Retakan Kata

Pernah dulu kurangkai kata dari setiap serpihan luka,
mencoba melukis makna agar asa tak jadi sirna.
Kutorehkan pada kayu,
pada batu,
dan pada tubuh bernanah.

Kubasuh dengan air mata,
Kubaluri dengan doa-doa.
Sekiranya nyawaku tinggal sejengkal,
aku masih dapat membacanya,
abadi, membara.
Meski nafasku tersengal,
disanalah rohku pernah singgah.
terkapar, berdarah-darah.

Hingga tiba masa kata tak lagi berdaya,
Hidup bagai palu godam menghantam,
Meretakkan setiap kata yang tersisa,
Meluluhlantakkan butir-butir nyali yang sempat bersemi.

Kini aku tinggal di dalamnya,
Menari dan bernyanyi di sela retakan kata,
Menanti Sang Pemahat Sejati memurnikan jiwa sunyi.
Sendiri.

14 Feb 2011

Iklan

Doa Saja Tidak Cukup

image from dodiksetiawan.wordpress.com
…dan kita termangu,
masihkah bumi ini punya kita?

Berduyun orang menjerit dan limbung
terpatah…
tercabik awan panas membumbung.
Lalu legam nasib menghitam
bau daging terpanggang memenuhi ruang
sapi, kerbau, ayam, kambing
(…dan kami sama perihnya)
tak lagi lada sebagai penghangat suasana
tapi berton-ton debu membasuh kalbu.
Kalbu yang sekian lama buta, tuli dan bisu
…dan kita termangu.
Benarkah kita kuasa atas semesta?
pantai
gunung
udara
tanah
tak lagi ramah
lalu semua beribadat
tanpa beribadah

…dan kita termangu,
tak juga beranjak berkarya …….
meski sederhana,
doa saja tidak cukup

Atau…
Sangkamu, Tuhan itu budakmu?

