Arsip Tag: buku buku

Pengumuman Lomba Cerpen RetakanKata 2013

Kabar Budaya – RetakanKata

jawara menulis
Ilustrasi dari apegejadifilewordpressdotcom

Anda tentu sependapat bahwa lebih banyak orang yang meyakini menulis cerpen itu bukan suatu pekerjaan yang mudah. Banyak tip-tip ditulis di website, blog maupun buku-buku untuk memudahkan penulisan menunjukkan bahwa ada suatu tingkat kesulitan yang coba dipecahkan para pengarang. Harapannya, tentu para penulis tip menginginkan lebih banyak orang memiliki kemampuan menulis, tidak hanya cerpen namun juga jenis karangan yang lain.

Maka melimpahnya peserta lomba menulis cerpen RetakanKata 2013 patut disyukuri. Apresiasi luar biasa perlu disampaikan kepada para peserta yang telah berupaya dengan segenap kemampuan untuk menghasilkan karya-karya terbaik mereka, terutama pada para sahabat buruh migran yang telah mencuri waktu untuk menulis di tengah-tengah kesibukan mereka. Meski tidak semua dapat menjadi pemenang lomba tahun ini, namun ada harapan besar di kemudian hari para penulis ini akan menjadi penulis besar.

Dari dua kategori yang dilombakan tahun ini, sayangnya hanya sedikit yang mengikuti kategori B (buruh migran). Tercatat hanya ada empat naskah untuk kategori B. Hal ini bukan berarti tidak ada peserta dari buruh migran sebab para sahabat buruh migran lebih banyak mengikuti lomba pada kategori A (umum). Untuk itu, kedua kategori dilebur menjadi satu dan jumlah pemenang tahun ini diperbanyak menjadi 20 pemenang lomba dari 504 naskah cerpen yang masuk.

Menimbang pada dua kategori yang digabung menjadi satu, maka hadiah yang diberikan kepada para pemenang lomba adalah sebagai berikut.

  • Juara I, cerpen berjudul Jendela-jendela Aba karya Oddie Frente, berhak mendapat uang tunai Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Juara II, cerpen berjudul Aedh Tak Lagi Mengharap Kain Sulaman Surga karya Victor Delvy Tutupary, berhak mendapat uang tunai Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Juara III, cerpen berjudul Angsa Salju karya Sulfiza Ariska, berhak mendapat uang tunai Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Cerpen Laki-laki dalam Kereta, Sesuatu yang Tak Menyenangkan dari Ibu Mertuaku dan Legiun Dajjal, berhak mendapat uang tunai masing-masing Rp 150.000 (seratus lima puluh ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 1 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.

Dan berikut ini adalah cerpen-cerpen terbaik yang berhak masuk dalam buku Antologi Cerpen RetakanKata 2013:

  1. Jendela-jendela Aba karya Oddie Frente
  2. Aedh Tak Lagi Mengharap Kain Sulaman Surga karya Victor Delvy Tutupary
  3. Angsa Salju karya Sulfiza Ariska
  4. Laki-laki dalam Kereta karya Diyah Hayu Rahmitasari
  5. Sesuatu yang Tak Menyenangkan dari Ibu Mertuaku karya Ardi Kresna Crenata
  6. Legiun Dajjal karya Royyan Julian
  7. Mak Parmi karya Danang Duror Alfajri
  8. Bayi yang Hilang karya Albert Wirya
  9. Savitri Jadi Sintren karya Imamul Muttaqin
  10. Anak Kocok karya M. Said Hudaini
  11. Garis Rosary karya Dhianita Kusuma Pertiwi
  12. Kirana karya Jenni Anggita
  13. Pulang karya Meilina Widyawati
  14. Musim Semi di Taman Ueno karya Yanti Hanalia Mantriani
  15. Esspreso Cinta karya Kadek Lestari Diah Paramitha
  16. Makan Malam Terakhir karya Lidya Pawestri Ayuningtyas
  17. Garis Waktu karya Wilibrodus Wonga
  18. Penari Tiang karya Marina Herlambang
  19. Hukum Pancung karya Upik Junianti
  20. Dubai di Ujung Hari karya Meylani Nurdiana

Catatan:

Seluruh cerpen pemenang lomba akan dibukukan dan masing-masing pemenang akan mendapatkan satu buku gratis Antologi Cerpen RetakanKata 2013. Pemenang yang ingin mendapatkan lebih dari satu buku, dapat melakukan pemesanan terlebih dahulu melalui email retakankata@gmail.com dengan mengganti  uang cetak dan penerbitan buku yang dipesan.

