Arsip Tag: cerpen

Namrudz

Cerpen Bruno Schulz
Alih Bahasa John Kuan

anjing
Gambar diunduh dari flickrhivemind.net

Agustus tahun itu, aku senantiasa bermain dengan seekor anjing kecil yang amat lucu. Ia suatu hari begitu saja muncul di atas lantai dapur kami, gerakannya kikuk, terus-menerus mendecit halus, tubuhnya membawa aroma bayi dan susu. Kepalanya bulat, agak bergetar, belum sepenuhnya terbentuk; dua kaki depannya terbuka ke samping seperti tikus tanah, dan bulu yang menutupi tubuhnya halus tak terkira, amat lembut.

Sejak pandangan pertama, benda kecil ini langsung menaklukkan hatiku yang belum ranum, membuat aku kelabakan jatuh cinta padanya.

Benda kecil kesayangan para dewa ini, yang melebihi segala macam mainan paling indah dan menyenangkan ini bisa jatuh dari surga mana? Sungguh tak terbayangkan, tukang cuci piring yang tua dan membosankan itu ternyata bisa mencetuskan ide yang begini cemerlang, pada pagi buta, pada saat yang belum disentuh orang sudah membawa seekor anjing kecil dari pinggiran kota ke dalam dapur kami!

Ah! Pada saat ——— sungguh disayangkan ——— kita masih belum berada di tempat kejadian, pada saat kita masih belum terlahir dari rahim kelam dunia mimpi, perihal bahagia ini sudah terjadi, menunggu kita. Dia dengan kikuk berbaring di atas lantai dapur yang dingin, sedikitpun tidak dihargai oleh Adela dan orang-orang rumah. Kenapa mereka tidak lebih awal membangunkan aku! Piring yang penuh berisi susu di lantai dapur menunjukkan naluri keibuan Adela, sungguh tidak beruntung, dan juga membuktikan ini adalah kenyataan ——— sudah ada yang merasakan kegembiraan sebagai ibu angkat, tetapi aku tidak ada kesempatan terlibat di dalamnya. Bagiku, sepenggal sukacita ini telah hilang buat selamanya.

Namun di depanku masih terpampang sepotong  masa depan yang indah. Betapa kaya dan menakjubkan segala pengalaman, eksperimen, penemuan yang terbentang di saat ini! Saripati rahasia hidup, sekarang telah menjelma jadi bentuk yang begini sederhana, praktis, dan menarik, terkuak di depan keingin-tahuanku yang tidak pernah terpuaskan. Ini benar-benar luar biasa menarik ——— dapat memiliki sepotong kehidupan di dalam genggaman tangan, partikel-partikel rahasia kekekalan, eksis di dalam bentuk yang begini baru dan menakjubkan. Sebab ia berbeda dengan kita, maka mengobarkan keingin-tahuan kita yang tak bertepi dan rasa hormat yang misterius. Ini sungguh fantastik ——— di dalam tubuh hewan yang samasekali berbeda dengan kita, ternyata memiliki percikan hidup yang sama.

Binatang! Objek yang selamanya tidak akan memuaskan rasa ingin-tahu kita, sampel dari teka-teki hidup, seolah tujuan mereka diciptakan adalah untuk memperagakan kepada manusia dirinya yang lain, menjabarkan keragaman dan kompleksitas mereka dengan ribuan kemungkinan serupa kaleidoskop, dan setiap jalur akan menembus batas kontradiksi, menembus perkembangan keluar batas yang penuh karakater. Binatang tidak ada beban keegoisan, tidak usah memikul hubungan antar manusia yang kacau dan berat, terhadap kehidupan lain yang asing mereka selalu membuka diri, penuh kebaikan, juga rasa suka yang meluap, kuriositas untuk bekerjasama, tersembunyi di bawah rasa lapar dan haus yang mereka sendiri amat sadar.

Anjing kecil itu memiliki bulu kulit seperti beledu dan tubuh yang hangat. Ketika kau meletakkan tangan di atas tubuhnya, dapat meraba denyut nadinya yang lebih cepat dari manusia biasa. Dia punya dua lembar daun telinga yang lembut, sepasang mata kebiruan keruh, mulut yang berwarna merah jambu (  kau bisa memasukkan jari, sedikitpun tidak berbahaya ), empat tungkai yang halus dan lugu ——— di tumit kaki depan juga ada tonjolan daging berwarna merah jambu yang mempesona. Dia dengan kaki-kaki ini jatuh bangun berlari sampai di depan piring berisi susu, dengan rakus dan tergesa menggunakan lidahnya yang berwarna merah mawar menjilat susu. Setelah kenyang, ia dengan kecewa mendongak wajahnya yang kecil, di dagunya masih melekat setetes susu, lalu tunggang-langgang berlari meninggalkan kolam mandi susu.

Cara jalannya seolah berguling yang canggung, tubuhnya bergerak miring, tidak berarah, sempoyongan seperti orang mabuk. Emosinya yang paling utama adalah semacam rasa pilu yang tak terukur, kesepian terhadap ketidak-berdayaan dan ketelantaran ——— dia masih belum mengerti bagaimana menutup kekosongan hidup di antara  jam makan yang penuh sensasi. Semua emosi itu ditunjukkan dengan gerakannya yang tidak beraturan dan tidak berkelanjutan, tidak logika, melankoli yang tiba-tiba menyerang, diikuti dengan suara-suara ratapan, serta tidak mampu menemukan tempat yang menjadi milik sendiri. Bahkan di dalam alam mimpi sekalipun, ia juga masih perlu menggulung diri jadi segumpal tubuh yang menggigil agar dipeluk, didukung ———  yang menemaninya tetap adalah kesepian yang tiada rumah untuk pulang. Ah, hidup ——— hidup yang muda, rapuh, ditarik keluar dari kegelapan yang ia andalkan, didorong dari rahim hangat yang memeluknya ke sebuah dunia yang besar, asing dan terang, tubuhnya mengerut jadi satu gumpalan, terus mundur, menolak sebuah pesta perayaan yang disiapkan orang-orang buatnya ——— penuh dengan kejijikan dan ketidak-ikhlasan.

Namun perlahan, Namrudz kecil ( ia memperoleh nama membanggakan, khusus buat petarung ini ) telah mulai menikmati citarasa hidup. Dunianya yang pada awal ditentukan oleh tubuh ibu, sekarang telah berubah menjadi dikendalikan oleh daya tarik hidup yang penuh ragam.

Dunia mulai menciptakan berbagai macam jebakan buatnya: makanan berbeda memiliki rasa yang asing namun fantastik, cahaya matahari pagi berbentuk persegi empat yang menempel di atas lantai adalah tempat paling enak untuk berbaring di dalamnya. Gerakan tubuhnya ——— misalnya kaki dan ekor ——— dengan jenaka menggodanya, ingin ia bermain dengan mereka. Ia dapat merasakan tangan manusia yang merabanya, di bawah tangan ada semacam hasrat keusilan yang mulai terbentuk, tubuhnya dengan riang bergerak, mulai menghasilkan semacam keinginan pada gerakan yang sepenuhnya baru, kasar dan berbahaya ——— semua ini telah menaklukkan, menyemangati ia untuk menerima, setuju dengan eksperimen hidup.

Ada satu hal lagi ——— Namrudz mulai mengerti, hal-hal yang mendekati ia sekalipun tampak luar amat baru, namun sesungguhnya sudah pernah terjadi, mereka telah terjadi berpuluh ribu kali, sesungguhnya sudah tak terhitung. Tubuhnya sudah bisa mengenali berbagai situasi, kesan, dan objek begini, pada dasarnya, segala hal sudah tidak akan membuat dia terlalu kaget lagi. Setiap kali berhadapan dengan keadaan baru, dia akan menyelam ke dalam ingatan sendiri, menyelam di kedalaman ingatan tubuhnya, meraba gelap, sangat hafal mencari jawaban di sana ——— kadangkala, di dalam tubuh sendiri menemukan jawaban tepat yang telah disiapkan: ini adalah warisan turun-temurun, bersembunyi di dalam cairan darahnya dan kearifan di sistem sarafnya. Ia menemukan beberapa tindakan dan keputusan  yang telah matang di dalam tubuhnya ( bahkan ia sendiri juga tidak tahu ), hanya menunggu saat yang tepat untuk meloncat keluar.

Lapangan hidupnya yang muda adalah dapur yang memiliki ember yang berbau sedap, di dalamnya juga ada tergantung kain lap yang rumit, aroma yang menarik perhatian, bunyi sandal Andela yang menepuk lantai, dan suara-suaranya yang diperas keluar ketika dia mengerjakan pekerjaan rumah tangga ——— semua ini sudah tidak mengejutkan ia lagi. Ia sudah terbiasa menganggap dapur sebagai teritori dan kampung halamannya, dan bersamanya telah berkembang jadi semacam, yang seolah ada seolah tidak, menyerupai hubungan dengan tanah leluhur.

Mungkin satu-satunya pengecualian adalah  ketika kegiatan mencuci lantai tiba-tiba sudah seolah bencana alam yang menimpanya. Seluruh hukum alam dibuat terbalik, seketika cairan alkali yang hangat sudah disiram di atas lantai dan seluruh perabot rumah, di tengah udara juga penuh dengan suara penyikat di tangan Andela yang sangat mengancam.

Namun bahaya juga ada saatnya berlalu. Penyikat reda kembali, samasekali tidak bergerak, dengan tenang berbaring di satu sudut dapur, lantai mengeluarkan aroma kayu basah yang sedap dicium. Namrudz kembali lagi ke dalam aturan yang biasa dan akrab, kembali pada kebebasan sesuka hati berkegiatan di atas teritori sendiri. Dia merasakan sejurus hasrat yang bergelora, ingin dengan gigi menarik karpet tua yang ditaruh di atas lantai, lalu dengan seluruh tenaga menghempasnya ke kiri ke kanan. Berhasil menekan kekuatan alamiah, membuat dia mempunyai suatu rasa senang yang tak terucapkan.

Tiba-tiba, seluruh tubuhnya terpaku di atas lantai: kurang lebih tiga langkah di depannya (tentu adalah tiga langkah anjing kecil) ada satu monster yang hitam pekat amat buruk, menggunakan kakinya yang kusut seperti kawat besi bergerak dengan cepat. Namrudz yang amat terkejut dengan sorot mata mengikuti serangga mengkilap yang mondar-mandir di atas lantai itu, panik memperhatikan tubuh yang pipih, buta, tak berkepala ditarik oleh satu gerombolan yang berlari amat cepat seperti kaki laba-laba.