Repost: puisi yag dibuat untuk mengenang korban merapi 2010

Reformasi Politik Tanpa Revolusi Budaya Adalah Pekerjaan Sia-sia

image from shutterstock
Sejak reformasi 98 kita telah mengalami pergantian kekuasaan (baca presiden) sebanyak empat kali. Mulai dari Habibie, Gus Dur, Megawati sampai SBY. Penting untuk diingat bahwa turunnya Soeharto membawa benih budaya baru, yaitu penurunan paksa seorang presiden. Sejak saat itu tak henti-hentinya bangsa kita penuh dengan kegaduhan politik. Demonstrasi lebih sering dilakukan seiring dengan wacana demokrasi yang berkembang pesat. Mulai dari guru SD, petani, buruh, karyawan dan mahasiswa, semua menjadi akrab dengan demonstrasi. Tidak jarang demonstrasi tersebut malah berujung pada konflik kekerasan. Demonstrasi di peringatan setahun SBY-Boediono merupakan contoh aktual fenomena tersebut . Kebebasan berpendapat begitu luas sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis tampak tinggal selangkah ke depan, seandainya bangsa ini siap menerima anugerah itu.
Ketidaksiapan bangsa ini dianalogikan beberapa tokoh sebagai ketidaksiapan menampung aliran sungai demokrasi yang sekian lama terbendung kemudian secara tiba-tiba terbuka lebar. Air mengalir liar tanpa kendali. Ibarat air yang semestinya menghidupi para petani justeru menjadi sumber mala petaka karena merusak kehidupan petani sebagai simbol rakyat kecil. Terbuka lebarnya kran demokrasi juga melahirkan otonomi daerah yang dirasa beberapa ahli sudah cenderung kebablasan. Beberapa aturan yang terbit saling tumpang tindih atau bahkan bertentangan dengan ketentuan yang lebih tinggi. Demokrasi telah termaknai sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya, bahkan kalau mungkin bangsa ini tanpa pimpinan dan aturan. Pancasila sebagai landasan demokrasi terabaikan dan seolah terkriminalisasi yang mana menyebut Pancasila adalah bagian dari orde baru yang tidak layak dipertahankan.
Perlahan kita menyadari bahwa banyak masalah yang belum terselesaikan. Pendekatan politik dan hukum sudah terbukti kurang efektif dalam mempercepat tumbuh kembangnya bangsa ini. Korupsi masih tetap tinggi. Kesenjangan sosial masih lebar bahkan semakin lebar dengan meningkatnya pola kapitalistik dan konsumtif. Perilaku masyarakat bukan mengarah ke hal yang lebih konstruktif namun justeru menjauh dari apa yang dicita-citakan sebagai manusia indonesia seutuhnya. Pergaulan bebas, pola hidup serba instan dan berbagai kecurangan di berbagai sendi kehidupan seolah menjadi suatu kewajaran. Perilaku mengemudi merupakan cerminan kecil dari perilaku orang dalam hidup keseharian. Ketika di jalan saling berebut, saling serobot, dan hidup seperti dikejar ketakutan, begitu pula perilaku hidup di tengah-tengah masyarakat. Takut gagal, takut miskin, takut kalah, dan semua jenis ketakutan yang mendorong setiap orang untuk membabi buta bertahan hidup.
Pertanyaan bagaimana membangun masyarakat indonesia yang berpancasila, yaitu masyarakat yang berketuhanan, menjunjung tinggi kemanusiaan, memiliki nasionalisme, mengutamakan musyawarah dan mufakat, serta berkeadilan sosial, menjadi mendesak untuk dijawab. Pendekatan politik, hukum dan beberapa mainstream agama selama ini, dalam tanda petik, menggunakan asumsi bahwa manusia perlu diatur karena buruk dan jahat. Kita lupa bahwa setiap manusia senantiasa menyimpan niat baik, paling tidak niat berbuat baik bagi orang-orang yang di cintainya. Inilah modal awal bahwa kehidupan ini masih bisa terus ditumbuhkembangkan. Pendekatan budaya menjadi penting dan mendesak untuk dilakukan dalam rangka memelihara dan memberi makna baru dari niat baik setiap orang. Sebagaimana dikatakan Herskovits dan Malinowski bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Dalam budaya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat (Edward Burnett Tylor), yang merupakan hasil karya cipta, rasa dan karya masyarakat (Selo Soemardjan).
Budaya yang baik akan menghasilkan proses (politik) dan hasil politik yang baik. Begitu juga budaya yang baik akan menghasilkan proses dan produk hukum yang baik. Menumbuhkan budaya malu berbuat curang akan menghasilkan budaya menghormati karya orang lain, sesederhana apapun karya yang dihasilkan orang lain. Budaya memberi arti lebih pada proses ketimbang hasil. Dampaknya, budaya dalam proses politik menjadi lebih penting dan bermakna ketimbang menjadi sekedar formalitas yang direkayasa. Budaya juga akan membuka pemikiran masyarakat untuk menjadi lebih cerdas dalam setiap tahapan proses politik. Masyarakat tidak hanya sekedar menjadi obyek para politisi, tetapi subyek dari setiap proses politik itu sendiri.
Pada tataran yang lebih umum, budaya kerja sama dan gotong royong yang positif mendorong tumbuhnya budaya tidak takut. Persaingan global yang tampak kejam dengan pakaian individualisme dan materialisme semestinya dapat dibendung dengan kebersamaan, bukan pembinasaan antar komponen masyarakat sehingga dunia tampak seperti rimba belantara dengan gedung-gedung sebagai ganti pepohonan. Budaya persaingan yang sehat, mengaku kalah jika memang kalah secara fair memberi ruang tumbuhnya budaya ksatria. Budaya yang menghormati proses, diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan terhadap hasil dari proses-proses tersebut.
Memang, pembangunan budaya lebih lamban. Untuk itulah percepatan dengan revolusi budaya diperlukan. Sejarah di belahan dunia seperti di Korea Selatan, Cina, dan Jepang sudah membuktikan bahwa reformasi politik membutuhkan revolusi budaya. Tanpa revolusi budaya, reformasi politik hanya menjadi pekerjaan yang sia-sia.

