Arsip Tag: agama kristen

Serigala, Ular, Katedral, dan Baca Alkitab

Kolom John Kuan

Kadang-kadang tanpa sadar bisa mendapat tiga jam yang tak terduga, misalnya mengulang Dances with Wolves dari awal hingga akhir. Filem ini memberikan satu pandangan baru: Serigala adalah baik, kuda adalah baik, suku Indian ramah bersahabat, gagah berani, dan sangat bijaksana. Namun siapakah orang-orang jahat? Siapakah lemah, absurd, tolol, rakus, suka ribut, berkuda dan menembak dua-duanya tidak memadai, [buta huruf tambah tidak higiene]? Adalah perwira-perwira dan prajurit-prajurit kulit putih yang memakai seragam, adalah pasukan tentara utara yang menang dalam perang sipil, merekalah orang-orang jahat.

Ini adalah satu pengenalan atau kesadaran yang luar biasa. Kevin Costner telah mengubah ukuran tradisional filem western, seluruhnya dijungkir balik.

Seingat saya cuma ada satu yang pernah secara mendasar menelusuri masalah ini, dan dengan sepenuh daya membentangkan pandangan ini, yaitu [Legenda Ular Putih]. Di dalam legenda ini susunan tokoh baik dan jahat berturut-turut sebagai berikut: reptil, perempuan, lelaki, dan yang paling jahat ternyata adalah biksu. Ini sungguh adalah satu tambuhan genderang yang luar biasa! Cerita ini benar-benar secara total mengubah tolok ukur masyarakat tradisional Cina, seluruhnya dijungkir balik.

Demi serigala yang ditembak mati Tentara Federal dan meneteskan airmata. Demi ular yang dikejar dan dibasmi habis-habisan oleh Biksu Fahai dan meneteskan airmata, bahkan harus menambahkan satu bab [Pagoda Persembahan] sebagai poetic justice baru puas. Semua ini sungguh layak buat direnungkan.

~

Salah benar dan baik jahatnya seseorang, agaknya tidak ada hubungan dengan agama dan keyakinannya.

Agama dapat membuat seseorang tegar dan teguh, juga dapat membuat seseorang menyimpang dan keras kepala. Orang-orang yang percaya tuhan seringkali tidak takut mati, melihat singa datang menerkam, berdoa, tidak takut, ini adalah cerita penganut Agama Kristen pada masa awal, membuat bulu kuduk berdiri. Tentu, yang dimaksud [Tuhan], tidak mesti seperti yang ditentukan oleh ajaran Agama Kristen, bisa dengan berbagai cara memahami, menghayati.

~

Di dalam [Kompendium Lima Lampu – 五灯会元] dicatat kisah Guru Zen Yuande – 缘德禅师 dari Dinasti Song. Suatu kali Panglima Besar Cao Han sampai di Kuil Yuantong di Gunung Lu, Yuande duduk tenang tidak bangkit menyambutnya. Cao Han naik pitam: “Pak Tua tidak pernah mendengar Jenderal yang membunuh tak kedip mata?” Yuande buka mata menatapnya, agak lama baru berkata: “Kau tidak tahu ada biksu yang tidak takut hidup dan mati!”

~

Wang Shao (1030 – 1081) mengundurkan diri bertapa di Sungai Sembilan – 九江, Guru Zen Foyin (1032 – 1098) bersemadi di Gunung Lu – 庐山 , dan Wang Shao tetap masuk gunung memohon pencerahan. Foyin berkata kepadanya: “Tuan adalah Jenderal yang bersujud menyebut diri membunuh tak kedip mata, berdiri sudah jadi buddha, buat apa pencerahan?”

Kalau lihat catatan sejarah, Wang Shao adalah manusia yang sangat keji. Dia awalnya adalah pejabat sipil yang lolos Ujian Kerajaan. Di awal 1068 mempersembahkan [Strategi Meredakan Peperangan Perbatasan – 平戎策; baca: ping rong ce] kepada Kaisar Shenzong. Kaisar menerima strateginya dan mengutuskan dia memimpin pasukan menumpas Suku Qiang di daerah Sichuan. Penyerangan ini sangat berhasil, dan jabatannya pernah sampai tingkat menteri. Di awal 1081 meninggal dunia karena sakit. Orang ini sangat lihai dalam siasat perang, hanya saja sewaktu membunuh penduduk Suku Qiang yang menyerah, dia mencatat jasa prajuritnya dengan hitungan kepala yang terpenggal, luar biasa keji. Di masa tua kata dan laku tidak normal, sesat hati hilang akal. Tubuhnya hancur digerogoti bisul dan penyakit lain hingga seluruh organ dalam tampak, ada yang berkata karena sepanjang hidupnya membunuh terlalu banyak. Riwayatnya bisa ditelusuri di dalam Gulungan Nomor 321 Sejarah Song.

Foyin berkata [buat apa pencerahan], sesungguhnya sudah mengingatkan dia. Tetapi orang begini bagaimana bisa mengerti renungan Zen?

