Arsip Tag: cerita bersambung

Wanita Itu Bernama Marida #2

Cerbung Willy Wonga

cerita bersambung
gambar diunduh darii bp.blogspot.com
Aku memiliki koleksi perempuan cantik. Bukan hobiku sejatinya, tetapi sekadar koleksi untuk bahan perbandingan mana di antara mereka yang paling banyak kubenci. Pernah aku menatap wajahku di cermin untuk mencari-cari perasaan tersirat terhadap para perempuan itu. Sirik. Dengki lebih pas. Barangkali demikian aku mengetahui perasaan tersebut. Aku benci pada kecantikan mereka. Coba perhatikan mimikku bila ada wanita lain, dari golongan rupawan, di rumah ini. Mulut ini akan bengkok sebagai sinis, alis terangkat dengan mata menyipit. Semacam refleks reaktif terhadap adonan rupa yang lebih menarik. Sesekali kulampiaskan marah pada penciptaku yang teledor sehingga lupa merapikan wajahku dari timbunan lemak di kedua pipi. Juga lupa membetulkan hidungku yang kempis ini.
Ah! Seandainya mereka tidak merebut waktuku dengan lelaki kesayanganku pastilah aku tidak menanam benci semacam ini. Gara-gara kecantikanlah orang paling kucinta di muka bumi ini mengabaikanku. Aku teliti lagi rupa pada cermin, sering pula menatap lama-lama foto-foto kenangan; gambarku sama. Jauh dari cantik. Pantas aku kalah bersaing dengan wanita lain.
“Kecantikan mengubah dunia! “
“Kau terlahir cantik? Yakinlah dunia akan kau genggam!”
Sejak kapan kalimat-kalimat penghancur itu tersisip dalam memori otak? Pasti aku telah membaca dari salah satu buku bacaan, atau kalimat terucap dari seorang bintang film yang kutonton. Kata-kata itu melekat bagaikan tumor ganas, atau ular berbisa, menetes-teteskan racun tiap kali hatiku mengutuki kecantikan wanita lain. Dengan alasan itu aku senantiasa minder bila para perempuan lain datang ke rumah. Mereka datang selalu untuk mengunjungi lelaki terkasihku. Sehingga diam-diam aku pelihara gunjing dan fitnah kepada para pemilik rupa cantik.
“Malaikatku” atau “Bidadariku” atau ”Gadis tercantikku”, demikian Andre pernah menyapa di setiap hari-hariku. Aku melambung ke ufuk timur, terjerang matahari hingga hati ini terasa hangat. Bagiku dia matahari. Bersinar, tampan dan cemerlang. Itulah mengapa aku perlu mencintai Andre sekudus cintaku pada bunga-bunga, pada lapisan awan gemawan, pada bintang-bintang, biarlah terkesan tak terkatakan betapa agung cintaku itu.
Andre, aku sebut ia lelaki pulang subuh! Memang kejam aku menamai Andre begitu. Aku namai dia sesuai tindaknya. Lebih halus ketimbang pemuja malam, atau pengejar rembulan atau penunggu pagi. Sebab sekejam-kejamnya mencecar Andre, aku akan tetap bersama dia. Mana mungkin meninggalkan dia lantaran dia adalah lelaki pulang subuh. Barangkali karena dia pulang subuh itu yang buat aku tetap bertahan hidup dengannya. Pikirku, sudah bagus dia pulang subuh daripada tidak pulang sama sekali? Lalu aku akan jadi wanita paling sepi di bumi, sehingga lebih baik mati saja? Ahh…
“Jam berapa pulangnya, Bi?” aku sering tanya begitu pada pembantu. Bi Imah menatapku, di matanya tergurat kasihan yang mendalam. Dia telah mengasuhku sejak bayi hingga rambutnya telah banyak ubannya kini.
“Biasa, Non. Jam tiga lagi.”
Aku hidup bersama Andre di rumah ini. Dia seorang pianis cukup handal serta sering menciptakan lagu bagus sementara aku hanya seorang pelajar seni. Hidup cukup mewah dengan mengenal orang-orang mewah pula. Dari penyanyi, pemusik bahkan para wartawan yang tak jarang mencuri-curi liput, hingga kami tidak terlalu banyak menghabiskan waktu bersama. Andre, pria yang hidup denganku masih di ambang usia tiga puluh pula. Dia menarik walau bukan tampan hingga pada akhir-akhir ini kutahu dia sering mengencani gadis-gadis cantik. Bila tidak berkencan mereka berteman. Tak jarang teman-teman wanitanya datang ke rumah ini dan mengulurkan tangan mereka yang halus terawat menyalamiku. Dan Andre hanya tersenyum sebelum mereka berlalu ke ruang kerjanya.
“Terlalu banyak perempuan yang datang. Studio kan bukan di rumah ini,” keluhku suatu hari. Andre sedang membenah ruang kerjanya, tempat kertas-kertas berserakan berebut tempat di lantai. Sebuah komputer tua bertengger pongah meski telah dipakai sejak Andre di bangku kuliah. Aku jarang sekali masuk ke ruang kerjanya selain sewaktu-waktu mengingatkannya untuk tidak berkubang sampah. Lagipula dia lebih banyak keluar, dengan dalih studio.
“Mereka datang ada urusan dengan lagu-lagu, Sayang.”
Aku akan diam. Aku sebenarnya kecewa atas sikap Andre yang tidak mau tahu perasaanku. Mungkin dia pikir aku tak masalah menghadapi polahnya. Hanya saja aku biarkan dia begitu, sebab dari dulu aku tahu dia lelaki bebas. Sebebas ikan berenang di lautan. Tidak pernah mau terikat sejak kematian istri pertamanya. Hingga aku menjadi terbiasa disepelekan.
Bagi orang-orang macamku, setidaknya, sebagian dari yang pernah mengalami hidup jarang diperhatikan oleh orang terkasih, akan timbul marah pada diri. Atau frustrasi akibat sering diabaikan. Tetapi aku belajar menyembunyikan perasaan. Sampai-sampai orang lain di sekitar menamaiku si pemurah senyum. Aku belajar tersenyum ketika Andre hanya menghabiskan sedikit waktu dalam seharinya denganku pada saat sarapan. Itu pun tidak berlebihan. Sekedar mengingatkanku menghabiskan roti serta menenggak segelas susu coklat panas kesukaan kami berdua. Lalu dia mengantarku ke tempat aku belajar sebelum dia menghilang. Aku tidak pernah tahu di mana dia berada pada kerumunan kota ini. Lumrah, pikirku, hidup dan mencintai seorang pemusik.
Apalagi jarak sekolah dan rumah tidak seberapa jauh jadi ia tidak berpikir untuk menjemput aku lagi sepulang sekolah seni. Cukup pagi hari dia mengantarku. Tak mengapa memang, Aku sudah menikmati berjalan kaki dari sekolah ke rumah seorang diri sejak Andre memutuskan aku bukan seorang anak kecil lagi. Dulu, setahuku sejak tiga tahun lalu Andre lebih banyak pulang rumah pada larut malam. Mendekati tengah malam dan segera tidur dengan dengkurnya yang tidak hilang-hilang. Sebagai orang terdekatnya, dalam persepsiku, aku sering meminta penjelasan.
“Lembur di studio.” Selalu demikian Andre memberi jawab atas tanyaku.
Kendati menyerah dengan perlakuan sebelah mata Andre terhadapku, aku tetap mengkhawatirkannya bila dia belum pulang selepas pukul sepuluh malam. Aku tidak tidur dan lebih banyak tenggelam pada buku-buku bacaan hingga akhirnya dia datang dengan wajah suntuk. Kemudian beberapa pekan terakhir Andre pulang lebih lambat. Selalu menjelang subuh, dan Bi Imah-lah yang terbangun menyambutnya.
Barangkali sebelum cerita ini berakhir, orang akan pertanyakan mengapa aku tidak memilih jalan sendiri bagi hidupku ketimbang pasrah menebah dada tiap kali Andre pergi dengan wanita lain? Lalu pulang subuh? Apalagi bukan tali pernikahan yang menyatukan kami pada satu rumah. Hanya sebuah ikatan natural yang terbentuk. Demikian aku selalu mengartikan kebersamaan kami yang semu.
 
