Arsip Tag: dianna firefly

Tentang Masa, Ketika Aku Hidup Untuk Mencintaimu

Puisi Dianna Firefly

mother's love
Gambar diunduh dari http://www.kemonbaca.blogspot.com

[1]
Mungkin di keheningan ini, aku bisa mendengar suaramu.
Yang tak ada pada nyata.
Yang begitu sulit menembus masa,
Ketika aku hidup untuk mencintaimu.

[2]
Dan sunyi bersetubuh dengan angin, merajam jiwaku. Desaunya mengantar berita, kamu sudah tak ada. Jadi percuma aku berkelana, mencarimu di lorong-lorong khayalku. Memang sudah tiada, pagi di mana aku bisa suguhkan kopi manis untukmu. Memang sudah tiada, senja yang kurancang untuk melihat wajah tuamu berkilauan di bawah cahaya. Memang tak akan pernah ada, malam di mana aku bisa mendoakanmu.

[3]
Karena seorang anak akan mencari sepi di mana ia bisa mengenang kedua orang tuanya. Namun kau memang tak pernah ada, ketika sepi, bahkan seramai apa pun hidupku.
Senyap.

[4]
Karena memang selalu ada waktu bagi jiwa untuk merindukan seseorang yang tak pernah ada saat aku membuka mata. Mungkin dia ada, di masa lalu yang paling suram, yang semua orang ingin meniadakannya. Tapi jika aku bisa, aku ingin dewasa kala itu juga, agar aku bisa memilah mana yang baik dan jahat. Melihatmu untuk mengerti posisimu. Mendengarmu untuk memahami kondisimu. Memelukmu meski sekali saja dalam hidupku. Namun kini aku terlanjur tahu segala yang buruk tentangmu. Bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu?

 

April 2012

*) Untuk saudara-saudaraku di jalanan, anak-anak yang ditinggalkan; kita.

 

Penulis: Dianna Firefly, berusia dua puluh tahun namun terkadang merasa telah hidup ratusan tahun lamanya. Tentu usia seperti itu tidak terbukti karena usia twitternya saja baru dua tahun. Twitter? Intinya mau promosi, jangan lupa follow @DiannaFirefly ya.

Kematian (T)uhan

Puisi Dianna Firefly
kenaikan isa
Gambar diunduh dari blogs.elca.org
Kini (T)uhan hanya sebaris kalimat yang kau gunakan sebagai mantra pembunuh dan mereka adalah tumbal yang darahnya menjadi perlambang bahwa kebenaran sudah mati. (T)uhan pun ikut mati. Aku melihat (T)uhan mati di genangan darah yang keluar dari tubuh mereka. Mati dengan keji dan (T)uhan tidak pernah bangkit sejak hari itu. (I)a tidak pernah menuju surga.
Satu persatu manusia mati dalam raganya yang hidup. Mereka berkeliaran seperti anjing-anjing tidak bertuan. Mengais alasan sebagai pembenaran. Menggerogoti tulang belulang yang ia anggap lawan. Kadang menangis tanpa air mata lalu tertawa hingga gila.
Sejak kematian (T)uhan yang entah. Aku berdiri di bawah tiang salib. Merenungi apa yang kuimani. Berkali-kali mencari. Mencari sesosok manusia yang dua ribu tahun lalu disalibkan. Tiang salibnya kini dijadikan kayu bakar. Apakah yang telah (T)uhan korbankan? Ada atau tidak. Apakah yang aku mau dari sesuatu yang kukehendaki? Tentang (T)uhan dan hidup.
Dunia telah banyak berubah. Dua ribu tahun sejak saat itu berlalu, bahkan lebih dari itu. Para ilmuwan menghitung umur bebatuan –mereka lebih suka menghitung umur bebatuan daripada mengingat umurnya sendiri– dan mendapatkan hasil bahwa bumi berumur milyaran tahun, (T)uhan dimana selama itu?
(T)uhan baru saja lahir, tepat pada saat (K)itab pertama diturunkan. (K)itab yang entah. Melayang-layang dari langit kepada orang (t)erpilih, yang memang terpilih atau menganggap diri menjadi pilihan.
(K)itab lain pun bermunculan. Mungkin, itu terjadi saat (T)uhan lahir berkali-kali. Reinkarnasi. Dalam rupa dan watak berbeda. Lahir di bangunan mirip kastil dan berlonceng, di bangunan yang selalu malam penuh bulan bintang, di bangunan yang terbuat dari batu-batu, di bangunan yang selalu diasapi, di patung-patung, di gunung, di lembah dan ngarai, dimana saja (T)uhan-(t)uhan mau lahir. Toh, (I)a adalah (T)uhan kan?
(T)uhan pun hidup bersama manusia. Bergandengan tangan, tertawa ria. Hanya saja, (T)uhan terkadang menjadi pencemburu, tamak, dan tidak berbelas kasih. Manusia apa lagi? Akhirnya mereka berebut harta warisan: (s)urga. (T)uhan melawan (T)uhan, (T)uhan melawan manusia. Manusia melawan manusia.
Aku menyaksikan semua itu. Aku diam saja. Aku menderita. Setiap luka mereka adalah lukaku, begitu juga tangisnya. Namun aku tidak peduli, tidak bisa berbuat apa-apa. Aku bukan Tuhan meskipun aku diper(t)uhankan.