~

Pagi di kamar hotel lantai sepuluh, tirai sudah ditarik terbuka, cahaya lemah dan kelabu menembus masuk. Hujan seperti baru berhenti, rasa sejuk di luar seperti menyatu dengan suhu kamar yang dikendali pendingin udara. Ini adalah daerah Bugis di Singapura, berbagai bangunan baru dan lama menjulang berdempetan. Saya melihat tepat di luar jendela ada sebuah gereja.

Gereja ini mungkin dibangun pada abad ke-18. Saya ingat di dekat sana juga ada sebuah kuil Kwan Im dan sebuah kuil Hindu, walaupun sekarang tidak tampak di luar jendela. Itu adalah rute saya setiap pagi beberapa puluh tahun silam, setelah sembahyang di kuil Kwan Im pasti melewati pintu depan kuil Hindu, berhenti sejenak tukar senyum dengan penjaga kuil. Berjalan lagi beberapa saat akan bertemu dengan sebuah pintu besi yang selalu terkuak sedikit, di balik pintu adaah pekarangan gereja yang luas. Setelah menyusup ke dalam pekarangan, akan tampak di sana-sini bertebar beberapa batu nisan. Pintu gereja hampir selalu tertutup, saya belum pernah melihat bagian dalamnya, agaknya tidak akan jauh berbeda dengan gereja lain. Itu adalah jalan pintas saya menuju tempat kerja, bisa menghemat lima kali penyeberangan. Suatu kali saya membawa seorang teman melewati rute ini. Dia berkata: “Bagaimana kamu bisa menggunakan pekarangan gereja sebagai jalan pintas?” Saya melonggo. Mungkin karena pintu masuk dan pintu keluar selalu terbuka, jawabku. Tahun berikutnya saya mendapat kabar dia telah pindah ke Chicago belajar filsafat.

~

Gereja tua ini adalah bangunan paling pendek yang terpampang di depan mata. Saya bersandar di jendela memandang, hanya kelihatan dia berdiri berdempetan di antara begitu banyak hotel, bank, gedung perkantoran, dia kelihatan sedikit aneh. Dari tempat yang tinggi memandang sebuah gereja, terasa amat canggung. Dia merendah, khidmat, taat.

Begini dari atas memandang ke bawah sebuah gereja, seharusnya adalah jalur tuhan dan para malaikat, ini adalah semacam hak istimewa. Kita makhluk fana (tidak peduli pengikut atau tidak pengikut, saudara lelaki atau saudara perempuan) cocok dari bawah ke atas menengadah. Sebab sudah lama terbiasa, perlahan merasa cocok. Jika bukan kebetulan, bagaimana mungkin ada kesempatan yang aneh ini?

~

Bagian dinding luar gereja menempel sebentuk salib, tepat di luar jendela tempat saya berdiri. Salib ini kelihatan sangat berimbang, terkurung di dalam sebuah lingkaran, sebab itu atas bawah dan kanan kiri sama panjang, saling menyilang di pusat lingkaran, polos, sederhana, antik, sungguh merebut hati.

Setahu saya, salib begini disebut bentuk Yunani, mungkin ini adalah gereja Ortodok Yunani, namun teman pernah beritahu ini adalah gereja orang Portugis. Hal ruwet begini tentu bukan pencari jalan pintas seperti saya bisa menjelaskan. Saya juga tahu, salib yang paling sering kelihatan adalah atas bawah lebih panjang daripada kanan kiri, dan biasanya disilangkan di tempat yang agak tinggi, bentuknya seperti sebilah pedang menusuk ke bawah, disebut bentuk salib Latin Romawi Kuno. Seandainya di tempat persilangan salib Latin ada sebuah lingkaran, disebut bentuk salib Keltik, banyak ditemukan di Irlandia, Skotlandia, Wales, dan Inggris.

Panjang lebar di atas diperoleh dari ilmu lambang (heraldry).

~

Ilmu lambang ( heraldry ) tentu amat rumit, bukan saya bisa sepenuhnya memahami. Bentuk yang berhubungan dengan salib di dalam ilmu lambang (heraldry) sangat penting. Perbedaan antara bentuk Yunani dan bentuk Latin mudah sekali kelihatan. Dari dua bentuk ini berkembang keluar berbagai bentuk yang berubah menjadi warisan budaya yang sangat penting di dalam sejarah Eropa, di antara yang paling menarik selain yang dipasang di dalam dan di luar gereja, mungkin adalah yang tampak di bendera ksatria. Umpama salib Yunani yang sangat berimbang itu, jika di keempat ujung salib ditambah trefoil, disebut Botonee; jika di keempat ujung salib pecah bercabang dan agak melengkung ke dalam, disebut Moline.

Dengan salib Moline sebagai lambang bendera di era ksatria abad pertengahan Eropa, menunjukkan di dalam sebuah pasukan yang sedang menderu dan berkibas adalah putra ke-8 sang penguasa.

