Arsip Tag: ahmad yulden erwin

HANTU-HANTU HALAMAN RUMAH

Puisi Ahmad Yulden Erwin

kekejaman-penumpasan-pki
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com

1

 

Sedikit  aneh,  sedikit  terlambat, buah-buah  mangga  matang

Terlalu  cepat,  jejak  kemarau  menapak  langkan  rumah  tua.

Pagi-pagi  seorang  tukang  pos mengantarkan sepucuk surat,

Seolah semacam  isyarat: satu keluarga  mesti pergi, sebelum

 

Kabut  menjemput  kutuk  sewarna  marun. Angin  hijau pastel

Di halaman  rumah, membelai sebiji embun  di daun cempaka,

Sebelum  sesetel  sayap tekuku  berkepak menembus cahaya

Pagi melepas bebulu sepasang bajing mati ke dahan angsana.

 

Tak  bisa  lagi  kauhantarkan  segelas teh  pahit itu, terbayang 

Wajah bocah lima tahun dengan sepasang biji mata terkagum,

Berteriak,  ‘Bak, ada  surat!’  Tukang  pos  sejenak  tersenyum

Menatapmu  berlari  mengacungkan  selembar  amplop coklat,

 

Setelah  sebuah  siulan kecil;  ‘Taruh  saja  di meja,’ sahutnya.

Lalu,  kau terjerembab.  Ia menghampiri,  cuma tegas berkata,

‘Bangun, Nak.  Jadilah lelaki.’  Dan kini,  dalam rasa  asing ini,

Kauurai  satu-satu  lontai  kenangan dalam kisah  paling nyeri.

 

 

2

 

Serakan daun petai cina  dan belimbing di halaman rumah tua

Dibakar  sebelum  selesai  senja,  usai  ketukan pintu, mereka

Menculik lelaki renta itu, sepucuk senapan teracu ke dagunya;

Mereka mengikat tangan dan kakinya seolah pelanduk buruan,

 

Orang tak bertuhan  dibuang ke tepi  hutan. Begitu kaudengar

Takdir  kakekmu  dari  bibirnya,  sedikit  gemetar, hawa  dingin

Seliar  angin  menggigit  reranting   waru.  Kupu-kupu  kuning

Hinggap pada  selembar  kenangan jatuh di samping tumitmu.

 

‘Bak,  kenapa  kita  bisa mati?’  Begitu kauingat  sebisik tanya

Bocah  lima  tahun itu; matanya  sembab menatap  langit biru.

Lelaki  itu  menghirup  tehnya.  ‘Pagi ini  kakek  tidur  di surga,

Tak bisa  mereka  sembelih kakek di sana,’  katanya, kautatap

 

Awan putih  menyusut  seperti  rintih  di lekung  pipi  lelaki  itu.

Sekarang ia  kembali mengarit halaman  rumah, subuh-subuh

Membikin  siring  antara vanili  dan sulur sirih  berdaun merah

Kini melilit  sebatang  pohon seri.  ‘Jangan pernah membenci,

 

Anakku, jangan  pernah  membenci,’  lirihnya  di tepi senja itu.

Begitulah,  kami  mulai  lagi  permainan  purba itu,  mendekap

Rasa kutuk yang aneh tahun-bertahun, lolong yang terbantun

Pada  bibir  sejarah, kekejian yang dipahami tanpa rasa salah.

 

 

3

 

Di ketek  adek  paku  dipantek, kali-berkali beliung ditancapkan

Menembus  laung kesakitan; bunda memeluk betis penghukum

Sebelum  lancip  gancu  ditusuk  ke perutnya; atas nama  dosa

Kegilaan massal itu  dihajatkan, seakan  upacara pembersihan.

 

Bersuit angin sebentar, gerimis senja menyentuh sayap lelawa,

Di dahan nangka  terbakar digantung sederet  tebasan kepala;

Jari-jari putih  menghapus  noda kesumba di ujung pedangnya,

Di kubangan  kerbau algojo itu  berkaca sebagai pemilik surga.

 

Tanpa  nisan, sebuah lubang baru  digali, tiada bakal jadi saksi

Tubuh-tubuh  penghujah  telah disucikan. Jadi juadah dan kopi

Boleh  dihidangkan. Di bawah  pohon  siwalan  itu  arwah  kami

Berkerumun, masih  ketakutan,  ketika  kenduri  pemburu  babi

 

Dimulai:  bebareng  melantunkan  doa, ayat-ayat penyejuk jiwa

Melepas arwah kami mengembara, menggoyang sarang lelaba

Di atas   jendela. Sesekali lubang itu menguarkan bacin darah,

Tanda  arwah kami bergentayang  di sudut kiri halaman rumah.