Ada sesuatu di dalam tubuhnya yang disebabkan oleh pemandangan di depan mata ini lalu menyatu, matang, berkecambah, sesuatu yang ia sendiri belum mengerti, seolah adalah amarah atau takut, sekalipun itu termasuk menyenangkan, disertai dengan getaran kekuatan, emosi, dan sifat menyerang.

Mendadak kedua kakinya menginjak ke depan, mengeluarkan suara yang ia sendiri juga belum begitu kenal, samasekali berbeda dengan jeritannya yang biasa.

Ia berulang kali menggunakan suaranya yang melengking, beberapa kali terdengar sumbang karena terlalu bersemangat meninggikan suaranya.

Ia ingin dengan bahasa baru yang ditemukan seketika ini buat berkomunikasi dengan serangga, namun ini hanya sia-sia. Di dalam otak kecoa tidak ada tempat buat memuat paparan yang panjang lebar begini, oleh sebab itu makhluk menjijikan ini melewati ruangan, dengan langkah-langkah biasa yang seperti prosesi, terus masuk ke salah satu sudut.

Namun, di dalam jiwa anjing kecil, rasa benci masih belum memiliki daya tahan, dan juga masih belum alot. Sukacita hidup yang baru dibangunkan itu telah membuat seluruh perasaan berubah menjadi keriangan. Namrudz masih terus menyalak, namun tanpa ia sadar makna ketika ia menyalak telah berubah, berubah menjadi parodi ——— sesungguhnya ia ingin mengatakan keberhasilan pesta kehidupan yang tak terucapkan itu, penuh dengan pertemuan tak terduga, getaran dan kesenangan yang memuncak.

Iklan

Dunia Kita Bukan Dunia Keinginan

Resensi Riza Fitroh Kurniasih*

Buku ini berisi tujuh belas cerpen dari 17 penulis berbagai negara (tujuh di antaranya adalah peraih nobel) dengan cerita yang sanggup menggugah pembaca. Sang penulis mampu menggiring pembaca pada dunia yang belum pernah dihadiri sekalipun. Pembaca seakan-akan dibawa masuk ke dalam dunia baru yang sama sekali asing untuk diwujudkan dalam dunia nyata, namun dengan gaya penuturannya kita bisa mengikuti alur cerita yang dihadirkan.

Dengan seting tempat yang menarik dan lakon cerita yang dihadirkan penulis dalam buku ini mampu menghadirkan dinamika tersendiri bagi pembaca. Pembaca memiliki kebebasan dalam membayangkan latar tempat berlangsungnya alur cerita. Dengan pembawaan tokoh yang memiliki karakter sendiri-sendiri tidak membuat pembaca terasing dengan alur yang disajikan oleh penulis. Penulis hanya perlu mengikuti pikirannya untuk dapat memahami dan menikmati buku ini.

Bagian awal dari cerpen ini diawali dengan cerpen berjudul “Sang Putri” persembahan terbaik dari Irena Ioannidou Adamidou, pengarang asal Siprus, mewakili kawasan Yunani dan sekitarnya yang di masa silam merupakan cikal bakal peradaban Eropa. Dengan tidak menghilangkan ciri khas bangsa eropa, Irena mampu membawa pembaca untuk menikmati hasil tuangan penanya.

 Irena menceritakan bagaiman pentingnya dunia pendidikan, pun bagi seorang putri yang rupawan dan memiliki materi yang cukup. Namun dengan tetap menyisipkan ciri khas bangsa eropa yang menjunjung tinggi arti pentingnya pendidikan. Dia menggambarkan bagaimana seorang gadis yang semasa mudanya menjadi idaman para pujangga karena kecantikan yang dimilikinya, sehingga kelebihan ini membuat banyak yang terpesona padanya. Namun siapa sangka kelak di masa tuanya ia tak memiliki apapun kecuali seorang nenek tua yang menemaninya dan seorang suami yang selalu dengan mudah menjual barang-barang miliknya.

Perceraian bagi sang putri sangatlah memalukan, setidaknya begitu stigma yang ada pada masyarakat desa tempat ia tinggal. Sang putri yang rupawan dan mampu mengundang setiap laki-laki yang melihatnya semasa muda, kini hanya bisa diam. Dia tak terbekali dengan tangan-tangan pendidik dan bangku-bangku keras pendidikan untuk melawan ketertindasan.

Irene mampu menyadarkan kita akan pentingnya arti pendidikan, pun bagi seorang perempuan yang rupawan, pendidikan menjadi harga mati untuk dimiliki setiap orang yang berkembang. Perkawinan tak menjamin kita pada dunia status quo kenyamanan. Justru perkawinan menjadi bencana ketika kita buta dengan dunia nyata sekitar kita.

Disusul kmudian dengan cerita karangan Heinrich Boll, yang berasal dari Jerman. Jerman merupakan salah satu Negara Eropa dengan ciri khas tradisi sastranya paling kuat. Heinrich berkesempatan memperoleh hadiah nobel sastra. Dengan cerpen berjudul Wajah Sedih mampu mengajak pembaca untuk menguji daya imajinasinya. Dengan satu inti cerita, sang peraih nobel sastra dari Jerman ini memperlihatkan keahliannya dalam menuangkan kata-katanya.

Seorang pemuda yang baru saja dibebaskan dari ruang tahanan karena dia berekspresi dengan dirinya sendiri. Sebuah cerita yang mengesankan. Menggambarkan bagaimana seharusnya kita mampu menghargai sebuah perjuangan, menghargai bagaimana arti pentingnya mengenang pejuang dan mengerti bagaimana pentingnya mengingat sejarah.

Cerita dimulai dengan seorang penjaga keamanan yang memborgol tangannya dengan besi halus. Keasyikannya saat menikmati burung-burung yang melayang, melesat, dan menukik sia-sia mencari makanan rupanya harus terhenti karena borgol jeruji itu. Pelabuhan yang begitu sunyi, airnya kehijau-hijauan, kental karena minyak kotor dan di permukaannya yang berkerak mengapung berbagai macam sampah, harus terganti dengan pemandangan sama ketika ia dimasukkan kedalam sel dikarenakan wajah senangnya. Dan kini sang pemuda ini masuk ke sel kembali karena berwajah sedih.

Perkara ia pernah masuk ke dalam sel tahanan karena wajah bahagianya saat berlangsungnya peringatan kepala negara. Dan karena menurut pihak kepolisisan, menunjukkan wajah bahagia saat ada peringatan kematian dari orang penting di negaranya merupakan sebuah penghinaan. Sang pemuda terkena hukuman penjara lima tahun. Dengan kelakuan ini membuatnya mennyandang penjahat di negaranya.

Di sisi lain, Heinrich menggambarkan bagaimana kerasnya siksa fisik bagi orang yang melanggar aturan. Selain masuk ke dalam tahanan, ia harus merasakan pukulan dari para petugasnya. Melalui cerita ini Heinrich mewakili kejujurannya dengan gambaran bahwa sang pemuda yang menerima hukuman tahanan tersebut harus merasakan bagaimana pukulan dari Petugas Interogator, Interogator Senior, Kepala Interogator, Hakim pendahulu, dan hakim akhir. Kekerasan ini masih ditambah dengan polisi yang melaksanakan tindakan fisik yang diperintahkan hukum.

Mereka menghukum sang pemuda ini selama sepuluh tahun karena wajah sedihnya, sama seperti lima tahun yang lalu ketika mereka menghukumnya selama lima tahun karena wajahnya yang bahagia saat peringatan upacara kematian kepala negara tersebut. Ia harus mencoba tidak punya wajah lagi, jika ia berhasil bertahan selama sepuluh tahun berikutnya dengan kebahagiaan yang ia miliki.

Keliaran dalam bermain dengan kata-kata dalam Antologi Cerpen Eropa ini tidak hanya sampai di sini. Albert Camus sang pengarang modern peraih hadiah nobel sastra dari negara Perancis, yang merupakan sebuah negara dengan tradisi sastra yang mapan. Albert Camus memilih judul cerpennya “Perempuan Tak Setia”, Albert menggambarkan bagaimana perjuangan seorang suami yang selalu setia mendampingi istrinya meski ia tak yakin kalau istrinya benar-benar mencintainya. Yang ada dia yakin akan keputusannya itu.

Janine yang telah dua puluh tahun berada di samping Marcel tak pernah benar-benar bisa mengerti apa yang menjadi kebutuhan dari suaminya tersebut. Marcel dengan pembawaan cuek terus saja berjalan melalui liku-liku hidupnya dengan tetap tenang dan ia yakin suatu saat Janine akan membutuhkan kehangatan darinya. Marcel selalu berhasil membuat Janine sadar bahwa ia ada di dunia ini untuk lelaki yang telah membuatnya ada dalam kenyataan ini, menyadarkan ia bahwa ia tak sendirian.

Janine yang memang berwatak pendiam selalu mengikuti apa yang dikata suaminya, Marcel. Suatu ketika Janine merasakan badai dingin dalam hatinya yang tak pernah ia alami selama ini. Di suatu malam dalam pemukiman Janine terbangun, ia merasakan kesunyiaan yang mengelilinginya begitu merajalela. Namun, di ujung kota, anjing mengaung di malam sunyi dan membuat Janine gemetar. Ia berpaling dan kembali berbalik, dirasanya bahu suaminya yang keras mengenai tubuhnya, dan tiba-tiba setengah tertidur, ia memeluk suaminya. Ia berbicara, tapi ia sendiri sulit mendengar apa yang ia katakana. Yang bisa dirasakannya hanyalah kehangatan Marcel.

Marcel memang selalu berhasil membuat janine selalu merasa dibutuhkan. Mungkin Marcel tak mencintainya. Cinta, bahkan bisa berisi benci. Dia tak pernah tahu. Namun dia tahu bahwa Marcel membutuhkannya dan bahwa ia butuh untuk dibutuhkan, bahwa ia hidup dengan hal itu siang dan malam. Terutama di malam hari, setiap malam, saat ia tak ingin sendirian.

Dalam kegelapan tiba-tiba Janine kembali dihampiri rasa kesedihan dan kesakitan yang begitu mendalam, sebuah kesaksian tentang dirinya bahwa Marcel hanya takut jika ia tak ada. Memunculkan kembali angan-angan yang tak semestinya. Kesaksian bahwa seharusnya mereka sudah berpisah sejak dahulu sampai akhir zaman. Ia menarik dari suaminya, ia pergi keluar menyendiri, duduk menatap langit-langit, mendengarkan gonggongan anjing serta kesakitan tubuhnya yang ditempa angin. Ia tiba-tiba merasakan kesunyian yang begitu dahsyatnya. Ia kembali lagi dan hanya bisa terduduk. Marcel berbicara dan Janine tak mengerti apa yang Marcel katakan. Marcel bangkit dengan pandangan tak mengerti ke arah Janine. Janine menangis tak mampu menenangkan diri.