~

Di tengah kota Singapura yang sudah mirip dengan kota di dalam permainan komputer terdapat sebuah gereja tua, tentu bagus sekali. Di atapnya telah melekat banyak lumut, jendelanya yang jangkung dihias dengan kaca berwarna. Dindingnya agak tua dan kusam tetapi tampak masih kokoh, membuat hati terasa tenang dan damai. Di pekarangan samping yang cukup luas berhenti beberapa buah mobil.

Merpati.

Kembali lagi melihat merpati kepak sayap terjun dari atap gereja, tujuannya adalah pekarangan samping, mungkin di sana lebih mudah mencari makanan. Mereka bergegas mendarat, mengangguk, lalu kepak sayap naik, berputar-putar kemudian mendarat kembali.

Angin pagi bertiup perlahan, bersenda-gurau dengan merpati.

Beberapa bendera negara yang berbeda warna di ujung tiang yang tinggi, dengan sulit bergoyang, berlagak akan terbang, namun lesu dan lelah, seperti layang-layang yang tergantung di tiang listrik, tidak ada lagi harapan berkibas di angkasa.

~

Benda yang sama, dipandang dari atas ke bawah dengan dari bawah ke atas ternyata bisa demikian besar perbedaannya!

~

Saya sering teringat sebuah gereja gaya Spanyol di daerah pergunungan. Bangunannya tidak seberapa besar, tetapi pekarangan dan taman bunganya sangat luas, tentu dengan perbandingan yang sangat bagus. Saya juga sering teringat pastor yang bangun pagi di dalam taman, persis seperti babak II adegan 3 Romeo dan Juliet:

Mata kelabu pagi tersenyum pada malam tua berkerut,
awan satu per satu di timur berlumur cahaya,
langit hitam tembus berpijar bagai pemabuk
sempoyongan melintas di tempat roda langit membara.
Selagi matahari masih belum dengan matanya yang membakar
cemerlangkan hari menjemur kering embun malam yang lembab,
aku harus bergegas memetik lebih banyak bunga dan rumput unik
ingin mengisi penuh keranjang ranting dedalu kita

The gray-eyed morn smiles on the frowning night,
Checkering the eastern clouds with streaks of light,
And fleckled darkness like a drunkard reels
From forth day’s path and Titan’s fiery wheels.
Now, ere the sun advance his burning eye,
The day to cheer and night’s dank dew to dry,
I must upfill this osier cage of ours
With baleful weeds and precious-juicèd flowers.

Lalu dia selangkah sekata mengucapkan bentuk bebas sepuluh suku kata ini, dengan tenang berjalan melewati lorong, melangkah masuk ke dalam taman, sebuah taman beragam tumbuhan yang tidak terlalu lengkap.

Pemerintah daerah melakukan pelebaran jalan, ekskavator tanpa belas kasih mengeruk separuh pekarangan depan pastor, pagar didesak mendekati bangunan gereja, hanya menyisakan sepotong setapak tanah kuning yang sangat sempit.

Ah, keindahan yang maha kuat tiada batas berada
pada kandungan murni pepohonan, bunga, rumput dan batu

Oh, mickle is the powerful grace that lies
In herbs, plants, stones, and their true qualities.

~

Membangun sebuah gereja, di dunia Barat sering adalah memamerkan akumulasi perbuatan baik dari berbagai jaman, terutama membangun katedral. Dengan waktu seratus tahun dua ratus tahun, atau tiga ratus tahun putus-sambung menyelesaikan sebuah katedral, adalah hal yang sangat lumrah di abad pertengahan Eropa. Bahkan dengan tiga ratus tahun atau lima ratus tahun, atau lebih lama lagi, buat merasakan bahwa katedral tersebut masih belum selesai dibangun, juga merupakan hal yang sangat lumrah.

Katedral Koln yang di sisi Sungai Rhein, sudah dibangun beberapa ratus tahun, sampai sekarang masih belum selesai. Tentu, sekalipun katanya masih belum selesai dibangun, selama bertahun-tahun orang-orang juga terus menggunakannya, jadi sesungguhnya dia adalah bangunan lama yang sangat tua, namun masih belum selesai dibangun. Orang-orang jika memiliki kesempatan akan menambah beberapa potong bata, dengan tulus dan tegas, suatu hari akan serentak berkata: “Sudah, sudah selesai dibangun!” Jika membangun rumah dengan cara begini, harap jangan curi bahan lalai kerja, kalau tidak pasti dicaci maki anak cucu.

~

Konon pada masa-masa akhir Perang Dunia Kedua, pesawat-pesawat tempur Sekutu yang membombardir daerah-daerah yang dikuasai Nazi sangat berhasil, lalu masuk ke dalam teritori Jerman. Ketika ada pesawat tempur sedang bersiap-siap melepaskan bom di sekitar tepi Sungai Rhein, ada yang menyatakan, Katedral Koln tidak boleh dihancurkan. Markas besar Sekutu segera menurunkan perintah, pesawat pengebom harus menghindari Katedral Koln.