 

 

4

 

Sebab kami tidak akan menyerah, debu-debu di jalan senyap 

Meluku mata  dua ekor kambing jantan; kemarau  di halaman

Telah berkisar hingga jantung  dipacu dari tanggal ke tanggal

Pada kalender kusam  tergantung  di dinding  gelap meracau.

 

Jadi  batu-batu  dekat cincin sumur tua itu  boleh disingkirkan

Sebagai  nisan, meskipun  arwah kami terlalu lama dilupakan;

Memeram pertanyaan di bawah  lidah sakit kaum pemberang,

Kami hanya tak bisa menjerit, sebab di bawah rumpun ilalang

 

Kami terus  dipaksa menyanyi lagu kebangsaan, seriuh  kicau

Ratusan pipit  berebut  mematuki remah padi; sawah ditinggal

Sebab para  petani mengungsi, sebab truk-truk para penjagal

Mencegat  dari simpang  dukuh  memburu orang-orang kalah.

 

Sebab kami tidak akan menyerah, debu-debu di jalan senyap

Menyeret kami  bebas  ke negeri orang-orang mati, memang,

Hantu-hantu tidak tewas dua kali, kami bisa tenang sekarang,

Hidup  tanpa  membenci,  di sini,  di negeri  orang-orang mati.

Catatan: 

  1. Bak: sapaan untuk ayah dalam bahasa satu subetnis di Sumatera Selatan.
  2. Adek: adik.

Puisi diambil dari kumpulan Enam Puisi ‘Politik’ Ahmad Yulden Erwin.

Iklan

PENJARA KEKASIH

Puisi Ahmad Yulden Erwin

kekasih
Ilustrasi oleh AYE

 / 1 /

Di satu negeri bernama Dusta-Nan-Lazim, tiadalah orang menyangka kebenaran akan semata zahir, laksana bayang di satu dinding penjara; begitulah Tuan al-Hallaj tiada lagi peduli akan hukuman matinya, yang sebentar besok akan tiba. Tuan tampaklah duduk di sebentang sajadah kusamnya, maka tuan pun tafakurlah, maka mata tuan mulai menyala, maka zikir tuan terasalah manis di lidah, maka hilanglah tuan di dalam jaga, maka mimpi segala mimpi tuan pun tiada.
Maka usai tuan bertafakur begitu, tuan usaplah telapak tangan tuan ke wajah; kelana panjang tuan terasa akan sampai semula langkah, mewujud akhir nan baru, yang bahkan tiada seorang di tanah Arab dan Persia akan mengira: isak tuan telah digenapkan dengan sempurna.
Maka sebelum pagi penghakiman kaum pendusta itu tiba, sebelum darah para mujahid-sunyi tertumpah kembali seturut sejarah hina, sebelum oase dan pohon-pohon kurma menyimpan setiap rintik air mata para sahabat, sebelum setangkai mawar merah (yang telah tuan bayangkan) akan disambit dengan tulus ke dada tuan oleh tangan seorang pecinta, adalah sempat tuan terkenang akan istri tuan di rumah.
Maka sekerjap ada tuan berpikir tentang sehelai rambut puan yang terjuntai keluar di sebalik hijab hitamnya. Maka terbayanglah saat puan mencium basah punggung tangan tuan, sebelum lengan kurus tuan diseret oleh pasukan pengawal sultan ke penjara, delapan tahun lalu. Maka masihlah jelas dalam relung ingatan tuan saat penculikan selepas tengah malam itu: bentakan para pengawal, ringkik-ringkik kuda, sekedip bintang utara, lalu satu cambukan menghantam ke belakang telinga; maka hingga saat menjelang hukuman mati tuan ditetapkan harinya, sama sekali tuan tiadalah hendak bertanya mengapa benar tuan bisa diseret ke penjara.
Maka kini duduklah tuan kembali di sudut kanan remang penjara, di atas sejadah tuan yang kusam, dihela napas sedikit berat, sebab tuan hanya sendiri; ada terkenang juntai ujung sehelai rambut di kening istri, bayang-bayang wajah cucu yang tiada pernah tuan azani, juga ingatan kering desir angin pada reranting pohon cedar di halaman rumah selepas musim semi; sebab tuan tiada lagi bisa bermimpi.
Maka itu empat dinding penjara, maka itu atap dan lantai penjara, maka itu tiadalah lain kerut dan kelim di jubah tuan belaka. Tuan bukan lagi penebak cahaya, bukan pula ceruk dan nyala suatu pelita; tuan bukan pula minyak yang berkilau dalam kegelapan, bukan, sebab kini tuan sepenuhnya adalah kegelapan. Maka tuan menatap semula bayang tuan di dinding penjara, maka perlahan tuan mulailah merasai tubuh ringkih tuan akan segera menjemput mati, namun bayang tubuh tuan telah dinasabkan sebagai abadi.
Bangkitlah tuan dari duduk, seolah untuk pertama kali, menatap benang-benang cahaya matahari terbit dari celah jeruji jendela, setengah badan jaraknya dari ubun kepala. Sayup tuan dengarlah gerincing senjata dan derap langkah para pengawal Sultan al-Makmun. ‘Sekarang khatamnya engkau tinggalkan penjara, tubuhmu itu, menghadap Duli Sang Maha Cinta,’ bisik entah semacam ilham, entah desah pikiran belaka; maka dalam sendiri, tersenyumlah tuan, tipis hanya, sekerjap lihat bayang tubuh tuan adalah seberkas