Pada bagian akhir dari buku ini diwakili cerpen berjudul Perkawinan karangan August Strindberg, seorang pengarang asal Skandinavia, yang merupakan dramawan terkemuka asal Swedia yang banyak melahirkan karya prosa. Dia menggambarkan bagaimana sebuah perkawinan tak mesti harus memendamkan bakat dalam berkarya dan hanya bergantung pada suami.

Seorang perempuan dengan jengkelnya melihat para gadis-gadis yang berubah hanya menjadi pengurus rumah tangga bagi para suaminya setelah perkawinan. Maka ia belajar melakukan sebuah bisnis yang bisa membuatnya tetap merasa hidup jika ia sudah menikah. Ia merintis usaha kembang tiruan.

Seorang lelaki menyesali bahwa para gadis cenderung menunggu datangnya seorang suami yang akan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ia ingin menikahi seorang perempuan yang mandiri dan bisa mencari uang sendiri, semacam perempuan yang sejajar dengannya dan bisa menjadi teman sepanjang hidupnya, bukan sebagai seorang pengurus rumah tangga.

August mampu menghadirkan gaya perkawinan yang berbeda dalam cerpennya. Digambarkan dalam cerpennya bahwa gaya perkawinan yang dilakukan sepasang muda-mudi ini layaknya kakak-adik. Memiliki 3 buah ruang, dengan satu ruang untuk kamar sang suami, satu ruang untuk kamar sang istri dan satu ruang netral untuk mereka gunakan bertemu bersama. Selama hampir dua tahun mereka hidup dengan bahagianya, seakan-akan membuat isi dunia cemburu. Hingga akhirya sang istri harus menekuni pekerjaan rumah tangganya sebagai hadiah dia telah bekerja selama lebih dari dua tahun. Menekuni pekerjaan rumah tangga sebagai buah hasil perkawinan mereka. Sebagai wujud adanya rasa kasih dan sayang di antara keduanya. Mereka dikaruniai seorang buah hati.

Antologi Cerpen Eropa yang disusun oleh Anton Kurnia ini menjadi salah satu buku pengetahuaan akan kekayaan karya saatra di Indonesia. Menandakan adanya kebebasan untuk mengekspresikan karya sastra dengan gayanya masing-masing dengan tetap mengedepankan kreatifitas sebagai pegangannya. Karya sastra yang mengacu pada referensi kekhasan sastra barat menjadi salah satu karya besar untuk semakin menambah kekayaan hasil karya sastra selanjutnya.

cerpen-cerpen-terbaik-eropa

Judul Buku: ANTOLOGI CERPEN EROPA: Seorang lelaki Dengan Bekas Luka di Wajahnya

Penyusun: Anton Kurnia

Penerbit: Jalasutra

Tahun: 2003

Tebal: 291 halaman

Harga: Rp. 25.000,-

ISBN: 979-96337-32-4

*) peresensi adalah Alumni Mahasiswa Biologi FKIP UMS

Kopi Pagi Sri

Cerpen Imam Solikhi
Editor Ragil Koentjorodjati

Pagi. Kopi. Akhirnya aku bisa ngopi, meski dengan sembunyi-sembunyi. Ini adalah yang pertama kali di tahun ini. Karena sejak enam bulan yang lalu aku tidak bisa, dan tidak boleh meneguk kopi. Bukan hanya untuk dua bulan ke depan saja, tapi mungkin untuk selamanya, tidak ada kopi.

wanita kopi
Foto A cup of coffee by Elicice

Kopi, selalu identik dengan laki-laki. Kopi ditanam tidak untuk seorang perempuan. Khususnya di desa Guwalan. Lebih lagi, tidak untuk perempuan yang sedang mengandung 8 bulan. Dan yang lebih khusus dari semua itu, adalah aku. Sri. Perempuan yang pernah tinggal berbulan-bulan di rahim istri dari Pak Supri. Perempuan pecandu kopi, semenjak empat tahun waktu yang terlewati. Semenjak SMP kelas 3, atau semenjak aku mengenal cinta. Juga semenjak aku mengetahui fungsi kedua dari vagina.

Pagi ini, benar-benar sunyi. Benar-benar sepi. Bahkan kesunyian pun merasakan kesepian, dan kesepian pun merasakan kesunyian. Saat-saat seperti ini, aku sangat merindukan sebuah situasi yang biasa kusebut “sendiri”. Sendiri secara jiwa, maupun raga. Aku memang suka menyendiri. Persis seperti saat aku meringkuk di dalam rahim istri dari Pak Supri. Kini aku duduk di kursi dekat jendela kamar selebar seratus senti, meminum kopi yang sudah enam bulan tak kunikmati, dan yang lebih penting lagi, kini aku sendiri.

Daun-daun sudah nyaris sempurna menghijau kembali. Burung-burung kembali bercericit merayakan lepasnya musim kemarau. Bau tanah yang khas berulang kali merasuk ke dalam rongga hidungku. Langit pagi terkesan sendu, setelah tiga hari lamanya hujan menyapa desaku. Kulihat jarum pendek masih berkutat di angka tujuh. Itu artinya masih ada waktu sekitar empat jam sebelum aku kembali bertemu dengan orang-orang yang tertulis dalam KK sebagai keluargaku. Mereka yang bernama Pak Supri dan istrinya-yang kupanggil ibu-serta Dadang yang ditakdirkan sebagai pamanku. Mereka yang sekitar empat jam lagi akan kembali dari Kutu Wetan, setelah mereka merasa puas menyaksikan saudara mereka-saudaraku juga-melahirkan. Mungkin beberapa hari kemudian, mereka akan kembali menyaksikan. Kelahiran. Mungkin tak lama lagi aku juga akan merasakan sebagai salah satu tokoh utama dalam prosesi kelahiran. Meski masih sekitar satu bulan, tapi bisa kutebak itu akan terasa mendebarkan. Sama mendebarkannya ketika sekitar empat jam lagi mereka akan kembali. Lalu mengganggu waktuku untuk sendiri. Kembali memberikan perhatian dan bantuan yang nihil ekspresi. Kasih sayang yang tak berinduk dari hati.

“Tok.. Tok.. Tok..” suara pintu diketok. Sebisa mungkin aku segera bergegas merapikan gelas yang masih tersisa seperempat kopi hitam. Lalu sambil berusaha segera secepat mungkin menuju sumber suara yang berulang kali mengucapkan salam. Rasanya sangat sulit, berjalan dengan tubuh ringkihku ini yang kini dibalut perut yang kian membuncit.

“Ya, sebentar!” jawabku dengan sedikit berteriak. Jarak antara kamarku dan pintu depan terasa lebih jauh ketimbang saat beberapa bulan yang lalu. Perut dan tulangku terasa ngilu. Ditambah lagi kakiku pincang yang sebelah kiri. Bukan karena cacat, tapi kata orang-orang ini disebut gawan bayi. Punggung kaki kiriku telah lama membengkak. Jika tersentuh sedikit saja aku bisa teriak-teriak.

“Ada apa Bulik?” tanyaku pada orang yang mengetok pintu tadi, yang ternyata adalah Bulik Karmi. Tetanggaku. Tetangga yang kerap membantuku dengan kadar ikhlas yang lebih baik dari keluargaku.

“Bapak ibukmu belum pulang to Nduk?”

“Belum Bulik, nanti siang katanya…”

Oalah… Kamu sudah sarapan Nduk?” tanyanya dengan wajah terlihat khawatir.

“Belum bulik, nanti siang sekalian saja..”

Tanpa menunggu hitungan detik sampai ke delapan, Bulik Karmi langsung meninggalkanku sendirian. Di umurnya yang ke-54, jalannya masih terbilang cepat. Jariknya sudah terlihat lusuh, begitu pula dengan bajunya yang terlihat kumuh. Dari belakang terlihat jariknya yang dipenuhi tanah liat. Sudah pasti dia baru pulang dari sawah yang nyaris setiap hari ia datangi selepas salat. Tubuhnya kini lenyap ditelan rumahnya yang gelap. Aku memutar badan untuk kembali masuk. Tak lama, pintu kembali diketuk. Bulik Karmi datang membawa nasi pecel dan kerupuk. Aku tersenyum. Tapi tetap kalah manis dengan Bulik Karmi yang juga ikut tersenyum. Menyejukkan. Seperti tanah kering yang terkena hujan semalaman.

***

Pagi. Entah tinggal berapa pagi lagi aku masih bisa mengelus-elus perut buncitku ini. Memang semenjak beberapa bulan yang lalu, aku memiliki hobi baru. Mengelus-elus perut buncitku ini. Setiap hari, olehku sendiri. Kalau bukan aku sendiri yang mengelus-elus perutku sendiri, lantas siapa lagi? Tak akan ada yang sudi. Yang ada malah pandangan sinis dari orang-orang saat melihatku mengelus perut buncit ini sambil senyum-senyum sendiri. Keluargaku? Jangankan mengelus-elus, tidak membenci perut buncitku ini saja aku pasti sudah sujud syukur pada Gustiku.

Entah sudah elusan ke berapa. Entah sudah seberapa jauh lamunanku melanglang buana. Aku masih sering melamunkan bagaimana bentuk wujud dari janin yang selama ini hidup dalam perutku. Tapi semuanya terasa semu. Semu karena segala perasaan yang bercampur. Semu karena kebahagiaan dan ketakutan yang kian hari kian membaur. Bukan takut karena aku mungkin saja mati saat melahirkan, tapi ketakutan ini bermuara pada sebuah jawaban yang tak kunjung kutemukan. Kelak, ketika manusia yang saat ini masih dalam kandungan ini keluar dari rahimku. Kelak, ketika dia kerap menangis karena merindukan susu yang terkandung dalam payudaraku. Kelak, ketika dia sudah melepas statusnya sebagai balita. Kelak, ketika dia mulai menyadari bahwa ada yang berbeda dalam hidupnya. Kelak, ketika dia merasa asing melihat teman-teman sebayanya digendong atau dimarahi oleh seorang laki-laki yang ibunya sebut “bapaknya”. Dan kelak, ketika datanglah sebuah pertanyaan, “Ibuk, siapa bapak saya?”.