Maka katedral itu masih ada di sana, katedral yang belum selesai dibangun.

~

Dalam beberapa kali penyerangan terhadap Irak yang dipimpin oleh Amerika Serikat, pesawat-pesawat tempur Sekutu sering tanpa pandang bulu membombardir daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat yang disebut sebagai ayunan peradaban kuno itu, banyak sekali menelan korban, tentara maupun rakyat Irak — mereka seolah tidak mengangap orang-orang yang tinggal di sana manusia; kadangkala mengunci satu sasaran, menghancurkan semua bangunan yang tampak di atas bumi, sehingga fasilitas militer dan situs peninggalan kuno ikut celaka, hancur remuk — siapa peduli, juga bukan peninggalan peradaban Kristen, sekalipun pasti lebih tua beberapa ribu tahun dari katedral.

Ini adalah hal yang amat menyakitkan hati.

Seorang teman Kristen berkata pada saya: Di dalam injil ada nubuat, Babilonia yang jahat harus dihancurkan. ” Irak ” katanya: “adalah Babilonia yang jahat.”

Ini sungguh adalah sebuah alasan yang luar biasa.

~

Membangun katedral adalah semacam cara pengungkapan terima kasih kepada anugerah Tuhan. Seringkali, katedral juga pas digunakan sebagai tempat peletakan abu tulang tentara salib. Pada abad ke-13, menurut imajinasi David Macaulay, ketika orang-orang sepakat membangun sebuah katedral, mereka sudah siap dengan masa seratus tahun ke atas pelan-pelan menyelesaikan.

Tentu, seandainya berbagai syarat sudah terpenuhi, dan tidak ada peperangan, wabah penyakit, banjir dan kekeringan yang terlalu parah, dengan masa seratus tahun menyelesaikan sebuah katedral adalah sangat mungkin. Namun, manusia menghitung tuhan menentukan, peperangan dan bencana pada dasarnya adalah hal yang sering terjadi di dunia ini, dipastikan setiap saat bisa memutuskan perkembangan pembangunan, akan membuat kau keletihan, menderita, putus asa.

Seandainya bukan karena berterima kasih kepada Tuhan, mengagungkan Tuhan, pasti akan karena keletihan, menderita, putus asa lalu menyerah. Karena tujuan mulia begitu, maka tidak peduli betapa sulit juga akan dilampaui, hari ini tidak mampu besok lanjutkan, generasi ini mati masih ada generasi berikutnya.

Oleh sebab itu di dunia ini hanya ada katedral yang sudah selesai dibangun dan yang sedang dibangun, tidak ada katedral yang ditelantarkan tidak dibangun.

~

Tamu berkata: “Tentu ada, tentu ada yang ditelantarkan tidak dibangun.”

Saya terkejut bertanya: “Mana mungkin?”

Tamu berkata: “Seandainya orang-orang secara kolektif mengubah keyakinannya, atau tiba-tiba menemukan percaya tuhan atau kekuatan gaib adalah hal yang menggelikan, tidak lagi beragama, tentu rancangan katedral akan dibatalkan, tidak usah dibangun lagi.”

Saya berkata: “Eh, eh, bukan, bukan, atau ——— kau seharusnya berkata seandainya tuhan telah mati, maka tidak perlu lagi kita memeras otak mengagungkan Dia, begitu bukankah lebih gampang?”

Tamu berkata: “Dia? kata aneh apapula ini?”

Saya tersenyum menjawab: “Dia adalah dia,”

Tamu berkata: “Dia adalah dia! Ijinkan saya membaca sepenggal ini: [Dua orang itu balik badan meninggalkan tempat itu, menuju Sodom, Abraham masih berdiri di depan Yehowa. Abraham berjalan mendekat dan berkata: Tidak peduli orang benar atau fasik, Engkau juga akan memusnahkan? Bagaimana kalau di kota itu ada lima puluh orang benar, apakah Engkau akan memusnahkan kota itu juga, tidak demi lima puluh orang benar memaafkan orang-orang lain yang ada di dalamnya? Orang benar dan orang fasik dibunuh bersama, memperlakukan orang benar dan orang fasik sama, itu pasti bukan tindakan Engkau. Hakim segenap bumi, mana bisa tidak menjalankan keadilan? Yehowa berkata: Seandainya Aku menemukan lima puluh orang benar di Sodom, aku akan karena mereka mengampuni semua orang di tempat itu. Abraham berkata: Walaupun aku adalah debu, masih memberanikan diri berkata kepada Tuhan ——— seandainya lima puluh orang itu kurang lima orang, apakah Engkau akan karena kurang lima orang memusnahkan seluruh kota itu? Dia berkata: Seandainya Aku menemukan empat puluh lima orang di sana, juga tidak akan memusnahkan kota itu. Abraham berkata lagi kepadaNya: Bagaimana kalau ada empat puluh orang di sana? Dia berkata: Demi empat puluh orang itu, Aku tidak akan melakukan. Abraham berkata: Mohon Tuhan jangan marah, ijinkan aku berkata, seandainya di sana ada tiga puluh orang, bagaimana? Dia berkata: Jika di sana ada tiga puluh orang, Aku tidak akan lakukan juga. Abraham berkata: Aku masih memberanikan diri berkata kepada Tuhan, bagaimana kalau di sana ada dua puluh orang? Dia berkata: Demi dua puluh orang itu, Aku juga tidak memusnahkan kota itu. Abraham berkata: Mohon Tuhan jangan marah, aku berkata sekali lagi, seandainya di sana ada sepuluh orang? Dia berkata: Demi sepuluh orang ini, Aku juga tidak membinasakan kota itu. Yehowa setelah berkata pada Abraham lalu pergi, dan Abraham juga kembali ke tempat tinggalnya.]