/ 2 /

Maka beginilah kemudian sahaya baca hikayat akhir hidup tuan:
‘Maka pada tanggal 25 Dzul Qa’dah tahun 309 Hijriah, jatuhlah hukuman bagi Tuan al-Hallaj, mursyid dan sahabat kami tercinta, oleh pengadilan para ulama yang alangkah rakus dan penuh tipu daya. Maka setahu kami tiadalah bersalah Tuan al-Hallaj itu, maka tiadalah layak pula tuan mendapat siksa keji begitu. Maka setelah tuan dipenjara selama lebih dari delapan tahun, maka tubuh tuan dicambuklah 300 kali, maka disayatlah, maka ditetak pula kaki dan tangan tuan, maka disalibkan pula tubuh tuan yang tiada utuh lagi itu.
‘Maka di kayu salib itu, berserulah tuan: Duhai, betapa hamba-hambaMu yang kini berkumpul inginkan betul kematian sahaya, sebab sangka mereka beginilah benar jalan berhampir menujuMu. Ampuni mereka, Ya Rahman….. Tersebab apabila Engkau bukakan pula Kebenaran kepada mereka seperti yang Engkau telah singkapkan kepada sahaya, niscaya mereka akan tersenyum, lalu segeralah lari mereka dari penjara prasangka.
‘Maka tersebab malaikat maut tiada hendak pula ambil nyawa tuan, maka dengan bengis itu para algojo penggal leher tuan. Maka tubuh tanpa kepala itu disiramlah dengan satu tong minyak lemak domba, maka dibakarlah, maka abu jenazah tuan lekas dibawa ke menara pengintai di barat gerbang kota, maka ditaburlah, maka berhanyutlah abu jenazah tuan di arus sungai Tigris, maka…’
Maka tiadalah sanggup sahaya teruskan lagi membaca itu catatan sahabat tuan, tersebab telah basah mata sahaya. Maka setelah reda badai di kembar pelupuk sahaya, terbacalah kembali catatan yang tuan letakkan di sebalik selimut wol tenunan tuan, seuntai puisi, begini indahnya:

ألا يا ليل محبوبى تجلى ألا يا ليل للغفران هلا
الا يا ليل ما ابهى واحلى ألا يا ليل اكرمنى وجلى
ألا يا ليل فى الحضرة سقانى ألا يا ليل من خمر الدنان

O, malam, Kekasih telah datang
O, malam, ampunan itu telah datang
O, malam, duhai Keindahan, duhai Kekasih tersayang
O, malam, Kekasih telah muliakan daku, Dia datang
O, malam, Kekasih tuangkan minuman
Ke dalam cawan, duhai anggur alangkah

/ 3 /

Duhai, Tuan al-Hallaj, suami dan kekasih tercinta, ijinkan sahaya kenangkan Tuan kembali. Ijinkan sejenak, dalam taman kenangan yang Tuan bangun di sebalik hati ini, ijinkan sahaya ciumkan punggung tangan Tuan kembali, di sini, di depan pintu rumah Tuan yang telah sunyi, kian dan kian sunyi.