Repost dari Note FB

Kata Cinta Pada Jam Tiga Sore

Pintu keberangkatan 5 bandara Soeta jam tiga sore.
Seorang wanita bertubuh seksi, rambut hitam kemerah-merahan, seumur dengan wanita karier kepala tiga, tangannya sibuk kanan kiri menggeluti telpon genggam. Lelaki muda, umurnya kira-kira dua puluh enam tahun duduk di bangku sampingnya asyik membaca majalah otomotif.
“Sebentar ya sayang, aku urus bandot tua dulu,” kata si Tante pada lelaki muda di sampingnya dengan senyum manis.
“Santai aja Nte,” kata si muda pula.
“Pa, ntar jemput aku jam lima ya, pesawatnya delay empat puluh menit nih,” kata manja si Tante pada seseorang di saluran telpon genggamnya.
“Gak papa, Ma. Kebetulan aku juga masih ada meeting sebentar,” jawab suara lelaki di seberang.
“Yang bener Pa? Meeting apa muting?” tanya si Tante genit,”Papa udah ngga kangen sama mama ya? Udah nggak sayang lagi sama mama?”
“Ah, Mama, mana pantas di usia kita ngomong kayak anak ABG gitu. Kan udah jelas Papa cinta mati sama mama.”
“Iya deh, percaya… I love you Pa….”
“I love you juga Mam….”
Si tante kembali mendekati lelaki muda itu.
“Sebentar lagi cita-citamu punya Honda jazz bakal terkabul Sayang,” katanya lembut.
“Makasih Tante…, tante baik banget…,”
Tujuh ratus kilometer dari Bandara Soeta, satu sms masuk ke telepon genggam seorang perempuan cantik.
“Kita masih punya waktu satu jam lagi sayang. Si nenek sihir pesawatnya delay. Turunlah ke bawah sebentar ya Say”
Dengan cepat jemari perempuan itu menghapus kemudian menulis sms baru,“maaf, aku terlambat pulang sore ini. I love you, honey.”

Kecantikan Perempuan: Membawa Berkah atau Musibah?

