Arsip Tag: gerundelan

Paceklik Nalar Sehat dan Kesantunan dalam Politik

Oleh Muhammad AS Hikam

paceklik-nalar-sehat-dan-kesantunan-dalam-politik
Sumber foto: straitstimes.com

Bukan hanya paceklik dalam pengertian “musim kekurangan bahan makanan” saja yang sedang terjadi di negeri kita, tetapi, dan yang lebih mengerikan bagi kehidupan bangsa dan negara, adalah paceklik nalar sehat dan kesantunan dalam politik yang terjadi di dalam elit DPR-RI, yang notabene adalah lembaga para wakil rakyat itu. Nuansa paceklik ini begitu dahsyat dan mendalam bagi kehidupan berbangsa dan bernegara walaupun penampakan peristiwanya hanya kurang dari 30 menit, jika dilihat dari tayangan YouTube. Yang saya maksud tentu saja adalah kehadiran Ketua dan Wakil Ketua DPR-RI, Setya Novanto (SN) dan Fadli Zon (FZ), dalam konferensi pers kampanye capres AS, Dobald Trump (DT).

Lanjutkan membaca Paceklik Nalar Sehat dan Kesantunan dalam Politik

Iklan

Hina Mulia Tubuh Ini

Gerundelan John Kuan

1.

Dari sebuah situs Kebudayaan Hongshan Zaman Neolitikum di Provinsi Liaoning, Cina Timur Laut, digali keluar sebuah patung perempuan, sudah cacat kurang berbentuk, tubuhnya hanya tinggal sekitar 5 cm, namun bisa jelas kelihatan adalah seorang perempuan hamil. Patung ini dengan Ibu Bumi dari situs-situs Zaman Neolitikum Mesopotamia maupun Eropa termasuk satu kategori. Dengan tubuh perempuan sedang mengandung sebagai simbol permohonan kesuburan, reproduksi dan berkembang biak. Di Zaman Neolitikum, periode awal pertanian dan pembuatan tembikar, citra perempuan dengan perut dan pinggul besar, hampir merupakan awal mula sejarah seni rupa di berbagai tempat di dunia.

Seni rupa Mesopotamia, India dan Mesir, setelah melewati tahap Ibu Bumi, dengan cepat transformasi menjadi wujud lelaki penguasa, kira-kira bersamaan waktu dengan berdirinya kekaisaran. Konsep pemerintah dengan sistem klan, membentuk struktur masyarakat patriarkis. Penguasa, pemimpin adat, atau pemimpin suku berjenis kelamin lelaki semuanya pasti dilengkapi dengan sifat ‘ kedewaan ‘, dan patung-patung dalam bentuk firaun, raja, ataupun dewa juga terus-menerus didirikan.

Tidak seperti patung Ibu Bumi yang kebanyakan dibentuk dari tanah liat, berukuran kecil, sederhana dan lembut, patung-patung lelaki penguasa ‘ kedewaan ‘ umumnya dibentuk dari batu, sangat menekankan terbuat dari bahan yang keras dan tahan lama; berukuran sangat besar, sehingga patung menampakkan suatu sifat agung, tinggi tak tergapai. Terutama di Mesopotamia dan Mesir, patung-patung lelaki yang berukuran puluhan meter adalah sangat umum, sehingga membuat struktur sosial politik patriarkis memiliki lambang yang tak tergoyahkan.

Tetapi Cina agak berbeda, sebab jaman purba-nya tetap tidak ditemukan patung yang berukuran besar. Sebagian besar patung manusia dari jaman Pra-Qin, baik dibentuk dari batu giok, tanah liat, perunggu ataupun kayu menampakkan suatu kondisi eksistensi yang lemah dan rendah. Keberadaan manusia seperti tanah di bumi, tampak begitu lemah dan rendah; datang dari debu bumi, kembali bersama debu bumi.

Sekalipun kecil dan lemah, patung-patung manusia tetap sangat jarang ditemukan di situs-situs purbakala Cina, yang digali keluar umumnya adalah perkakas, ini menunjukkan suatu karakter yang realistis di dalam kehidupan yang prihatin. Dari sedikit patung manusia yang ditemukan, kadang-kadang hanya merupakan bagian dari perkakas, misalnya menempelkan sebuah kepala manusia yang dibentuk dengan kasar di atas kendi atau bejana. Manusia berubah menjadi bagian dari perkakas, tertegun melihat diri sendiri, tertegun melihat perkakas, seperti tidak bisa dengan jelas melihat perbedaan antara dirinya dan perkakas.

Hampir semua kebudayaan kuno pernah membangun wibawa, harga diri, kemegahan, kekekalan, kemuliaan, dan berbagai estetika tubuh yang membuat iri di antara patung-patung raksasa mereka. Kecuali Cina, sampai hari ini masih belum pernah ditemukan patung manusia yang berukuran raksasa dan gagah. Kekurangan patung manusia di dalam seni rupa Cina Kuno mungkin bisa dijadikan semacam pelajaran penting kebudayaan buat direnungkan.