Para peserta dan pembaca yang ingin memesan buku Antologi Cerpen RetakanKata 2013 dapat mengirim pesanan melalui retakankata@gmail.com dengan melakukan pembayaran dimuka sebesar Rp 50.000 per buku belum termasuk ongkos kirim. Hubungi redaksi RetakanKata untuk keterangan lebih lanjut.

Hadiah berupa blog dan buku tidak dapat ditukar dengan uang dan blog tidak dapat dialihkan kepada pihak lain tanpa persetujuan dari RetakanKata. Lihat harga blog di Lapak RetakanKata.

Seluruh pemenang diwajibkan melakukan verifikasi dengan mengirim email yang dilampiri data diri berikut foto serta profile singkat penulis sebagai pelengkap penerbitan buku. Verifikasi dapat dilakukan sampai dengan akhir Agustus 2013. Jika lewat dari bulan Agustus pemenang belum melakukan verifikasi, maka kemenangannya dibatalkan dan hak-haknya dicabut.

Apabila para pembaca mengetahui adanya kecurangan, ketidakbenaran data dan naskah cerpen, diharapkan memberikan informasi kepada RetakanKata melalui retakankata@gmail.com sampai batas waktu akhir bulan Agustus.

Pengumuman ini juga dapat dibaca di BUKUONLINESTORE.COM sebagai bagian dari RetakanKata Network. Lihat juga blog-blog yang ada di bawah BukuOnlineStore:

Iklan

Buku, Musik dan Film

Gerundelan Binandar Dwi Setiawan

Ini hanya sekedar catatan. Cara saya untuk menghabiskan waktu, cara yang lumayan menyenangkan. Juga untuk mengingat periode-periode dalam waktu yang telah saya habiskan selama dua puluh tiga tahun ini, mengenai beberapa karya yang sedikit banyak menarik minat saya, menguras perhatian saya, dan atau bahkan menginspirasi saya, mengubah cara berpikir. Setidaknya ini bisa dikatakan sebagai rangkuman tentang tiga hal yang selama ini selalu memiliki peran dalam kehidupan saya, entah sebagai penyakit entah sebagai suplemen, entah sebagai dokter entah sebagai perawat, entah sebagai obat entah sebagai racun, atau apapun lainnya yang lebih luas dari penggambaran penggambaran d iatas itu,  yakni Buku, Musik, dan Film.

Yang pertama adalah tentang buku. Buku, dalam hemat pemikiran saya adalah cara paling brilian sekaligus paling dermawan dalam dunia kita untuk berbagi. Melalui sebuah buku, kita bukan hanya bisa berbagi segala apa yang telah kita tahu atau kita anggap sebagai pengetahuan, tetapi juga bisa berbagi tentang keresahan-keresahan, tentang apapun yang kita ingin bagi. Hal istimewanya, buku acap kali melakukan sesuatu lebih dari yang dia bisa, paham tidak maksud saya, sebagai contoh saja, jadi kadang-kadang ada seorang penulis yang mengandalkan beberapa kalimat sebagai penggambar sesuatu, sebenarnya yang digambarkan oleh penulis adalah rumah tapi bisa terjadi yang tertangkap oleh pemahaman pembaca justru apartemen, hotel, atau bahkan istana. Itulah kenapa kemudian pena menjadi lebih tajam dari pedang.

