Arsip Tag: abu abu

Menyematkan Rindu Pada Bulir Padi yang Menguning

Cerpen DeAnnita

Panas terik matahari siang ini kembali membakar kulit sawo matangku. Setelah lelah sedari pagi membantu mamak dan bapak memanen padi, aku duduk di sebuah gubuk bambu yang sengaja bapak buat sebagai tempat peristirahatan. Kulihat mamak dan bapak tampak begitu lahap menyantap bekal makan siang yang setiap hari mamak persiapkan sebelum pergi ke sawah. Mamak selalu membawanya dalam rantang abu-abu itu.

Aku tak lapar, sama sekali tidak. Di setiap waktu makan siang seperti ini, rasa laparku selalu terkalahkan oleh satu rasa yang begitu menggebu. Rasa yang mengikat hatiku pada sebuah janji yang kau ucapkan dua tahun yang lalu–di gubuk bambu ini. Rasa itu kuberi nama rindu. Lalu hari-hariku seperti anak-anak sekolah. Aku mempunyai pekerjaan rumah untuk menyematkan rindu pada bulir padi yang menguning.

Dulu, sebelum kau pergi membawa mimpimu ke kota megapolitan itu, kita selalu berbagi makan siang di sini. Kau selalu membawa ubi rebus yang mamak-mu rebus sebelum kau pergi bermain ke tanah hijau ini. Sebagai gantinya, aku membawakanmu pisang bakar yang kubakar sendiri di bawah luweng. Kau mengatakan bahwa pisang bakar buatanku adalah pisang bakar terlezat yang pernah kau makan sepanjang hidupmu.

Beberapa detik kemudian, kurasakan batinku mulai mengharu biru kembali. Sementara itu, mamak dan bapak bersiap untuk kembali memanen padi. Mamak dan bapak memakai caping yang di beberapa sisi anyaman bambunya sudah agak berantakan dan mencuat dari jalurnya. Tak bisa kucegah sekeping memori tentang pertemuan kita dulu. Pertemuan yang membawa kita berjalan menuju sebuah rangkaian yang kebanyakan orang menyebutnya dengan panggilan persahabatan.

Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga dan kau kelas empat. Siang itu aku duduk di kelas sendiri dan menundukkan kepala dalam-dalam. Ruang kelas kita bersebelahan. Kau berhenti tepat di depan kelasku dan menatapku dengan penuh tanda tanya. Terang saja, di saat anak-anak lain sudah pulang, aku masih duduk di kelas dengan sikap yang aneh.

Kau berjalan mendekatiku, duduk di sampingku, lalu berkata, “Kamu ndak pulang?”

Perlahan kutengadahkan kepala untuk melihat wajahmu sambil menghapus sisa air mata yang membasahi pipiku. Aku diam tak menjawab pertanyaanmu. Lalu aku kembali menundukkan kepala dan memilin-milinkan ujung dasiku.

“Aku ndak akan jahatin kamu kok. Kamu ngopo nangis?” rupanya kau seperti bisa membaca pikiranku saat itu. Kau malah semakin ingin tahu mengapa aku menangis sendirian di kelas saat itu.

Sekuat tenaga kutahan tangisku untuk menjawab pertanyaanmu. Kau sedikit memiringkan kepala untuk melihat wajahku yang masih tertunduk.

“Aku mau pulang,” aku masih mengingat dengan jelas bagaimana nada bicaraku saat itu. Sungguh, aku begitu terdengar menderita dan memelas.

Kau tertawa begitu puas setelah mendengar jawabanku. Seketika saja, kau berdiri dan memegang tangaku untuk berdiri. Aku masih menatapmu tanpa kata-kata.

“Pulang tinggal pulang, to? Kalau di sini terus kapan sampai rumah?”

Dengan malu-malu kujawab pertanyaanmu, “Aku ndak punya uang. Uangku diambil sama Si Lemu.” Setelah itu tangisku kembali pecah.

Kau melepaskan genggaman tanganmu dan menghapus air mataku. Aku tersentak kaget dengan perlakuanmu saat itu. Tawamu yang tadi mengejekku berubah menjadi sifat seorang kakak yang mengayomi adiknya.

“Ya, sudah, ayo tak antar pulang,” ucapmu sambil menuntunku keluar kelas.

Siang itu kau mengantarku sampai rumah. Aku tersenyum begitu bahagia saat itu.

Kau mengulurkan tanganmu seraya berkata, “Panji.”

Secepat kilat aku membalas uluran tanganmu, “Ayu.”

Siang itu adalah awal persahabatan kita. Kau dan aku mulai bermain bersama di sekolah ketika istirahat tiba. Tak jarang, kau berkunjung ke rumahku. Kau mengajariku menerbangkan layang-layang. Aku ingat layang-layang pertama yang bisa kuterbangkan berkat ajaranmu. Warnanya putih dengan garis hitam di sisi kirinya. Lalu di tengahnya tertulis nama kau dan aku.

Aku berteriak kegirangan, “Panjiii, layang-layangku bisa terbang!”

