud mencabut subsidi yang pasti berakibat pada kenaikan harga-harga umum, dan pasti memberatkan kehidupan rakyat. Tetapi meneruskan pemberian subsidi pada orang- orang kaya eks-konglomerat, yang kini menikmati subsidi bunga obligasi pemerintah yang luar biasa dengan uang rakyat ini, akan merupakan tragedi nasional yang sangat menusuk hati rakyat.

 

Subsidi Tidak Jahat

Saya sangat bersimpati pada kemarahan Kompas yang menggugat subsidi pupuk senilai Rp 400 miliar yang benar-benar memukul petani tebu dan petani hortikultura. Saya khawatir mereka benar-benar akan berdemo ke Jakarta untuk menuntut pencabutan subsidi yang sangat tidak adil ini.

Jika pada bulan April 1975 petani TRI tidak berani memprotes Inpres No 9/1975 yang memasukkan kembali sistem kapitalisme liberal dalam perkebunan tebu di Jawa, liberalisasi ekonomi pertanian/perkebunan kita sekarang pasti akan diprotes secara keras oleh petani kita.

 

Petani kita memilih “SBY- Kalla” karena percaya sebagai Presiden dan Wakil Presiden, Pak SBY dan Pak Kalla akan mengadakan perubahan kebijakan ekonomi yang akan lebih berpihak kepada petani. Rakyat petani sungguh akan kecewa berat jika harapan ini tak terpenuhi.

 

 

*) Dimuat di Harian Kompas, Rabu, 12 Januari 2005

Sumber dokumentasi: Tarli Nugroho

Candi Barong

Oleh Rere Loreinetta

Candi Barong berada di bukit Dusun Candisari. Candi ini merupakan candi Hindu yang merupakan bekas kompleks peribadatan untuk memuja Dewa Wisnu dan istrinya, Dewi Laksmi (Dewi Sri, dewi kesuburan). Candi Barong ditemukan oleh seorang Belanda sekitar tahun 1913.

Suasana Candi

candi-barong-candi-hindu
Foto: Rere Loreinetta

Pada bagian paling luar candi terdapat teras pertama dengan batas garis batu berbentuk bujursangkar. Lalu di teras kedua yang berikutnya terdapat susunan batu yang tertata rapi berupa persegi panjang, teras ini mengelilingi teras pertama. Teras ketiga, merupakan wilayah yang paling sakral, di teras ketiga ini kita bisa menyaksikan candi untuk memuja Dewa Wisnu dan untuk Dewi Sri.

Candi ini menghadap ke arah Barat. Untuk sampai pada teras ketiga ini anda harus melalui gerbang yang terbuat dari batu andesit. Teras pertama luasnya sekitar 90 x 63 m2, lalu teras kedua 50 x 50 m2, dan teras ketiga berukuran 25 x 38 m2. Selain itu pada tangga candi dilengkapi dengan pipi tangga, terdapat hiasan sepeti ‘ukel’ pada pangkal tangga, hiasan daun kalpataru, terdapat gerbang beratap (gapura paduraksa) menuju ke pelataran teras ketiga.

Kompleks candi ini memiliki pintu masuk di sebelah barat, lalu mengantar pada lahan berundak tiga. Teras pertama dan kedua sudah tidak ditemukan bangunan candi, meskipun terdapat sisa-sisa lantai atau umpak. Teras kedua merupakan area bukaan yang cukup luas. Sebelum memasuki teras tertinggi terdapat gerbang paduraksa kecil yang mengapit tangga naik.

Pada bagian teras tertinggi terdapat dua bangunan candi untuk pemujaan, diperkirakan kepada Dewa Wisnu dan Dewi Sri. Bangunan candi-candi utama ini tidak mempunyai pintu masuk, sehingga upacara pemujaan diperkirakan dilakukan di luar bangunan.

Iklan

Karena kadang kita harus berhenti hanya agar dapat kembali melangkah.

Iklan