Arsip Tag: air mata

Puisi-Puisi Lara Hati

Puisi Ragil Koentjorodjati

air mata tak pernah bohong
Tears don’t lie by ThysLara
Gambar diunduh dari creativephotographymagazine.com

~tentang kamu~

angin muson adalah kamu,
dari barat daya membawa riuh yang basah,
dari timur laut membawa sepi yang kering,
silih berganti,
sepanjang tahun.

~Maria~

aku ingin mempersuntingmu,
oh, sang perawan,
tak peduli pun bila harus berkelahi dengan tuhan.

~pagi yang rapuh~

aku tertawa menatap pagi yang rapuh,
tertatih-tatih menuntun setiap orang bertegur sapa dengan kesakitan.
Ia dilupakan, sebab orang lebih rindu pada malam.

~sesuatu hilang di sore tadi~
sore tadi,
matahari begitu merah saga,
bulat penuh, di langit biru bersih.
Kupandangi cukup lama hingga aku menyadari harus kembali melangkah.
Sebagian diriku yang tertinggal dibawanya entah ke mana.

~ketika senja tiba namun aku belum mati~

ketika senja tiba,
saatnya aku tenggelam,
bersama matahari,
dan semua menjadi dingin.
Sangat dingin.

~malam: ketika bahagia~
di kepak riang burung hantu,
ada bulu-bulu yang rontok,
dan duka mata yang terlalu bercahaya di kegelapan.
Hanya saja mungkin engkau tidak mampu melihatnya.

 

Catatan:

mengenali orang yang menyayangimu adalah sederhana,
jika kamu sedang bahagia, ia menunjukkan turut bahagia,
jika kamu sedang tidak bahagia,
ia mencoba membangkitkan kebahagiaanmu,

jika kamu memberi, ia akan memberimu lebih banyak,
jika kamu menolak pemberiannya, ia merasa sedih.
Jika kamu direndahkan, ia akan marah.
Jika kamu ditinggikan, ia mengabarkan ke sahabat-sahabatnya.
Jika ada yang menyakitimu, ia ikut tersakiti.

Jika ia menyayangimu,
ia akan mencari cara mewujudkan rasa sayangnya itu.

:::di tepi hujan sepanjang hari di awal tahun 2012:::

Iklan

Air Mata

Cerpen Ragil Koentjorodjati

mata air mata
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Aku hampir tidak percaya ketika pagi itu, selepas bangun tidur, aku membuka tudung saji dan mendapati hanya ada dua tetes air dalam gelas bening di meja. Tidak ada nasi. Tidak ada lauk. Tidak juga sayuran. Hanya dua tetes air dalam gelas bening di meja. Tanpa harum wangi rempah-rempah digoreng. Tanpa aroma masakan, bahkan aroma asap pun tak ada. Udara begitu bersih dan segar, tidak seperti biasa. Tanpa bau keringat manusia. Entah ke mana perginya istriku. Biasanya, pagi begitu riuh dengan bebunyi alat dapur dan dendang riang istriku, sebelum aku terbangun karena basah bibir menindih kelopak mataku, aneka hidangan telah tersaji di meja makan. Tapi kali ini tidak. Pagi menjadi sungguh tidak biasa. Hanya ada sunyi. Hampa. Aku sendirian.Aku alihkan pandangan mataku ke dispenser. Kosong. Perihal ini aku sedikit ingat, sudah dua hari pabrik air olahan isi ulang macet produksi. Terakhir kali ada sesuatu, serupa cacing, berenang di air dalam botol isi ulang. Berenang dengan riang. Mungkin sebab itu pabriknya tutup. Kabar yang kudengar terlalu banyak keluhan tentang cacing dalam botol, meski sebenarnya bukan cacing. Hanya serupa cacing. Dan dispenserku menjadi hiasan dapur. Tidak lagi berisi. Seekor kecoa paruh baya asyik bermain sungut di atasnya. Meski cukup haus dan lapar, tetapi aku belum berpikir untuk menjadikan kecoa sebagai lauk hari itu. Kecoa bukanlah hewan yang baik bagi manusia.