Kau berdiri di sampingku sambil melihat ke layang-layang yang berhasil kuterbangkan dengan indah. “Siapa dulu yang mengajari? Panji!” jawabmu bangga sambil membusungkan dada.

Sebagai gantinya, aku mengajakmu bermain di sawah bapakku. Kau begitu sumringah ketika kuajak melihat padi-padi yang menguning dan siap dipanen. Kau juga mengatakan bahwa suara burung pipit di sawahku membuat hatimu ceria.

Aku tersadar dari lamunanku ketika bapak menggerakkan boneka sawah yang sengaja dibuat untuk mengusir burung-burung pipit yang datang mematuki padi-padi kami. Tanpa kusadari ada setetes bulir hangat yang jatuh membasahi pipiku. Ah, jangan menyebutku sebagai gadis desa yang cengeng! Aku memang selalu seperti ini. Rinduku padamu seperti cambuk yang siap mengeksekusi teroris di tiang cambukkan. Tidak, rinduku padamu serupa bulir padi yang menguning begitu indah dan dinantikan berjuta umat manusia.

Seandainya saja aku bisa mencegah kepergianmu untuk tidak menuntut ilmu di kota besar yang kini membuatmu lupa akan ubi rebus, pisang bakar buatanku, bermain layang-layang, dan kicau burung pipit yang membuat hatimu ceria. Seandainya saja aku bisa sedikit berargumen, mungkin kau akan mempertimbangkan kembali kepergianmu. Ah, sudahlah. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu kedatanganmu setiap tahun dan terus fokus pada pendidikanku yang sudah separuh jalan ini.

Aku memang selalu menasihati diri agar bersabar menunggumu, namun batinku meronta karena setiap keping kenangan kita berbunyi seperti logam yang jatuh di atas keramik. Dan memori kepergianmu terputar lagi di benakku.

Senja menguning dengan sempurna sore itu. Padi-padi yang siap dipanen merunduk dan menari setelah angin sore mengecupnya dengan lembut. Suara jangkrik dan katak sawah mulai terdengar melantunkan nyanyian malam dengan penuh semangat. Kau menjemputku di rumah dengan sepeda ontelmu dan membawaku ke gubuk bambu yang bapak buat. Kau bilang ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Lagi-lagi kau bilang hal yang akan kau sampaikan menyangkut masa depan kita.

“Bagaimana perasaanmu menunggu hasil ujian nasional?” ucapku saat itu dengan hati yang berdebar. Ujian Nasional yang baru saja kau lewati menciptakan lega sekaligus ketegangan baru untukku.

Sepertinya kau tak mendengar ucapanku. Kau terlihat begitu gelisah. Kakimu kau ayunkan ke depan dan ke belakang yang semakin mempertegas kegelisahanmu.

“Aku harus pergi, Yu,” ucapmu sambil menatap mataku lekat-lekat.

Aku terkaget mendengar ucapanmu. Seketika saja, kurasakan detak jantungku seperti berhenti setelah beberapa detik. Aku tersadar dan dengan cepat menyuruh jantungku untuk berdetak kembali. Namun, hanya diam yang kuberikan sebagai jawaban atas ucapanmu.

“Aku akan melanjutkan kuliah di ibu kota. Aku sudah diterima di salah satu universitas di sana,” ucapmu lanjut. Dari air wajahmu aku tahu ada rasa yang memberatkanmu saat menyampaikannya padaku.

pemandangan_sawah
foto milik Teresia Prahesti

Seketika saja aku terhenyak dan menyandarkan diri pada bambu penyangga gubuk. Aku merasa seperti ada yang menghujam tepat di jantungku. Kau yang menyadari perubahan ekspresiku langsung berkata, “Tenanglah, Yu. Aku ndak akan melupakanmu. Aku akan pulang kampung setiap tahun.”

Kau diam sejenak sebelum akhirnya menggenggam tanganku erat dan berjanji, “Aku berjanji tak akan melupakanmu. Percayalah padaku. Aku akan setia pada janji kita. Kau dan aku di usia 25 tahun nanti.”

Lalu padi yang menguning semakin merunduk saat itu. Senja yang berubah menjadi jingga rasanya begitu kelabu. Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam dan memegangi pinggangmu dengan erat. Kau mengayuh sepeda ontelmu dengan pelan, layaknya petani yang kelelahan setelah seharian mengurus sawahnya.

Suara mamak memanggilku dengan lantang, membuyarkanku dari lamunan tentangmu.

“Ayo pulang, wis sore mengko ndak kewengen,” mamak berteriak sekali lagi.

Inggih, Mak,” jawabku singkat.

Aku beranjak dari gubuk bambu yang penuh dengan kepingan kenangan kita dengan malas. Sebelum benar-benar melangkahkan kaki, kupandangi gubuk bambu itu dengan rasa yang mengharu biru. Aku melihat tawa, kata, cerita, dan tangis kita menguap di udara menuju peristirahatan hari. Lalu kepingan-kepingan itu berserakan, usang karena lama tak kau sentuh.