Mungkin aku ingin segera binasa sekarang juga. Detik ini juga. Sebelum ia keluar dari rahimku. Sebelum ia menyusu di payudaraku. Sebelum ia melepas statusnya menjadi balita dan mulai merasakan ada yang berbeda dalam hidupnya. Sebelum semuanya terjadi. Sebelum datangnya pertanyaan yang mengerikan ini. Dan jauh lebih dari itu semua, sebelum aku menjawabnya dengan terpaksa, “Bapakmu adalah pemerkosa…”.

***

Pagi. Jika saja aku bisa mengulang pagi-pagi yang sudah terlewati. Pasti aku akan kembali pada ratusan pagi sebelum ini. Sebelum perutku bisa sebesar ini. Sebelum Mas Karyo pergi ke Jakarta untuk yang pertama kali.

Dulu, atau 541 pagi yang lalu. Aku dan Mas Karyo adalah sebuah sinonim dari kata cinta sejati. Di mana kami adalah dua cucu Adam yang melewati kehidupan hanya berpedoman pada kata hati. Cinta. Terserah apapun namanya. Yang kutahu kami berdua satu hati, satu misi dan satu janji. Cukup sulit memang untuk menjelaskannya. Yang jelas, kami bahagia.

Mas Karyo adalah seorang pemuda yang berselisih umur sekitar 4 tahun denganku. Dia juga salah satu penghuni tanah desaku. Orangnya tidak terlalu tampan. Tapi tubuhnya yang kekar membuatnya terlihat menawan. Jelas dia sangat kuat, makanya orang-orang di desaku selalu mengandalkannya dalam urusan angkat-angkat. Mas Karyo dengan rambut cepaknya adalah sosok sempurna untuk dijadikan kuli bangunan. Sebuah pekerjaan yang ia geluti sejak berpuluh-puluh bulan.

Mas Karyo yang hanya tamatan SD adalah pemuda tersukses di desaku. Dia adalah salah satu dari segelintir pemuda yang mampu membeli sepeda onthel dan kebutuhan cerutunya dengan murni mengandalkan peluh yang keluar dari tubuhnya itu. Dia tidak seperti kebanyakan pemuda di desa Guwalan. Dia tidak suka minum-minuman, tidak suka berjudi sabung ayam, apalagi pergi ke tempat pelacuran. Sebaliknya, dia justru pandai mengaji dan menjadi muadzin tetap di langgar kami. Suaranya merdu, seperti burung Kutilang di pohon Randu. Tapi lupakan itu semua, bukan itu alasanku mencintainya. Sungguh, aku mencintainya tanpa alasan, tanpa tujuan. Hanya murni getaran jiwa yang tak terelakkan. Persis seperti yang sering ia ucapkan.

Dari Mas Karyo-lah aku mengenal cinta. Dan dari mas Karyo pula aku membenci Jakarta. Jakarta adalah tanah terkutuk yang lihai mengubah segalanya. Seperti sebuah mesin pendoktrin yang dapat mengubah siapapun yang berani datang ke sana.

Masih di pagi yang sama, masih di arah lamunan yang sama pula. Sudah sejuta kali lebih aku mencoba bersembunyi dari kenangan. Tapi perut buncit ini selalu hadir untuk kembali mengingatkan. Masa lalu yang belum lama berlalu, kembali hadir diantar lamunanku. Delapan belas bulan yang lalu tepatnya, ketika mas Karyo berpamitan padaku akan pergi ke Jakarta untuk bekerja. Hari itu hari Selasa. Tepat tiga hari setelah keluargaku menolak lamarannya. Bukan, ini bukan tentang masalah derajat ataupun masalah kekayaan. Ini semua hanya karena mitos konyol yang dipercayai orang-orang tolol. Hanya karena letak rumah kami, pernikahan ini selamanya mustahil akan terjadi. Di desa Guwalan, menikah dengan rute ngalor-ngulon (rumah pria berada di utara, sedangkan rumah wanita yang akan dinikahinya berada di barat) adalah sebuah pantangan. Orang-orang di desaku bilang, pernikahan ngalor-ngulon akan membawa musibah, perceraian bahkan kematian. Entah itu aturan macam apa, yang jelas aku sangat tidak mempercayainya. Tapi mau bagaimana lagi, banyak hal yang nyata-nyata menjadi bukti. Nyaris semua orang yang berani menentang adat ini, akhirnya percaya dan menyesali. Musibah, perceraian dan kematian benar terjadi di masing-masing keluarga yang berani menentang. Entah itu merupakan pembuktian, entah itu hanyalah kebetulan. Yang jelas, keluargaku memegang adat itu dengan tegas.

Mendengar alasan penolakan lamaran itu, mas Karyo tidak hanya diam menopang dagu. Dia pergi ke kota untuk belajar dan bekerja, dengan harapan pengalamannnya di sana dapat mengubah paradigma gila di desa Guwalan tempatku menunggu kepulangannya.

“Ya, kita sama-sama tahu, orang tuamu tak kan pernah memberi restu. Tapi kita juga sama-sama tahu mereka bukanlah Tuhan. Bukan sosok yang menentukan segala cerita kehidupan. Jika kau memiliki cinta yang sama, mari kita tiru Adam dan Hawa. Mereka tetap bisa menikah tanpa restu orang tua atau siapapun juga. Hanya lampu hijau dari Tuhan semata.” Katanya panjang mencoba meyakinkanku agar mau mengikutinya pergi ke Jakarta dan menikah di sana. Tapi tak satu pun kata yang terucap dari bibirku. Lidahku terasa kelu. Seperti sehabis mengunyah tujuh buah simalakama hingga tak tersisa.

“Baiklah, yang jelas semoga kita masih memiliki cinta yang sama. Aku akan pergi ke Jakarta. Aku akan merubah segalanya. Sri, tunggu kang mas kembali..” Ucapnya lirih, namun tegas. Sorot matanya tajam, namun di sana tersimpan sejuta harapan. Untukku, untuknya. Untuk kita. Sebuah kecupan manis mendarat di keningku, sebelum beberapa saat kemudian dia berlalu. Tubuhnya semakin menjauh, semakin mengecil. Lalu hilang di tikungan dekat bunga Kantil. Gemuruh di dadaku menggelegar menciptakan air bah yang keluar dari balik kelopak mataku. Ada banyak sekali kata yang tak terucapkan, lalu mereka menjelma menjadi tangisan.

Sembilan bulan kemudian, Mas Karyo kembali tiba di desa Guwalan. Sudah menjadi tebakan basi jika akulah manusia yang paling bahagia atas kedatangan mas Karyo kembali. Aku menantikan oleh-oleh yang dulu ia janjikan. Tentu saja itu adalah pembuktian dari segala harapan yang kutitipkan.

Sore itu, di pematang sawah di desaku. Aku dan Mas Karyo bertemu untuk mengadu rindu. Jarak dan waktu perlahan-lahan menjelma menjadi neraka yang siap menikamku dan mungkin menikam mas Karyo juga. Tatapan kami, genggaman tangan kami, seolah begitu kejam membalas dendam pada jarak dan waktu yang selama ini menjadi jurang-jurang kecil yang setiap saat mampu merobohkan kami. Ada milyaran rindu yang harus dibalaskan atas segala waktu yang terlewatkan.

“Lihat Sri, aku benarkan? Kini aku sudah berubah. Kita tinggal menunggu waktu agar aku dapat merubah pandangan orang-orang tentang mitos setan itu. Terutama orang tuamu. Kita akan menikah. Aku yakin itu!” itulah kalimat yang terucap dari bibir mas Karyo yang hanya berjarak 5 senti dari wajahku.

Jelas aku mempercayainya. Aku pun menyadari ada banyak yang berubah dari dalam dirinya. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara juga cara berpikirnya. Mungkin itulah hasil dari ia berguru pada pengalaman di kota Jakarta. Tapi, ada yang berbeda ketika Mas Karyo mengatakan cinta dengan matanya. Ucapannya yang sangat menyakinkan, entah mengapa justru malah melahirkan keraguan. Dari matanya kurasakan ia sangat berbeda. Benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Berawal dari sebuah ciuman, lalu berubah menjadi adu kekuatan, lalu berujung pada penyesalan. Mas Karyo benar, dia memang telah berubah. Aku digagahinya dengan paksa. Katanya, itulah yang disebut ekspresi cinta. Cinta orang kota begitu berbeda dengan cinta orang desa. Perasaan yang ia sebut cinta, kini kebal pada tangisanku, permohonanku dan gigitanku di lengannya. Badan kekarnya menindih tubuhku yang lemah. Ketulusan cintaku ditelan tubuhnya yang sedang bergairah. Aku meringis. Aku menangis. Hari ini untuk pertama kalinya dia nampak begitu bengis. Pikirannya sudah tak lagi mengkultuskan cinta, tapi mendewakan kepuasan hawa nafsunya. Ajaibnya, aku tetap saja mencintainya. Meski Mas Karyo yang dulu, telah lama mati di kota yang terkutuk itu. Yang ada kini Mas Karyo yang mengartikan cinta seperti seekor hewan melata.

Ya, aku tetap mencintainya. Sampai kapan pun juga. Itulah alasanku, mengapa tidak ada satu pun yang tahu bahwa Mas Karyo-lah sang pemerkosa itu. Sampai saat ini, aku tetap yakin untuk menyimpan rahasia itu sendiri. Dan memilih disebut pelacur, jalang, sundal atau hinaan macam apapun saja. Memilih untuk bersedia dibenci keluarga dan orang-orang desa. Dan juga, memilih untuk menjaga janin dalam kandungan ini dari sindirian siapa saja. Itu setara. Demi Mas Karyo agar tetap hidup dan bisa kembali meninggalkanku ke Jakarta. Demi Mas Karyo agar tidak merasakan bagaimana sakitnya ketika parang-parang warga dan celurit bapakku mendarat di sekujur tubuhnya. Agar aku tetap bisa mencintainya. Bagaimana pun juga, meskipun Mas Karyo adalah pemerkosa, adalah pencipta segala penderitaan yang selama ini kurasa, dia tetaplah orang yang selamanya ada dalam dada. Dalam dadaku, di mana kelak anaknya juga akan menyusu.

Aku memang tidak harus melakukan ini semua. Tapi, aku ingin melakukan ini semua. Hanya karena ingin. Aku yakin. Dan biarlah cinta ini seperti secangkir kopi. Meskipun selamanya orang tuaku dan orang-orang di desaku tak kan pernah memberkati, tapi tetap akan kunikmati. Meski hanya sekali-sekali. Meski dengan sembunyi-sembunyi.

Imam Solikhi, mahasiswa Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Beberapa karyanya telah dimuat Majalah Gradasi dan Ponorogo Pos. Aktif menulis di organisasi Himprobsi. Dapat dihubungi melalui surel imamessiah19@gmail.com.