Mungkin masih ada sesuatu di kulkas. Aku buka kulkas. Tidak ada yang bisa dimakan. Tidak ada yang bisa diminum. Hanya sedikit aroma debu dan bau sangit menyeruak, semacam aroma kebakaran listrik dalam skala kecil. Aku mencoba mengingat, sejak kapan kulkas itu kosong. Lalu aku menyadari aroma itu. Listrik mati beberapa hari lalu menyisakan kebakaran ringan pada alat elektronik murahan. Tentu saja kebakaran semacam itu tidak boleh diperhitungkan sebagai kerugian yang bisa dimintakan ganti ke perusahaan listrik. Aku tidak terlalu ambil pusing meski seharusnya mengajukan keberatan atas iuran bulanan yang mulus-mulus saja. Pagi itu aku lebih butuh minum daripada ribut soal bayar listrik.

Aku perhatikan gelas bening di meja makan. Masih di sana. Sepertinya tidak lagi dua tetes air di sana. Ada empat atau lima tetes barangkali. Aku tidak habis pikir dari mana tambahan air itu. Mungkin air dari atap rumah yang lalu rembes, menetes melalui retakan genteng atau lubang semut. Entah. Air bisa lewat mana saja, lewat tempat yang tidak pernah kauduga, lalu mungkin menetes masuk ke dalam gelas. Atau barangkali kencing kecoa yang sebelumnya asyik bermain sungut di atas dispenser. Itu pun sebuah kemungkinan lain. Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja air dalam gelas itu lebih banyak dari yang sebelumnya. Mungkin saja aku rabun usai bangun tidur, belum sepenuhnya sadar. Atau lebih tepatnya kesadaranku baru sebatas rasa bahwa aku kehausan. Tapi aku belum sudi minum air kencing kecoa, andai benar tambahan air dalam gelas itu bersumber dari kencing kecoa. Tidak sudi juga aku minum air dari atap bocor. Aku hidup di negeri yang kaya raya, tempat air berlimpah ruah bahkan bila batu dipecah, air akan membuncah. Masak harus minum air kencing kecoa, pikirku.

Sudah jadi kebiasaanku bahwa ketika bangun tidur aku minum dua-tiga gelas air putih sebelum kemudian melanjutkan aktivitas. Tetapi pagi itu memang lain dari biasanya. Tidak ada yang dapat kuminum. Aku berpikir, mungkin lebih baik memasak air dari sumur atau air ledeng daripada minum kencing kecoa atau air dari atap bocor. Segera aku mencari perlengkapan memasak, maklum sejak ada dispenser aku hampir tidak pernah memasak air lagi. Aku cari kompor. Kompor minyak kutemukan di bawah meja dapur, tidak ada minyaknya. Aku lupa kalau sudah tidak jaman lagi masak memakai minyak tanah. Aku coba kompor gas. Masih tersisa nyala api sedikit biru kemerah-merahan. Aku tersenyum sedikit lega. Tinggal mencari panci dan tentu saja air. Aku masih belum ingat, mengapa istriku tidak memasak air jika dispenser kosong.

Panci tidak sulit kutemukan. Teronggok masih kotor di kamar mandi, belum di cuci. Sisa bumbu mie instan menempel di kanan kiri panci. Bergegas aku hendak mencucinya. Tetapi alangkah terkejutnya ketika kudapati tidak ada air dalam bak mandi. Habis tandas. Seingatku, pada malam terakhir aku mandi, air  masih ada, setidaknya setengah bak mandi. Ke mana perginya air itu, tanyaku dalam hati. Memutar kran, tidak ada yang keluar. Hanya desis angin bercampur bau karat.

Aku tidak habis mengerti mengapa air bisa lenyap dari rumah ini hanya dalam waktu semalam. Jam dinding masih berdetak seperti biasa. Jarum panjang berputar sangat perlahan menunjuk angka 7. Jarum pendek malas beringsut dari angka 6. Masih pagi. Masih tidak salah untuk bangun tidur. Penanggalan tergantung setengah miring pada tembok yang lancang menonjolkan bata merahnya.

“Wahai, siapa yang mengubah angka tahun itu?” bisikku terperangah.

Angka 2078 bertengger di atas gambar gadis sampul tanpa celana. Selembar daun seolah menutup sesuatu yang gagal untuk tidak diperlihatkan. Wajahnya bukan wajah istriku. Wajah gadis itu sedikit keriput. Hanya buah dadanya tetap penuh. Silikon tidak mengenal usia rupanya. Dan istriku tidak menggunakan silikon hanya untuk mempermontok payudara. Tahun 2078. Aku bingung. Aku mencoba mengingat. Tapi aku lupa ingatan. Tidak ada yang kuingat.  Air dalam gelas bening setengah penuh. Apa yang sebenarnya terjadi, bingungku menjadi-jadi.