~

Sodom hanya ada satu orang benar, namanya Lot. Menggunakan percakapan Abraham, kurang sembilan orang, kota ini pasti dimusnahkan. Malaikat memandu Lot sekeluarga ke Zoar, lalu Yehowa menjatuhkan belerang dan api di Sodom dan Gomora, [kota-kota itu, dan lembah Yordan, juga seluruh penduduk kota-kota itu serta yang tumbuh di atas bumi, dibinasakan.]

Iklan

Abelard, Heloise, Birahi dan Reinkarnasi

Gerundelan John Kuan

tragedy love story
Gambar diunduh dari http://www.derekdelintfansite.com

Sudah beberapa kali saya melepaskan kesempatan mengunjungi Cina, selalu merasa sebaiknya menjaga sedikit jarak, mungkin dengan begini akan lebih bagus terhadap panoramanya, produk budayanya, atau orang-orang yang hidup di dalam sejarahnya. Pernah seorang teman bertanya seandainya saya berkunjung ke Cina lagi, paling ingin kemana, saya menjawab Yicheng dan Tibet.    Yicheng dan sekitarnya adalah daerah pengembaraan dan tempat Li Bai menumpang hidup di masa tua. Nama tempat ini agak jarang disebut, ia terletak di barat laut provinsi Hubei, atau mungkin saya kasih titik koordinat saja: 111°57′-112°45′ bujur timur, 31°26′-31°54′ lintang utara.

Dan Tibet, adalah demi berbagai lapis perbandingan sejarahnya dan letak geografinya, tentu juga demi agamanya.

*

Reinkarnasi lama, saya kira, adalah satu hal yang paling misterius di dunia moderen ini. Dan yang percaya akan hal ini kelihatannya sungguh tidak sedikit ——— bahkan yang tidak percaya agama Buddha Tibet juga mengakuinya dalam diam. Ini adalah salah satu sisi yang memancarkan kebaikan dunia manusia, saya berharap akan terus berlangsung. Kadang-kadang penganut agama Kristen terhadap perihal tertentu bisa menjadi sangat ketat dan sempit, seringkali memiliki semacam gaya ‘ ketika menguasai sebuah perdebatan, akan mengejar hingga lawan kehabisan nafas ‘, tetapi terhadap reinkarnasi lama, seperti tidak ada orang yang tampil meragukannya. Mengikuti perkembangan ini, tampaknya kelanjutannya tidak ada masalah besar.

 

*

Reinkarnasi lama biasanya seperti tidak keluar dari lingkup Dataran Tinggi Tibet.

Pada 3 Maret 1984 Lama Yeshe mencapai nirwana di San Fransisco, tanggal 12 Februari tahun berikutnya ada seorang bayi laki-laki lahir di Granada, Andalusia Spanyol, ternyata adalah reinkarnasi sang lama. Granada adalah dunia agama Katolik Spanyol kuno, Federico Garcia Lorca pernah menulis sebuah puisi, judul dan temanya mengambil ‘ Santo Mikael ‘, dengan Malaikat Agung Santo Mikael sebagai malaikat pelindung Granada. Saya pernah coba menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia, puisinya sekitar enam puluh baris, bait pertama dan bait terakhir kira-kira begini:

 

Dari pagar balkon juga bisa kelihatan

bayang antara barisan keledai dan barisan keledai

penuh memikul bunga matahari, telah mendaki

gunung, gunung, gunung

 

……

 

Santo Mikael, raja segala benda Langit

raja diraja sejak dahulu kala

penuh dengan keagungan orang Berber

jeritan dan keanggunan jendela balkon

 

bagaimana seorang lama bisa memilih reinkarnasi di dunia seperti di atas? Tetapi menurut cerita, semasa hidup lama Yeshe pernah beberapa kali ke Granada menyebarkan Darma, dan kedua orangtua anak lelaki itu: Osel Hita Torres, adalah pengikut agama Buddha Tibet, ah, rupanya mereka adalah murid-muridnya!