Sejenak aku berdiri memandangi padi-padi yang menguning dengan rasa haru yang luar biasa. Isakanku kujelmakan pada lukisan langit jingga yang sempurna. Ah, aku tak akan berharap terlalu banyak. Sebab kedatanganmu selalu membuatku  kecewa bahwa kau melupakan setiap hal yang pernah kita lalui dengan alasan setumpuk tugas dan hal baru di ibu kota yang kau anggap sebagai modernisasi.

Kau mengernyitkan dahi melihat pisang bakar yang kusodorkan. Dengan penuh semangat dan sukacita aku membakarnya untukmu, namun kau membalas kegembiraanku dengan tanda tanya.

“Aku tak lagi memakan pisang bakar seperti ini, Yu. Jorok dan tidak menarik. Di kampus aku diajari kebersihan yang begitu ketat. Aku baru menyadari bahwa pola hidupku selama ini sungguh jorok,” ucapmu ringan sambil memainkan handphone layar sentuh yang kau bilang sedang trend.

Aku hanya diam, mengangguk, dan berkata “oh” atau “iya” atas segala ceritamu tentang isi ibu kota. Lalu kau membuat hatiku hancur berkeping-keping. Rasanya seperti banjir yang membuat semua isi kolam ikan mbah kakung meluap, berserakan ke jalanan dan ikan-ikan di dalamnya tak bisa bernafas. Akulah ikan itu.

“Setelah selesai S1, aku ditawarkan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri oleh salah satu kawanku. Bagaimana menurutmu, Yu?” kali ini kau bertanya sambil menatapku.

Aku diam sejenak, kebingungan dengan jawaban yang harus kupersembahkan untukmu. “Ya, itu bagus. Lalu bagaimana dengan janji kita di usia 25 tahun?” kuberanikan diri untuk melontarkan pertanyaan itu.

“Yang terpenting saat ini adalah pendidikan. Kau tak perlu memikirkan hal yang belum tentu terjadi,” lalu kau mengeluarkan sebuah gantungan kunci dengan boneka beruang biru yang menggantung pada lingkaran pengaitnya.

Kau memberikannya untukku. Aku memandangi gantungan kunci itu dengan hampa. Tak tahu lagi harus berkata apa. Lalu kuseka air mata yang hampir saja memberontak ingin menampar kata-katamu.

Sekuat tenaga kukatakan padamu, “Aku menunggumu di usia 25 tahun itu, Panji. Aku menunggu janjimu, janji kita.” Kau tersenyum mendengar ucapanku. Lalu tanganmu menggenggam erat tanganku. Kurasakan ada kehangatan yang mendarat di keningku. Ah rasanya begitu manis.

Aku berdebar mengingatnya, selalu berdebar. Aku melangkah perlahan menyusuri pematang sawah. Dan biarlah, tetap dan terus kusematkan rindu pada bulir padi yang menguning.

Kampus GG IPB

10:42

DeAnnita, kelahiran kota hujan. Mencintai hujan, rindu, senja, dan pantai.

Iklan

Bukan Sekali Duduk di Mulut Jendela

Cerpen John Kuan

*

1

lelaki di balik jendela
Gambar diunduh dari kolomkita.detik.com

Di luar jendela adalah Central Park. Pepohonan yang gugur habis dedaunan di dalam musim dingin menjulur hingga jauh dari bawah telapak kaki, menampakkan semacam sapuan warna keabuan ranggas dan kuning keemasan, di dalam diam senyap mengisyaratkan daya hidup yang tak terhingga. Pencakar langit di sisi dua jalan besar sebelah timur dan barat taman berdempetan naik turun seolah bergerak pergi, menatap ke bawah hamparan pepohonan itu. Langit adalah abu-abu diselingi warna biru muda. Pukul delapan pagi, mungkin bertepatan dengan hari minggu, kau akan merasakan New York adalah mati kaku, seperti baru saja terjadi sebuah kudeta, diam-diam dirasuki sedikit gelisah dan teror, orang-orang berada di dalam rumah menunggu, mengamati, tidak tahu apa yang mesti dilakukan, tidak tahu bagaimana mengurus satu hari ini, waktu sehari penuh ini.

Dari lantai enam belas memandang ke bawah, jalanan seakan kosong luas terbentang. Lampu lalu lintas masih berkedip seperti biasa. Di seberang jalan ada dua patung perunggu, dua-duanya adalah penunggang, dengan gaya pamer perkasa pamer wibawa, menebarkan hijau murung yang kuno, topi tentara dan tapak kuda membentuk sudut yang agak menggelikan, keseimbangan yang tak terkira. Pedang panjang penunggang menunjuk ke bawah, saya konsentrasi memandang ke arah itu, di bawah ujung pedang yang tajam ada dua lelaki mengelilingi sebuah drum sambil berloncat, di dalam drum dihidupkan segumpal api yang penuh asap, mungkin koran kemarin, dipungut dari tong sampah. Mereka menyulut koran dengan api, lalu berdiri di sisi drum mengambil kehangatan, mengerutkan leher menggosok telapak tangan, sesekali meloncat, juga berbicara, namun saya tidak dapat mendengar apa yang mereka ceritakan. Api berkobar sejenak kemudian melemah, mereka bergilir pergi mengorek ke dalam tong sampah yang di sisi jalan, setumpuk-setumpuk koran dilempar ke dalam drum, asap putih tiba-tiba memanjat naik, di pagi yang dingin beku, di satu pojok taman, di bawah ujung pedang patung penunggang perunggu.