Monte Cristo di Karawang

Cerpen M Taufan Musonip

Orang Aceh Misterius yang Menembak Jend. Kohler pada Zaman Penjajahan
Ilustrasi diunduh dari http://thebookofyhan.blogspot.com

Di Karawang aku menemukan The Caunt of Monte Cristo dari seorang tauke, kupikir yang menerjemahkannya adalah Robert Mallema seorang kolektor novel yang pernah sesumbar akan menerjemaahkan semua roman Eropa kepunyaannya ke dalam Bahasa Melayu. Mallema adalah pelatihku dan pernah memberikanku Hikayat Robinson Crusoe sebagai kenang-kenangan. Dia adalah orang yang ditunjuk oleh Gubernemen melatih para bromocorah untuk disiapkan menjadi weri. Minat bacaku terhadap novel tumbuh di sana. Dan aku adalah satu dari sedikit anggota Macan Item yang tahu membaca. Tiga tahun aku pernah bersekolah karena jatah bapakku yang seorang ambtenaar rendahan. Bapakku tewas karena ambil bagian dalam pergerakan kaum tani. Aku kehilangan arah, mengekor ke dalam kelompok Jawara yang berguru pada seorang kanuragan dari Banten.

Ternyata novel itu diterjemaahkan dan disadur oleh seorang J. Kuo, mirip nama Cina. Tauke menawarkanku membeli buku itu, harganya sepadan dengan sepotong kaki sapi, aku menyetujuinya dan berarti dia memotong pembayaran untuk sepuluh ekor sapi. Sapi-sapi itu adalah hasil rampokan dari Rawa Binong, keuntungannya akan dibagi buat kepala desa yang penduduknya telah menjadi korban, dan sebagian kecil untuk Bupati, daftar baru yang kubuka jalannya sebagai pemenuhan kehendak penjajah, melepasku sebagai weri, penyusup yang ditugaskan untuk mengawasi dan memecah-belah kelompok-kelompok jawara. Samaji, pemimpin kelompok Macan Item, menurut saja ketika kusarankan padanya agar memberi sebagian kecil saja jatah kepada Bupati, sebagai jaminan bahwa kelompok saingan terbesarnya Naga Hitam tak akan memakan wilayahnya.

Naga Hitam adalah kelompok jawara yang dibesarkan dengan pesat oleh Bupati Bagurdi. Pembagian kepada Bagurdi tentu akan sampai kepada Pemerintah. Sementara ini Samaji hanya memberikan dua potong kaki setiap sepuluh ekor sapi hasil rampokan. Bagurdi menguasai dua belas kelompok jawara, sebagian dipimpin oleh para weri bawahannya yang berhasil menduduki kekuasaan di tiap kelompoknya, sebagian lagi meski bukan dipimpin seorang weri, kelompok mereka diarahkan untuk bersekutu pada Bagurdi, berkat kepiawaian para weri juga. Masing-masing weri memberikan satu ekor sapi dari tiap sepuluh ekor hasil rampokannya. Dua belas kelompok itu disatukan menjadi Naga Hitam. Hanya kelompok Macan Item sajalah yang belum sepenuhnya tunduk, Samaji terlalu kuat untuk dikalahkan, pengikutnya terlalu rapat, dan sangat setia. Sebagai seorang weri akulah yang bertugas mematahkannya dari dalam, sehingga seperti para weri di Naga Hitam, setidaknya aku dapat duduk dalam posisi penting di Macan Item, semuanya butuh proses, tetapi Samaji memang sulit dijatuhkan.

***

Setelah pengiriman sapi-sapi itu aku dan anak buahku kembali ke tempat masing-masing dengan cara berpencar. Aku yang mengatur hal itu agar tak terendus pihak kepolisian.

Ketika yang lain sudah kembali, aku memilih pulang paling akhir sambil menikmati Roman baruku, di sebuah penginapan. Tapi sebelum ke sana, seorang indo yang sejak dari tempat penadah mengawasiku, mendekat, mengatakan bahwa dirinya punya lebih banyak koleksi novel, dan ia menawarkan agar aku singgah di rumahnya. Namanya, Kaspari, nama yang tak sesuai dengan warna kulitnya. Dan aku menyebut diri Komar, nama samaran.

“Kau tahu, aku bahkan memiliki novel Matahariah, ditulis di Belanda oleh orang kita.” Katanya, kita -maksudnya orang pribumi. Aku bertanya dalam hati, apakah dia telah merendahkan dirinya sendiri setelah menyebut namanya itu, mengaku bahwa dirinya bagian dari kaum pribumi yang masih dianggap monyet oleh orang kulit putih.

Dia tampak terengah-engah mengikuti langkahku yang lebih cepat darinya. Orang berkulit putih bernama Kaspari ini terus menggodaku agar bersedia beristirah di rumahnya dengan menyebutkan beberapa roman lainnya lagi, di antaranya aku mendengar Serlock Holmes dari mulutnya.

“O, ya? Maaf kenapa tuan nampak bernafsu agar aku ikut bersamamu?” Jalanku semakin cepat. Dia tertinggal. Lalu kudengar teriakannya dari belakang. “Aku hanya mau kau singgah! Ayolah!”

Sebagai seorang weri aku diajarkan agar tidak cepat mempercayai siapapun di jalanan, dilatih agar peka bahwa setiap kebaikan orang selalu punya maksud tertentu. Kaspari, kupikir adalah orang yang perlu dicurigai, tapi tawarannya menarik. Aku juga diajarkan bagaimana mendapatkan keuntungan lebih cepat, dan mampu mengantisipasi gerak lawan. Tapi kupikir orang Indo ini perlu diselidiki juga, apa maunya, dan yang paling penting dia punya banyak buku bacaan.

Aku berbalik. Dia memekik, “Ayolah, rumahku tak jauh dari sini!”

***

Aku masih mencari cara bagaimana bisa menjatuhkan Samaji, dan merapatkan Macan Item pada Bagurdi. Samaji semakin gencar menyulut emosi anak buahnya untuk segera masuk wilayah lain. Dan itu sudah didengar pihak penjajah, tentunya termasuk Bagurdi. Itu orang cuma punya omong gede saja, tapi Bagurdi tak pernah tahu, dia pikir Samaji memang benar-benar jawara sejati.

Bagiku tak peduli perseteruan dingin yang terjadi antara Bagurdi dan Samaji. Aku hanya ingin menuntaskan dendamku bertahun-tahun lalu ketika lelaki dengan sorot mata sembilu itu merebut kekasih hati yang baru kunikahi setahun lamanya, kemudian mati karena kolera atau karena kecewa harus menjalani hidupnya bersama lelaki yang tak dicintai dalam penantian terhadap kekasih sejatinya yang tertangkap saat melakukan ekspedisi ternak-ternak hasil rampokan ke Karawang beberapa tahun yang lalu. Samaji menjebakku dengan informasi yang salah dari para mata-mata yang disiapkan di setiap jalur-jalur ekspedisi, sebelum  kami berangkat, untuk memastikan jalanan aman dari operasi kepolisian. Samaji tak pernah membuka rahasia bagaimana ia mengatur dan menghidupi para mata-mata, hanya saja aku tahu beberapa di antaranya adalah orang pribumi yang bekerja di pemerintahan.

Aku juga tak pernah tahu, dari beberapa orang jawara yang tergabung dalam kelompok ekspedisi itu hanya aku terpilih sebagai seorang weri, atau jangan-jangan, di antara kami saat itu semua telah menjadi weri, bodohnya hingga sekarang Samaji tak pernah mengendus gerakan weri yang sudah semakin kuat.

Pada masa penahanan itulah aku dididik menjadi seorang weri dan kembali ke Macan Item setelah resmi dilepas pemerintah. Samaji menerimaku kembali tanpa curiga ada perubahan yang terjadi padaku.

Dua persoalan dan kenangan itu berputar-putar dalam pikiran, meski terkadang terlupakan karena petualangan Caunt, dan suara mesin tik di luar kamar, mereka adalah para pemuda yang ikut merintis koran pergerakan milik Kaspari, seorang anak haram, dari ayah Belanda tak bertanggung jawab. Nasibnya sama kurang baik seperti si Amat dalam Monte Cristo anak indo yang menuntut dendam pada bapaknya sendiri karena telah ditelantarkan. Aku tak tahu, kenapa bisa kebetulan seperti itu, tapi kupikir anak indo yang terlantar memang bukan mereka saja di negeri ini.

Kaspari mengajakku berbicara di teras depan sore tadi, mendengarnya bicara tentang pemikiran yang terkandung dalam setiap novel. Menurutnya novel-novel yang diterjemaahkan dalam bahasa melayu pasar kurang disukai penjajah, karena banyak mengandung pesan perlawanan, dan dikhawatirkan akan memintarkan penduduk pribumi. Aku bilang padanya, bahwa aku hanya senang membaca.

“Penjajah telah membentuk dua kelas bahasa.”

“Benarkah?”

“Itu semua buat mengatakan bahwa novel-novel bahasa melayu pasar adalah bahan bacaan rendahan.”

“Untuk apa?”

“Buat menekan suara pergerakan, buat mencekal perjuangan kemerdekaan.”

“Maaf, aku hanya suka membacanya saja.”

“Oh, itu sangat disayangkan, sebab kita manusia punya hak untuk merdeka.”

Pembicaraan kami dimurami awan hitam yang menggelayut di langit Karawang. Kaspari mangajakku ke ruang bacanya, dan meminjamkan beberapa buku. Kuambil Matahariah, yang ditulis oleh Mas Marco Kartodikromo, sebagaimana sering ia sarankan.

Aku masuk ke dalam kamar yang disediakannya. Dia seorang Indo yang sangat menghargai tamunya. Katanya aku orang aneh, seorang petani yang suka membaca. Aku tak pernah mau mengatakan padanya bahwa aku seorang weri. Dan adalah melawan aturan jika harus jujur padanya.

***

Aku bersiap pulang, ketika Kaspari masih sibuk dengan tulisannya. Saat seperti itu anak Indo ini tak pernah lepas dari rokok kretek dan kacamatanya. Gederap kereta api melewati keberadaan kami, rumah itu memang di dekat perlintasan kereta api.

Dia memberiku beberapa edisi koran terbitannya, Soeara Baroe, begitu judul yang tertulis di dalamnya. Seorang gadis disuruhnya untuk menyiapkan secangkir kopi, ketela rebus buat sarapan dan perbekalan buat perjalananku. Wajah gadis itu tampak sangat bercahaya, meski tidak cantik.