Ketika Osel Hita Torres berumur dua tahun, dia dibawa orangtuanya ke India, Dalai Lama menatapnya dari dekat, memastikan bahwa anak Spanyol ini memang reinkarnasi lama Yeshe, maka prosesi masuk kuil dilakukan, dia menjadi pemimpin Kuil Kopan di Nepal, melanjutkan posisi lama Yeshe sebelumnya. Di seluruh dunia bukan sedikit orang yang tahu hal ini, saya kira, dan semua orang membelalakkan mata lihat, diam-diam mengakui maknanya yang penuh misteri itu, tanpa hingar-bingar.

Ini sungguh mitologi moderen yang paling menyentuh, sebuah kitab wahyu besar yang sulit dijelaskan. Saya sampai tidak tahan menulis sebuah puisi, meniru gaya nyanyian rakyat. Mengapa menggunakan gaya ini? Rupanya Malaikat Agung Santo Mikael yang di bawah pena Lorca membimbing saya, Granada yang dia lindungi membimbing saya.

 

     Datanglah datanglah, datang sampai di Andalusia

     Carilah daku carilah daku di Granada yang jauh…

 

*

Rasa kesunyian yang diberikan agama kepada manusia dapat saya bayangkan, bahkan saya percaya saya dapat menghargai kesunyian begini. Asketisme adalah sesuatu yang mulia, hal ini saya setuju juga, maka membaca karya sastra Barat abad pertengahan, masih bisa memahami.

Konon, agama juga memberi orang rasa khidmat dan puas. Mengenai ini saya masih belum bisa memahami. Kadang-kadang di dalam filem menunjukkan adegan demikian, misalnya seorang prajurit yang telah mengalami duka dan luka pelan-pelan bersujud menghadap angin dan awan di padang luas berdoa, rendah hati, lelah, dan di jauh seperti ada cahaya ilahi berpijar, menciptakan semacam rasa khidmat dan puas, seperti juga sangat mengharukan. Namun saya berpikir kembali, yang membuat hati tersentuh, bukan ‘ seperti ada cahaya ilahi berpijar ‘, bagi saya, yang menggetarkan hati, rupanya adalah efek yang dihasilkan dari crescendo musik latar.

*

Kesunyian relijius membuat orang tetap memiliki kesempatan kontemplasi, memang bagus.

Membuang dan menutup hawa nafsu seharusnya juga merupakan satu bagian dari kesunyian.

Saya sering berpikir: yang paling sulit di dalam kehidupan biara, pasti adalah membuang dan menutup hawa nafsu. Seorang lelaki atau perempuan di masa remaja karena hasutan sisi rohani meninggalkan kehidupan duniawi, masuk ke dalam kesunyian relijius, menjadi biarawan, memutuskan akar dari perasaan dan emosi alamiah, menekan birahi, bagaimanapun adalah sesuatu yang sulit dipercaya.

Walaupun sulit dipercaya, namun saya memilih sikap tidak begitu curiga ——— memang sulit, tetapi bukan samasekali tidak mungkin.

*

Perancis di abad ke-12 ada seorang teolog bernama Abelard, dengan pengetahuan yang luas dan penampilan yang menarik menjadi sangat terkenal di seluruh Eropa, kemudian karena hubungan percintaan dengan muridnya, seorang gadis bernama Heloise, dia menikah dan mempunyai anak secara rahasia, melanggar sumpahnya, mereka masing-masing dikurung di dalam biara, seumur hidup tidak bisa bertemu. Ada yang menceritakan bahwa di masa tua Abelard menulis surat kepada teman, menyayangkan cinta lamanya yang makin kabur; hal ini diketahui Heloise, lalu menulis surat mengutarakan cintanya yang masih tumbuh merambat. Setelah keduanya meninggal dunia, surat-surat cinta mereka dicetak dan dibaca, menjadi salah satu kisah legendaris abad pertengahan yang paling memilukan dan memukau. Penyair Inggeris abad ke-18 Alexander Pope menulis sebuah puisi panjang: Eloisa to Abelard, membayangkan penerimaan dan penolakan Heloise terhadap cinta dan nafsu, membuat orang tercengang. Salah satu bagian seperti begini:

 

Datanglah, Abelard! Apa yang membuat kau takut?

Obor Venus tidak dibakar untuk yang mati.

Kemampuan alamiah tidak teledor, hanya agama tidak perbolehkan;

sekalipun kau mati jadi dingin, Eloisa tetap mencintaimu.

Ah putus asa ini, lidah api tak padam! Seperti demi yang mati membakar

terang, percuma cahaya yang hangatkan tempat abu tulang.

 

Setiap kali aku beralih pandang, apa pula itu?

Paras yang akrab, ke arahnya aku terbang mengejar,

bangkit dari dalam pepohonan, bangkit di depan altar,

menodai jiwaku, membuat sepasang mataku berenang liar,

Berkeluh demi kau, meniup mati lampu doa subuh,

kau diam-diam ikut campur di antara aku dan tuhan,

di dalam setiap himne aku seperti bisa mendengar dirimu,

sebiji rosari dihitung, setetes airmata lembut jatuh,

dan di saat gulungan awan harum dari tungku membumbung,

suara organ penuh berisi naikkan jiwaku berkibar,

begitu teringat dirimu, semua kekhidmatan menghilang,

biarawan, lilin panjang, gereja, berenang di depan mataku:

jiwaku yang terempas karam di dalam lautan lidah api,

dan altar menyala, malaikat-malaikat geleng menoleh.