Saya pertama kali menamatkan sebuah buku, maksud saya menghabiskan dari halaman pertama sampai halaman terakhir, ketika usia kelas tiga atau kelas empat sekolah dasar, barangkali umur delapan atau sembilan tahun, buku itu sekitar tiga ratus sekian halaman. Waktu itu saya merasa biasa saja, baru di kemudian hari setelah agak remaja saya sadari kalau menamatkan buku setebal itu merupakan hal yang agak di luar kebiasaan anak-anak seumuran itu. Buku itu sudah saya lupa judulnya maupun pengarangnya, covernya berwarna hitam dengan gambar Ka’bah yang dikelilingi jutaan manusia, kertasnya sudah buram dengan prosentase gambar yang hanya sekitar lima persen dari keseluruhan halaman. Berkisah tentang perjalanan hidup dua puluh lima rasul yang wajib dipercayai. Saya tidak tahu karena apa, mungkin karena itu buku pertama yang saya selesai baca, jadi buku itu cukup berkesan, seperti peletak dasar pertama mengenai bagaimana baik itu, atau bagaimana buruk itu, bahkan tanpa mengurangi hormat saya sedikitpun, buku itu jauh lebih mengajari saya ketimbang kedua orang tua saya.

Setelah buku itu, saya mengalami rentang waktu yang relative panjang tanpa membaca buku, kecuali buku pelajaran tentunya. Oh ya, tentang buku pelajaran, di usia antara kelas empat sampai lulus sekolah dasar ada dua tema dalam pelajaran yang selalu saya suka, yakni fisika yang waktu itu masih menyatu  dalam bidang pelajaran  ilmu pengetahuan alam dan sejarah yang masuk ke dalam bidang pelajaran ilmu pengetahuan sosial. Untuk fisika, saya menyukai tema bunyi dan gelombang, atau tentang tata surya yang menjelaskan gambaran awal untuk saya mengenai matahari, planet, bulan, dan benda-benda langit  lainnya. Untuk sejarah, saya menyukai tentang tema kerajaan-kerajaan, era di mana Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, Jepang belum masuk ke wilayah bersebut Nusantara. Saya menyukai tentang bagaimana Raden Wijaya membangun Majapahit, bagaimana sebuah keris bisa membunuh tujuh keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung, favorit saya tentunya penggambaran bagaimana sebuah kerajaan telah runtuh tetapi kemudian salah seorang keturunan rajanya berhasil melarikan diri untuk membangun kerajaan yang baru. Waktu itu saya berkeyakinan bahwa sesungguhnya setiap kerajaan yang ada di Nusantara ini pasti sejatinya dipimpin oleh satu keturunan yang sama, keyakinan itu sampai sekarang belum berubah. Kedua hal itu, fisika dan sejarah, buku-bukunya selalu saya baca berulang-ulang, beberapa teman sekolah saya mengira saya seorang penghafal yang kuat , tapi yaa sebenarnya tidak, itu lebih karena saya menyukai dan karena memang saya baca berulang-ulang, jadi yaa mudah saja bagi saya mengingat materi-materinya.

Periode selanjutnya yakni usia sebelas sampai empat belas tahun ,saya juga tak banyak membaca. Beranjak ke usia lima belas saya mulai mengenal novel sebagai bacaan yang asyik. Saya bertemu dengan Sherlock Holmes, seorang tokoh rekaan fiktif Sir Arthur Conan Doyle, saya membaca semua novel Sherlock Holmes, kalau tidak salah hanya empat atau lima buah tapi kini mengembang menjadi begitu banyak dan tak pernah benar-benar Sir Arthur Conan Doyle yang mengarangnya. Ada satu prinsip Sherlock Holmes yang saya kagumi, yakni ketika setiap dugaan tak memiliki bukti kebenarannya, maka dugaan terakhir yang tersisa semustahil apapun itu, itulah kebenarannya. Melalui Sherlock Holmes saya juga belajar bahwa setiap manusia seharusnya berpikiran terbuka terhadap setiap kemungkinan.