Merpati-merpati yang bangun pagi berpencar terbang datang.
Merpati-merpati lalu mendarat di lapangan, senyap sekali.

2.

Saya menarik sebuah kursi ke mulut jendela, duduk menguji kesunyian. Beberapa orang di kamar lain sedang berbicara tentang masalah kebebasan berpendapat. Sesungguhnya tidak ada yang perlu dibicarakan, sebab mereka saling menyetujui, hampir sepenuhnya saling menyetujui, kebebasan berpendapat adalah hak asasi, semuanya seperti berebut mengatakan, samasekali tidak bisa diubah dan sebagainya dan sebagainya. Mereka seperti bukan sedang bertukar pendapat, tetapi lebih mirip bertukar logat masing-masing. Sesekali terdengar ada suara mengaung: Chauvinism!

Sekarang di atas jalan yang membelah taman mulai ada beberapa mobil bergerak pelan-pelan, keluar masuk di antara pepohonan. Langit menampakkan sekeping biru, cahaya matahari dengan hangat menyorotinya. Di telingaku terdengar gaung suara orang-orang berbicara, tanpa henti, penuh diselingi suara gelas berbenturan dengan es batu, dan suara batuk yang sesekali melayang naik. Semua ini mengapung di dalam ruangan, cahaya lampu memenuhi hingga ke setiap sudut, dan di luar jendela adalah diam senyap.

Mereka bergiliran mengeluarkan pendapat, sepenuhnya saling menyetujui.

3.

Sore itu saya kembali ke mulut jendela melihat Central Park, pepohonan, dan pencakar langit yang berkilau di dua sisi. Hari itu sejak pagi, matahari masih belum mengundurkan diri. Di jalanan kian bertambah pejalan kaki, bahkan ada beberapa pedagang sedang menjual sweeter di mulut pintu taman, sehelai-sehelai digantung di minibus, berwarna terang, membuat orang berhalusinasi musim semi telah tiba.

Tapi musim semi belum tiba, atau mungkin sudah tiba. Saya melihat danau kecil berbentuk bulan sabit di dalam taman, setelah lama membeku, ternyata mengepak beterbangan beberapa ekor merpati yang riang. Merpati bermain air di beberapa bagian permukaan danau yang sudah mencair, bolak-balik menjulang menusuk, begitu mendekati permukaan air mengepak sayap mereka, cepat dan bernyali, menebarkan percikan air yang tak terhitung, begitu semangat bergiliran mengepak sayap, berebutan, tidak juga takut air danau yang baru mencair terlalu dingin.

Saya berdiri di tempat tinggi. Seumur hidup ini masih belum pernah melihat pemandangan yang begitu nyata, mencairnya sedanau air, setelah air danau itu menutup diri karena terlalu lama menahan dingin, setelah terkejut jadi retak-retak, tiba-tiba karena ada aliran hangat lewat, ternyata bisa juga dengan diam-diam mencair dari dalam, bahkan meluap keluar segenang air jernih, sekalipun di saat orang-orang bergegas memburu perjalanan, atau agak bosan terpaksa berdagang keliling sweeter, atau mengurung di satu sudut lantai tinggi berdiskusi Whitman, berdiskusi sastra anak-anak, memetik, meminjam, menghempas dengan keras sebuah ungkapan, mengisap rokok dengan gelisah, agak panik menggunakan Bahasa Inggris, sedang menguji-coba perlunya perdebatan dan unjuk diri, satu musim semi tiruan seakan telah tiba, air danau telah mencair, merpati dari tengah jalan terbang masuk ke dalam taman, sedang membersihkan sayap mereka di permukaan air yang dangkal.

Di bawah cahaya matahari musim dingin yang hangat dan warna-warni, merpati mengepakan sayap mereka dalam tempo cepat, gayanya yang bernyali itu bahkan membuat orang lupa bahwa sesungguhnya mereka mesti termasuk salah satu jenis burung berwarna abu-abu, sekarang tanpa henti memamerkan bulu-bulu mereka yang putih bersih, yang tersembunyi di tempat yang paling mendekati darah dan tulang, pernah di dalam dingin beku mempertahankan sedikit kehangatan. Saya dari atas menatap ke bawah, seolah mendengar sepotong alunan piano yang jernih, jari-jari tangan lentik bergerak berloncat dengan cepat beterbangan di atas tuts-tuts hitam dan putih, hanya melihat kumpulan merpati mendekati permukaan danau berputar, menusuk ke arah air jernih yang baru mencair, mengepak dengan sayap-sayap bergelora, menebarkan percikan air yang menyilaukan mata, berpijar bagai api.