Di dalam kitab-kitab filsafat Pra-Qin sangat sedikit ditemukan uraian tentang tubuh manusia. Pembahasan tentang orang di dalam kitab-kitab penting ajaran Ru

( Konghucuisme ) langsung diletakkan di dalam kerangka etika. Orang, sangat kecil kemungkinan ditelaah secara mandiri, Xiao Jing ( Kitab Bakti; salah satu kitab utama ajaran Ru ) berkata:

     Tubuh adalah pemberian orangtua, tidak boleh dirusak dilukai

Dengan uraian begini, seandainya keberadaan tubuh memiliki makna tertentu, itu juga atas pemberian orangtua, dan tetap adalah uraian yang bersumber dari etika. Tubuh seperti tidak mungkin dibahas secara mandiri. Menekankan etika, berarti menekanan keberadaan komunitas, dan menyepelekan keberadaan pribadi.

Komunitas biasanya akan diwakili dengan simbol komunitas, oleh sebab itu paras dan tubuh perorangan yang khas akan menjadi sangat sulit ditonjolkan. Dimulai dari batu giok, tembikar, terus sampai alat-alat perunggu banyak sekali ditemukan bentuk-bentuk hewan, terutama motif-motif naga, ular, dan burung feniks. Lembu, kambing, harimau, ikan, gajah, badak juga tidak sedikit, hanya saja bentuk [ orang ] yang hampir tidak ada. Motif-motif hewan yang ada di tembikar ataupun di alat-alat perunggu ini kemungkinan adalah semacam totem klan.

Totem-totem yang sangat menawan ini, dengan dua mata bercahaya, seolah adalah tatapan seluruh leluhur yang telah tiada pada setiap gerak-gerik anak-cucunya. Totem-totem bukan ditampilkan dengan paras dan bentuk tubuh pribadi tertentu, tetapi semacam simbol suci klan, kemudian mengental menjadi ingatan bersama sebuah komunitas, kurang lebih sama dengan bendera dan lambang negara masa kini, tetapi lebih memiliki semacam persembahan agama yang khidmat dan misterius. Begitulah, perorangan hilang di dalam totem-totem besar ini. Perorangan kehilangan arti keberadaan yang mandiri di dalam kebesaran kelompok.

Dipandang dari sudut estetika, Cina seolah sangat sulit membuat ‘ perorangan ‘ secara mandiri diapresiasi. Di dalam struktur masyarakat hierarkis, setiap pribadi mesti masuk ke dalam susunan tingkatan masyarakat. Keberadaan ‘ perorangan ‘ baru memberi makna ketika sudah berhubungan erat secara berurut dengan keluarga, komunitas, dan negara. Wajah ‘ perorangan ‘ adalah sangat kabur, perorangan juga tidak mungkin menonjolkan bentuk dan gaya yang mandiri. Mengorbankan begitu banyak kekhasan ‘ perorangan ‘, mungkin demi mengukuhkan simbol keagungan kelompok.

Kadang-kadang melihat patung-patung tanah liat dari jaman purbakala dengan raut wajah dan lekuk tubuh yang begitu samar, seakan tidak peduli terhadap keberadaannya, seperti serangga, seperti rumput, dengan rendah dan lemah bertahan hidup, dari dalam debu tanah kuning merangkak menggeliat keluar, juga tidak jauh berbeda dengan debu tanah kuning itu sendiri. Adalah semacam debu tanah juga, dengan bentuk yang tidak kokoh, setelah ditiup angin akan berubah jadi debu selangit, ketika disiram hujan becek menjadi lumpur.

Jika punya kesempatan berdiri di sisi lobang galian situs-situs purbakala Delta Sungai Kuning, melihat jejak-jejak yang bertahan selama beribu tahun, melihat sebuah boneka tanah liat yang serampangan dibentuk, setelah bosan dijadikan mainan, akan serampangan lagi dibuang. Begitukah sebuah peninggalan? Seketika bentuk-bentuk manusia yang merangkak dan menggeliat di dalam lobang tanah, bukan lagi boneka ribuan tahun yang lalu, namun adalah petani masa kini, begitu samar, selamanya demikian bertahan hidup, seperti tidak mempunyai pendapat apapun terhadap keberadaannya, tapi juga seperti suatu cara bertahan hidup yang paling tegar. Betul, adalah cara bertahan hidup yang paling tegar.

Kondisi hidup begini telah digambarkan Lu Xun di dalam ceritanya [ Kisah Nyata Ah Q ] yang menggundang iba dan tawa, tetapi dengan begitu keras kepala tetap bertahan hidup. Citra Ah Q seperti tidak cocok dipamerkan dengan pahatan batu ala Mesir, juga sulit dimuliakan dengan menggunakan bentuk patung dewa Yunani. Ah Q bertahan hidup di dalam suatu keadaan yang hina dan lemah, bahkan sedemikian menggelikan hingga membuat orang berpikir: Apakah cara bertahan hidup begini masih berarti? Dan boneka-boneka di dalam tanah kuning yang hanya samar-samar menampakkan seraut wajah manusia dengan bentuk yang demikian kasar, juga membuat orang curiga: Apakah yang begini juga boleh disebut [ manusia ]?