Perlahan kulangkahkan kakiku keluar rumah. Tidak peduli andai wajahku tampak kusut dan rambut awut-awutan. Sepintas aku dapat mencium bau busuk tubuhku sendiri. Biarlah, pikirku. Tidak ada air untuk mandi atau hanya untuk cuci muka. Mungkin di tempat tetangga ada sedikit air tersisa. Aku tertawa. Hanya sedikit tertawa, sebab hatiku sesungguhnya tidak tertawa. Waktu satu malam sepertinya mengubah segalanya.

Matahari mulai meninggi. Udara terasa begitu panas. Rumah-rumah berderet rapi. Tanpa pepohon di sepanjang jalan. Tempat yang tidak kukenali. Entah ke mana perginya para tetangga. Entah di mana pohon berpindah tempat untuk tumbuh. Rumah-rumah megah di depanku sunyi sepi. Di ujung jalan kulihat dua bocah kecil menari. Aku datangi mereka sambil tersenyum mesra. Begitu mesra.

“Orang gila! Orang gila!”

Mereka berteriak sejadi-jadinya. Tarian buyar berganti gerakan liar memungut apa saja yang ada di dekatnya yang lalu dilemparkan ke arahku. Tanah, batu, pasir, kayu dan ranting kering, terbang ke arahku. Tepat ke arahku.

“Hei!” teriakanku putus di ujung bibir. Segumpal tanah menutup mulutku. Mereka lari lintang pukang.

Aku cengengesan sebelum kemudian tidak lagi mempedulikan mereka. Kulangkahkan kakiku menuju rumah-rumah megah. Masih sunyi dan sepi. Tetap sunyi dan sepi. Tanpa penghuni. Kota apakah ini, tanyaku dalam hati. Sunyi dan sepi seperti kota mati. Kering dan gersang seperti kota usang. Tidak ada manusia. Tidak lagi kutemui para tetangga. Mungkinkah mereka mengungsi mencari air dan aku tertinggal di belakang? Aku memilih pulang sembari berharap keajaiban terjadi. Aku berharap istriku sudah kembali dari mana saja ia telah pergi.

Di meja, air dalam gelas bening terisi penuh. Aku berkaca padanya. Tak kukenali wajahku. Wajah siapa, entah, plethat plethot tanpa bentuk. Begitu abstrak. Perlahan, aku reguk sedikit air dalam gelas bening. Alangkah terkutuknya hari ini, gumamku, sekedar untuk minum saja tidak ada air kudapati. Air dalam gelas bening terasa asin. Seperti rasa air mata. Aku tidak peduli meski ada semacam rasa nelangsa menusuk dada. Mungkin tanpa kusadari air mataku menetes di sana.

Dengan gelas masih di tangan aku menuju ke kamar mandi sekedar ingin membasahi muka dengan sedikit air tersisa di gelas bening. Cermin retak berlumut memantulkan wajah kusut awut-awutan. Semakin abstrak. Wajah dalam cermin berurai air mata. Aku ingin meminum air yang berlimpah di sana. Air dari air mata. Air mata dari wajah yang pernah kukenal. Lalu gelas bening di tanganku tiba-tiba terisi  penuh air. Aku tuang sedikit ke mukaku. Basah. Wajah dalam cermin basah. Cermin basah. Tanganku basah.

Air dalam gelas bening tidak berkurang. Mataku basah. Bak mandi basah. Kran air, basah. Semua menjadi basah. Aku menangis bahagia sejadi-jadinya. Rumahku berlimpah ruah dan membasah. Air rembes dari mana saja. Dari mataku mengalir air tak berkesudahan. Membanjiri rumah. Membanjiri segala. Sejak itu aku terbiasa minum air mata dan memasak dengan air mata.