The Mona Lisa
Cantik: Berkah atau Musibah?
“Bu Kie, ingatlah wajah-wajah itu. Dan jangan pernah percaya pada perempuan berwajah cantik, karena di balik kecantikannya tersimpan kelicikan”
Begitulah kira-kira pesan ibunda Thio Bu Kie sebelum menghembuskan nafas terakhir dalam prolog film Heaven Sword and Dragon Sabre. Kalimatnya mungkin tidak tepat begitu, tapi pesannya jelas bahwa kecantikan perempuan bisa berbahaya.
Sejarah nusantara sedikit banyak juga menyajikan kecantikan sebagai biang masalah. Ambil contoh dalam cerita berdirinya kerajaan Singasari pada tahun 1222. Indahnya tungkai Ken Dedes, istri akuwu (setingkat camat) Tunggul Ametung, telah membuat Ken Arok blingsatan. Skenario yang indah dalam cerita keris Mpu Gandring memuluskan rencana sang anak “pidak pedarakan” memperistri istri Tunggul Ametung dan mengangkat dirinya menjadi raja Tumapel. Ken Umang, yang sudah berpacaran dengan Ken Arok tentu saja merasa cemburu. Buah cemburu tersebut melahirkan pembunuhan demi pembunuhan antar keturunan Ken Arok pada masa Kerajaan Singasari.
Perang Bubat (1351 M) antara Majapahit dengan kerajaan Galuh merupakan contoh lain bagaimana kecantikan perempuan menghancurkan kredibilitas Hayam Wuruk dan Gajah Mada sebagai pemimpin-pemimpin besar pada jamannya. Nafsu Hayam Wuruk untuk menikahi Dyah Pitaloka Citaresmi menjadi awal perilaku memalukan Gajah Mada yang haus kekuasaan dengan memporakporandakan persiapan pernikahan menjadi peperangan yang menewaskan seluruh rombongan kerajaan Galuh di desa Bubat.
Cuplikan cerita tersebut menunjukkan bagaimana kecantikan menunjukkan sisi berbahaya. Memang dalam hal ini Tuhan sangat adil. Kelemahan fisik perempuan diimbangi dengan keindahan yang memiliki “daya serang” yang luar biasa. Ketebalan tembok Gedung Putih yang susah ditembus peluru Al Qaida, mampu ditembus Monica Lewinsky. Dan di depan mata kita masih jelas terlihat retaknya kewibawaan KPK akibat manuver cantik Rani Yuliani.
Tentu saja saya tidak hendak mengatakan bahwa kecantikan adalah sebuah dosa atau kesalahan. Justeru disini saya ingin menegaskan adanya daya serang perempuan dengan kelemahan dan kecantikannya yang sungguh luar biasa. Pertanyaannya, mengapa tidak digunakan untuk menghancurkan korupsi di negara kita dan membangun negeri ini? Alangkah indahnya jika anugrah luar biasa yang diterima perempuan berkembang menjadi talenta yang membangun dan memperanakkan budaya unggul di setiap sisi kehidupan.
Peningkatan peran perempuan dalam pemberantasan korupsi cukup masuk akal dengan adanya bukti penelitian yang menunjukkan bahwa perempuan lebih berhati-hati dalam bertindak dibandingkan kaum lelaki. Penelitian Jenkins, Diego dan Glaser (2006) yang dimuat dalam Jurnal Judgment and Decision Making Vol. I No. 1 Juli 2006, bercerita bagaimana perempuan dan laki-laki mengambil risiko dalam bidang gambling, kesehatan, rekreasi dan sosial. Yang menarik dari penelitian tersebut adalah bahwa baik perempuan dan laki-laki sama-sama bersedia menerima tingkat risiko yang sama berkaitan dengan kehidupan sosial. Namun perempuan lebih memiliki pertimbangan (judgment) yang optimis terhadap kemungkinan hasil-hasil positif sebuah tindakan. Di bidang kehidupan yang lain, perempuan tidak berani “bermain-main” dengan risiko dari sebuah tindakan, termasuk dalam bidang keuangan (Weber, Blais dan Betz; 2002). Dalam konteks korupsi, penelitian tersebut berguna sebagai landasan empiris untuk menempatkan perempuan sebagai pelaku aktif dalam upaya pencegahan serta pemberantasan korupsi.
Perempuan yang baik (cantik akhlaknya) menghasilkan masyarakat yang baik, demikian juga sebaliknya perempuan yang hancur-hancuran menghasilkan masyarakat yang hancur juga. Demikianlah pepatah yang sering kita dengar. Dalam kontek pengikisan korupsi, peribahasa tersebut menjadi lebih bermakna dengan adanya kontribusi aktif perempuan di berbagai bidang kehidupan. Perempuan diharapkan tidak sekedar menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku sejarah yang menciptakan sejarah. Jika tidak bekerja maka perempuan dapat berpartisipasi lewat keluarga dengan mengikis konsumerisme. Sedikit menahan diri agar suami tidak merasa harus memenuhi semua kebutuhan yang di luar kekuatannya. Orang Inggris memahat peran tersebut dalam kalimat indah “I married my husband for life, not for lunch”.
Bagi perempuan yang tidak sekedar menjadi ibu rumah tangga, peran aktif dapat dimulai dengan menempatkannya pada posisi-posisi penting dan strategis di perusahaan atau pemerintahan. Dalam kontek Indonesia, peran perempuan harus lebih ditingkatkan baik di lembaga eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Kuota DPR untuk perempuan bukan menjadi acuan karena dalam sistem tersebut tersirat perempuan hanya sebagai pelengkap penderita. Lebih utama jika perempuan karena kehendak bebasnya menempatkan diri serta meningkatkan kapasitas diri untuk bisa berkontribusi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sejarah kepemimpinan perempuan, jika pun ada, jarang sekali menceritakan pemimpin yang gagal karena ketampanan laki-laki. Cleopatra yang konon gemar laki-laki pun lebih terkenal sebagai penakluk laki-laki ketimbang ditaklukkan laki-laki. Sejarah nusantara mencatat Shima, ratu Kalingga yang sukses memimpin kerajaannya dalam kejujuran. Seorang perempuan yang mampu memimpin kerajaan menjadi “gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem karta raharja”. Kecantikan fisik yang diimbangi dengan kecantikan hati yang menjelma pada kecantikan perilaku terbukti mampu membawa kemakmuran sebuah bangsa. Meski demikian, apakah kecantikan itu membawa berkah atau musibah, kembali pada diri masing-masing. Setidaknya dulu para leluhur bisa, mengapa sekarang tidak?

(Repost)

Iklan

Karena kadang kita harus berhenti hanya agar dapat kembali melangkah.

Iklan