Arsip Tag: Asia

Angin Daun Pisang Angin Gubuk Rumput

Chinese poet Li Bai from the Tang dynasty, in ...
Chinese poet Li Bai from the Tang dynasty, in a 13th century depiction by Liang Kai. (Photo credit: Wikipedia)

Puisi John Kuan

|| Angin Daun Pisang ||

 

Kau berkata: Biar di Kyoto, dengar wiwik

menjerit. Kurindu Kyoto. Aku bilang: Biar

di Daik, lihat ombak merajuk. Kurindu Daik.

Berkasut jepang aku injak empat musim

dan kau, lewat setahun lagi ——— tangan

memegang caping, kaki bersandal jerami.

Kau bilang: 行く春や鳥啼き魚の目は涙

yuku haru ya tori naki uo no me wa namida

berlalu musim semi, mata ikan sembab,

burung berkicau Blues. Sebab itu kita tahu

jalan hidup amat sempit, musim bunga

amat pendek. Begitu lengser musim salju

sebaiknya kau buka bilik hatimu, jajakan

riang bunga. Jelas itu sehamparan hening

bagaimana kau bisa dengar suara tonggeret

menyusup ke balik batu? Lalu bagaimana

pula di antara nasi dan asmara, induk kucing

jadi kurus? Kau berkata: Laut dah gelap,

suara panggilan camar, agak memutih.

Aku melihat kadang Selat Berhala kadang

Selat Malaka, laut kampungku pelan-pelan

gelap, kunang-kunang berkedip di kelam

bakau, bagai berjalan di bawah pijar bintang

negeri jauh. Kau berkata: Seladang kapas

laksana bulan telah merekah bunga

Aku bilang: Sekolam cahaya bulan, bagai

ikan perak, menggelepar sisik-sisik tubuhnya.

Di lubuk botan/ seekor lebah miring/ mundur

keluar. Ah, bukan main sedap, kau sedang

di dalam dunia rasa membuat filem iklan

tujuh belas detik tujuh belas silabel, bukan?

Di bawah pohon pinus bertanya katak, ekor

angin telah kacir ke mana: Dia satu suara,

ping pong, lompat ke dalam perigi tua,

daun pisang di permukaan air, suara serpih

daun pisang koyak, perlahan bergoyang

 

|| Angin Gubuk Rumput ||

 

Telah lebih sepuluh musim gugur menginap

di dalam puisimu, Mister Du. Kertas serbuk

emas di dalam angin barat memantul burung

dan tangga giok. Merah padam api peperangan

telah dingin abu. Gemeretak roda kereta juga

barisan prajurit terbangun di dalam sehamparan

panorama huruf-huruf kuning krisan. Chang’an,

sebuah gelas anggur, tidak bisa kau genggam

terlalu erat. Tamu datang, kau utang arak

Musim semi datang, pergi tonton bunga

Harum padi tentu telah habis dipatuk bayan

Setumpuk beras perang, aku curiga sangat

erat terkait dengan sintaksis terpelintir itu

selalu rampung dengan api kecil, berulang kali

diaduk, dikukus. Bukankah aku telah melihat

kau tuang sana tuang sini, meniup sambil nyanyi

karya baru selesai kau tanak, seolah seluruh

dunia hanya mendengar kau Mister Du seorang.

Namun, puisi bagaimana bisa cuma demi nama

ditulis. Saat memancing masih terkenang

Mister Tao Mister Xie, dan mengenai seafood

di mata kail itu, mana tahu apa epik apa liris?

Malam ini menumpang di dalam puisimu lagi

Mister Du, sebaris krisan di depan gubukmu

kuning hingga bibir sungai. Hanya teringat

seperti kemarin saja, aku melihat dia pulang

kantor, demi kupu-kupu sepanjang jalan

mengadaikan jubahnya. Sebuah kotak obat

kosong tercenung di pojok gubuk. Sakit tentu

masih punya, namun gelisah justru berkurang.

Tahu-tahu yang datang mengetuk pintu mimpi

adalah gerombolan ini ——— Li Bai telah mati,

Wei Ba hilang. Itu terjadi di malam bintang

padat merayap seperti kemacetan di pusat kota.

Mendengar angin musim gugur mengepak

atap gubuk, Mister Du buka mulut: Mau main

catur? Ke bandar besar di atas papan catur

adu langkah sambil petik bunga liar di luar bandar

Lianju Hujan Musim Gugur

Puisi John Kuan

———  bersama Meng Jiao  dan Han Yu

 

Sepuluh ribu jerit pohon bersahut,

uap seratus sungai bergumul.   – Meng Jiao

 

Pekarangan bergolak pohon renggang merapat,

jendela menjelma semata jernih dan rukun.   – Han Yu

 

Seribu dua ratus tahun dan seguyur hujan berlalu,

satu baris kuning trengguli menyusup ke kolam waktu.