bersambung…
 
 
Baca cerita sebelumnya: Wanita Itu Bernama Marida #1

Wanita Itu Bernama Marida #1

Cerbung Willy Wonga

 

cerita bersambung
gambar diunduh darii bp.blogspot.com
Kali pertama berjumpa dengannya, wanita itu, aku ingat; bibirnya terbelah membentuk senyuman ditulus-tuluskan, rambutnya tergerai kusut terterpa angin dan dia berjalan dari pinggir jalan dengan sebungkus kado berpita merah terang sementara pertemuan dua ujung pita dijalin jadi sebentuk hati tidak terlalu sempurna. Aku takar usianya, sekitar awal tiga puluhan. Boleh jadi awal empat puluhan sebab rias selalu berhasil menipu. Belum lagi aku tak pandai menebak usia. Dia semampai dengan kulit terang menakjubkan. Barangkali seanggun ratu Elisabeth yang belum pernah kulihat, atau bahkan setara peri yang tak pernah aku percayai dongengnya. Pada rentang jarak begini saja, bahkan dalam dedas angin sekalipun masih bisa terasakan pesona tertebar dari cara dia menatap. Pun dari cara dia tersenyum meski terkesan ditulus-tuluskan. Aku putuskan kecantikannya adalah anugerah Tuhan semata dan sungguh untuk pertama kalinya aku memuja kecantikan milik si wanita. Tetapi senyumnya hanya senyum buatan.
Gigil membuat gegar tubuhnya sangat kentara di balik balutan baju kemeja serta celana dari katun sebatas lutut sewaktu dia berjalan. Aku berdiri di tempatku berdiri menyaksikan dedaunan basah terseret menjauh dari pohon searah angin dingin, menyaksikan perempuan itu datang mendekat. Dia terburu-buru akibat iklim tak bersahabat dan cepat-cepat berdiri di depanku. Terlalu terburu-buru bagi sosok seanggun dia. Kemudian, secara tiba-tiba, aneh dan sangat tidak kumengerti adalah dia lantas menabrakku. Aku tak terkejut karena dia orang asing, lebih karena tiba-tiba dia mendekapku. Menangkupkan wajahku ke dadanya yang busung seraya mengucapkan selamat ulang tahun.
“Semoga panjang umur dan Tuhan senantiasa memberkati.”
Ucapnya pun terasa ditulus-tuluskan. Tak apalah, aku biarkan saja dia melempar perhatian kepadaku dan aku tak berusaha memeluknya. Aku kaku dalam dekapnya, dan dalam dekapnya hidungku membaui wewangian yang menguar dari tubuh serta rambut si wanita, wangi bunga lavender. Tubuhku sedikit tergeragap, tergeletar. Wangi itu benar nyata meski aku harap hanya ilusi. Ini tentang masa lalu, wangi ini, aku telah sangat menyukainya. Bunga lavender seolah hendak memeras kenangan lama lewat wangi khasnya yang menerobos hidung.
Pernah ada wanita lain, di suatu waktu yang kini telah jadi sejarah. Semua orang setuju dia adalah wanita menarik. Berkulit hitam manis, berambut ombak dengan senyuman menyejukan. Barangkali semenarik wanita yang mendekapku ini. Dan wanita hitam manis yang dulu juga akan melakukan hal-hal terindah dan terajaib saat ulang tahunku. Hadiah darinya merupakan hadiah paling tulus di antara hadiah lain. Kendati hanya sebuah sepatu bukan model terbaru, atau sepotong gaun yang belum sekalipun terlihat dikenakan gadis-gadis dalam televisi. Tetapi, kendati terwujud sederhana, dia berikan sebagai simbol cinta seorang terkasih kepada kekasihnya. Aku tahu itulah arti dari cinta; tak terkatakan dalam bahasa manis, tak termapatkan dalam sebuah kado ulang tahun, tidak tergombal dalam satu pelukan asing. Layaknya akan ada lantunan komposisi Mozarth atau Bethoven meretaki desau angin, aku rindu sepasang tangan lembut membopongku menghapus dingin merajam kulit. Akh, segera kubelit lidahku yang hendak mengucap kata terima kasih, kututup keran air mata yang hendak terbuka sendiri, sebab kiraku wanita itu hanya pura-pura. Dan masa lalu menjadi selayang angan-angan.
Kemudian, secepat dia datang demikian wanita itu berlalu setelah menyerahkan bingkisan dari tangan. Seolah memburu kereta, hanya sekali dia berbalik melambai. Lalu tidak lagi. Mataku tak lekang dari punggungnya hingga dia menghilang di balik bangunan besar di depan sana.
Malamnya, pesta. Aku duduk menekuri lantai, hanya telingaku meningkahi setiap senda gurau orang-orang terundang. Betapa tak berarti apa-apa semua ini. Tangan-tangan dengan menggenggam segelas minuman mondar-mandir dalam ruang tamu cukup besar di rumah ini. Di luar desau angin menerpa jendela, mendesir lewat dedaunan. Selepas tengah malam, semua akan berakhir pada satu tarikan napas berat. Orang-orang angkat kaki dengan mencoba tersenyum terbaik. Membahasakan harapan agar aku makin dewasa, makin sukses dan makin lalu makin yang lain lagi. Aku sudah merasa penat, pusing serta kehilangan selera terhadap tradisi omong kosong ini. Sebenarnya aku tidak suka pesta. Tidak butuh berapa banyak orang datang mengucapkan selamat, jemu mengumpulkan kado-kado di pojok kamar dekat lemari hingga tiba saatnya diberikan pada pemulung atau sering aku sengaja menjatuhkannya di jalan pangkalan para pengemis. Tidak suka akan pesta, berarti aku tidak suka diperhatikan orang-orang. Tidak, aku tidak seharus mengatakan sebaliknya: aku tidak suka orang memperhatikanku sehingga aku tidak suka pesta. Apalagi bila banyak dihadiri wanita cantik seperti sekarang.
