Arsip Tag: gerakan feminisme

Mary, Mary, Godwin, Shelley #2

Kolom John Kuan

Cerita Detektif

mary Wollstonecraft
gambar diunduh dari exhibition.nypl.org

Cerita detektif seandainya hanya untuk membuang waktu, ditulis dengan plot berdebar dan mengundang curiga sebagai hiburan, maka tidak akan jauh berbeda dengan cerita-cerita silat, dengan bayang pisau cahaya pedang, getaran angin pukulan, jurus-jurus tombak memilin, ditambah dengan amis darah petarungan dan pengejaran cinta yang bertepuk sebelah tangan sebagai titik koma, garis lintang dan bujur, ditulis buat main-main, samasekali tidak ada hubungan dengan genre sastra, dengan penjelajahan dan pembacaan sastra.

~

Siapa berani bayangkan Godwin menulis Caleb Williams hanya untuk menyediakan hiburan kepada pembaca London? Tentu tidak, siapa itu Godwin! Bapak Kaum Anarkis, tahu! Namun saya berani mengatakan bahwa cerita silat maupun tidak silat yang heboh di rak-rak laris, tidak peduli kata-katanya bisa dicerna atau tidak, jalan ceritanya dan tokoh-tokohnya seberapa hidup, temanya berbobot atau tidak, tidak peduli keluar dari ujung pena siapa, saat dia pegang pena menulis, tujuannya hanya untuk memikat perhatianmu, sedapat mungkin berusaha jangan sampai hatimu bercabang di tengah jalan, lempar buku terlelap, mengerek daya hiburan hingga lapisan teratas, buat merebut kepercayaanmu akan kemampuannya membantu kau menghabiskan waktu.

 ~

Sirkus pada masa-masa awal hanya memiliki satu lingkaran besar, sebagai tempat pertunjukan ( ring ). Orang-orang duduk menggelilingi tempat pertunjukan, serentak memandang ke lingkaran, orang-orang yang memandang begini, disebut penonton ( audience ). Di dalam lingkaran petunjukan ada berbagai kegiatan terus berlangsung, satu menyambung satu, ini disebut acara ( program ).

Lihat sekarang! Seorang badut berbaju bintik topi berbunga sedang lenggang lenggok bergaya, selanjutnya adalah monyet naik sepeda, gajah berdiri tegak berbaris, menumpang kaki depannya di punggung koleganya yang berjalan di depan, kemudian adalah kuda putih dan kuda hitam yang dihias indah berlari kecil dengan teratur. Lihat, manusia terbang, orang perkasa menelan pedang, sang jelita meloncat lewat lingkaran api penuh mata pisau, cambuk pawang binatang buas berambut pirang berlengan tato melayang menjerit, perintah singa jantan duduk baik-baik, lalu sendiri menyodorkan sepotong daging ke mulut singa, selanjutnya badut keluar lagi, mengitari lingkaran pertunjukan satu kali, melambaikan tangan kepada penonton, sekarang suara musik sedikit agak membosankan, sebab pemain-pemain musik sedang istirahat, minum dan merokok. Tidak lama, dari belakang meloncat keluar dua ekor monyet, bersama badut berlari beriring, dan melambaikan tangan kepada penonton…

Acara begini, lihat saja, sirkus jaman dulu umumnya demikian, hiruk-pikuk, penuh gaya penuh warna, permainan bagus sambung menyambung. Namun bagaimanapun juga, di dalam seluruh acara sekalipun sebagian besar waktu kau tetap bersemangat, antusias, riang, sesekali juga merasa ada acara tertentu yang tidak begitu memikat, oleh sebab itu ketika singa jantan akhirnya berhasil duduk dengan baik, kau angkat tangan melihat jarum arloji, mengetahui sekarang sudah jam sekian sekian, ada sedikit lelah, tidak tahu acara apa selanjutnya?

Suatu kali dalam acara yang sedang berlangsung, serentak ada seperempat penonton (termasuk lelaki perempuan tua dan muda) yang sedang menonton di lingkaran pertunjukan menunjukkan ekspresi kebosanan, dan di antaranya (seperempat penonto ) ada separuh serentak angkat tangan melihat jarum arloji, sesaat ketika pawang berambut pirang berlengan tato menarik kembali cambuknya yang panjang, singa jantan pelan-pelan duduk sempurna, menunggu dia menyodorkan sepotong daging ke dalam mulutnya.