Sejoli Sunyi

Puisi Ahmad Yulden Erwin

Di mana akan kausimpan cahaya

Bulan padam menjelma debur ombak

Memeluk urat-urat laut di lenganmu?

 

Tersimpan di sini, di sela tebing rintih

Sebenting karang terlipat tatap matamu

Bercak-bercak perih, jejak kata digerus waktu

 

‘Kadang kita tak bisa memilih,’ lirihmu

‘Hingga mimpi kita membiru.’ Tapi, luka adalah pantai

Adalah cahaya dan gelap pada nadir yang sama

 

Kukecup desir angin lewat ujung rambutmu

Sebutir embun terbit di ufuk matamu, memercik

Sebagai gerimis usai menggaris pagi di telapak tanganku

 

‘Antar aku pulang, Sayang, antar aku kembali

Berlayar ke negeri paling sunyi, ketika dusta bukan lagi

Sehitam pedagogi,’ bisikmu. Aku membisu, jauh menatap

 

Debur ombak, memimpikan revolusi berderap di lentik jemari

Kakimu, tak lain segurat proyektil di tembok batas kota itu

‘Lupakan mimpi-mimpi gilamu, Sayang, tapi rabalah bibirku

 

Di rimbun rumpun alfalfa, di gerimis tatap matamu,’ pintamu

Berharap jadi sejoli, sepasang lelaki yang dipaksa bermimpi

Melawan ilusi, hingga kauledakkan tubuhmu di stasiun kereta pagi

 

 

26 Agustus 2013

Mengantar Wang Wei Pulang

Puisi John Kuan

Buat Ahmad Yulden Erwin

gambar diunduh dari lgt560111.blog.163.com
gambar diunduh dari lgt560111.blog.163.com

Sedahan burung gunung tegak ngantuk, kaget
terbangun oleh risik bulan origami kertas puisiku
Suara kepak sayap menghardik bubar seluruh daun
Gunung hampa. Tiadakah orang? Hanya kau
tangan di tepi sungai menyentuh lumut di atas batu

Ah! Sudah begini tua. Selembah musim semi, bunga
sesuai waktu lalu gugur. Tarikh Tianpo 10 tahun?
12 tahun? 15 tahun? Hidup boleh, mati boleh, gontai boleh
santai boleh bagai sekuntum teratai di kolam belakang
dan setiap petang, dalam luar tubuh selapis hijau kelabu

hanya tinggal lekuk batu tinta belum kering
masih tergenang penuh keangkuhan hitam
sebab itu, agak santai, agak malas, tongkat ranting
di tangan, keluar tiga li ke arah tepi air melangkah

.

Tegak, mendongak, tengok gunung, tengok awan
melintas, bergeser, menyebar dari keningmu yang sunyi
di saat begini mendadak terpetik sepatah puisi indah
lalu hilang ditiup rambut kusut baru kau rapikan
Beberapa saat lalu, ada orang datang menyapa:

Puisimu yang mana paling ada renungan zen?
Kau menjawab santai: Bukankah bangau putih itu
diam-diam terbang keluar baris ketiga Genangan
Hujan Wangchuan. Habis ucap, selengan baju bunga alfalfa
menyusuri batu anak tangga, terguncang jatuh

Musim gugur, dengan kurus, dengan ikut
hangat senja, menyusup ke dalam sepi rumahmu
hari disiram hujan gunung, bisa semadi, bisa edit puisi
cicip sedikit hambar Zhuangzi, atau lewat jendela kuyup
menonton asap liar di kaki gunung kepang rambut

Kadang juga teringat An Lushan dan segala rutinitas
Dinasti Tang, atau berdiri, atau duduk, atau lempar pena
bangkit, hingga matahari di ujung dermaga terbenam
dimuat sampan nelayan ke seberang. Pada hening kolam pagi
melihat diri telah sebatang bambu, ditiup angin

setiap ruas bergoyang, setiap ruas tampak kukuh

.