Saat tengah malam, selesai menjamu tetamu aku duduk setengah berbaring di kamarku. Tatapku lekat pada kado dari wanita asing tadi siang. Aku membayangkan sesuatu yang istimewa di dalam bungkus kado yang meyakinkan tersebut, sebab ada bentuk hati pada jalinan pita. Pahamilah, aku suka diberi bingkisan bagus, mewah dan tidak urakan. Bukan karena perempuan mata duitan aku ini, lebih karena perempuan semata wayang. Kemungkinan pula lantaran terlahir sebagai anak semata wayang, maka jangan sampai aku lempar hadiah itu ke pinggir jalan yang menurutku lebih pantas dipungut pengemis biar dia kesenangan ketiban rezeki.
Sialan, tidak timbul rasa suka pada diriku melihat isinya. Biarlah aku saja yang tahu itu apa. Dikiranya aku anak kecil yang manis sehingga perlu dibekali dengan ini? Atau gadis kemayu, agar dengan ini seorang pemuda bakal bertekuk lutut, menyembah kecantikan? Tetapi aku bertoleransi, sebut saja pengecualian, sebab tidak aku buang untuk si pengemis beruntung. Seandainya bukan karena kedatangan yang mengesani tadi, aku pasti sudah membuang hadiah ulang tahunku itu, minimal setelah beberapa minggu terpajang di atas meja. Namun, sebaliknya setelah melihat isinya dan memutuskan tidak terlalu istimewa dari segi manapun aku membungkus kembali. Dipitai kembali tepat seperti semula dengan jalinan hati pada ujung-ujung pita lalu kusimpan dalam lemari pada belakang timbunan baju terlipat.
Wanita itu hanyalah salah satu perempuan yang datang di hari itu. Hari ulang tahun tanpa seri bahagia pada wajahku. Aku pun jadi terkenang-kenang akan senyum terpaksa milik dia. Andaikan tadi bukan senyum yang ditulus-tuluskan niscaya kelihatan lebih menawan lagi, pasti akan memekari wajah cantiknya. Ahoi, jangan heran bila nanti aku selalu memuji kecantikan serupa milik si wanita. Bukan aku keterlaluan dengan menganggap dia wanita tercantik di bumi lantas mengabaikan wanita lain, tetapi lantaran sepanjang aku bertemu dengan segala wanita dialah orang paling cantik. Jadi, tak apalah hingga akhir cerita ini dan bahkan hingga akhir hidup nanti aku terus membuka mulut soal kecantikan wanita itu.
Di kemudian hari, aku yakin akan takdir. Bahwasanya perempuan itu dan aku terlahir ke dunia dalam satu paket, dan bahwa hari ketika dia datang dengan kado tidak istimewa hanyalah awal kisah yang telah tersemat dalam semesta. Begitu pula, mengapa sampai sekarang aku masih ingat-ingat dia, besok pun pasti aku tetap kenang dia, dan akan terus demikian.
 
 
bersambung…

 
 
Barangkali Anda tertarik membaca cerita yang lain:
Torsa Sian Tano Rilmafrid*
Gadis Terbungkus Kertas Koran
Istri yang Sempurna
Kecantikan Perempuan: Membawa Berkah atau Musibah?

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #Tamat

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 23

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Kemisteriusan almarhum Tigor dalam integrasinya bersama kelompok tani, terulang kembali oleh Ucok. Sudah 2 buah laporan lapangan Ucok tidak diserahkan ke sekretariat. Ucok semakin misterius.  Dan, semakin sering warga FDP kehilangan jejak, di mana Ucok berada ketika diperiksa di lapangan tidak ada, di sekretariat juga tak nongol, padahal dia punya tanggung jawab besar membimbing para  pemagang. DR Pardomuan tampak susah menerima laporan Armand.

“Dari Pak Regar aku dengar dia sudah bersama calo TKW menghabiskan malam di Pub Trienjel bersama para gadis dan minuman keras. Memang semakin marak kasus-kasus penculikan anak gadis orang dari desa-desa. Sudah ramai desa oleh para calo  berkeliaran.” Armand tambahkan keterangannya. DR Pardomuan hanya menatap jauh, sangat berat memikul beban. Karena laporan yang sama sudah diterimanya juga dari Maemunah dan Inggrid. Walaupun belum diangkat menjadi staff, tapi mereka berdua sangat konsisten menjaga citra FDP di tengah masyarakat.

“Yah…mungkin minggu depan kita sidang si Ucok. Kalau saja dia menerima cinta si Dewi, bisa semakin tertib hidup si Ucok itu.” DR Pardomuan kembali ke ruang kerjanya.