“Naik kereta api saja, Komar.” Kaspari menyebut namaku cukup hangat, meski aku kurang suka dia memanggilku dengan cara itu, umurku lebih tua darinya, aku tahu dari sudut matanya. Dari gelora semangatnya.

“Aku suka berjalan kaki,” kataku.

“Sudahlah, ayo kuantarkan kau ke statsiun.”

Mungkin stasiun maksudnya. Si gadis tersenyum padaku saat Kaspari menghentikan tulisannya untuk bersiap mengantarkanku. Kami menaiki dokar ke stasiun, Kaspari tak pernah berhenti berbicara soal pembebasan, soal kemerdekaan dan hak sejati seorang manusia. Dia baik, tetapi aku masih berpikir bahwa tak ada kebaikan tanpa maksud tertentu.

Kaspari menungguku sampai aku benar-benar menumpang kereta ke Bekasi. Di kereta aku membayangkan bagaimana soal prinsip pembebasan itu dapat memerdekakanku dari keinginan menjatuhkan Samaji, dan terus berkutat pada tugas rahasia yang dibebankan pemerintah kepadaku. Tapi aku lebih senang mengingat perempuan di rumah Kaspari tadi, aku lupa menanyakan padanya siapakah perempuan itu, dan tiba-tiba dadaku terasa berdebar ketika di benakku terngiang suara lelaki indo itu berkata saat perpisahan tadi: datanglah balik, bawa bukuku kembali untuk digantikan yang baru.

“Ya, aku akan kembali… aku akan kembali, Kaspari” Gumamku.(*)

Cikarang-Bandung, 15 Maret 2013

CATATAN:

Weri: diambil dari tulisan Schulte Nordholt dan Margrett van Till dalam esai Jago dan Kriminalitas pedesaan, seperti diceritakan di atas, dia merupakan agen atau intel yang diambil dari para jago yang sering beraksi melakukan pencurian/perampokan ternak penduduk desa, meskipun setting sejarah Nordholt dan Margrett diambil di daerah Kediri pada tahun 1872. (etnohistory.org: Kumpulan Esai, Jago, Preman dan Negara).

Ambtenaar: Sebutan untuk pegawai negeri pada masa kolonial Belanda.

Tauke: profesi pedagang bagi orang Tionghwa, dalam cerita ini dia berperan sebagai penadah hewan hasil curian/rampok.

count-of-monte-cristoNovel The Caunt of Monte Cristo adalah novel populer pada abad ke 19, dikarang oleh Dumas, banyak diterjemaahkan dan disadur oleh orang tionghwa, tapi dalam cerpen ini, Monte Cristo merujuk pada novel yang disadur oleh Kuo (terbit tahun 1928).

Pengumuman Lomba Cerpen RetakanKata 2013

Kabar Budaya – RetakanKata

jawara menulis
Ilustrasi dari apegejadifilewordpressdotcom

Anda tentu sependapat bahwa lebih banyak orang yang meyakini menulis cerpen itu bukan suatu pekerjaan yang mudah. Banyak tip-tip ditulis di website, blog maupun buku-buku untuk memudahkan penulisan menunjukkan bahwa ada suatu tingkat kesulitan yang coba dipecahkan para pengarang. Harapannya, tentu para penulis tip menginginkan lebih banyak orang memiliki kemampuan menulis, tidak hanya cerpen namun juga jenis karangan yang lain.

Maka melimpahnya peserta lomba menulis cerpen RetakanKata 2013 patut disyukuri. Apresiasi luar biasa perlu disampaikan kepada para peserta yang telah berupaya dengan segenap kemampuan untuk menghasilkan karya-karya terbaik mereka, terutama pada para sahabat buruh migran yang telah mencuri waktu untuk menulis di tengah-tengah kesibukan mereka. Meski tidak semua dapat menjadi pemenang lomba tahun ini, namun ada harapan besar di kemudian hari para penulis ini akan menjadi penulis besar.

Dari dua kategori yang dilombakan tahun ini, sayangnya hanya sedikit yang mengikuti kategori B (buruh migran). Tercatat hanya ada empat naskah untuk kategori B. Hal ini bukan berarti tidak ada peserta dari buruh migran sebab para sahabat buruh migran lebih banyak mengikuti lomba pada kategori A (umum). Untuk itu, kedua kategori dilebur menjadi satu dan jumlah pemenang tahun ini diperbanyak menjadi 20 pemenang lomba dari 504 naskah cerpen yang masuk.

Menimbang pada dua kategori yang digabung menjadi satu, maka hadiah yang diberikan kepada para pemenang lomba adalah sebagai berikut.

  • Juara I, cerpen berjudul Jendela-jendela Aba karya Oddie Frente, berhak mendapat uang tunai Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Juara II, cerpen berjudul Aedh Tak Lagi Mengharap Kain Sulaman Surga karya Victor Delvy Tutupary, berhak mendapat uang tunai Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Juara III, cerpen berjudul Angsa Salju karya Sulfiza Ariska, berhak mendapat uang tunai Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Cerpen Laki-laki dalam Kereta, Sesuatu yang Tak Menyenangkan dari Ibu Mertuaku dan Legiun Dajjal, berhak mendapat uang tunai masing-masing Rp 150.000 (seratus lima puluh ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 1 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.

Dan berikut ini adalah cerpen-cerpen terbaik yang berhak masuk dalam buku Antologi Cerpen RetakanKata 2013:

  1. Jendela-jendela Aba karya Oddie Frente
  2. Aedh Tak Lagi Mengharap Kain Sulaman Surga karya Victor Delvy Tutupary
  3. Angsa Salju karya Sulfiza Ariska
  4. Laki-laki dalam Kereta karya Diyah Hayu Rahmitasari
  5. Sesuatu yang Tak Menyenangkan dari Ibu Mertuaku karya Ardi Kresna Crenata
  6. Legiun Dajjal karya Royyan Julian
  7. Mak Parmi karya Danang Duror Alfajri
  8. Bayi yang Hilang karya Albert Wirya
  9. Savitri Jadi Sintren karya Imamul Muttaqin
  10. Anak Kocok karya M. Said Hudaini
  11. Garis Rosary karya Dhianita Kusuma Pertiwi
  12. Kirana karya Jenni Anggita
  13. Pulang karya Meilina Widyawati
  14. Musim Semi di Taman Ueno karya Yanti Hanalia Mantriani
  15. Esspreso Cinta karya Kadek Lestari Diah Paramitha
  16. Makan Malam Terakhir karya Lidya Pawestri Ayuningtyas
  17. Garis Waktu karya Wilibrodus Wonga
  18. Penari Tiang karya Marina Herlambang
  19. Hukum Pancung karya Upik Junianti
  20. Dubai di Ujung Hari karya Meylani Nurdiana

Catatan:

Seluruh cerpen pemenang lomba akan dibukukan dan masing-masing pemenang akan mendapatkan satu buku gratis Antologi Cerpen RetakanKata 2013. Pemenang yang ingin mendapatkan lebih dari satu buku, dapat melakukan pemesanan terlebih dahulu melalui email retakankata@gmail.com dengan mengganti  uang cetak dan penerbitan buku yang dipesan.

Para peserta dan pembaca yang ingin memesan buku Antologi Cerpen RetakanKata 2013 dapat mengirim pesanan melalui retakankata@gmail.com dengan melakukan pembayaran dimuka sebesar Rp 50.000 per buku belum termasuk ongkos kirim. Hubungi redaksi RetakanKata untuk keterangan lebih lanjut.

Hadiah berupa blog dan buku tidak dapat ditukar dengan uang dan blog tidak dapat dialihkan kepada pihak lain tanpa persetujuan dari RetakanKata. Lihat harga blog di Lapak RetakanKata.

Seluruh pemenang diwajibkan melakukan verifikasi dengan mengirim email yang dilampiri data diri berikut foto serta profile singkat penulis sebagai pelengkap penerbitan buku. Verifikasi dapat dilakukan sampai dengan akhir Agustus 2013. Jika lewat dari bulan Agustus pemenang belum melakukan verifikasi, maka kemenangannya dibatalkan dan hak-haknya dicabut.

Apabila para pembaca mengetahui adanya kecurangan, ketidakbenaran data dan naskah cerpen, diharapkan memberikan informasi kepada RetakanKata melalui retakankata@gmail.com sampai batas waktu akhir bulan Agustus.

Pengumuman ini juga dapat dibaca di BUKUONLINESTORE.COM sebagai bagian dari RetakanKata Network. Lihat juga blog-blog yang ada di bawah BukuOnlineStore:

Rambut Merah Maria

Cerpen Octaviana Dina

perempuan-berambut-merah
foto dari shutterstock

Tak sampai satu menit seusai pemaparan mengenai rencananya seputar proyek baru, Winardi segera menyergapnya dengan kontra opini yang tajam. Ia menyuarakan ketidaksetujuannya. Hm, perang dimulai, pikirku. Seperti biasanya, perempuan itu tak berkata sepatahpun dan menyimak dengan seksama  sampai Winardi selesai bicara. Lantas, dia mementahkan opini lelaki itu dengan argumennya yang dinyatakan dalam kalimat-kalimat jelas, lugas dengan dalil-dalil logis yang sulit dibantah. Ia menyampaikan sanggahannya pada Winardi dengan suara mantap dan penuh keyakinan.

Akan tetapi, bukan Winardi namanya jika cepat menyerah. Lelaki itu kembali menyerangnya. Dan perempuan itu dengan percaya diri mematahkan serangan Winardi. Begitulah, kedua orang itu laksana sepasang kutub negatif dan positif. Sama-sama kuat, tapi senantiasa berlawanan. Harus kuakui, aku sangat menikmati pertarungan pendapat di antara keduanya. Pertarungan itu menunjukkan kemampuan dan keahlian yang mereka miliki. Mereka telah membuatku kagum. Terlebih lagi perempuan yang satu itu. Lugas, brilian, berani, dan -tentu saja- keras kepala.

Namanya Maria. Setelah mengenalnya beberapa lama, aku berpendapat nama itu tak cocok untuknya. Aku tak tahu kenapa, namun setiap kali mendengar nama Maria aku selalu membayangkan sosok seseorang yang benar-benar berbeda dengan dirinya. Sosok perempuan yang pendiam dan tenang. Barangkali aku terlalu berlebihan dalam hal ini. Namun itulah yang selalu muncul dalam benakku setiap kali aku mendengar nama Maria.