*

See, they return; ah, see the tentative

    Movement, and the slow feet,
    The trouble in the pace and the uncertain
    Wavering!

 

      ——— Ezra Pound

1.

Saya ingin berbicara denganmu, dengan cara begini. Saya ingin duduk begini, duduk di mulut jendela, di luar hujan masih terus turun, seolah belum pernah berhenti sejak tadi malam. Di luar jendela kamar penginapan, langit dan bumi basah kuyup, dinding-dinding gedung tampak berwarna kuning pupus, jejak-jejak air malang melintang tercetak di atasnya, bergetar di dalam lembab dan dingin. Di satu sudut yang agak jauh tegak sebatang tiang bendera yang luar biasa besar, bendera yang terlalu lama direndam air hujan, menumpuk jadi segumpal kain basah dan berat, walaupun warnanya tampak jelas, tetapi lelah tergantung di sana, samasekali hilang semangat. Lebih jauh lagi apapun sudah tidak kelihatan, bersembunyi di belakang hujan senja, ada sedikit bayangan agak kabur, mungkin atap restoran, atau papan reklame, atau antena. Saya sesuka hati menyapu pemandangan di luar, ada semacam perasaan yang aneh: Bagaimana bisa bertemu dengan cuaca yang begini lembab, di Taipei?

Saya coba mengatur kembali pikiran yang kacau.

Hanya kacau saja, tidak apa-apa, bukan, bukan, bukan tidak senang, bukan gelisah.

Saya sudah lupa kapan pertama kali berkunjung ke kota ini, lima belas tahun yang lalu? Atau lebih? Musim panas tahun itu saya seorang diri datang ke kota ini. Kita berjanji bertemu di sebuah kedai kopi, seperti biasa, cerita-ceritamu membuat seluruh perjalanan menjadi ringan. Saya mesti mundur lagi lima tahun, teringat malam pertama kita, di atas sepuluh ribu kaki, membelah Lautan Teduh, saya ingin mengajak kau bicara, bersama-sama membunuh waktu yang tak terhingga di dalam sebuah penerbangan panjang, namun kau mati-matian menggenggam sebuah injil, membenamkan diri ke dalam cerita-cerita kudus, saya tidak tahu harus masuk dari celah sebelah mana. Akhirnya saya mengambil resiko dengan beberapa buah puisi, sebotol tabasco dan sesungai cerita ikan salmon melawan arus mempertahankan spesiesnya. Ternyata ampuh, kau mencair jadi searus air jernih, sebuah nyanyian merdu dari lembah yang hening, tanpa henti, dari Taipei hingga Anchorage hingga Seattle hingga New York, saya disihir jadi pendengar tak terhingga, dan kau tetap adalah gadis dari sekolah katolik yang ingin menjadi santa.

Kau membawa saya keluar masuk lorong-lorong sempit, bercerita tentang rencanamu pindah ke San Fransisco, membeli sebuah rumah di tepi laut. Kita berputar dan berputar lalu keluar di sebuah jalan yang cukup lebar, saya masih pendengar tak terhingga, tetapi di saat matahari senja dengan potongan-potongan besar cahayanya menumpah di atas bangunan di satu sisi jalan hingga terang dan mewah, konsentrasiku pecah, sedikit tersentuh melihat bangunan itu berkata:

” Matahari ini sungguh bagus ”

” Memang bagus. Begitu terang. Begitu hangat. ”

” San Fransisco pasti juga begitu. ” Saya berkata: ” Sesungguhnya belum pasti. Ada orang merasa California semestinya begini atau begitu, namun sering bukan demikian. Nathanael West pernah menulis sebuah novel… ”

” Novel apa? ”

” Judulnya sudah lupa. Begini kira-kira ceritanya, ada seseorang yang sejak kecil seluruh harapannya tertuju ke California. Dia tumbuh besar di sebuah kota kecil di Midwest. Dia berpikir, California sama dengan buah orange dan sinar matahari, dan sebagainya, dan sebagainya. Akhirnya dengan susah payah dia sampai di California — mungkin California Selatan — baru menyadari bahwa bukan di setiap tempat dapat menemui buah orange dan sinar matahari. Mungkin saja ada buah orange dan sinar matahari, namun juga ada hal-hal lain, seperti berbagai macam kekerasan, penipuan. Dia sangat kecewa. ”

” Lalu? ”

” Sangat kecewa, lelah, sedih. ”

” Lalu? ”

” Lalu mati. ”

” Mati? ”

” Mati. ”

Kau berkata bahwa saya benar-benar tidak pandai bercerita. ‘ Lalu mati ‘ bagaimana bisa dianggap sebagai penutup novel? Saat itu kita berputar masuk ke jalan lain, pelan-pelan bergerak ke depan menghadap matahari senja, seperti tak berujung, seperti menuju rumahmu yang di tepi laut, di San Fransisco itu. Kau kelihatan begitu bersemangat, mulai mendeskripsikan bagaimana dan bagaimana rumahmu yang di tepi laut itu. Saya kehilangan konsentrasi. Bukan tidak berminat, saya sangat nyaman memandang jalan yang terhampar di depan, cahaya matahari senja yang berpijar jatuh menutupi seluruh jalan, memantul di atas rumah-rumah bergaya kolonial, genteng merah, tembok putih, pagar rendah dan pohon hijau bunga merah. Kau terus mendeskripsikan rumahmu yang di tepi laut, saya hanya menyahutnya, tidak henti-hentinya mengangguk.