 ***

Sampailah saatnya penampilan teater perkawinan palsu dimulai. “Oleskan minyak gosok ini ke sekitar matamu,” kata Susanti. “Untuk apa?” Muslimin bingung.

“Supaya nampak baru siap nangis, Tolol!!” kata Susanti pula. “Pakai baju yang agak kusut agar terkesan kau sedang sangat susah menghadapi ini. Jam 8 malam diperkirakan ayah ibu baru siap makan malam bersama. Di situlah kita datang.”

Muslimin tak bisa menyembunyikan ketegangannya. Jantungnya yang berpacu kuat tak bisa dinetralisir. Dikeluarkanya motor dari garasi kostnya.

“Tenang kau menghadapinya. Masya.…debar jantungmu bisa kurasakan di goncengan ini. Tapi, aku yakin debar jantungmu pasti lebih kuat lagi kalau aku tak mau kawin sama kau, Jelekku oh Muslimin, hua..ha…ha..”

Susanti masih bisa iseng sambil mencubit perut si Muslimin di atas motor yang gemetar jalannya dibawa Muslimin.  Ayah, ibu…malam ini kami datang uh…uh…uh.. Susanti lap air mata buayanya. Muslimin tunduk gemetaran.

“Ada apa…?” Mata ibu terbelalak. Ayah juga tampak bingung melihat anak gadisnya yang selama ini keras kepala datang malam ini dalam kondisi yang sangat lemah.

“Aku yang salah Bu…” kata Susanti sambil peluk ibunya. “Aku sering lari malam dari kamar Yuni uh…uh… ke rumah Muslimin. Dan…, mendesak Muslimin melakukan zinah Bu..uh..uh..uh..” Susanti mahir sekali memainkan peran.

“HEH! Kurang ajar kau, kau rusak Muslimin, KURANG AJAR!!!” maki Ayah penuh berang.

“Maaf kan aku ayah Uh…uh…uh..” Muslimin tak berani mengangkat kepala. Hening beberapa saat, Susanti kembali tunduk duduk di tempat duduknya semula.

“Jadi, bagaimana rencana kalian?” akhirnya Ibu hapus air matanya.

“Saya harus masuk agama islam. Minggu depan kita makan bersama di desa rumah orang tua Muslimin, sekaligus akad nikah.” Susanti masih heboh menghilangkan sisa-sisa kepedihan hatinya. “Maafkan kami Ayah” Muslimin peluk tubuh mertuanya, lantas mertuanya pun memeluk kuat tubuh menantunya. Mereka saling peluk dan berurai air mata mirip di film-film India.

Baru saja keluar dari gerbang rumah.

“Hua…ha…ha….berhasil!” teriak Susanti merayakan kemenangannya, tak perduli orang-orang di jalan raya.

“Pukimak kau! Kau memang hebat!” Muslimin ikut gembira. Motor sudah berjalan normal atas kendali Muslimin yang beban beratnya  sudah terangkat dari jiwa. Minggu depan akan ada sandiwara lanjutan di rumah Muslimin. Sandiwara yang tidak seberat sandiwara malam ini.

TAMAT

Kisah Sebelumnya: Bagian 22

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #21

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 21

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Begitulah kehidupan FDP. Cukup progresif dengan dunia anak muda maju terus menghayati pekerjaan. Dewi dan Dirga juga sudah ikut latihan meditasi ke rumah DR Pardomuan. Setelah beberapa kali dibimbing, mereka lakukan sendiri latihan meditasi di ruang monumental FDP.

“Bagaimana  perasaanmu setelah mengenal latihan pernafasan dan meditasi. Kalian berdua sudah menjadi keluarga besar FDP jadi harus memahami bahwa sakit suka dirasa bersama-sama di FDP ini.” DR Pardomuan memberi wejangan untuk kedua staf ini.

“Iya…Pak, rasanya daya tahan kerja saya meningkat. Dan, saya merasa damai dan tenang walaupun ada rintangan hidup.” Dirga memberi keterangan.

“Kalau kau macam mana Dewi?” DR Pardomuan beralih ke Dewi. “Sama saja Pak, sama dengan yang dirasakan Dirga.” Dewi bicara singkat saja. “Saya khawatir kalau kalian salah tafsir dengan meditasi. Karena meditasi itu oleh kaum mapan adalah hanya sebagai alat untuk menyempurnakan kepribadiannya saja. Bagaimana supaya mereka semakin sabar, semakin tabah dan semakin dapat diterima oleh masyarakatnya. Pemahaman seperti itu salah. Meditasi itu adalah alat agar kita semakin bersemangat melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang berlangsung di tengah-tengah rakyat tertindas. Mempertebal nafas perjuangan kita. Jadi bukan menempa kita menjadi genit dan eksklusif.” DR Pardomuan memberikan pendapatnya.  “Jadi, dalam latihan kalian harus kaitkan dengan program FDP, bukan hanya sekedar penata kepribadian yang terlepas dari perlakuan ketidakadilan kepada masyarakat miskin.”

Pada akhir tahun 1984 penyusunan laporan FDP semakin rumit saja. Karena laporan dilampirkan proporsal baru untuk tahun 1985 – 1988 sebagai tindak lanjut. Disamping proporsal untuk tindak lanjut, proporsal untuk peningkatan kesejahteraan melalui ternak ikan lele secara kolektif juga dilampirkan. Oleh sebab itu perlu rekrut staf baru. Mungkin juga restruktur organisasi pelaksana FDP dan staf baru untuk program ternak lele kolektif. Harus ada penambahan staf dengan 2 bidang kerja. Itulah hal yang paling mendasar mulai tahun 1985 ini.

Susanti tampaknya ingin keluar dari FDP. Karena selama ini dia yang sebentar lagi selesai kuliah dari fakultas hukum harus meninggalkan tugas bagian keuangan. Lembaga dana menuntut bidang keuangan dikerjakan oleh sarjana ekonomi.