Setelah Sherlock Holmes, saya tertarik dengan bacaan sastra, khususnya cerpen dan novel. Tetapi rupanya saya mengalami apa ya namanya, semacam kesalahan atau mungkin boleh dibilang ketidaktepatan dalam memilih sebuah karya. Saya katakan tidak tepat karena waktu itu saya sering memilih bacaan terbaik dalam jenisnya saat pertama kali, jadi ketika saya ingin membaca lagi yang sejenis, saya tidak menemukan satu pun karya yang lebih baik. Sebagai contoh saya pertama kali membaca novel detektif, yaa Sherlock Holmes-nya Sir Arthur Conan Doyle, mencari lagi yang lain bertemu  dengan Poirot-nya Agatha Christie, yaa kecewa jadinya. Kalau novel-novel pencerahan pertama kali The Alchemist-nya Paulo Coelho, dan sampai sekarang tak ada novel sejenis yang sebaik The Alchemist. Di dunia cerpen ada Godlob-nya Danarto, ini benar-benar kumpulan cerpen mahakarya, yang bahkan cerpen-cerpen Danarto lainnya sekalipun tak ada yang bisa menandinginya.

Bertemu dengan The Alchemist itu seperti bertemu dengan jatidiri. Bertemu dengan kalimat-kalimat yang saya sendiri mencarinya selama ini. Kebanyakan hal dalam The Alchemist adalah hal-hal yang sebenarnya saya sudah memahaminya, hanya saja tak bisa menjelaskannya dalam bentuk kalimat. Jadi membacanya adalah pengalaman yang hebat bagi saya, lembar per lembarnya selalu membuat saya tercengang, kadang-kadang sambil merasa laahhh ini ni. Setelah Coelho, saya bertemu dengan karya-karya Leo Tolstoy, Rabindranath Tagore, Ben Okri, Dostoyevsky, Kafka, Ernest Hemmingway, Stephen King, Kahlil Gibran,… Mereka itu adalah nama-nama terbaik bagi saya di dunia satra, tetapi tetap saja saya memilih Coelho sebagai yang paling hebat. Salah satu hal hebatnya adalah kemampuannya menyajikan  pelajaran-pelajaran terdalam dengan cara seakan akan itu sebagai pelajaran-pelajaran teringan. Membaca Coelho itu seperti mendapatkan emas dengan cara memetik dari pohon, kita tak perlu bersusah susah sesusah menggali tanah ratusan meter ke dalam.

Oh, ya, tentang Kahlil Gibran saya ingin memberi catatan sedikit. Waktu itu nama ini begitu populer di kalangan lingkungan sekolah saya, hampir setiap teman tahu dan pernah membacanya. Tapi tidak tahu kenapa saya tidak begitu tertarik dengan karya-karyanya, mungkin karena di dalam pikiran saya ada semacam persepsi  bahwa menulis seperti Kahlil Gibran itu gampang, saya anggap gampang karena memang yang ditulis hanya inti-intinya, langsung ke pelajaran-pelajarannya. Kahlil Gibran tidak pernah atau jarang sekali menyembunyikan atau menyamarkan pesan-pesannya, bagi saya karya-karya Gibran terlalu tersurat. Sedangkan menurut saya, penulis yang hebat itu yang bisa memberi pesan dengan tanpa menyertakan kalimat pesannya secara langsung. Karya sastra yang hebat itu adalah sebuah rumah sederhana yang di dalamnya tersimpan almari perhiasan yang terkunci rapat yang tidak seorangpun tahu keberadaannya kecuali penulis dan pembaca yang sebijak penulis itu sendiri. Konteksnya, Gibran terlalu mengumbar almari perhiasannya hingga semuanya tahu.

