Arsip Tag: bangau putih

Mengantar Wang Wei Pulang

Puisi John Kuan

Buat Ahmad Yulden Erwin

gambar diunduh dari lgt560111.blog.163.com
gambar diunduh dari lgt560111.blog.163.com

Sedahan burung gunung tegak ngantuk, kaget
terbangun oleh risik bulan origami kertas puisiku
Suara kepak sayap menghardik bubar seluruh daun
Gunung hampa. Tiadakah orang? Hanya kau
tangan di tepi sungai menyentuh lumut di atas batu

Ah! Sudah begini tua. Selembah musim semi, bunga
sesuai waktu lalu gugur. Tarikh Tianpo 10 tahun?
12 tahun? 15 tahun? Hidup boleh, mati boleh, gontai boleh
santai boleh bagai sekuntum teratai di kolam belakang
dan setiap petang, dalam luar tubuh selapis hijau kelabu

hanya tinggal lekuk batu tinta belum kering
masih tergenang penuh keangkuhan hitam
sebab itu, agak santai, agak malas, tongkat ranting
di tangan, keluar tiga li ke arah tepi air melangkah

.

Tegak, mendongak, tengok gunung, tengok awan
melintas, bergeser, menyebar dari keningmu yang sunyi
di saat begini mendadak terpetik sepatah puisi indah
lalu hilang ditiup rambut kusut baru kau rapikan
Beberapa saat lalu, ada orang datang menyapa:

Puisimu yang mana paling ada renungan zen?
Kau menjawab santai: Bukankah bangau putih itu
diam-diam terbang keluar baris ketiga Genangan
Hujan Wangchuan. Habis ucap, selengan baju bunga alfalfa
menyusuri batu anak tangga, terguncang jatuh

Musim gugur, dengan kurus, dengan ikut
hangat senja, menyusup ke dalam sepi rumahmu
hari disiram hujan gunung, bisa semadi, bisa edit puisi
cicip sedikit hambar Zhuangzi, atau lewat jendela kuyup
menonton asap liar di kaki gunung kepang rambut

Kadang juga teringat An Lushan dan segala rutinitas
Dinasti Tang, atau berdiri, atau duduk, atau lempar pena
bangkit, hingga matahari di ujung dermaga terbenam
dimuat sampan nelayan ke seberang. Pada hening kolam pagi
melihat diri telah sebatang bambu, ditiup angin

setiap ruas bergoyang, setiap ruas tampak kukuh

.

Antar kau, di setapak Hujan Wangchuan, memasuki
kosong ruasmu yang terakhir kau sisakan buatku

Iklan

Tukang Cuci, 1932

Puisi John Kuan

1932
gambar diunduh dari laman fesbuk John Kuan

Membantu sepotong kanal potret,
membiarkan airnya berpijar keluar
1932, berpijar keluar air kotor sejarah.
Seandainya kau ikut airnya berjalan
ke bawah, mungkin akan bertemu
kincir angin, ampas tebu, mesin giling,
pabrik gula, atau seekor bangau putih
simpan sayap, tutup mata, berdiri satu kaki
istirahat, di atas sebongkah batu bertulis
seperti nisan, seperti prasasti: Phoa Beng Gam

Ada begitu banyak perlu ditangkap mata kamera
Derap delman lewat, deru oto lewat, gemeretak
roda gerobak, lonceng sepeda. Di dalam gelak
tawa tukang cuci ada busa sabun, keringat basi,
aroma kopi. Di tangan mereka setiap debu
kerah jaman dibilas putih kembali, begitu cepat
seolah tidak bergerak, ketika kau buru-buru
menoleh lihat air merembes keluar 1648
keruh, bau, mampat di dalam bingkai ingatan.

Membantu sepotong kanal potret,
membiarkan dirimu menyusuri cahaya pagi
keluar, tidak lama, kau akan melihat panggung itu
semua topeng dan dekorasi telah dilepas,
yang terlibat ( sutradara tiga, empat orang,
tata lampu satu orang, penulis naskah tidak jelas )
siap siaga, setiap saat bisa dinyalakan.
Bau hangus berputar di dalam lingkaran tahun
tiang-tiang jati gosong, pemain utama sesat
di dalam sebuah notulen rapat: Ni Hoe Kong

Ada begitu banyak perlu ditangkap mata kamera.
Bertugas monolog berdiri di depan, seperti membaca
sebuah puisi; mimik, hematku, secukupnya saja.
Musik latar, diatur sesuai kecepatan memori
Angin meniup turun beberapa derajat, mengerutkan
permukaan kanal, sepenggal ekor dialog melayang
keluar: seluruh penghuni pecinan telah dibantai!
Dari sebuah bingkai jendela 1740, cahaya lilin
berkedip lewat 1998, masuk menerangi
lubang telinga lembab berjamur