 

Ujung Mendung, Desember 2011

Di Balik Sebuah Tangisan

Oleh Nia Oktaviana
di balik air mata
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Sejenak kupejamkan mata, menelan semua kepahitan hidup yang terkadang memaksa kita menitikkan air mata. Akan seperti apapun usahanya untuk menutupi dan menghentikan tetesan air mata , semua itu hanya bagian dari usaha yang akan sulit terwujud dalam menghentikan sebuah tangisan. Hati nurani memang tak pernah berkata dusta tentang perasaan seseorang terhadap sebuah kesedihan, kebahagiaan, kerinduan, kekecewaan, kekaguman atau bahkan kasih sayang yang bisa menjadi alasan demi menetesnya air mata.

Menangis itu indah saat kita bisa berbagi sebuah tangisan bersama orang yang kita sayangi.
Menangis itu menyedihkan ketika orang yang kita tangisi tak pernah mempedulikan kita.
Menangis itu istimewa saat setiap tetesan air mata jatuh di tangan seseorang yang kita sayangi sedang menggenggam tangan kita.
Menangis itu mengharukan saat selembar kertas berisikan tentang puisi kerinduan terhadap orang yang telah tiada terbasahi oleh tetesan air mata.
Menangis adalah kerinduan saat seorang kekasih terpaku di hadapanmu lalu mengusap air matamu.
Menangis itu menyakitkan saat kita merasa iba memandangi seseorang yang kita sayangi terbaring sakit tak berdaya.
Menangis itu kekecewaan saat perasaan tulus kita kepada seseorang hanya dipandang sebelah mata
Menangis itu kagum saat kita melihat seorang sahabat yang berhasil meraih impian besarnya.
Menangislah untuk sebuah kebahagiaan dan kesedihan yang telah mewarnai sepanjang kisah hidupmu.

Bicaralah pada Tuhan Yang Maha Mendengar untuk segala keluh kesahmu di setiap malam yang tak seorang pun bisa mendengar setiap tangisanmu.
Hadapkan dirimu pada Tuhan Yang Maha Melihat atas ketidakberdayaanmu terhadap dunia dan orang-orang yang berlaku tidak adil terhadapmu.
Menangislah selepas kau bisa, agar setiap beban hidup tidak tersimpan dan membusuk terlalu lama dalam hatimu.
Karena dibalik sebuah tangisan selalu tersimpan banyak makna di dalamnya.