Godlob, lain lagi ceritanya. Saya membaca Godlob hanya karena bertemu secara sepintas saja dengannya di taman bacaan langganan saya. Berapa kali bertemu tak pernah saya ambil untuk saya bawa pulang ke rumah. Hingga ketika akhirnya saya bingung memilih buku apa yang hendak saya baca, si petugas taman bacaan merekomendasikan Godlob. Godlob ini berisi sekitar belasan cerpen, yang menurut saya semuanya bagus. Danarto sangat khas dengan cerpen-cerpen yang ceritanya tak masuk akal, tokoh-tokohnya unik, seringkali tokohnya bukan manusia, temanya tasawuf. Tasawuf yang biasanya berbentuk bukan cerpen, ditangannya bisa menjadi cerpen, bisa menjadi begitu profokatif. Godlob ini semacam asap yang kemudian saya telusuri terus , membuat saya bertemu dengan apinya, yakni  karya-karya Ibnu Arabi, Al Hallaj, Syekh Siti Jenar, Syekh Ahmad Sirhindi, Al Junayd, dan lain lain sejenisnya. Jika soal kualitas cerpen setelah Danarto ada lagi nama besar yang semua karyanya saya suka, AA Navis.

Setelah Godlob dan The Alchemist, filsafat menjadi semacam mainan baru bagi jiwa kanak kanak saya, saya begitu enjoy menikmati berbagai macam bahasan filsafat, awalnya sebuah buku berjudul Socrates Café, kemudian buku-buku yang bersifat kajian yang banyak saya baca,termasuk di dalamnya ada Bhagavad Ghita. Begitu banyak istilah, begitu banyak pemahaman, begitu banyak versi, itulah filsafat menurut saya, filsafat itu hanya makanan pikiran, hanya memancing kita untuk berlatih berpikir, tak pernah benar-benar kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga sekaligus tak pernah benar-benar terlepas dalam kehidupan sehari-hari, perannya seperti kunci yang hanya berguna saat kita hendak masuk dan atau saat kita hendak keluar rumah, selebihnya tidak. Semua jenis filsafat itu kemudian ditendang lenyap oleh nama baru yang kemudian begitu menginspirasi saya. Lao Tze. Ketika Karl Marx mengatakan manusia itu harus super fisik, tak berperasaan, kuat, bisa mengalahkan yang lain. Ketika Sidharta Gautama mengatakan yang suci adalah dia yang pikirannya baik, perkataannya baik, perbuatannya baik. Lao Tze justru mengatakan orang suci adalah dia yang suka tertawa terbahak bahak, bicaranya ngawur, dan lain lain. Lao Tze adalah kejelasan jalan tengah yang hebat antara Marx yang super fisik dan Gautama yang super rohani, antara Musa yang super manusia dan Isa yang super malaikat. Lao Tze menyuruh kita untuk berbuat mengerahkan sekuat-kuatnya apapun daya yang kita punya, tapi setelah itu berlepas diri akan hasilnya. Berbuat tanpa berbuat, mengajar tanpa kata-kata. Menjadi tidak menonjol, wajar, selaras dengan alam. Menjadikan diri kita sekuat alam semesta tapi sekaligus serendah hati makhluk terlemah. Pertemuan dengan Lao Tze memungkasi keinginan saya untuk menjelajah berbagai jenis aliran filsafat.

Setelah periode itu, saya menjadi lebih tertarik untuk menulis daripada membaca. Dan seringkali yang membuat saya membaca karena saya mengalami kemacetan ide ketika menulis. Puthut EA, iya, nama inilah yang kemudian mengajari saya banyak hal tentang bagaimana menulis itu. Sebenarnya saya tidak begitu menyukai tentang materi-materi tulisannya, tetapi karena gaya bahasanya terlampau enak untuk dinikmati makanya saya jadi membaca hampir semua karyanya. Satu yang tampaknya enak untuk dibagi adalah novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Novel ini memang bukan sebuah novel berkualitas wah, tapi lagi-lagi gaya bertuturnya yang membuat saya jatuh cinta dengan novel ini, berkisah tentang perjalanan seorang penulis yang mencari pasangan hidup. Di samping novel ini, ada lagi karya Puthut EA yang sangat brilian bagi saya, yakni Makelar Politik, hanya kumpulan esai esainya tentang hal-hal menarik baginya, tapi Makelar Politik mempunyai kebisaan yang luar biasa untuk dibaca saat luang ataupun saat sibuk, saat sedih ataupun saat senang, saat kopi ataupun saat dehidrasi.