Walau deras belum habis tumpah ke mulut sungai,

terbang terapung bahkan naik menusuk awan    – Meng Jiao

 

Tuntun kenangan hingga ke gunung hampa,

dengar air menggelepar lewat pasir dan batu.   – Han Yu

 

Jujur di sini hujan tanpa musim gugur, teh celup,

Edith Piaf mendayu, seekor kucing kuyup di bawah mobil.

Atap miring menitis hujan sehelai sutera putih,

pintu air meluap sungai lebar dan jernih.    – Meng Jiao

 

Liur manis genangi embun dan hujan padi wangi,

perlahan lembabkan sebatang sudamala gundul berisi.   – Han Yu

 

Daun dipetik jatuh sehelai E Minor. Langit sebuah

microwave: hangatkan beberapa ruas mimpi dan tulang rematik.

Ombang-ambing di dasar ngarai gema bertengkar,

di dalam gigil angin ringkuk dibasuh sungai.   – Meng Jiao

 

Sepoi datang mengelus di depan kelambu,

kembali tinggi hinggap di langit luar.   – Han Yu

 

Ditempias Hujan Bulan Juni: SDD, tampak mirip

Du Mu. Agak ringan, mungkin tidak suka ngebir.

Betapa sempit liang belalang gelap dan sesak,

Tonggeret dari ranting ke ranting melumur muntahan jerit.   – Meng Jiao

 

Pagar mapel dan krisan berhamburan wangi bunga baru,

anggrek di sisi setapak menyepuh kelabu senja.   – Han Yu

 

Tarik keluar sepotong sajak dari kulkas waktu. Keras dingin

: kata sendok posmo. Haagen-Daz rasa sirup mapel bisa bersaksi.

Sekeping cermin bumi pantul pagi pantul petang,

kolam gemintang ternyata apung berlari.   – Meng Jiao

 

Decak kagum hanya satu bunyi lumrah,

tertuang penuh tenggorok sebaris seruling bambu.   – Han Yu

 

Cempaka Amir Hamzah tumbuh di dalam suhu kamar.

Aduhai bunga pelipur lara/ Terlebih pula duduk di sanggul.

Artikel Terkait:

Puisi Sejoli Sunyi

Puisi Sebuah Anti Travelogue

Puisi Bukan Sebuah Anti-Travelouge

Perawi Rempah

Puisi Ahmad Yulden Erwin

1

 

Minggu  pagi  menggigil  di sayap  burung  undan, seperti ratusan

minggu pagi  lainnya, menyusun  sesatu  kenangan. Kau  mencari

beberapa  onggok pulau  di Timur dengan wangi  cengkih  tertiup

angin  muson, dan kelasi itu  berteriak,  ‘Surga telah  ditemukan!’

 

Ketika itu  di anjungan, kau  nampak berdiri menatap  selengkung

ombak biru, setapak  jejak  sepatu mengutuk layar  kapalmu; kini

kaubayangkan putri duyung  berbau  pala  di  ranjang  kabut pagi,

kaubayangkan  lidah jahe  menjilat  ususmu.  Saat itu angin mati,

 

separuh  kelasi  lapar  dihajar kudis.  ‘Bunuh saja aku!’ gerutumu.

Lalu kaukenang  janjimu, atau  mimpi  buruk itu:  berkarung  lada

dan kapulaga bagi tumbung gurita raksasa saat  kembali, delapan

tentakelnya membelit  sepeti  koin  emas, tentu  saja bajingan itu

 

keranjingan menuntut  balas andai tiada kautebus  amis mulutnya

dengan  kayu  manis, plus  bebiji lada, dari ladang rahasia. Maka,

demi berkah Yesua, kauburu rempah sepanjang bandar antik dan

teluk  Afrika:  ‘Meski  badai  mendampar  kami ke tengah pasifik.’

 

‘Surga  telah  dihamparkan!’  kelasi itu  kembali berteriak, ombak

mencium wangi  tangkai  cengkih  di puting  pelangi. Kau terjaga.

Bagai tak percaya  kaugosok  kedua  matamu  di bawah alis pagi:

Yesua telah berbaring nudis di pantai sunyi. ‘Haleluyah!’ Alangkah

 

bahagia: kau tengah menapak di pasir pantainya. Tentulah wajar

bila kaupungut  bebulir hitam  terserak di sana, surga akan selalu

berlimpah. Pantaslah  tamak-tamak  kauisi palka kapalmu dengan

bebiji rempah. Beginilah  hikayat  Nusa Permata sebelum dijarah.