Setelah 3 bulan hidup bersama Yuni dalam kesesakan, akhirnya Susanti merasa kalah. Dia menyerah merasa tak mampu hidup penuh keprihatinan bersama Yuni di kamar yang sempit. Di kamar itu pula tempat mengupas bawang, menampi beras, menggoreng sayur dan lain sebagainya. Kegiatan dapur di dalam kamar membuat ruangan sempit itu menjadi jorok, panas dan berminyak. Beberapa kali Susanti mengajak Yuni untuk tidak makan di rumah. Lebih baik kita tidak usah repot masak di kamar. Lebih baik kita makan di warung saja. Semula Yuni mau dan senang hati diajak Susanti, tapi lama kelamaan Yuni tidak bersedia. Dia merasa terlalu banyak pengorbankan Susanti untuk hidupnya.

Makanya sore itu Susanti kembali memboyong segala harta bendanya pulang ke rumah orang tua. Orang tuanya dingin saja melihat Susanti sudah kembali ke rumah. Mereka takut mempertanyakan alasan Susanti kembali pulang ke rumah. Mereka hanya bicara soal-soal yang prinsip saja. Kedatangan tukang ojek menjemput sewanya juga tidak disambut hangat seperti dahulu. Dampak dari kesesakan Susanti berada dalam rumah berakibat juga terhadap Muslimin.

“Aku sedang heboh memikirkan tempat lain selain kamar Yuni,” kata Susanti.

“Ah! Kau ini bikin masalah saja. Tahankan saja tinggal di rumahmu itu sebelum mendapat rumah sendiri.”

Kembali lagi beda pendapat antar Susanti dan Muslimin terjadi sebagai bunga-bunga cinta.

Tanpa disadari Ningsih selesai dari fakultas ekonomi universitas Zatingon. Setelah makan siang bersama di sekretariat FDP sekedar ucapan syukur internal FDP, Ningsih katakana, “Saya sudah sangat cocok kerja seperti ini di FDP. Saya tidak akan cari kerja di tempat lain.” Ningsih membuat semacam pernyataan sikap.

“Syukurlah kalau begitu, asalkan kau jangan merasa dipaksakan harus di FDP. FDP memberikan kebebasan mutlak untuk kita semua memilih tempat kerja.”

Tahun 1985 adalah tahun pengembangan program FDP. Pada periode tahun proporsal 1985 – 1988 akan dibentuk 7 kelompok tani, 3 kelompok peternakan ikan lele oleh ibu-ibu dan akhir tahun 1988 berdiri bangunan Balai Latihan dan Pendidikan 2 lantai lengkap dengan aula, kamar peserta, dapur besar dan lain lain. Untuk itu dibutuhkan penambahan staf paling sedikit 8 orang.

Armand menyusul Ningsih selesai dari fisipol universitas Sandiega beberapa bulan kemudian juga punya komitmen untuk tetap bekerja di FDP sebagai koordinator kelompok tani. Ucok juga tidak tertarik kerja di tempat lain.  Ucok mengaku bahwa pengalaman kerja di instansi negeri maupun swasta tidak memberi kebebasan berekspresi seperti di FDP. Yuni diajak Susanti untuk kerja sementara di FDP sebelum mendapat tempat kerja yang lebih sesuai. Yuni senang sekali berada di FDP. Walaupun di sekretariat FDP sudah ada kompor dan alat-alat dapur, diangkutnya segala harta benda masak memasaknya ke FDP.

“Lebih baik aku masak di sini, nanti pulangnya aku bungkus nasi untuk makan malam di rumah.”

Yuni menjadi fasilitator kelompok ibu di desa Jaejulu bersama staf baru Maemunah di desa Pohontoru dan Inggrid di desa Kembangbondar di bawah koordinasi Ucok. Maemunah yang sejalan dengan kost Yuni bersama-sama naik motor  ke FDP. Muslimin di kelompok tani Pohontoru bersama Armand ditugaskan mendampingi staf-staf baru dalam interaksinya di kelompok tani yang baru.

DR Pardomuan senang sekali melihat kondisi FDP yang sudah ramai dengan para muda yang tidak tergiur hidup dengan kelimpahan. Justru ingin bekerja bersama petani secara kongkrit. Sebuah kondisi kerja yang sudah lama diidamkannya. Walaupun anak kandungnya Arben Rizaldi tidak punya minat bekerja bersama rakyat, tapi, banyak anak muda yang sudah dianggapnya anak kandungnya sendiri dengan senang hati bekerja di masyarakat.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 20

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #20

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 20

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Siang itu FDP kedatangan 2 orang tamu. Bertampang preman gaya bicara membentak-bentak dipersilahkan Ningsih duduk di ruang tamu. Ucok kawani mereka bicara. “Kalian ini memberi penyadaran atau menganjurkan urban kota memberontak.” “Pembebasan tanah sudah selesai 2 semester yang lalu, tapi kenapa unjuk rasa tetap dilakukan?” Salah seorang tamu gencar bicara. “Apa apaan ini ? Abang jangan sembarangan bicara ya… Kami belum tahu apa masalahnya, sudah langsung main bentak bentak!” Ucok keberatan atas cara tamu yang datang ini. “Kalau kami pukuli abang berdua di sini lantas kami adukan abang ingin merampok, pasti abang berurusan dengan polisi.” Armand lanjutkan bicara Ucok. Nampak kedua tamu tak menyangka dapat perlawanan dari tuan rumah. “Kalau di tempat lain abang bisa sembarangan tapi kalau di sini jangan sembarangan.” Muslimin juga naik darah nampaknya. Mendengar respon yang bertubi-tubi sang preman lontong yang 2 ekor itu mengendur.

“Begini, Dik, dekat jalan keluar menuju desa Kembang Bondar akan dibangun perumahan mewah. Tadi, masyarakatnya unjuk rasa ke DPR dan kontraktornya hampir terbunuh oleh unjuk rasa itu. Kami dengar FDP adalah organisasi yang mengorganisir masyarakat di sana.” Preman itu menjelaskan.

“Terus terang kami mendukung sikap keberatan masyarakat terhadap rencana pembangunan tersebut. “Kami punya data tentang itu. Tapi, karena terlalu banyak unsur yang bermain dalam kasus itu, kami tidak ikut bergabung,” kata DR Pardomuan.