Di tengah-tengah semua yang telah saya ceritakan tadi, saya juga bertemu dengan buku-buku populer seperti Chicken Soup, Harry Potter, Ippho Santosa, Laskar Pelangi, Supernova, dan banyak lagi lainnya, tapi tampaknya tidak menarik untuk saya turut sertakan dalam tulisan ini.

Yaa sekedar begitulah sharing tentang buku dalam kehidupan saya, kalau saya punya waktu luang berbarengan dengan mood iseng menulis lagi, pasti akan saya lanjutkan share tentang musik, terus juga tentang film. Semoga bisa memberi sedikit manfaat bagi anda yang punya waktu luang berbarengan dengan mood iseng membaca note ini.

Salam berbagi…!!! Jreeng Jreeeeenkkk…!!!

(Red=Nah, sekarang bagaimana pengalamanmu dengan buku? Buku apa saja yang paling memberi inspirasi pada hidupmu)

Dalam Bus Padat ke Pontianak

Gerundelan Martin Siregar

Oke…okelah. Lebih baik aku ke Pontianak hari jumat 26 oktober, supaya lebih santai dilibur Idul Adha. Inilah keputusanku hari senin waktu istirahat bersama kekasih hati, sebelum getah karet dikutip.”Iyalah…Berarti kita masih bisa noreh hari kamis”:Istriku senang merespon keputusanku”. Kita pakai saja duit dari penjualan buku untuk ke Pontianak. Tak usah usik dana untuk biaya kehidupan sehari hari. Hua…ha…ha…Kalau dana keluarga sangat terbatas, pastilah bisa dikelola dengan bijaksana. Tapi seandainya dana yang tersedia agak berlebih, maka ada saja keperluan yang (seolah) mendesak. Tiba tiba saja perlu beli sepatu, baju baru atau lauk pauk yang enak.

Hari kamis hujan lebat semalaman, sehingga kami tidak bisa noreh. Pagi ini setelah antar Jati ke sekolah, banyak ngobrol berdua di ruang tamu. kayak masa pacaran pada zaman dahulu kala. Istriku sangat intens membicarakan penanggulangan biaya Jati yang harus kuliah. Beberapa peluang ekonomi untuk ditabung selama 3 tahun (Selama Jati SMA), dipaparkannya dengan lancar. Mulai dari ternak ikan lele yang sudah gagal 2 tahun, sampai ke soal membukukan tulisan tulisanku bersama Pay Jarot. Aku sangat yakin bahwa gagasan gagasan istriku sudah lama terpendam dalam benaknya. Tapi, aku pura pura mengangguk angguk seakan gagasan cemerlang itu baru kuketahui. Yah, Mudah mudahan saja istriku makin semangat karena aku mengangguk angguk. Mudah mudahan dia tak tahu bahwa anggukan itu adalah sebuah sandiwara (berpura pura) kagum sama pikirannya.

Lebih baik pagi ini kita susun bajumu ke Pontianak. Kau pilih baju serta perlengkapan ke Pontianak, aku mau masak. Maka akupun sibuk memilih baju celana serta buku buku yang perlu di fotocopy untuk bahan baku Anggie Maharani memahami unkonvensinil, teologia pembebasan, wacana perubahan sosial dan lain lain. (Terpaksa) aku harus fasilitasi Anggie sebagai peresensi sekaligus sukarelawan sales bukuku di kabupaten Sanggau. Pulang dari Pontianak aku akan segera ke Sanggau menyerahkan bukuku tuk dijualnya sekaligus membahas tahapan membangun Kelompok Cinta Baca Nulis di Sanggau

“Baju begini kau ke Pontianak ???”. Istriku geram melihat aku. Kau bilang, kau mau launching, bedah buku, bahas gerombolan unkonvensinil, bicara soal menulis. Harus kau usahakanlah berpenampilan rapi bersih agak terhormat. OooaaLlaa… Kembali lagi kudengar cerewet istriku yang bisa mengalahkan gaduhnya suara radio rusak. Yah,…Aku hanya pasrah membiarkan persekongkolan anak istriku mengatur dan memilih baju celana yang akan kubawa. ”Sudah kubeli sikat gigi, sabun cair, odol dan tempat peralatan mandimu yang agak keren. Waduh!!! Kok secantik ini tas kecil mahal hanya untuk keperluan mandi. Sebenarnya aku mau protes tapi tak kuasa.