Ada Bayangan Cinta Dochi

Cerita KauMuda Bangkit G. Saputra
Editor Ragil Koentjorodjati
cerpen remaja
Ilustrasi dari blogspot.com
Denting bel berbunyi nyaring, semua siswa serentak masuk ke dalam kelas. Rani seorang siswa cantik yang merupakan bidadari terindah di kelas atau bahkan di sekolah merasa bosan karena setiap melirik ke samping kanan belakang tempat duduknya pria itu selalu menatapnya dengan senyuman. Tak pernah berubah dari hari ke hari.
Pria itu bernama Dochi. Seorang siswa yang sama sekali tidak menunjukkan aura ketampanan. Sangat kurang memperhatikan penampilan. Dia selalu membawa buku ke mana-mana, dengan mengenakan kacamata tebal menjadi ciri khasnya sehari-hari. Bagi Rani tak ada yang menarik dalam diri Dochi. Memang tak pantas jika membayangkan Dochi bersanding dengan Rani. Membayangkannya saja sudah tidak pantas, namun itulah yang selalu menghiasi benak Dochi. Perasaan yang tak dapat ia hindari, walau sesungguhnya ia ingin menghindarinya.
Pelajaran berhitung menjadi kegemaran Dochi sejak kecil, sangat mengasyikan jika melihat angka-angka itu bertaburan di pikirannya. Namun akhir-akhir ini berbeda, dia menjadi seorang penyamun yang gemar menulis kata-kata indah. Bidadari itulah yang menjadi objek inspirasinya. Dia tak berharap untuk mengatakan dan menyatakan perasaannya, sebab Dochi sudah nyaman dengan menjadi seorang pecinta di belakang layar. Begitu banyak syair dan puisinya tersusun rapi. Berjuta kata teruntai dengan indah, hanya teruntuk bidadari hatinya itu. Namun hingga kini keberanian itu belum menghampiri. Cintanya terpendam rapat bersama karya-karya indahnya.
Pagi itu kelas di awali dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Siswa dianjurkan satu persatu untuk maju ke depan kelas dan membacakan puisi karya sendiri. Kali ini tiba giliran Dochi, tak sulit untuknya. Tentu, karena dia punya begitu banyak puisi. Tinggal pilih salah satu yang terbaik saja. Dia membacakan puisi karyanya yang berjudul “Syair Separuh Malam”. Dochi membawakan dengan penuh penghayatan dan menunjukkan ekspresi yang begitu dalam. Tak sengaja hati Rani bergetar, entah kenapa dia merasa hidup dan memiliki peran dalam syair itu. Mata Dochi sempat memandangnya namun tak lama dia mengalihkannya. Namun cukup jelas bagi Rani, puisi itu tercipta untuknya.
Saat istirahat makan siang Rani sengaja menghampiri Dochi.
“Puisi kamu bagus, aku tak pernah menyangka dalam diri kamu bersemayam seorang seniman kata-kata,” puji Rani tersenyum manis.
Dochi merasa kaget, senang, dan tak pernah terpikirkan bahwa seorang Rani akan menghampirinya untuk memuji puisinya. Puisi yang memang bisa tercipta begitu dalam karena sosok yang ada di depannya saat ini.
“Oh.. i.. iya.. terima kasih Ran, puisi kamu juga bagus,” sambung Dochi. “Aku membuat puisi itu untuk…”
Belum habis Dochi berkata Rani sudah dipanggil oleh temannya. Rani pun berlalu tanpa tahu apa yang ingin Dochi katakan. Dochi memandangi Rani penuh cinta, setiap langkahnya tak luput dari pandangan Dochi. Seakan tak pernah hiraukan kenyataan, perasaan itu semakin besar dan berkembang. “Biarkan ini kunikmati, walau hanya mimpi. Kau akan tetap di hati,” ucap Dochi dalam hati.
Malam itu hujan deras sekali. Angin berhembus tak karuan semakin membuat hati tak tenang. Dochi yang tinggal hanya dengan ibunya merasa was-was. Terang saja dia merasa begitu, karena kondisi rumahnya yang memprihatinkan. Sebuah gubuk dari bambu yang sudah reot. Redup, karena hanya ada lilin kecil sebagai satu-satunya penerangan. Tidak masalah untuk Dochi karena dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Dia dan ibunya sudah bersyukur masih bisa makan sehari-hari. Hujan semakin deras dengan diselingi halilintar yang mulai memekikkan. Sembari belajar dia memperhatikan sekitar. Bagian yang bocor sudah ditadah dengan ember. Namun dia melihat dinding bambunya bergoyang. “Tuhan, lindungi aku dan ibuku. Kami lemah tanpamu. Engkau maha pengatur segalanya dan maha berkehendak,” doa Dochi.