 

 

2

 

Sesayat mimpi  bersama  irisan daging kering, kutu dan belatung

pasti  lebih  dulu menyantapnya, begitu  sarapan bagi para kelasi

hingga  makan siang  dan makan malam mereka; sesayat mimpi

demi  setimbun  rempah  eksotis  di pulau tropika. Mereka bukan

 

awak perompak  Selat  Malaka, mereka  lanun  penggila  misteri,

juru selamat  kaum kafir dari ketel neraka. Tiada gentar mereka,

sebab wahyu  telah  mekar di ladang nyali  musim  dingin Eropa,

sebab tukak dihangati lada, sebab tafsir tertera dalam sabdanya:

 

Setiap sebiji rempah kaurampas di tanah ini akan menjelma doa,

sebab  misi  sempurna, resah  tiada, kaulah wakil kerajaan Bapa.

Di  pantai itu  kau  berdoa: ‘Undanglah  kami, O Yesua, mencicipi

lezatnya gurita,  beraroma rempah, semeja-hidang Ratu Sheba.’

 

Fakta cogito akhirnya, bukanlah Yesua  undang kalian, melainkan

diseret  tentara  Sultan:  ‘Kalian  babi bulai pencuri  pala petani!’

Randai beriring  mereka  digiring  ke halaman istana; menanting

aneka  piring,  panci,  kuali dan peralatan makan lainnya –– juga

 

kompas  juru  peta,  juga  Kidung  Cinta Salomo  penakluk dunia:

kuasa gaharu  di hidung  surga.  ‘Kenapa Tuan Nakhoda  curi  itu

bebiji  pala?’  murka  Sultan Boalief.  ‘Sebab di sini tanah  Yesua,

segala bole  dipungut  seturut  kami suka,’ singut Tuan  Nakhoda,

 

sejenak  kecut,  ditatapnya  merah  jambul  kasuari di pici Sultan

dandan Persia.  ‘Di Nusa Tarnate  orang  bole ambil segala suka,

andailah  bisa Tuan  ganti  kami  punya!’  Ciutlah  nyali  nakhoda,

bekal segala habis di Sunda Kelapa, hanya jubah lusuh dan zirah

 

besi  miliknya semata. Cemas oleh gagal akan misinya, pias akan

cekik delapan  tentakel gurita, ia letakkan sarung  belati dan kitab

suci di duli kaki  Sultan Tarnate,  ‘Habis  kini  harta  tersisa.’ Haru

sebab siasah begini, setengah tertawa, Sultan berbagi jatah pala.

 

 

3

 

Mereka  membangun  benteng  kecil  di  tengah  padang  ilalang,

sebelum  kaum kafir itu  mengayunkan  pedang,  sebelum  tarian

bumbung hantu dikepung tabun perang. Cuaca melesit langit biru

jadi kelabu, disorot gahar sebiji mata kucing lapar. Dagumu naik,

 

sedikit bergetar, lekas  meracau kalimat jemu, ‘Salju tak laik ada

di lekang pulau tropika.’  Kecuali  batu dan  kepulan debu, musim

kemarau menyulut pasukan Tidore  membakar  benteng kecilmu,

melampuskan segenap harapmu; begitulah kauputuskan  segera

 

menikahi gadis  coklat itu, pentil  sepasang teteknya berbau pala.

Jadi, diam-diam  kautakik   tradisi  membenci, melawan nasibmu

sembari berburu babi, begitu  jelas taktik  paling minim, sebelum

fajar kaukirim sepucuk surat itu, sebelum  datang  penjarah baru

 

melocok  senapan  dengan mesiu; terayun  dari  moncong buaya

ke taring singa, begini nasibmu terbantun dikutuk aroma rempah

serupa kemaruk busuk mulut gurita. Tiada Yesua di pantai surga,

tiada Bapa, kecuali  sepasang  beruk  keling memanjat  sebatang

 

pohon Cockyane tumbuh subur di ranah mimpimu, mereka kawin

dan berpinak di sana, merekalah moyang segala penjarah terkeji

di  muka  bumi, pelahir  jadah-jadah  sinting  sejarah, penghasut

jenial cacing-cacing  pita  penafsir vagina-kedamaian paling suci;

 

‘Jadi begini  saat  paling  tepat  buat pembalasan, bukan?’ Begitu

kaucatat dalam  suratmu  ke Lisbon, usai  perjanjian  paling oon

membelah bumi semata milik dua kerajaan –– seekor paus putih

resmi melontarkan restu  dari moncongnya menganga kelaparan

 

melahap  segala  plankton, ubur-ubur,  plus  ganggang beracun;

teritip  di lambung kapalmu makin mengganas, kau tak berharap

bisa kembali, jadi  kauputuskan  wajib menjarah dan membantai

sepulau  penduduk  surga ini, meski Yesua mesti disalib dua kali.

 

perawi rempah

Catatan:

1. Cogito: aku berpikir; prinsip filsafat Descartes: Cogito Ergo Sum.

2. Bole: boleh.

3. Oon: dungu.

4. Gahar: garang.