2.

Saya membawa sebuah payung hitam turun ke jalan, keluar masuk lorong-lorong, berputar dan berputar, tergesa-gesa menyeberang, saya ingin begini berbicara denganmu, dalam suara hujan, dalam suara nafas saat berjalan, mobil-mobil bergerak pelan dan senyap, samasekali tidak terdengar suara mesin. Air hujan yang jatuh di atas payung, menimbulkan suara tumpul yang menggema, membuat saya terasa begitu aman, benar-benar aman. Di atas trotoar bata merah orang lalu lalang, tidak kelihatan ada raut wajah tidak bahagia. Taipei telah hujan. Muka toko besar maupun kecil semuanya bergantungan butiran air dan uap, namun di dalamnya masih seperti biasa, banyak orang berdiri atau duduk, sedang memilih lagu-lagu di dalam cakram, sedang menutup dan membuka buku, sedang memperhatikan sebuah baju rajutan, sedang mencoba sebuah topi, sedang tertunduk menyeruput sup, sedang dengan sendok keramik menikmati pangsit rebus, ada orang angkat kepala minum anggur, matanya menatap lurus keluar jendela, tepat mengenai saya. Di sudut lobi sebelah sana, terpisah sebuah meja ada lelaki berbicara dengan perempuan, di dinding tergantung beberapa lembar poster, selembar adalah New York, selembar adalah Brussel, selembar adalah Sydney, selembar adalah Bali.

Saya samasekali tidak ada ekspresi tidak senang, sesungguhnya saya sangat senang, saya dan kau yang hidup di dalam nafasku, kita cukup tidur, kondisi prima, samasekali tidak ada masalah jetlag. Saya tertarik memperhatikan orang-orang yang berjalan di trotoar, berani pastikan yang menyeberang ke sana kemari sebagian besar adalah turis, turis semacam diriku, di musim dingin, karena suatu keperluan harus melakukan perjalanan, mungkin bisa menemui sedikit kesulitan, mungkin juga tidak, dan dengan santai sudah mendarat di Taipei.

3.

Di hari kedua hujan sudah berhenti, saya masih juga keluar masuk lorong-lorong, berputar dan berputar. Orang-orang telah mengatupkan payung pegang di tangan, agak ringan mengayunkan kaki, lihat sana lihat sini. Dari satu sudut jalan yang agak jauh meniup datang sedikit suara seruling atau alat tiup lain, orang-orang mengitari satu pojok itu, kelihatannya seperti turis, iya, turis yang mirip diriku dan dirimu ini. Saya menpercepat langkah, sebab musik itu menarikku. Seorang polisi muda dengan seragam biru berputar keluar dari samping lalu bergerak maju serentak bersamaku. Dia mungkin juga tertarik oleh musik itu, matanya menatap lurus ke pojok jalan yang ada kerumunan. Suara musik kian dekat, nada yang tidak asing, seperti nyanyian, sahutan, keluhan orang Indian, juga seperti nyanyian Spanyol, membawa sedikit irama religi abad pertengahan yang bertahan hingga hari ini, displin agama Katolik dan puasa agama Islam, seolah, atau mungkin, adalah penyatuan syair dan nada itu, semacam harapan dan permohonan yang berulang kali ditumpuk, bermaksud, bersabar, dengan irama cepat disiarkan kemari, menceritakan, seolah, atau mungkin saja, seolah menceritakan sepotong dan sepotong kisah yang hampir sama, yang terjadi di dataran tinggi, di dalam lebat hutan hujan, di dalam sungai besar yang menggemuruh, di padang datar dan bukit yang dekat laut berangin, seorang lelaki dan perempuan saling mencintai, ternak diam-diam memamah rumput, di atas dahan burung-burung bercericit, dua ekor elang berputar di langit biru, di dalam dusun lelaki sedang menimba air sumur, sedang memperbaiki tapal kuda, sedang memberi makan keledai, perempuan-perempuan duduk menjadi lingkaran, di bawah pohon rindang sedang mengupas kacang, rambut tebal dibiarkan jatuh di pundak, di belakang punggung, di dalam gelap menembus sedikit keemasan misterius.