Dochi semakin tak tenang untuk belajar. Angin kencang dan derasnya hujan begitu gaduh. Dia menutup buku dan menghampiri ibunya di kamar. Saat membuka pintu dia terkejut, ibunya tergeletak lemah di lantainya yang berupa tanah. Sontak Dochi segera membopong ibunya ke tempat tidur.
“Ibu.. ibu kenapa? Bangun ibu..,” ujar Dochi panik.
Ibunya tak bergerak, semakin membuat Dochi khawatir. Mata Dochi berair, ibu Dochi memang sudah lama sakit. Penyakit asmanya tak kunjung sembuh. Karena hanya diobati seadanya, perekonomian keluarganya sejak dulu tak bisa berbicara banyak. Kali ini tak pernah terbayangkan Dochi. Dadanya semakin sesak, ia mengambil minyak angin. Dioleskan di jari lalu dia dekatkan dengan hidung ibunya. Dochi berharap ibunya hanya pingsan dan akan segera sadar. Beberapa saat setelah itu ibu Dochi bergerak. Matanya perlahan terbuka. Dochi merasa begitu lega.
“Ibu.. bangun ibu.. Dochi takut. Ibu tidak apa-apa kan?” ucap Dochi sesenggukan. Ibunya tersenyum kecil, lalu berbicara dengan terbata.
“Dochi, ibu tak apa. Terima kasih..”
Dochi memeluk erat ibunya, air matanya mengucur deras. Dia begitu takut jikalau ibunya pergi.
“Dochi.. kamu baik-baik ya, Ibu sudah tak kuat. Hapus air mata kamu. Senyum kamu bahagia ibu,” bisik Ibu lirih.
“Tidak ibu.. Ibu pasti kuat, Dochi ingin sama-sama dengan Ibu. Dochi belum bahagiakan ibu. Dochi ingin..”
Mata ibu terpejam perlahan, tubuhnya melemah.
“Ibu.. Ibu… bangun ibu.. Ibu….” Dochi berusaha membangunkan ibunya. Upayanya tak berhasil, takdir sudah tertulis, ibu Dochi telah pergi. Satu-satunya orang tercinta yang Dochi miliki. Kasih sayang terbesar yang dia dapatkan selama ini. Ingin sekali ia membalasnya dengan mewujudkan mimpi dan cita-citanya.
Hingga kini Dochi tak pernah berhenti untuk tekun dan gigih dalam belajar. Semua dilakukan semata karena ingin menggapai mulianya keinginan Dochi. Membuat ibunya hidup berkecukupan dan bahagia. Kini semua berlalu, dia harus menghadapi hidup ini sebatang kara. Ibunya pergi dengan senyuman bangga, seakan berbisik “Aku bahagia nak, kau permata terindahku. Jangan putus asa, gapai inginmu. Ibu selalu di sisimu, setiap saat dan setiap waktu.”
Esok hari di kelas, seorang siswa memberitakan bahwa ibu Dochi telah meninggal dunia. Sejenak terasa hening, seisi kelas menunduk dan mendoakan beliau. Rani merasa iba, dia seakan merasakan kepahitan Dochi. Teman Dochi bercerita padanya bahwa Dochi sejak kecil hidup hanya dengan Ibunya. Ayahnya meninggal karena kecelakaan. Itulah yang membuat Dochi giat dalam belajar. Menjadi kurang pergaulan karena saking fokusnya pada bidang akademik. Dia berkeyakinan bahwa jika ingin hidup sukses harus jadi orang pintar.
Sepulang sekolah Rani mengunjungi rumah Dochi. Teman-temannya tidak ikut karena saat itu hujan begitu deras, sedangkan rumah Dochi terletak di pelosok desa. Namun Rani tak menghiraukan itu. Dia sudah bertekad ingin mengunjungi Dochi. Dengan petunjuk salah satu teman sekelasnya, akhirnya Rani sampai di rumah Dochi. Pintu diketuknya berulang kali, namun tak ada jawaban. Tak sengaja pintu terdorong olehnya. Rumah ini terlihat sangat sepi, berdebu, dan begitu sederhana karena tak ada perabot semacam kursi tamu, meja, dan sejenisnya. Dilihatnya dalam bilik kamar sesosok pemuda sedang duduk menunduk tak bergerak. Didekatinya perlahan, semakin dekat ia menuju sosok itu.
“Dochi..,” panggil Rani sembari menyentuh pundaknya. Dochi menengok, matanya sembab, berkantung karena kurang tidur. Rani memandanginya begitu iba. Dochi tak berkata apapun. Pandangannya kosong lalu menunduk kembali dan memandangi ranjang ibunya.
Rani mengerti apa yang dirasakan Dochi. Sewajarnya begitu, karena kepergian ibunya adalah sebuah pukulan yang begitu berat untuk seorang Dochi. Sesaat pandangan Rani tertuju pada lembar-lembar kertas yang tertempel di dinding kamar reot itu. Dihampirinya salah satu lembaran, dia mengenal tulisan itu. Puisi Dochi waktu itu di kelas. “Syair Separuh Malam”. Jelas terbaca syair itu:
Kudengar samar nyanyian malam
Mengalun syahdu tenangkan kalbu
Semenjak awal kala perkenalan
Terbesit rasa yang tak menentu