Kedua preman itu langsung tarik diri dari FDP. Dari ucapan DR Pardomuan jelas kelihatan bahwa FDP tidak takut berhadapan dengan preman. Hanya saja kebetulan FDP tidak terlibat pada kasus yang dimaksud, maka kedua preman itu tidak dilayani. Di meja tugas Muslimin, Susanti datang berbisik,” Rupanya Ricard Lonardo tadi hampir dibunuh pengunjuk rasa.” Muslimin hanya mengangguk-angguk kecil. Lalu DR Pardomuan katakana, “Cok,…kalau mau investigasi kasus itu silahkan saja, tapi jangan bawa nama FDP. Kita sudah merubah citra.”

“Hua…ha..ha…,” ketawa semua orang yang ada di FDP. Sudah ringan rasanya perbedaan pendapat yang sempat terjadi di FDP.

Ternyata, Ricard Lonardo mendapat tantangan yang cukup serius sebagai developer. Beberapa kontraktor lokal yang tidak kebagian proyek, bersatu menggugat keberadaan perusahaan Ricard.  Ikatan alumni fakultas teknik Universitas Sandiega bergabung dengan alumni dari Universitas Zatingon mempertanyakan: “Kenapa mesti menunjuk kontraktor nasional, padahal kontrakor lokal punya kemampuan untuk mengerjakannya”. Organisasi pemuda secara bertubi-tubi setiap hari datang ke kantor Ir Ricard Lonardo minta uang keamanan. Termasuk minta jatah pemasuk pasir, semen dan material lainnya. Ini membuat rasa iba Susanti, tapi dia lebih cenderung memihak kawan-kawannya kontraktor lokal.

Kalau sudah begini, jangan harap rakyat pemilik tanah bisa menang. Kalau kasusnya begini, pastilah perwakilan kontraktor lokal diundang ke Trieste, kemudian diberi jatah pembangunan oleh departemen, sehingga kontraktor nasional tidak mendominasi pembangunan tersebut. Hanya ini persoalan di departemen, sementara persoalan keadilan di tengah-tengah rakyat yang kena gusur, pastilah ditangani militer. Trieste oh…Trieste…entah kapan keadilan dan kedamaian dapat tercipta di sini. Ucok patah semangat.

Ucok memang agak repot belakangan ini. Karena semakin santer kedengaran bahwa Dewi Lyana jatuh cinta kepadanya. Sedangkan Ucok belum tertarik untuk menjalin asmara dengan Dewi.

“Terlalu manja dan tidak tahan banting si Dewi itu. Cantiknya sih…cantik, tapi itulah…manja kali kutengok.” Inilah pengakuan Ucok di tengah-tengah Armand dan Muslimin.

“Yah,…tapi, lama kelamaan ‘kan bisa juga Dewi berubah kau bikin.” Arman mencoba menjelaskan. “Lagi pula Dewi itu dari keluarga baik-baik,” Armand menambahkan.

“Pukimak kau Mand! Berapa kau dibayar Dewi.” Ucok suntuk mendengar ucapan Arman.

“Tidak…tidak Cok, dari pada Dewi yang lugu itu jatuh ke tangan laki-laki hidung belang, kan gawat…,”  Muslimin mendukung maksud Arman.

“Ah, taiklah sama kalian berdua. Kok jadi ini yang kita bicarakan. Apa tak ada lagi pembicaraan yang lebih bermutu ?” Ucok semakin suntuk mendengar celotehan-celotehan Arman dan Muslimin. Rumah makan langganan mereka siang itu jadi gemuruh dibuat ketiga staf FDP.

 

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 19

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #19

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 19

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Tidak ada yang menyangka bahwa Susanti berani bertindak nekad meningalkan rumah hanya berbekal beberapa helai baju. Dan, sudah dua hari dilacak, belum juga ada perkembangan. Muslimin yang paling heboh ke sana ke mari mondar mandir mencari di mana Susanti berada, belum juga menemukan titik terang. DR Pardomuan sudah janji akan tulis proposal untuk arisan ternak ikan lele untuk diajukan ke Sabidaor Foundation terpaksa menunda kerjanya. Kembali lagi FDP dirundung malang. Memang program FDP dapat terus berjalan, walaupun suasana hati warga FDP tersendat gara-gara kasus yang menimpa keluarga Susanti.

 Tanpa diketahui oleh orang lain, akhirnya Muslimin menemukan Susanti.

“Om dari Trieste akan datang ke Rilmafrid. Setelah menghadiri pernikahan sepupuku, aku akan pulang bersama dia ke Trieste. Aku sama sekali tidak tertarik menetap di Trieste. Itu makanya aku melarikan diri dari rumah,” terang Susanti.

Muslimin baru teringat bahwa dia pernah dapat amanah untuk menyampaikan hal ini ke Susanti. Tapi, karena dia tak berani melaksanakan amanah orang tua Susanti, terpaksa Susanti harus melarikan diri dari rumah.

“Dua hari lagi aku akan pulang ke rumah, karena Om akan pulang besok. Aku segan saja bertengkar dengan orang tua di hadapan Om,” Susanti lanjutkan menerangkan.

“Oh…,kalau begitu tak ada persoalan serius, — yang penting kau bisa mengatasi masalahmu dengan orang tuamu.” Muslimin mencoba menenangkan jiwa Susanti.

Tadi pagi kawan kuliah Susanti yang tidak dikenal warga FDP dan tak dikenal orang tua Susanti sengaja menjumpai  Muslimin di rumahnya. Juni kawan Susanti sampaikan pesan bahwa Susanti berada di rumahnya kepingin jumpa dengan Muslimin.

Perjumpaan tersebut tidak disampaikan Muslimin kepada siapapun. Hanya kepada DR Pardomuan saja Muslimin sampaikan kabar baik itu, agar DR Pardomuan bisa langsung kerja memburu tugas membuat proposal susulan ke Sabidaor Foundation. Dia serahkan persoalan lari dari rumah dapat diselesaikan berdasarkan proses yang berlangsung. Muslimin yakin bahwa Susanti pasti mampu mengatasi masalah ini dengan baik dan benar.

Berada di rumah orang tua yang melahirkannya, dari waktu ke waktu membuat Susanti semakin sesak. Sudah tak dirasakannya kebahagian tinggal bersama  keluarga dalam satu atap. Tidak seperti dulu, ketika almarhum Tigor dan Mikail sering main ke rumah. Intervensi keluarga terhadap kehidupannya membuat Susanti semakin merasa sesak nafas. Sementara, sang ayah ibu merasa bahwa Susanti semakin sulit diatur. Segala bentuk penggunaan waktu dan uang Susanti sama sekali tak bisa lagi mereka monitor. Susanti semakin misterius di mata orang tuanya.