Badut berbaju bintik topi berbunga memperhatikan kondisi begini, hatinya sangat galau: “Banyak orang merasa membosankan, pada saat ini.” Dia melapor kepada kepala penyusun acara, si Kumis: “Harus dicari solusinya.” Si Kumis menghela nafas berkata, dia telah memperhatikan masalah ini, sebab manusia terbang nomor dua sudah pernah melapor kepadanya, lalu orang Kazak penuntun kuda juga, pemain alat musik tiup juga, Jenny pelompat lingkaran api juga, dan beberapa anggota lain, semuanya pernah mengutarakan bahwa tidak peduli acara apapun sedang berlangsung, sedikit banyak pasti ada penonton menunjukkan kebosanan. “Bagaimana menyedot perhatian semua orang sehingga hatinya tidak bercabang di tengah jalan, bahkan berebutan meninggalkan tempat duduk?” Kumis kepala penyusun acara masuk ke dalam renungan: “Bagaimana mengerek daya hiburan hingga lapisan teratas. buat merebut kepercayaan mereka akan kemampuannya membantu mereka menghabiskan waktu?”

“Saya punya solusi!” Badut berbaju bintik topi berbunga pecah ilham berkata: “Tempat pertunjukan dari satu lingkaran ditambah menjadi tiga lingkaran, setiap menit setiap detik, biarkan tiga macam acara berbeda berlangsung di dalam tiga lingkaran pada waktu bersamaan, dan penonton tetap duduk mengelilingi, mengelilingi di luar area tiga lingkaran, suka melihat acara di lingkaran mana, tinggal pilih, kalau bosan, boleh memilih lingkaran lain, selamanya tidak akan kehabisan tontonan, selamanya tidak lelah, tidak bosan, terus menjaga hati yang mengebu, hingga acara berakhir bersamaan.”

 ~

Pemaparan di atas, adalah cikal bakal three-ring circus.

Nama badut tidak dicantum, namun sumbangannya terhadap industri hiburan amat kasat mata, tidak bisa diabaikan, perihal ini bukan saja terjadi di sirkus, juga mempengaruhi pembuatan film, penyusunan acara di parlemen, media berita, juga memberikan inspirasi yang amat besar kepada semua orang yang bertekad menulis novel, tentu bukan hanya cerita detektif atau cerita silat saja.

~

Godwin menggunakan cerita detektif sebagai kritik sosial, di Inggris pada ujung abad kedelapan belas Masehi. Mary Wollstonecraft Godwin Shelley juga mengikuti langkahnya. Dia menulis Frankenstein, menciptakan monster rekayasa ilmuwan pertama dalam sejarah. Sebuah fiksi ilmiah begini sesungguhnya juga merupakan kritik sosial, mencerminkan intelektual Eropa Barat hidup di pembukaan abad kedelapan belas, sebuah jaman yang penuh tantangan, bagaimana memandang sifat manusia dan sains, dan juga sisi gelap sifat manusia dan sains.

Mary, Mary, Godwin, Shelley #1

Kolom John Kuan

mary Wollstonecraft
gambar diunduh dari exhibition.nypl.org

Mary Shelley adalah isteri sang penyair, Shelley. Nama lengkapnya adalah Mary Wollstonecraft Godwin Shelley. Seuntai nama yang begini panjang, di antaranya (Godwin) berasal dari nama ayahnya, (Wollstonecraft) berasal dari nama ibu kandungnya. Baru lahir sepuluh hari, ibunya sudah mati; ayahnya demi mengenang isteri, seuntai nama panjang ini langsung diberikan kepada putri kecilnya.