Malam ini, bulan dan bintang berteman gerimis
Menyuguhkan irama senandung nan ritmis

Semua tentangku tak senada inginmu
Kecewa dan sedih tak henti mengiringi
Kau dengarkan hati terus bernyanyi
Bersama lagu nuansa egois
Tentang janji yang tak berujung manis

Kupersembahkan syair separuh malam
Pada sucinya hati wahai adinda
Kutanyakan pada Pemilik Alam
Adakah saat untuk berjumpa

Mengulas rasa, cinta, dan cita
Membendung rindu, kesah, dan pilu ..

Hanya dengan syair separuh malam
Ku mencintamu dalam-dalam ..

Di bawahnya ada lukisan sketsa gambaran tangan Dochi. Gambar itu tak lain adalah Rani. Sesosok gadis sedang melangkah sembari menengok ke belakang dengan senyum manis. Begitulah Dochi menuangkan perasaannya pada Rani. Tak hanya dengan puisi dan lukisan sederhana. Di sisi lain dinding tergantung serangkaian bunga. Teruntai indah membentuk sebuah nama. RANI.
Rani kagum dan tak menyangka bahwa Dochi begitu mendambanya. Perasaan yang sudah terasa saat di sekolah. Rani merasa sangat berdosa jika menghindari kata hatinya. Secara tidak sadar dia juga menyayangi dan mengkhawatirkan Dochi. Dipeluknya Dochi dari belakang. Penuh cinta dan sejenak menjadi penghapus pilu Dochi. Serasa tak percaya Dochi merasakan hangatnya pelukan Rani.
“Ran.. Rani.. kamu. Aku..,” ujar Dochi terbata.
“Jangan sedih lagi Dochi.. Aku di sini untuk kamu.” sahut Rani. Inikah rencana indah Tuhan? Inikah jawaban dari penantian pajang? Tuhan selalu menyelipkan pelangi setelah hujan badai. Dukanya kini sedikit terbagi. Karena hari-harinya dilalui bersama Rani, bidadari yang selalu diimpikannya.
Tiba saatnya hari kelulusan. Dochi menjadi siswa dengan nilai terbaik. Seluruh warga sekolah bangga dengan prestasinya. Riuh tepuk tangan menghiasi hari itu. Rani memberinya kecupan tanda bangga. Dengan wajah sedikit memerah Dochi merasa senang. Dia menatap langit, ada bayangan ibunya tersenyum manis. Terima kasih Tuhan, jaga ibuku agar selalu didekatMu.
Dochi mendapatkan beasiswa dan berkesempatan melanjutkan ke perguruan tinggi negeri terbaik di kotanya. Namun dia harus terpisah dengan Rani. Sebab orang tua Rani berkehendak ingin menyekolahkan putri tunggalnya itu di luar negeri. Hari itu sekaligus menjadi hari perpisahan Dochi dan Rani. Seakan tak mau berpisah, Rani memeluk erat kekasihnya itu. Dochi menggenggam jemari Rani. Diberikannya sebuah kotak kaca yang berisi patung romeo dan juliet. Kotak itu bila dikocok akan terlihat seperti ada hujan salju di dalamnya. Pemberian sederhana yang akan selalu dikenang Rani.
Sebelum berpisah Dochi meyakinkan Rani, “Percayalah pada kekuatan dan keindahan cinta, kita pasti bersama lagi,” ucap Dochi sembari menatap Rani. Dengan lirih Rani mengiyakannya. Dia tak sanggup menahan kepedihannya. Namun ini kenyataannya. Suratan yang harus dihadapi oleh pasangan yang saling mencinta itu. Rani tak bisa merelakan untuk berpisah.
Esok pagi Rani dan keluarga sudah harus bertolak ke bandara. Karena takut terlambat Ayah Rani menyuruh sopirnya supaya lebih kencang melajukan mobilnya. Rani masih sedih sembari memandangi kotak kaca romeo dan juliet. Tidak sadar dia tertidur pulas dengan memeluk kotak itu.
Braak! Mobil Rani menabrak seseorang.
“Astaga, sudah Pak.. lari saja. Jalan sepi, kita sudah tak punya waktu.” kata Ayah Rani.
“Ttt.. tapi Pak..,” sahut sopir panik. Ayah Rani tak peduli dan menegaskan untuk segera beranjak pergi. Jam keberangkatan pesawat sudah dekat.
Sesampai di bandara Rani terbangun dari tidurnya. Segera menuju pesawat dan berangkat ke Prancis. Dalam perjalanan Rani selalu memikirkan Dochi. Ingin sekali menghubunginya lewat telepon, namun tak memungkinkan karena ia sedang di dalam pesawat. Dia lupa memberi kabar bahwa dia sudah berangkat.
“Pasti Dochi menunggu-nunggu kabar dariku, maafkan aku Dochi,” gumam Rani.
Malam yang indah, Suasana Paris sungguh romantis. Rani menunggu-nunggu telepon dari Dochi. Sejak siang tadi Dochi tak bisa dihubungi. Situasi yang tidak biasa sebelumnya. Salju turun perlahan, terlihat sangat indah. Sebuah mahakarya dari Tuhan. Tubuh Rani sedikit menggigil namun dia merasa hangat karena membayangkan satu nama, Dochi.
Tiba-tiba ada sosok pemuda yang memeluk Rani dari belakang. Rani terpejam dan merasakan aroma tubuh yang tak asing baginya. Pemuda itu berbisik,“Jangan sedih lagi Rani.. Aku disini untuk kamu,” sembari mendekap erat Rani.
Pyaarrr…!! Kotak kaca itu terlepas dari genggaman Rani, jatuh dan pecah. Dochi melepaskan pelukannya perlahan. Rani sangat bahagia, matanya berkaca-kaca karena kehadiran Dochi. Tubuh Dochi memudar, menjadi ringan seakan ingin melayang. Rani tak percaya apa yang dilihatnya.
“Dochi.. kamu mau k emana? Jangan tinggalin aku..,” bujuk Rani penuh harap.
“Aku cinta kamu Rani.. akan selalu hidup di hati kamu,” suara Dochi menggema. Air mata Rani tumpah seiring berlalunya bayangan itu. Bayangan cinta Dochi.
Di dalam kamarnya Rani semakin bingung, ada apa sebenarnya. Nyatakah tadi yang dialaminya. Terbesit dalam pikirnya, dia segera menghubungi teman sekolahnya yang dekat dengan Dochi.
“Halo Fadli, ini aku Rani. Kamu tahu di mana Dochi?” tanya Rani penuh rasa ingin tahu.
“Tut.. tut.. tut..,” panggilan tiba-tiba terputus. Rani segera menelpon ulang. Sebelum menekan tombol panggil, ada pesan singkat masuk: Aku tak sanggup mengatakannya, Dochi telah tiada. Saat ini aku di depan makamnya. Maafkan aku Rani.