Antar kau, di setapak Hujan Wangchuan, memasuki
kosong ruasmu yang terakhir kau sisakan buatku

Puisi-puisi Ahmad Yulden Erwin #2

AJISAKA
Bapak moyang saya seperti ayat
Dicatat pagi jadi sesayat mata mayat
Menatap kosong angkasa, kemukus

Melintas sekejap, saya tersadar
Sebentar pikiran saya akan berkisar
Pada sebelas bintang rasi dan arah angin

Jadi pedoman para pelaut pemburu paus
‘Lemparkan mata tombak itu, cepat!’
Tapi saya ganti lihat kilasan yang lain

Sebelum pecah perang paling keji
Tanpa musuh, cuma virus buatan berbiak
Menyantap habis neuron di otak

Dalam ruang kemudi pesawat antariksa
Terakhir saya tatap stratosfer planet biru
Saya mesti pergi menuju pusat paling sunyi

Ke inti Bima Sakti, menyingkap teka-teki
Sejarah 200.000 tahun para dewa bintang
Pembiak bibit genetik para pemburu binatang

Sebelum seorang perawi pelan terhisak
Mencatat laung kisah peradaban yang hilang
Pada tabula berkilat darah di ujung duri landak

Bandarlampung, 20 Mei 2013

THE NEW LEMURIA

Jalan-jalannya  terbuat  dari wangi bunga.

Setiap orang bebas  memilih  harumnya,

dan  tak ada  orang  akan  bilang: ‘Dusta!’

 

Gedung-gedungnya beratap tawa canda.

Seluruh  terminal,  stasiun,  dan  bandara

dibangun  dari  tepung kerang-suka-cita.

 

Setiap rumah semata  pintu yang  terbuka.

Jendelanya  sepoi  angin  di daun angsana.

Halamannya  tak  lain  jiwa-jiwa  merdeka.

 

Warganya  bebas  memilih kertas atau palu

sesuka mereka. Tak ada tuan atau hamba.

Di sana senyum tulus adalah bahasa utama.

Para bocah selalu berbinar saat membaca,

tapi hati mereka bebas  bermain di angkasa,

melayang bersama kakatua dan elang raja.

 

Kebahagiaan adalah hukum pertama. Musik,

tarian, dan pantun  itulah  samadi mereka.

Misteri adalah  cahaya lilin beraneka warna.

 

Kini,  aku  tak  mungkin pulang ke kotaku,

karena mimpinya tengah berlayar ke hatimu.

Narasi Sungai

Puisi Ahmad Yulden Erwin

Sungai adalah sebuah metafora dari perjalanan, sedetik yang mengalir di ujung jemari waktu, kemudian bergeser, meluapkan tepi-tepinya, tertawa dan menangis, mencatat gigil terakhir di antara dua alir mata air. Meski angin mungkin saja berjinjit di antara ranting-ranting waru. Seekor belalang menatap tenang puncak sekeping batu. Air mengalir. Tepian penuh gelagah, sangkik plastik, kaus kaki hitam, dan angin yang jatuh menembus daun-daun waru dan sayap belalang dan, seperti tak percaya, sebangkai mimpi yang terapung di tengah permukaan sungai — timbul tenggelam. Kau bertanya: Masih lama? Aku menjawab: Entahlah. Angin memeluk arus di tepian sungai. Laut membayang dalam mimpi arus sungai. Kita seperti berada dalam lingkaran, katamu. Akhir menjadi awal yang baru, kataku. Kau melangkah perlahan ke dalam mataku. Aku melangkah perlahan ke dalam senyummu. Aku mesti pergi, katamu. Aku mesti kembali, kataku. Sepasang sayap kecici itu berkepak terbang, menyeberangi sungai yang mengalir di antara jejak-jejak kaki, melupakan arah mata angin. Kau tak ingin menunggu? tanyaku. Seperti batu yang dikutuk itu? jawabmu. Dua bayangan itu tertawa dalam mimpi bangkai seorang pemburu yang terapung di tengah sungai. Kupikir kita berdua telah menemukan sesuatu, katamu. Atau telah kehilangan yang bukan-sesuatu, kataku. Sungai di antara dua mata air itu bertemu. Sepasang mata mendekap lindap dua bayangan di bawah pohon waru. Masih lama? tanyaku. Entahlah, jawabmu. Aku pergi, kataku. Aku pulang, katamu. Kita cuma bertukar tangkap dengan lepas, katamu. Entahlah, kataku.