*

Begitu masuk saya langsung terpukau dengan semua yang ada di luar jendela, merasa kapan saja buka mata memandang keluar, seperti bisa diduga, akan terjadi sesuatu, misalnya matahari pagi dan cahaya senja bagaimana timbul tenggelam, awan dan angin bagaimana berubah, warna pulau-pulau, jejak kapal melintas, bahkan mungkin saja dapat melihat kibasan ekor ikan hiu — konon perairan ini adalah tempat ikan hiu berkembang biak. Tempat ini di ketinggian lantai sembilan, seandainya memiliki cukup kesabaran, bisa saja memandang hingga sangat jauh. Awalnya memang demikian, terhadap penorama asing ini memiliki semacam pandangan yang polos, tulus, antusias, romantis, oleh sebab itu tidak henti-hentinya mengatur jarak pandang, semoga dapat melihatnya dengan sangat teliti, paling bagus adalah teliti namun tidak begitu jelas; semoga membiarkan ia memelihara sedikit misteri, sehingga saya bisa bertahan lebih lama mencarinya, karena tidak mengerti maka lebih ingin mencari, tentu saya tidak tahu apa yang dicari, atau kenapa pernah mencarinya, sekalipun antusias, romantis.

Hampir tengah hari, saya ingat adalah di saat matahari tengah hari sedang berpijar, saya berjalan ke arah mulut jendela yang di sisi pintu kaca menuju balkon, pasti kelihatan lelah dan serius, wajah yang baru keluar dari tumpukan buku kurang lebih mesti begitu, dan di dalam ruangan sunyi senyap. Saat itu, cahaya matahari yang dipantul masuk dari arah tenggara sudah mundur habis, namun di empat dinding masih berpijar kehangatan, mungkin ditebarkan oleh bayangan air berkilau di permukaan laut yang jauh. Saya melihat seekor elang.

Dia begitu nyata berdiri di sana, di atas pagar balkon, mungkin hanya sedepa di luar pintu kaca, membuat saya demikian terkesima memandangnya, lalu dengan lirikannya yang mempesona memandangku sebelah mata, seperti samasekali tidak mengacuhkan, elang memandang saya sekali lagi, matanya persis seperti mata barbar yang dinyanyikan Du Fu, tapi kepalanya berputar lalu berhenti menatap air laut yang berpijar, lama sekali, baru memutar kembali, tetapi pasti bukan demi melihatku, dia begitu kanan kiri berputar mengamati, saya pikir itu hanya semacam gaya angkuh bawaan, refleksi pundak dan leher, tegar, tegas, berwibawa. Saya menahan nafas melihatnya, dia berdiri di dalam cahaya matahari, di belakang pagar balkon yang berwarna hijau apel adalah biru air laut yang luas, dan langit yang tak terhingga, menampilkan sebuah latar yang amat misterius sekaligus sangat biasa, timbul tenggelam berjalin dengan alunan tipis musik yang seolah dekat seolah jauh. Saya melihat, mendengar semua ini.

Elang begitu saja berdiri di atas pagar balkon, memamerkan pada saya gaya indahnya yang lengedaris. Kepalanya kokoh, warnanya hijau keabuan membawa sedikit kuning gelap; kedua matanya bergerak sangat cepat, dan paruhnya yang melengkung seperti setiap saat dapat melumpuhkan ular dan kalajengking di padang tandus. Bulu-bulu di sayapnya berwarna terang, mengikuti corak kepala dan leher menjulur, menutup, setiap helai bulu mungkin saja telah diatur, disusun, tidak ada sedikit pun kekusutan, berlawanan, begitu teratur, begitu tenang, terpenjam istirahat, samasekali tidak menaruh perhatian terhadap antusias dan eksistensiku. Dengan cakarnya yang laksana besi bagai rantai erat-erat mencengkeram pagar balkon, lihat kanan lirik kiri.

Mungkin di dalam hati terbesit berbagai macam bentuk dan suara yang berbeda. Atau mungkin di satu dunia lain yang jauh, saya juga pernah bertemu dengannya, dengan antusias, kaget, dan satu ketulusan yang sama untuk mengingat dia selamanya, dan menangkapnya, tidak perlu jaring perangkap atau anak panah, gunakan puisi:

Dengan kedua tangan bengkok dia cengkeram tebing;
mendekati matahari di tanah yang agak sunyi,
selingkaran dunia biru mengitarinya, dia berdiri

Laut penuh kerutan merayap di bawahnya;
dari sebaris dinding gunung, dia memandang,
lalu berguling jatuh, bagai halilintar membelah langit

——— Alfred, Lord Tennyson

Elang seketika seperti terganggu, sejenak setelah saya membisikkan enam baris serpihan puisi Inggeris ini, menghadap sepuluh juta garis cahaya emas yang bergetar, dia benar-benar menggulingkan tubuh jatuh, membuka sayap, begitu ringan, merentangkan kedua sayapnya yang kokoh, menggores langit, pergi.