 

Aku menelungkup di dalam kesedihan yang rendah, di sini

butiran kelembutan, kebajikan berkumpul di dalam kelopak mata,

aku gementar berdoa, berguling di dalam debu dunia,

mulai tahu di kedalaman jiwa kehormatan berpijar bagai cahaya fajar ———

Datanglah, kau yang paling sempurna, jika berani

dengan diri melawan Langit, merebut hatiku,

datanglah, dengan lirikan sepasang mata yang menggoda

sirnakan seluruh gambaran benderang sepenuh langit!

Bawa seluruh kehormatan, kesedihan, airmata itu pergi,

bawa seluruh pengakuanku yang tak berbuah dan doa pergi,

renggut aku, satu tarikan ke atas, renggut aku dari tempatku yang diberkati,

bantu setan-setan merebut paksa diriku dari sisi tuhan!

 

Tidak, tinggalkan aku jauh-jauh bagai kutub selatan buat kutub utara!

biarkan Gunung Alpen memisahkan kita, lautan luas menggemuruh.

Jangan datang, jangan tulis surat, tolong jangan mengingat diriku,

juga jangan seperti aku karena dirimu hati menjadi pedih!

Sumpah dapat dibatalkan, aku akan menghapus kenangan masa lalu,

lupakan aku, buanglah aku, sungguh-sungguh membenciku.

Mata yang indah, tampang memikat ( aku bisa melihatnya )

adalah paras yang telah lama aku cinta dan harap, selamat tinggal!

Oh cahaya kehormatan khidmat, oh kebajikan seindah Langit,

kelupaan suci membebaskan kegelisahan rendah!

Harapan yang segar merekah, gadis riang lembut punya Langit,

dan Keyakinan, kekekalan dini kita!

Silakan masuk, setiap tamu yang damai, yang ramah,

terima diriku dan selimuti aku di dalam peristirahatan kekal.

 

 

Come, Abelard! for what hast thou to dread?

The torch of Venus burns not for the dead.

Nature stands check’d; Religion disapproves;

Ev’n thou art cold–yet Eloisa loves.

Ah hopeless, lasting flames! like those that burn

To light the dead, and warm th’ unfruitful urn.

 

What scenes appear where’er I turn my view?

The dear ideas, where I fly, pursue,

Rise in the grove, before the altar rise,

Stain all my soul, and wanton in my eyes.

I waste the matin lamp in sighs for thee,

Thy image steals between my God and me,

Thy voice I seem in ev’ry hymn to hear,

With ev’ry bead I drop too soft a tear.

When from the censer clouds of fragrance roll,

And swelling organs lift the rising soul,

One thought of thee puts all the pomp to flight,

Priests, tapers, temples, swim before my sight:

In seas of flame my plunging soul is drown’d,

While altars blaze, and angels tremble round.

 

While prostrate here in humble grief I lie,

Kind, virtuous drops just gath’ring in my eye,

While praying, trembling, in the dust I roll,

And dawning grace is op’ning on my soul:

Come, if thou dar’st, all charming as thou art!

Oppose thyself to Heav’n; dispute my heart;

Come, with one glance of those deluding eyes

Blot out each bright idea of the skies;

Take back that grace, those sorrows, and those tears;

Take back my fruitless penitence and pray’rs;

Snatch me, just mounting, from the blest abode;

Assist the fiends, and tear me from my God!

 

No, fly me, fly me, far as pole from pole;

Rise Alps between us! and whole oceans roll!

Ah, come not, write not, think not once of me,

Nor share one pang of all I felt for thee.

Thy oaths I quit, thy memory resign;

Forget, renounce me, hate whate’er was mine.

Fair eyes, and tempting looks (which yet I view!)

Long lov’d, ador’d ideas, all adieu!

Oh Grace serene! oh virtue heav’nly fair!

Divine oblivion of low-thoughted care!

Fresh blooming hope, gay daughter of the sky!

And faith, our early immortality!

Enter, each mild, each amicable guest;

Receive, and wrap me in eternal rest!