“Seolah ada api dalam sekam di rumah kami,” Susanti curhat ke Muslimin.

“Sabarlah kau, kan  sebentar lagi akan selesai kuliah,” Muslimin coba besarkan hati Susanti.

“Eh, kok sok kali bicaramu! Sok orang tua. Sok memahami jiwa anak muda. Padahal kita sebaya.” Ternyata Susanti kesal mendengar ucapan Muslimin.

“Sama kau ini serba salah. Suntuk kau lihat keluargamu, aku jadi kena sasaran,” Muslimin jadi jengkel.

“Hua..ha..ha..dijatuhkan Susanti kepalanya ke bahu kiri Muslimin. Digenggamnya tangan Muslimin penuh mesra. “Untunglah kau ada di sampingku Mus. Aku tidak merasa sunyi.”

Di dinding tepas pinggir pantai yang agak terbuka mereka duduk menghabiskan ikan bakar makanan kesenangan Susanti. Warung sederhana itu sedang tidak ramai pengunjung sehingga mereka lebih leluasa bercengkerama.

Anak gubernur Rilmafrid telah menyelesaikan studi sipil arsitektur di Amerika. Bersama rekan-rekan alumus Amerika mendirikan perusahaan kontraktor di Trieste. Tentu saja dengan gampang segala proyek kebijakan pembangunan phisik di tingkat nasional dimenangkan oleh perusahaan mereka. Membangun koneksi dengan berbagai departemen pemerintahan atas restu orang tua sebagai pejabat negara langsung terjalin. Salah satu mega proyek pembangunan pusat perumahan mewah di Rilmafrid dipimpin oleh Ir Ricard Lonardo anak gubernur Rilmafrid.

Ricard Lonardo adalah kawan Susanti satu SMA, patah arang karena cintanya tak disambut Susanti. Malam ini datang lagi ke rumah Susanti dengan penampilan yang sudah sangat berbeda dengan penampilan anak SMA ABG belasan tahun yang lalu. Betapa gembiranya ibu dan ayah menyambut Ricard. Betapa inginnya hati mereka apabila dapat berkeluarga  dengan gubernur. Tapi, hati nurani Susanti bertolak belakangan. Susanti sama sekali tidak tertarik pacaran dengan Ricard.

Secara filosofi Susanti katakan, “Aku sekarang mau mencoba menghargai hal hal yang non material. Aku mencoba mengerti bahwa manusia tidak akan puas hanya karena soal-soal material”. Ricard mungkin tak paham maksud Susanti yang secara tidak langsung menyatakan tidak setuju dengan profesi Ricard yang penuh gemerlapan material. Karena tidak mengerti kalimat yang dimaksud Susanti, Ricard tetap saja selalu datang  untuk melakukan pendekatan. Dipikirnya lama kelamaan pasti Susanti akan luluh dan menerima kehadirannya. Apalagi kedua orang tua tersebut mendukungnya.

Kekesalan Susanti memuncak di rumahnya yang macam api dalam sekam. Obsesi Susanti yang kuat untuk mengenal kehidupan mahasiswa yang hidup pas-pasan, kembali lagi menggugah pikiran Susanti. Ditinggalkannya rumahnya berbekal beberapa helai baju saja. Ricard nampak kecewa malam itu di hadapan ayah ibu. Tapi, tak bisa bilang apa-apa, selain menunjukan rasa solidaritasnya terhadap kepedihan hati kedua orang tua tersebut.  

Kamar indekost Yuni beserta kompor dan segala peralatan dapur sederhana adalah tujuan Susanti. Yuni sangat heran melihat sikap kawan dekatnya, Susanti, yang tidak mau hidup cukup sejahtera. Tapi dia tak berani bertanya tentang hal ini, karena Susanti kelihatan tegang dan berbeban berat.

“Aku yang besok belanja dan masak makan pagi dan siang. Kebetulan besok aku kuliah sore.” Yuni diam saja sambil menjahit sarung bantal yang koyak untuk Susanti. “Tapi, jangan lupa, kalau bisa sempatkan jumpai Muslimin, Ini ongkos ya…Yuni.” Yuni terima duit itu dan tetap diam kebingungan.

“San,.. kalau besok masak di sini, hati hati ya. Kompor sangat dekat dengan buku kuliah dan lemari pakaian.” Diusap Yuni keringatnya yang bercucuran. Kali ini tidak ada lagi yang heboh mencari Susanti, karena alamat jelas Yuni ditinggalkan waktu berangkat dari rumah.

“Yah,…kalau itu pilihan hidupnya, Kita bisa bilang apa?” “Biarkanlah dinikmatinya hidup yang dipilihnya itu.” Ibu kesal tidak membolehkan Ricard menjumpa Susanti di rumah Yuni.

Tetap bersama tukang ojeknya Susanti juga ke sekretariat FDP. DR Pardomuan ingatkan Susanti,”Yah,…walaupun sudah pisah rumah, sesekali kau perlu juga berkunjung ke rumah ayahmu. Terus mengikuti perkembangan rumah sekaligus informasikan kegiatanmu. DR Tumpak Parningotan juga sudah tahu bahwa kau tidak tinggal di rumah orang tuamu. Beliau ikut memberi pengertian agar orang tuamu membebaskanmu dalam menentukan jalan hidup.”

Susanti tak sangka bahwa begitu besar perhatian DR Pardomuan dan Om-nya, DR Tumpak Parningotan, terhadap dirinya. Teman-teman se-FDP juga demikian. Ada rasa prihatin melihat Susanti merasa terkekang di rumah orang tuanya.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 18

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #18

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 18

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Beberapa hari kemudian, dalam menjalankan tugas tukang ojek yang paling setia menjemput sewa manis dari kampus, Muslimin membuka pembicaraan.

“Aku heran tengok Arman. Pendapatku sebagai anak petani turun temurun tak pernah dihargainya. Seolah dialah orang yang paling paham tentang kehidupan petani.”