***

            Aku ingat, pada suatu hari – saat itu aku berusia lima tahun- aku dibawa ibuku pergi. Kami naik becak dan kemudian tiba di depan sebuah rumah mungil bercat putih. “Ayo, sayang, kasih salam sama Tante Maria,” ujar ibuku. Kuulurkan tanganku pada seorang perempuan dengan rambut hitam panjang tergerai tengah tersenyum padaku. Matanya menatapku dengan hangat dan ramah. “Halo, sayang,” katanya. Tangannya mengelus kepalaku. Aku masih ingat caranya bertutur: manis dan lembut. Pada saat itu juga aku merasa nyaman berada di dekatnya. Itu pertama kalinya aku mendengar nama Maria, dan Tante Maria adalah sosok Maria pertama yang kukenal.

Aku bertemu sosok Maria yang kedua beberapa tahun kemudian saat bersekolah di sekolah dasar. Suatu hari, aku mengikuti teman sekelasku  menyelinap masuk ke sebuah sekolah Katolik yang terletak tak jauh dari sekolah kami.  Sekolah itu cukup besar, dengan beberapa gedung untuk TK, SD dan SMP.

Semula aku takut untuk masuk. Aku takut penjaga sekolah itu menangkap basah kami yang tanpa ijin menyelinap ke dalam.

“Ayo, ikuti saja aku. Tidak apa-apa,” kata temanku menenangkanku. “Sekolah ini punya tempat rahasia. Akan kutunjukkan padamu,” lanjutnya lagi ketika kami tiba di sebuah taman sunyi yang terdapat di belakang sekolah. Aku mengikutinya menuju sebuah tempat serupa gua kecil yang tersembunyi di balik pohon besar. Di dalamnya aku mendapati sebuah patung berukuran besar. Patung seorang perempuan berkerudung terbalut gaun panjang berwarna putih berlapis jubah biru.  Kedua tangannya terbuka dan terulur ke depan seolah ia tengah menyambut hangat kedatangan kami. Ketika pandanganku sampai pada matanya, aku merasa ia sedang menatapku dengan sorot mata menyejukkan. Aku merasa ia tesenyum padaku. Meski tempat itu sunyi dan sedikit gelap, namun hatiku dirambati perasaan nyaman.

“Siapa dia ini?” aku bertanya pada temanku.

“Dia Bunda Maria. Kata orang, dia adalah ibunya Yesus Kristus,” jawab temanku. Sambil terus memperhatikan patung itu, aku melihat rambut hitam di bagian atas dahinya  menyembul sedikit dari balik kerudungnya.

Kemudian, ketika duduk di kelas dua SMP aku mempunyai teman sekelas bernama Maria. Mungkin lantaran kami selalu duduk berjauhan, aku jarang sekali bercakap-cakap dengannya. Meski begitu, aku masih bisa mengingatnya sebagai seorang gadis pendiam yang santun dengan rambut hitam panjang. Sangat pintar, tapi juga amat rendah hati.

Lalu, saat aku duduk di kelas tiga SMA, lagi-lagi seorang bernama Maria masuk dalam kehidupanku. Ia adalah guru Bahasa Inggrisku. Ia selalu berpakaian serasi dan rapi, serta senantiasa mengikat rambut hitamnya dan membentuknya  menjadi sanggul kecil. Aku yakin, rambutnya pasti panjang. Klasik, begitu kesanku padanya. Pembawaan Bu Maria selalu tenang, tanpa banyak riak emosi. Aku tak pernah melihatnya tertawa; hanya senyum yang menyejukkan yang kerap terbit di wajahnya. Kudengar usianya sudah mencapai empatpuluhan saat itu, namun ia terlihat jauh lebih muda.

“Ibu Maria itu perawan tua yang cantik,” bisik salah seorang teman sekelasku suatu ketika. Walaupun aku punya reputasi jelek sebagai pembuat onar di sekolah, aku tak pernah berani menjahili Bu Maria seperti  halnya yang sering aku lakukan pada guru-guru lainnya. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku menaruh hormat. Tak peduli bagaimanapun buruknya tingkah laku murid-muridnya dalam kelas, Bu Maria tak pernah menaikkan nada suaranya. Ia tampak super sabar, hingga aku bertanya-tanya sendiri apakah ia pernah benar-benar marah dalam hidupnya.

“Ia tak punya emosi. Aku berani bertaruh ia tak pernah jatuh cinta. Mungkin itu sebabnya kenapa sampai sekarang ia belum juga menikah. Tahu nggak, umurnya sudah empatpuluh tahun lho,” ujar teman sekelasku. Aku amat bersimpati pada Bu Maria. Bagiku, ia adalah guru yang benar-benar baik dan cakap.

***

“Hei, ada apa dengan rambutmu?” tanyaku pada Maria suatu hari.

“Memangnya ada apa dengan rambutku?” ia balik bertanya.

“Itu lho, banyak sekali uban bermunculan. Kok dibiarkan saja?” ucapku.

So? Lantas kenapa?” lagi-lagi ia balik bertanya.

“Kau kan perempuan, seharusnya kau memperhatikan rambutmu. Kau kan bukan nenek-nenek berumur tujuhpuluh. Rambutmu seharusnya tidak boleh terlihat seperti itu,” ujarku terus terang.

“Kenapa tidak boleh? Kalau aku suka begini, kau mau apa?” balasnya sambil mengangkat dagu dan menaikkan alis matanya. Jelas ia menantangku.

“Kuberitahu ya, ini memang sudah keturunan. Rambut mendiang nenekku mulai beruban saat beliau masih muda. Ibuku juga begitu. Ubannya mulai muncul pada usia tigapuluh,” lanjut Maria.

“Ya, tapi akan lebih baik kalau kau cat saja rambutmu itu,” jawabku.

“Kenapa sih kau jadi rewel soal rambut ubanku? Ini kan kepalaku, bukan kepalamu. Lagipula, ini cuma rambut. Bagiku, yang terpenting adalah apa yang berada di bawah rambut di kepalaku ini. Otak. Otakku,” tukasnya dengan kukuh. Perempuan ini memang benar-benar keras kepala.

“Kamu ini terobsesi dengan rambut perempuan ya? Hmmm, dasar laki-laki. Jangan-jangan, sepanjang hidupmu selama ini kau selalu dikelilingi perempuan-perempuan berambut hitam panjang. Aku rasa, aku tahu seperti apa perempuan idamanmu. Shampoo girl, gadis shampoo! Gadis dengan rambut panjang hitam berkilat-kilat, iya kan?” sambungnya tajam. Sepasang bibirnya lalu mengukir senyum lebar.

“Sudahlah, Maria,” kataku. Kurasakan wajahku memerah.

“Kau pasti cukup sengsara bekerja di tempat ini. Tak ada perempuan berambut hitam nan panjang di sekitar sini,” ledeknya terus menyudutkanku.

“Oke, cukup. Cukup, Maria. Kau menang. Kau memenangkan pertempuran, seperti biasanya,” sahutku. Aku segera bangkit dari kursiku. Lebih baik aku cepat-cepat menyingkir dari hadapannya.

“Katakan, kenapa sih kamu jadi rewel soal rambutku? Kau tidak sedang jatuh cinta padaku kan? Atau, jangan-jangan, memang iya? C’mmon, honey, tell me, are you falling in love with me?” kejar Maria  lagi. Oh, my God, dia ini benar-benar… ah! gumamku dalam hati. Lantas, sebelum aku menjawabnya (aku tak yakin aku mampu menjawabnya), ia tertawa terkikik-kikik. Aku tak kuasa lagi membuka mulutku. Segera kutinggalkan ruangan itu dengan wajah semerah bunga anyelir.

Semenjak hari yang memalukan itu, aku tak pernah lagi menyinggung soal rambut. Lebih dari itu, aku bahkan tak bisa mencegah wajahku memerah tiapkali Maria menatap langsung ke mataku. Sepertinya perempuan itu bisa membaca apa yang kusimpan rapat dalam hatiku. Dan, ia tetap membiarkan uban menyeruak dari sela-sela rambut hitamnya.

Hingga beberapa minggu kemudian. Pada suatu pagi Maria datang ke kantor dengan penampilan yang sangat berbeda.  Rambutnya. Ia mengecat rambutnya dengan warna merah tua kecokelat-cokelatan yang kemilau. Semua orang dibuatnya terpana , termasuk aku.

“Wow, kau tampak cantik dengan rambut seperti itu, Maria. You undeniably look great!” ujar Winardi. Meski Winardi kerap bersikap berseberangan dengannya, namun ia seorang lelaki yang jujur dan fair. Aku percaya kata-kata Winardi itu benar dan jujur karena, sama seperti dirinya, aku pun berpendapat Maria begitu cantik dengan rambut berwarna demikian. Warna merah kecokelatan tersebut amat cocok untuk wajahnya dan juga untuk kepribadiannya yang terbuka dan kuat.

“Terimakasih ya,” jawab Maria seraya tersenyum senang. Aku berpura-pura tak melihatnya dan berusaha menyibukkan diri dengan tumpukan kertas kerja saat ia akan melewati ruanganku.

“Hai!” Tiba-tiba Maria sudah berdiri di depanku. “Sibuk nih?” celetuknya.

“Yah, begitulah seperti yang kau lihat,” jawabku. Kurasakan wajahku kembali memerah ketika ia mendekatiku.

“Nah, bagaimana pendapatmu soal warna rambutku ini? Kau pasti suka, iya kan?” Jantungku berdetak kencang. Memang benar, namun aku tak ingin perempuan itu mengetahui perasaanku yang sebenarnya.

“Sejujurnya, kurasa warnanya tak cocok untukmu,” kataku berbohong.

“Aku tahu, kau lebih suka hitam.”

“Bukan begitu maksudku, Maria…”

“Ssst, dengar, lebih baik kamu berhati-hati…,” tukasnya dengan matanya berbinar.

“Kenapa?”

“Hati-hatilah kau. Kau bisa benar-benar jatuh cinta padaku. You could be, you know, truly..madly..deeply..fall in love with me,” ucapnya dengan suara sedikit berbisik. Ia tersenyum saat mengatakannya. Maria mengedipkan mata kanannya padaku, lantas segera berlalu.

Aku membeku di kursiku. Kurasakan tubuhku gemetar. Mulutku terkunci. Astaga, berani-beraninya dia mengucapkan hal itu! Bagaimana kau bisa berkata seperti itu, Maria? Apa yang kau tahu soal perasaanku padamu? Tapi… tapi… tapi harus kuakui kalau kau memang benar, Maria. Kau benar sekali. Aku sangat mengagumimu. Aku memang telah jatuh cinta padamu! seruku lantang. Hanya dalam hati.