~

Mary Wollstonecraft Godwin Shelley sangat berbakat, mandiri dan berpendirian seperti suaminya, juga menulis banyak buku. Dia adalah perempuan yang memukau, sungguh. Namun, seandainya ingin benar-benar mengenal dia, kita perlu terlebih dahulu mengenal ibunya, Mary Wollstonecraft, penulis, pemikir, pengagas dan aktivis gerakan emansipasi, seorang perempuan yang luar biasa begini. Mary Wollstonecraft di ujung abad ke delapan belas Masehi sudah sangat jelas mengetahui betapa brutal dan hipokritnya masyarakat yang dikuasai lelaki; dia tahu lelaki meminta perempuan patuh, tergantung, inferior, tidak ambisius, tidak lebih hanya karena lelaki egois dan lemah. Cita-citanya adalah pada kemandirian, menciptakan karier, sebab itu dia terus bekerja, menulis novel, menulis buku politik, bahan kuliah, catatan perjalanan, opini, dan kritik sastra, menganjurkan sebuah landasan yang memiliki kebebasan yang sesungguhnya untuk membangun sebuah masyarakat yang benar-benar demokratis.

Tahun 1792 Mary Wollstonecraft menerbitkan Vindication of the Right of Woman, berpendirian bahwa hanya ketika perempuan memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang sama, dapat bebas memilih pekerjaan, dan memiliki sebagaimana umumnya hak rakyat di atas bumi, baru mungkin ada masyarakat yang demokratis dan bermoral. Para penggagas dan aktivis gerakan feminisme di ujung abad ke dua puluh Masehi umumnya kenal dengan Mary Wollstonecraft sebagai perintis gerakan mereka.

Mary Wollstonecraft sering seorang diri mengunjungi berbagai tempat, dalam maupun luar negeri, dan pada masa itu seorang perempuan melangkah sendiri di jalan saja bisa menjadi gunjingan. Dia mendukung Revolusi Perancis, berharap perubahan di Paris suatu hari akan mempengaruhi London, memicu demokratisasi di Inggris.

~

 Satu tahun setelah Vindication of the Right of Woman terbit, William Godwin menerbitkan sebuah buku ajaib yang menganjurkan rasionalitas, pendidikan umum, dan ingin pemerintah sedapat mungkin tidak mengatur: Enquiry Concerning Political Justice, mengundang reaksi yang sangat besar. Setahun kemudian, Godwin menerbitkan sebuah cerita detektif. Ada orang percaya Godwin adalah Bapak Cerita Detektif Inggris. Namun cerita detektif bukan ditulis buat menggosok waktu, bagi Godwin, ditulis buat menyindir keadaan sosial masa itu.

Mary Wollstonecraft dan William Godwin saling tertarik, sangat pasti, bisa dibayangkan, dan keduanya sama-sama menolak institusi perkawinan. Mary Wollstonecraft samasekali tidak ragu, sebelum dirinya dan Godwin saling mencintai, dia telah melahirkan seorang anak perempuan dari hubungan dengan seorang lelaki dari Amerika Serikat bernama Imlay, menurut cerita, dia melahirkan anak perempuan ini karena pandangan politik lelaki tersebut searah dengannya; tujuan? Untuk membuktikan perkawinan sah adalah sangat tidak berarti.

~

 Mary Wollstonecraft Godwin Shelley, isteri sang penyair, sejak kecil hidup di dalam lingkungan begini, segala macam pendapat termasuk dari pemerintah dengan ibunya sebagai salah satu contoh dosa pembaharu ekstremis, seringkali melecutnya. Ayahnya, William Godwin, duduk di ruang tengah rumah tua yang penuh lemari buku, mengenang kecantikan, kebaikan, kepintaran dan keberanian isterinya. Mary kecil selalu berlama-lama duduk mendengarnya, mendengar ayahnya menceritakan kisah ibunya yang dia tidak pernah bertemu, tersentuh, sepenuh hati; mendengar sahabat-sahabat ayahnya, Coleridge, William Hazlitt, Charles Lamb, berbincang politik, sastra, dan filsafat, bahkan sering mengungkit -rupanya dia sangat menyerupai ibunya-. Ini membuat dia merasa tenang, bahagia, dan bangga. Dia sejak kecil sudah selesai membaca semua tulisan ibunya, maka setiap kali pergi ke pemakaman di St Pancras, ia hendak mengungkapkan semua pemahamannya kepada ibunya yang tidur panjang di bawah tanah. Dia demikian pasti demikian percaya diri, merasa dirinya tentu adalah kelahiran kembali ibunya. Sepanjang hidup, tanda tangannya tidak pernah melupakan kata Wollstonecraft yang panjang itu.