Kepada Cintaku

Puisi Rere ‘Loreinetta
Sekiranya engkau ada disisiku
Ku ingin berbagi seteguk air
Dalam gelas-gelas hati
Yang tak mampu kuminum sendiri

Air yang akan kubagi denganmu
Bukanlah air mata
Dari jurang hati yang patah
Juga bukan dari lembah kefaqiran yang mendera
Serta bukan pula air mata dari tebing cadas kekecewaan

Bukanlah arak
Yang kerap menjadi teman pesta pora
Yang kerap menjadi teman kala frustasi

Air yang kutawarkan ini
Adalah air dari telaga kerinduan
Pada savana yang kini tersisa abu
Setelah api dari nafs membakarnya

Air yang terselip di celah tungkai dedaun
Kondensasi kabut dingin dan bara cinta

Bila engkau mau
Datanglah kemari
Di keping hatiku
Di ujung pelangi aku menantimu

Kemuning

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

Aku ingin bercerita tentang gadis desa bermata air dan berambut api. Gadis itu bernama Kemuning. Gadis sekokoh beringin hanya saja daun-daunnya menguning.

Ilustrasi dari imgres
Saat musim laron beterbangan, ia tertawa riang. Itu petanda satu minggu ia tidak akan kesulitan mencari makan. Peyek laron yang gurih dari laron yang malang. Ia tidak merasa perlu turut bersedih sebab ia pun satu dari berjuta laron itu. Lahir, menatap api dan lalu mati. Ia tidak merasa perlu cemburu pada kunang-kunang. Sekalipun indah dan bercahaya, kunang-kunang tidak memberinya daya. Baginya, kunang-kunang tidak lebih dari jiwa-jiwa kesepian yang mencoba menerangi dirinya sendiri. Kasihan. Buat apa hidup jika hanya menjadi fatamorgana, batinnya.

Ia hanya paham bahasa kesunyian. Hidup dan tumbuh di tanah tanpa tuan. Bagi kami, ia adalah mimpi yang tak terjangkau. Ia cantik, tapi tak lagi bunga desa sebab ia adalah Kemuning, gadis bermata air dan berambut api. Aku beritahu, engkau akan teduh bila di dekatnya, tapi akan terbakar jika mencintainya. Suatu saat engkau harus mengenalinya.

Akhir Oktober 2011