Jati bilang sebaiknya bapak naik taksi saja, supaya laptop bapak yang sudah rusak (kalau dibuka harus disanggah pakai tongkat supaya tak jatuh). Aku keberatan atas usul Jati. Disamping harga tiket taksi yang mahal, aku lebih suka naik bus. Puas melihat para penumpang turun naik dengan tingkah laku berbagai macam kelas sosial. Akan makin tajam mata hati nurani meihat realitas kalau naik bus. Begitulah sikapku yang terlalu romantis melihat kehidupan yang sadis dan kejam . Sekali ini Jati tak berni memaksakan pendapatnya.

Sial !! Rupanya hari ini adalah hari libur nasional. Idul Adha membuat buruh dari PT Erna Sanggau berbondong bondong padat memenuhi bus. Kesempatan libur pulang ke kampung halaman. Aku yang sudah sempat naik bus terpaksa berdiri padat bersama buruh perempuan yang cuti kerja. Dalam hati ada juga rasa senang karena aku bisa mengukur stamina tubuhku seberapa lama tahan berdiri. Dan, terbukti bahwa kondisiku cukup prima. Sampai Ngabang (sekitar 80 Km dari desaku) ada penumpang yang turun. Hus !!! Jangan kau yang duduk, bapak sudah tua ini yang harus duduk. Seorang buruh perempuan melarang kawannya duduk di tempat kosong. Pukimaknya cewek ini seenaknya saja tuduh aku:Bapak yang sudah tua, pasti dia tak tahu bahwa aku panggil jengkel mendengar sebutan tersebut. ”Terima kasih,…terima kasih. Aku obral senyum manis ke mereka, sambil duduk meninggalkan penumpang yang lain tetap berdiri sesak.

Sebelum negara republik Indonesia berdiri, leluhur mereka sudah mengelola tanah untuk kebutuhan hidup keluarga. Sampai republik Indonesia berumur 67 tahun, semakin seenaknya negara merampas tanah rakyat demi untuk kepentingan pejabat/pengusaha. Menginjak mampus masyarakat jadi sengsara demi untuk mendukung kestabilan “perekonomian negara”. Pemimpin pemerintahan memang berjiwa BANGSAT!!!. Mual perutku membayangkan kejahatan negara terhadap rakyatnya. Saudara saudaraku didalam bus adalah korban utama dari kebijakan negara. Aku juga korban kejahatan negara, tapi nasibku lebih baik dari mereka. Uh!!!

Gadis manis muda belia kelihatan agak dinamis tersenyum dan mendadak tanya aku:”Bapak ini pasti orang kaya pura pura miskin”. Terkejut aku mendengar pernyataannya. Pura pura pakai celana pendek bawa ransel usang, padahal bapak ini punya perkebunan yang luas. Iya..Kan Pak ?”. Betapa hangatnya pembawaan gadis manis ini. Tak mampu aku menjawab pertanyaannya. Mau kubantah, pasti dia pikir aku berbohong pura pura miskin. Mau kujawab jujur:”Aku mau ngurus penjualan bukuku yang keren”. Pasti akan bertubi tubi pertanyaannya tentang bukuku. Pasti aku akan lelah menjawabnya. Makanya aku hanya menjawab dengan senyum lembut pamerkan gigiku yang ompong. Dalam hati aku berdoa:”Kau doakan saja supaya solusi yang kucapai dengan Pay Jarot dapat berjalan mulus.  Sehingga ada keuntungan yang bisa ditabung untuk Jati bisa kuliah.

Pontianak, 26 Okt’ 2012

Sangat berharap kawan kawan segera membeli bukuku.

Resensi buku Martin Siregar dapat dibaca di BAH!