 

melankoli sungai
gambar diunduh dari facebook Ahmad Yulden Erwin

Kita berdua melompat ke sungai itu. Timbul tenggelam. Sesaat. Kemudian kau mengayuh mataku. Aku pun mengayuh senyummu. Aneh juga, kita berdua seperti mencecap sedikit rasa garam di arus sungai itu. Seperti di muara? tanyaku. Sudah dekat? jawabmu. Keraguan kita berlompatan seperti dua ekor mujair yang mengejek kail seorang pemancing. Selembar daun waru tua terambing di permukaan sungai. Mungkin sedang menuju muara yang entah di mana. Mungkin rindunya pada laut di ujung muara tak habis memantulkan cahaya matahari, di antara gelembung arus, yang berteduh di sela rumpun gelagah. Kita bukan pencari, katamu. Hanya sepasang peziarah, kataku. Lalu kau teringat perayaan musim panen padi tahun lalu. Dan aku teringat sewaktu angin pagi melepas kuntum-kuntum bunga layu tenggelam di telaga itu. Terlalu sepi di sini, katamu. Terlalu piuh di sana, kataku. Kita tahu, ada yang tak mungkin kembali, meski kita telah bersiap untuk melangkah pergi, menatap ke belakang setiap jejak kaki, di jalan setapak berlumpur itu, tanpa perlu merasa perih, tanpa perlu merasa kehilangan…

Puisi-puisi Ahmad Yulden Erwin

The Tibetan Book of Dead

 

Satu gerbang terbuka. Foton-foton karma

    melompat ke lorong warna: Cahaya hijau

sehitam cahaya biru, cahaya merah seputih

    cahaya ungu. Biri-biri tembaga merumput

di padang air mata. Debu kembali ke debu,

    cahaya kembali ke pusar waktu: Samudra

 

hening tanda tanya. Para tulku mulai berjapa,

    burung-burung hering mematuki biji mata.

Fajar telah kembali dengan cambuk apinya.

    Sepasang dakini menendang gerbang kedua,

juga milyaran gerbang lainnya. Kau terkunci

    di ruang hampa. Kau ingin pergi, tapi tak bisa.

 

Kau terpaku menunggu perahu jemputanmu,

    tapi tak ada perahu itu. Sebentang cakrawala

menderu: Kau telah kembali ke rahim ibumu.

    Semua proyeksi itu terjadi di batang otakmu:

Tepat sebelum kauhembuskan napas terakhirmu.
 

Lirik Narita

    Kaumasuki wajahku. Sebuah ruang tunggu

kini terbuka. Satu elevator dari pecahan mimpi,

    kebohongan bagai kertas tisu di toilet usia,

 

dinding menara pemantau dari sayatan luka:

    Bandara dari serpihan tanda tanya. Cermin

di mataku telah menyusun lekuk hidungmu,

    kerut keningmu, juga seuntai tanka pada maut

dan permainan warnanya. Tak ada yang mesti

    kautunggu. Misteri itu telah jadi sebutir salju.

 

Lalu kau ingat sepoi angin di teras rumahmu,

    menjadi film-film kosong di layar batinku.

Kumasuki wajahmu. Detik-detik berguguran

    menjelma laron-laron cahaya, juga metafora

tentang api lilin yang membakarnya. Cermin

    telah pecah di matamu. Satu ilusi telah sirna.

 

Sekarang, ruang tunggu itu kembali terbuka.

    Namun, telah kubatalkan jadwal terbangmu,

dan telah kupilih sunyi untuk menghantarmu:

    Pulang ke rumah hati.

 

keindahan bawah laut
ilustrasi diunduh dari impactlab.net

Kitab Laut

Kini pendar lampu bulan
dipadamkan cahaya pagi
seekor semut-api terjun
ke laut setetes air mata.

Di arus-dalam keheningan
waktu pelan-pelan beringsut
menyulurkan alga merah
ke mulut dua ekor kuda laut.

Seekor cumi dari palung utara
menutup pintu rumah kerang
menghitamkan karang-karang
menyusun rencana tertunda.

Kau berdiri di bawah tatapan
sepasang mata beku seperti maut
mengawasi ikan-ikan berebut
plankton hijau terbawa arus selatan.

Kau mulai bergerak di antara
dua jeda: yang satu berdesis
di tengah tenggorokan, yang lain
bersisik mencium pipi mutiara.

Seekor cacing terusir dari terumbu
karang mencatat persekongkolan ini
Tak heran mereka telah membuihkan
hatimu seasin rasa bersalah yang abadi.

Seekor hiu terpilih sebagai putra matahari.