 

Bait pertama di atas dengan cahaya api melambangkan cinta, disebut ‘ obor Venus ‘, adalah biarawati memohon Abelard datang, masuk ke dalam hati dan pikirannya, hidup nyalakan cinta dan birahinya, membuka kemampuan alami hidup dan nafsu. Bait kedua makin jelas menggambarkan yang siang malam dibayangkan Heloise adalah paras Abelard, sekalipun di depan altar juga tidak sirna, sehingga merasa Abelard telah masuk mengacau penglihatannya, berdiri di antara dia dan tuhan. Empat baris di awal bait ketiga, Heloise sendiri merasa terguncang oleh lindungan tuhan, merasa telah kehilangan kekuatan hati buat memikirkan Abelard, maka kian tidak peduli dengan bergelora memanggil nama Abelard, memohon dia dengan cintanya melawan tuhan, merebut hatinya, menghapuskan gambaran-gambaran malaikat di depan matanya, lalu bergabung dengan setan, merampas dirinya dari dekapan tuhan. Sekarang kita tahu nafsu adalah tidak baik, atau setidaknya di depan altar adalah sesuatu yang buruk, yang berlumuran dosa, yang dikuasai setan ——— dan Heloise dengan lantang meminta Abelard bersama setan, menuntaskan cinta dan birahinya terhadapnya. Ini adalah klimaks dari cinta yang menggelora dan gila, membuat pikiran orang terombang-ambing. Bait terakhir dimulai dengan [ Tidak ], Heloise jatuh dari puncak kegilaan cinta ke dalam kenyataan yang mati senyap, kembali ke dalam kesunyian yang mengelilingi biara, lelah, takut, lemah, hilang rasa, memohon malaikat menerimanya sebagai seorang biarawati yang taat, dan [ menyelimutinya di dalam peristirahatan kekal ].

Puisi Pope ini, telah memiliki kerangka discovering psychology, beberapa ratus tahun setelahnya, bagi yang pernah bersentuhan dengan psikologi analisis Freud, pasti akan melihat isyarat-isyarat seksualitas yang kuat di dalamnya. Dengan sedikit lebih dekat memperhatikan penggalan puisi yang tidak sampai lima puluh baris ini, dapat menguak gambaran yang diberikan Pope, mungkin adalah semacam proses masturbasi, adalah proses segelombang-segelombang menggulung naik gemuruh tumpukan fantasi seks Heloise. [ Merebut paksa diriku dari sisi tuhan ] tentu adalah klimaks, selanjutnya pelan-pelan surut, masuk ke alam kegelisahan, bimbang, penyesalan, dan putus asa.

*

Sesuai data sejarah sastra, ketika Heloise digoda, dirinya masih seorang gadis muda, sedangkan Abelard sudah lama melampaui parobaya. Setelah skandal ini meletus, Abelard dikebiri, dikurung di biara, Heloise juga dikurung di biara perempuan, membawa kenangan yang tak terkira.

Bagi Abelard, menghadapi [ biarawan, lilin panjang, gereja ] tidak terlalu sulit, walaupun masa lalu membuat sedih dan putus asa. Bagi Heloise, semua itu adalah hukuman tambahan yang dipaksakan dunia luar kepadanya: dia kehilangan kekasih, anak, dusun dan ladang, disekap di balik tembok biara; masa lalu tentu membuat orang sedih dan putus asa, yang terpampang di depan mata juga membuat sedih dan putus asa.

 

*

Umpama Heloise tidak mengalami sepenggal kisah dengan Abelard itu, umpama dia sejak gadis dan masih perawan sudah dibawa masuk ke biara sebagai biarawati, dia tentu tidak akan mempunyai nafsu yang begitu kuat bagai arus pasang naik. Kita seperti bisa begitu mengumpamakan, namun juga belum pasti.

Dengan demikian, kesunyian seharusnya adalah ritme kehidupan yang paling alamiah. Dia menengadah ke arah tuhan dan malaikat, khusuk mendengar lonceng doa subuh, bayang cahaya lilin panjang membawa damai hening dan ketaatan. Di bawah situasi begini, Heloise mungkin tidak akan mengalami pertentangan antara tubuh dan jiwa. Kemungkinan akan begini, namun juga belum pasti. Hal ini begitu sulit, begitu sulit benar-benar dipahami.

*

Mengekang nafsu di mulut dan perut, kekuasaan dan harta, nama dan lain-lain bisa dipahami, bisa dilaksanakan, hanya mengekang birahi adalah tantangan paling besar dalam hidup, dan yang bisa benar-benar teguh melaksanakannya sepanjang hidup sungguh sangat sedikit.

*

Apakah tuhan juga perlu mengekang birahi?

*

Maksud saya tuhan yang esa, apakah dia perlu mengekang birahi? Saya pikir, tuhan, yang esa itu, awalnya juga tidak mengekang birahi, kalau tidak dia tentu hanya menjadi tuhan bagi biarawan-biarawan yang teguh dan suci, dan tidak akan sejak awal sudah menjadi tuhan yang kita menengadah bersama.

 

*

Agama mendidik penganutnya dengan ‘ pengekangan nafsu ‘ yang terkandung di dalamnya, adalah hal yang baik. Seandainya ingin melalui pengekangan nafsu, meraba ke arah pertapaan, kesunyian, kehampaan, maka pasti harus ada sedikit ketentuan ——— yang disebut terakhir itu bukan setiap orang memerlukannya. Menurut saya, melakukan pengekangan nafsu, manusia masih bisa terus berkembang biak dan berkelanjutan, namun terhadap yang lain-lain mungkin agak sulit diduga.

Kecuali kita sungguh percaya perihal reinkarnasi itu.