Susanti digoncengan lantas menjawab,”Sudahlah! Diamlah kau… Yok kita minum es campur sambil ngobrol.” Dicoleknya punggung Muslimin.

“Baiklah tuan putri nan jelita,” Muslimin langsung mengarahkan motor ke arah tukang es campur langganan mereka. Tempat mereka memperdalam intensitas perkawanan alias memperdalam hubungan interpersonal.

“Aku sangat setuju sama usulmu itu San. Pikiran petani itu tak usah dipaksakan untuk belajar seperti mahasiswa. Kasihan mereka. Kasihan bapakku.” Muslimin menyatakan dukungannya. dengan wajah serius.

“Ah!! Kau terus hubungkan diskusi kita dengan kondisi keluargamu.” Nampaknya Susanti tidak bernafsu bercerita serius sore ini. “Lebih baik kita ngobrol santai saja, tak usah yang berat berat.” Disendoknya tape dari gelas es campur. Makanan kesenangan Susanti.

“Tidak San, dua hari lagi kita akan membicarakan hal itu. Jadi kau harus punya argumentasi yang kuat mendukung sikapmu.” Muslimin dengan wajah tegang masih tetap kepingin Susanti tertarik membahas topik pembicaraan, sementara Susanti jadi iba hati melihat kawan dekatnya itu. Disentuhnya tangan Muslimin, “Iyalah Mus,.. terima kasih atas dukunganmu. Aku sudah tulis 2 lembar argumentasiku pada rapat mendatang. Nanti kau editnya.” Digenggam Muslimin jari tangan Susanti dengan penuh kasih.

Ketika Muslimin akan berangkat keluar dari es campur, berpapasan dengan Arman dan Ucok yang juga ingin minum es campur. Hanya bertegur sapa seadanya mereka berpisah. “Seenaknya Susanti ingin merubah cita rasa  FDP yang sudah capek-capek kita rumuskan.” Ucok menyalakan rokoknya.

“Iya…mungkin Susanti dan Muslimin tadi membahas hal yang sama dengan kita di tempat es campur ini. Ha…ha..ha..” Arman ringan saja melihat perbedaan pendapat yang terjadi pada pertemuan yang lalu.

“DR Pardomuan pasti tidak setuju dengan sikap Susanti. Dia berani meningalkan perguruan tinggi karena sangat percaya terhadap gerakan revolusioner.” Ucok memberi pendapat agar Arman tidak main-main dengan persoalan beda pendapat yang terjadi.

“Maaf ya… Cok, sampai rumah malam itu aku berpikir bahwa FDP tak mungkin mampu untuk mewujudkan mimpi-mimpimu.” Totalitas kita hidup menyatu dengan petani masih sangat kurang. Kita masih minat hidup agak genit tak mau ketinggalan trend anak muda masa kini. Lagi pula,…Kita sama sekali tidak punya kekuatan politik untuk merubah kebijakan pemerintah.” Akhirnya Arman terpancing untuk mengupas isi pembicaraan yang ditawarkan Ucok. “Macam mana pendapatmu?” Arman justru mendesak Ucok untuk berpikir realistis.

“Nantilah kupikir dulu masak-masak.” Ucok kelihatan melemahkan temperamennya.  Dirga Belanta juga tadi siang sudah nyatakan pikirannya bahwa untuk gerakan struktural di kalangan petani, kapasitas FDP masih belum memungkinkan. Sementara himpitan biaya hidup mungkin akan membuat petani semakin tidak bisa bergerak. Ucok yang mendengar pernyataan Dirga waktu di kampus merasa kecewa. Didesaknya Dirga agar konsisten terhadap garis ideologi FDP. Tapi, sikap keras Ucok sudah tidak dinampakkan lagi pada ngobrol dengan Arman di tukang es campur.

Sementara Ningsih dan Dewi Lyana tidak perduli dengan perbedaan pendapat itu. Mereka  habiskan waktu sampai 3 jam belanja di Monza setelah makan bakso di simpang empat Deigo. Tempat lain sarang mahasiswa-mahasiswa Rilmafrid sering bersantai.

Pada malam lanjutan pertemuan untuk menentukan garis kebijakan FDP, Susanti dan Muslimin tidak hadir. Tak ada yang tahu kenapa mereka berdua tidak hadir. Padahal tadi siang sudah ada tanda-tanda kuat akan terjadi rekonsiliasi. DR Pardomuan di sekretariat sudah memberitahukan angin segar tentang strateginya memecahkan perbedaan pendapat antar Ucok dan Susanti. Maka malam ini disampaikannya pesan itu.

“Baiklah, … tanpa Susanti dan Muslimin kita buka rapat malam ini. Sebenarnya Susanti yang paling perlu hadir, tapi ternyata sudah hampir jam 8 mereka belum juga datang. Pada awal perkenalan kita dengan Mukurata, sudah dinyatakannya bahwa di samping dana untuk organeser petani ada juga tersedia dana untuk peningkatan kesejahteraan petani melalui kegiatan ekonomi mikro maupun usaha-usaha produktif lainnya. Tapi, karena saya dan almarhum Tigor dan Mikail ingin mempraktekan gerakan revolusioner, maka untuk sementara kami tolak tawaran dana untuk pengingkatan kesejahteraan.”

Tiba-tiba sekretariat FDP diketuk. Rupanya ayah ibu Susanti yang datang, langsung dipersilahkan masuk. “Tadi sore Susanti lari dari rumah. Muslimin kami tugaskan untuk melacak di mana Susanti berada. Itu makanya hari ini mereka tak hadir pada rapat FDP.” Ayah Susanti mohon maaf merasa mengganggu acara FDP, sekaligus mohon bantu warga FDP untuk melacak keberadaan anak mereka.

“Di FDP maupun dalam pergaulan Susanti di kampus sama sekali kami tidak melihat ada persoalan mendasar yang membuat Susanti terluka.” DR Pardomuan memberi keterangan. Ucok tunduk seakan ada hal yang membuat dia menyesali dirinya. Hanya sebentar saja tamu sekaligus keluarga FDP itu berkunjung. DR Pardomuan tutup pertemuan dengan tamu. “Baiklah ..Pak kami akan bantu melacak Susanti. Kami pun minta maaf karena tidak mengikuti perkembangan anggota kami.”

 

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 17

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’