***

Octaviana Dina, adalah penulis sekaligus penerjemah. Sejumlah cerpen dan essainya dimuat di beberapa media cetak dan online. Ia juga menjadi peneliti untuk Yayasan Yap Thiam Hien –lembaga nirlaba yang berfokus pada isu hak asasi manusia.

Paninea

Cerpen Gui Susan

Jika kita tahu rasanya lapar, maka, ketika kita merasakan perasaan kenyang, kita akan bersyukur dan terberkati.

cerpen anak malang
gambar diunduh dari nosirds-files-wordpress.com

Paninea menutup bukunya, tulisan yang sederhana itu cukup menghibur hatinya. Tapi, tetap tidak bisa membohongi dirinya dari rasa lapar. Paninea mengelus perutnya, seperti ingin sekedar menabahkan perutnya yang sedang digerus rasa lapar.

Paninea menatap ke sekeliling pasar, banyak orang berhilir mudik. Kebanyakan mereka membawa kantung-kantung belanjaan yang diisi sayuran, daging, atau baju. Hari raya, seharusnya Paninea pun merasakan makan daging. Tidak dia pikirkan baju baru, Paninea sangat mendambakan makan daging. Dalam benaknya ada terselip doa, semoga tetangga di samping-samping rumahnya bersudi diri untuk memberikan semur daging dan ketupat ketika hari raya nanti. Di kehidupan keseharian, untuk memakan daging, Paninea harus mengikhlaskan kakinya dipukul ibunya.

“Apa kau bilang Nea? Kau mau minta dibuatkan semur daging? Buta mata kau itu? Orang miskin kaya kita harus pandai bersyukur! Ketemu nasi sudah cukup, jangan minta macam-macam,” hardik Ibu sewaktu Paninea merenggek ingin merasakan semur daging. Dan hardikan ibu itu disimpan baik dalam hati Paninea. Angin berhembus kencang, orang masih banyak berlalu lalang, ada juga penjual sayuran yang berleye-leye karena dagangannya tidak laku.

Paninea membuka lagi bukunya, dengan tangan gemetar dia mulai menyusun kembali kata-kata.

Apa kabar bapak? Apa bapak ingat kalau Nea masih hidup dengan ibu? Katanya bapak akan jemput Nea dan bawa  Nea makan enak, main komidi putar terus beli gulali. Apa bapak tahu apa yang ibu lakukan setelah bapak pergi?

***

Paninea hanya gadis kurus berkulit coklat, rambutnya sepunggung, matanya cokelat, dan kukunya panjang-panjang. Paninea adalah gadis kecil yang menjual plastik di pasar dari jam enam pagi sampai jam dua siang, lalu Paninea akan bergegas menuju surau kecil yang terletak di ujung lorong. Di saku belakang celana Paninea selalu ada buku notes kecil dan pensil yang panjangnya tidak lebih dari jari kelingking. Paninea suka menulis, itu alasan kenapa dia selalu membawa buku notes dan pensil ke mana-mana.

Jam sepuluh pagi, Paninea berjalan gontai menawarkan plastik ke ibu-ibu yang dilihatnya kesulitan dengan barang belanjaannya. Sejak dari jam enam pagi, Paninea hanya dapat uang lima ribu rupiah. Keringat keluar dari kulit jangatnya. Wajah Paninea memucat, karena biasanya sebelum jarum jam menunjuk angka sepuluh, dia sudah bisa menjual plsatik dan mengumpulkan uang hingga lima belas ribu rupiah di saku bajunya. Hari itu, sepertinya akan menjadi hari yang buruk. Paninea duduk di ujung lorong, dia mengeluarkan buku dan pensilnya.

Cuma 5000 pasti ibu marah sekali. Tidak ada beras, tidak ada daging, pasti aku dipukul lagi.

Paninea menarik nafas dalam-dalam. Ketakutan terbesar Paninea adalah rumah. Rumah di mana Paninea tinggal dengan ibunya; ibu tiri. Sudah 3 tahun kabar dari Bapak Paninea tidak terdengar lagi. Paninea ingat, Bapak Paninea pamit untuk mencari uang di kota. Itulah kabar terakhir yang bertahan di ingatannya, sejak perpisahan itu, tidak ada lagi kabar.

Paninea tinggal dengan ibu tirinya, Mak Suripah, dan Paninea kerap dijadikan bulan-bulanan kemarahan jika ibunya tidak ada panggilan nyanyi di dangdut dorong atau di pesta-pesta kawinan. Jikapun ada panggilan, ibunya kerap pulang dalam keadaan tidak sadar dan bau alkohol. Yang paling membuat heran Paninea adalah ibunya sering pulang bersama lelaki yang berbeda. Jika sudah ada lelaki yang bertandang ke rumah mereka, Paninea akan dapat uang jajan untuk beli gulali di warung, tidak banyak, cuma 4 butir tapi hal itu menggembirakan hati kecil Paninea.

Paninea mengeluarkan buku dan pensilnya.

Apa ibu sayang dengan nea?

Paninea berdiri dan kembali mencoba menjual plastik. Hingga sore, Paninea hanya dapat sepuluh ribu rupiah. Wajahnya pucat ketakutan, dengan gontai Paninea berjalan pulang ke rumahnya. Di depan pintu, Paninea melihat sebuah motor terparkir di bawah pohon mangga. Hati Paninea sedikit terhibur, tandanya ibu ada kerja malam ini. Paninea masuk ke dalam rumah, Pak Masus, pemilik orkes dangdut sedang duduk manis di samping ibu.

“Heh, dapat berapa jualannya?” tanya Ibu.

“Sepuluh ribu, Bu.”

“Ahh..kok cuma segitu!”

Pak Masus mengelus pundak Ibu.

“Sabar Jeng, nanti malam kan dapat bagian nyanyi. Sini Nea, Om kasih uang beli gulali. Belinya yang jauh ya,” Pak Masus mengeluarkan uang lima ribuan. Paninea berdiri terpaku. Ibunya menatap dengan sedikit melotot, seakan memberi instruksi untuk mengambil uang itu dan menyuruh Paninea lekas keluar dari rumah.

Paninea mengambil uang yang disodorkan oleh Pak Masus lalu pergi gegas tanpa melihat lagi ke belakang. Paninea berjalan tidak tentu arah, dia tidak pergi ke warung. Hati kecilnya berkata bahwa dia tidak ingin gulali, ini bukan uang yang baik, gumamnya pelan. Akhirnya Paninea memutuskan untuk duduk di pojok surau sembari menuliskan banyak sekali kalimat. Hingga akhirnya Paninea tertidur karena terlalu letih.

***

Paninea akhirnya terbangun ketika suara bedug dipukul; menggema ke seluruh kampung. Paninea menatap ke jam dinding, subuh. Matanya mengerjap seakan ingin meyakinkan diri kalau-kalau dia salah melihat. Tersadar kalau memang sudah subuh, Paninea langsung berdiri dan berlari pulang ke rumahnya, ibunya pasti mengamuk, pikirnya.

Sesampainya di halaman rumah, motor Pak Masus masih terparkir di bawah pohon mangga. Perasaan Paninea tercampur aduk. Pelan-pelan dia masuk ke dalam rumah, Pak Masus sedang duduk, bertelanjang dada dan terselip rokok di bibirnya. Seketika bulu kuduk Paninea meremang tidak menentu, dadanya berdegup kencang.

“Sini duduk, deket Om,” panggil Pak Masus.

Paninea diam kaku, tanpa memperdulikan ajakan Pak Masus, Paninea masuk ke dalam kamar. Tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh Pak Masus. Paninea terjatuh ke lantai dan pak Masus menindihnya dari atas. Paninea menangis menjadi-jadi, dan tiba-tiba ibu sudah berdiri tepat di belakang Pak Masus.

Air matanya menetes, entah mengapa, untuk pertama kali Paninea melihat ibunya menangis. Ibu berlari ke dapur, lalu tidak berapa lama kemudian ibu datang dengan membawa pisau dapur. Mata Paninea ketakutan. Ibu, sembari menutup matanya menghujamkan pisau dapur itu tepat ke punggung bagian tengah Pak Masus.

Pak Masus berteriak kesakitan sebelum kemudian jatuh ke atas tubuh Paninea, ujung pisau tepat mengenai bagian tengah dada Paninea. Darah mengalir. Ibu menarik tubuh Pak Masus dan menarik Paninea untuk berdiri. Ibu membuka baju Paninea dan memeriksa ke lukanya. Bergegas Ibu masuk ke kamar. Di tangannya terkepal segulung uang yang diikat karet gelang. Ibu mengulurkan uang itu dan menaruhnya di tangan Paninea. Paninea menangis terisak.

“Pergi sana, jangan kembali ke sini. Anggap ibu mati, ” ujar ibu pelan.

Dada Paninea sekejap nyeri. Monster yang sangat ia takuti kini bersukarela melindunginya. Paninea menggeleng, dia tidak mau berlari seperti pengecut.

“Pergi!” hardik Ibu.

Paninea menggeleng.

“Pergi!! Jangan pernah kembali, ibu sudah mati.”

Paninea menggeleng lagi.

Ibu mendorong tubuh Paninea keluar dari pintu, Paninea berontak. Lalu ibu mengunci pintu dari dalam. Paninea menangis dan mengetuk.

“Ibu!” jerit Paninea

“Pergilah Nak, ini akan berat buatmu. Itu uang untuk bekalmu hidup ke depan. Ibu sudah mati.”

Untuk pertama kali, Ibu memanggil Paninea dengan kata-kata ‘Nak’. Paninea semakin menangis tersedu.

“Pergilah Nea, beli makanan yang kau suka,” ujar Ibu.

Itulah kata-kata Ibu yang akan menjadi kata-kata terakhir yang didengar Paninea, sebab pada keesokan paginya, ketika pintu rumah dibuka paksa oleh warga kampung, Ibu sudah meninggal dengan pisau tertancap di dadanya. Paninea berdiri kaku di bawah pohon mangga. Air matanya mengalir. Tanpa henti. Kali ini, dia tidak lagi ingin menulis. Tidak ada lagi kata-kata yang pantas untuk menceritakan ini.

 

Cahaya terang berisi air itu menghasilkan buih-buih yang menutupi permukaannya, yang meghalangi kita untuk dapat melihatnya dengan sumber mata batin yang berada jauh di dalam.”

 Rumi. Matsanawi VI, 3400-3431.

*) Gui Susan,  pecinta buku dan seorang ibu, tinggal di Jakarta, berjejaring sosial di twitter @GuiSusan dan Facebook: Gui Susan. Beberapa puisi dan cerpennya pernah dimuat di Kompas.com