Fenomena Sondang dan Nurani Bangsa Sakit

Gerundelan Ragil Koentjorodjati

Saya cukup tersentak kaget ketika membaca berita seorang demonstran membakar diri tanpa sebab yang jelas. Demonstran itu bernama Sondang Hutagalung, mahasiswa semester akhir Universitas Bung Karno (UBK). Beberapa situs saya telusuri dan mungkin beberapa informasi cukup membantu saya memberi jawab mengapa Sondang melakukan aksi bakar diri.
Ia seorang aktivis gerakan mahasiswa. Anak bungsu dari empat bersaudara. Berayah sopir taksi dan ibunya tidak bekerja. Meski demikian, ia tercatat sebagai mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi di UBK. Hidup yang cukup hebat, saya kira. Lalu mengapa ia melakukan bakar diri?
Saya tidak ingin mengatakan bahwa ia kurang beriman. Latar belakang keluarga cukup memberi gambaran bagaimana Sondang dan keluarganya bertahan hidup. Tidak mudah mengkuliahkan anak di Jakarta. Mungkin setiap pagi dan petang bibir mereka menyebut nama Tuhan agar meringankan beban dan mempermudah terjadinya perubahan. Tetapi bagi Sondang, mungkin Tuhan terlalu banyak diam. Dan ia mencoba mengubah keadaan dengan caranya sendiri, aksi membakar diri. Mungkin awalnya adalah aksi teatrikal kecil-kecilan. Namun siapa sangka bahwa itu akan menjadi sebuah drama tragedi yang membakar seluruh bangsa.
Publik tersentak. Bangsa ini rabun. Seorang martirkah ia? Dalam kondisi yang serba abu-abu, ia bisa menjadi siapa saja. Ia bisa jadi pejuang HAM karena kejadian mendekati hari peringatan HAM Internasional. Ia juga bisa jadi pejuang anti korupsi. Bisa juga menjadi pejuang anti kekerasan. Tetapi apa makna dari semua sebutan itu ketika segala sesuatu tetap berjalan seperti biasa. Pejabat biasa bersilat lidah. DPR menjalani hari-hari biasa dengan segala kebiasaannya. Para pejuang perubahan seperti biasa terkagum-kagum, “masih ada ya orang yang demikian”. Opportunis menjalankan kebiasaannya. Lalu semua kembali menjadi seperti biasa. Keluarga Sondang pun menjalani hari-hari biasa dan mulai harus membiasakan diri tanpa Sondang. Ia hanya menjadi setitik hiburan di tengah bangsa yang frustasi. Tidak lebih, tidak kurang. Sebab nurani bangsa ini sudah sakit parah.
Setiap orang menginginkan perubahan. Tetapi setiap orang ingin orang lain yang melakukan perubahan. Setiap orang ingin hidup lebih baik. Tetapi setiap orang ingin orang lain melakukan segala sesuatu untuk membuat hidupnya lebih baik. Setiap orang ingin orang lain hidup lurus, tetapi tidak untuk dirinya sendiri. Lalu nurani kita semakin kebal dan bebal. Aksi-aksi yang menyentak publik tidak terasa lagi. Pengusaha semakin banyak yang bunuh diri. Orang patah hati semakin banyak bunuh diri. Kesulitan ekonomi, bunuh diri. Tapi semua sudah tidak berarti. Mungkin akan menyusul sondang-sondang yang lain, itu pun akan menjadi tidak berarti. Sebab ternyata nurani kita tidak sakit parah lagi, tetapi telah mati.
Terkadang menjadi pertanyaan, terlalu sulitkah berbagi? Sedikit berbagi kekuasaan. Sedikit berbagi kekayaan. Sedikit berbagi pengetahuan. Dan tentu saja sedikit berbagi penderitaan. Sedikit berbagi keluh kesah. Ketika setiap orang rela sedikit berbagi itulah arti sebuah keluarga. Keluarga besar bangsa Indonesia. Tanpa rasa kekeluargaan ini, sungguh sulit bagi setiap orang mengatasi pergolakan batin dan depresi yang mendera hampir setiap hari. Setajam apapun perbedaan, entah ideologi, agama, suku, sepanjang menerima sebagai saudara dalam satu keluarga, saya yakin semua dapat terlewati. Lazimnya sebuah interaksi antar anggota keluarga, saling mengalah, saling mendengarkan, memberi kesempatan, saling menjaga dan memelihara dan tentu saja tidak ada anggota keluarga yang menginginkan anggota keluarga yang lain menjadi pencuri dan perampok. Sebab yang demikian akan mencemarkan nama baik keluarga.
Membangun relasi yang sehat dalam keluarga, dalam arti sesungguhnya dan dalam arti luas sebuah negara, adalah jalan termudah yang mungkin dilakukan setiap orang. Dalam keluarga kita tidak membutuhkan martir sebab satu nyawa anggota keluarga adalah sangat berharga untuk dikorbankan. Keluarga dan kekeluargaan adalah wujud nyata dari setiap doa yang diucapkan. Kita tidak mungkin menunggu segala sesuatu Tuhan yang mengerjakan. Keluarga itulah yang harus mewujutnyatakan setiap doa dan harapan. Keluarga menjadi tempat bernaung bagi orang asing, tempat yang lapar dikenyangkan. Tempat yang sakit disembuhkan, tempat yang lemah dikuatkan. Dengan demikian keluarga menjadi doa syukur kepada Tuhan atas semua berkat dan limpahan kasih-Nya.
Semoga.
Silahkan berdoa untuk Sondang, keluarganya dan bangsa Indonesia.