Zhuang Zi di dalam bab [ Sang Mahaguru ] ada deskripsi begini:  

Hidup diumpamakan sebagai kutil dan tonjolan daging yang melekat, dan mati adalah berpisahnya kutil dan berakhirnya isi tonjolan daging.

( 彼以生為附贅縣疣,以死為決病潰癰. )

[ Hidup ] dianggap sebagai sesuatu yang melekat dan menjadi beban tubuh, sebagai kutil, sebagai tonjolan daging, sebagai tumor yang merepotkan, dan mati, justru terbebas dari kutil, tumor yang melekat dan menyiksa. Mungkin sikap [ hidup ] yang tersimpan di dalam kitab-kitab Pra-Qin bisa dibaca beriringan dengan boneka-boneka buruk dan lemah di dalam situs-situs purbakala.

Ada sebuah massa maha besar, aku menumpang dalam wujud, aku bekerja keras dalam hidup, aku menyepi dalam tua, aku istirahat dalam kematian; apa yang membuat hidupku baik, juga akan membuat matiku baik.

(  夫大塊載我以形,勞我以生,佚我以老,息我以死。故善吾生者,乃所以善吾死也。)

Sepenggal sikap di dalam filsafat Zhuang Zi ini seolah sudah bukan lagi pandangan seorang filsuf, dan dalam kenyataan, ini mungkin sudah merupakan sikap hidup sebagian besar orang Cina.

Perhatian orang Mesir yang begitu terpusat dan teguh terhadap kematian, bagi orang Cina adalah sesuatu yang sangat sulit dimengerti. [ aku menyepi dalam tua, aku istirahat dalam kematian ] adalah dengan [ menyepi ] dan [ istirahat ] memandang kematian. Kematian bukan sedemikian tragis dan heroik, dan hidup juga bukan sedemikian riuh rendah dan menggemparkan. Hidup mati di dalam kehidupan masyarakat Cina, lebih mirip sesuatu yang alamiah, lebih mirip layu dan berkembangnya tumbuhan, di musim semi pecah kecambah, di musim gugur dan musim salju layu dan luruh, bukan begitu mengejutkan langit menggetarkan bumi.

[ Membuat hidupku baik ] menjadi semacam keteguhan. Seperti yang dikatakan Kongfuzi [ Belum tahu hidup, bagaimana tahu mati ]. Penekanan terhadap [ hidup ] mengisyaratkan bahwa segala macam bentuk [ hidup ] jauh lebih berarti daripada [ mati ]. Kemudian berubah menjadi semacam ungkapan yang beredar luas di dalam masyarakat [ Hidup hina daripada mati terhormat ]. Sebuah ungkapan kasar yang berasal dari jaman yang jauh dan kedengarannya hina dan menggelikan, tetapi jika digunakan untuk melihat boneka-boneka yang bertahan hidup di dalam kondisi lemah dan tidak perlu keteguhan di dalam lapisan tanah kuning situs purbakala, mungkin akan tiba-tiba sadar terhadap kepedihan yang terkandung di dalam [ hidup hina ] itu. Seakan bertahan di dalam keadaan paling hina, paling lemah, paling tak berarti, adalah hakikat dari [ hidup ].

2.

Sekitar Periode Musim Semi dan Gugur ( 771 SM – 400 SM ), seni rupa Cina dengan bentuk ‘ orang ‘ mulai berkembang pesat, pelan-pelan menggantikan totem-totem berbentuk hewan yang telah begitu lama mendominasi topik kesenian. [ Orang ], akhirnya memiliki kedudukan utama, dia mulai memperhatikan bentuk rupa sendiri, dia juga mulai merenungkan keberadaannya. Berbeda dengan burung yang terbang di langit, hewan yang merangkak di bumi, dan ikan yang berenang di air. [ Orang ] telah melepaskan diri dari kedunguan dan kekacauan, memiliki pandangan yang agak jelas terhadap dirinya.

[ Orang ] yang paling awal muncul di atas alat-alat perunggu, bukanlah seseorang yang mandiri, juga tidak menekankan mimik rupa perorangan yang khas, biasanya dengan ukiran timbul menggurat di atas alat perunggu sekelompok-sekelompok orang; barisan prajurit yang sedang menyerang tembok kota, sekelompok nelayan di atas perahu menangkap ikan di sungai, petani-petani bekerja di tengah ladang, ataupun perempuan-perempuan yang bermain alat musik dan menari di dalam sebuah pesta. Kesadaran terhadap [ orang ] pada periode ini masih ditampilkan dalam bentuk kelompok masyarkat.

Seni rupa Yunani pada periode yang sama, kebanyakan adalah patung perorangan yang menunjukkan kekhasannya. Tiga dimensi, kurang lebih sebesar manusia biasa, diletakkan di dalam kuil atau di balai kota, patung-patung ini membuat seni rupa Yunani menunjukkan makna keberadaan perorangan yang mandiri. Orang Yunani percaya, makna [ orang ], berada di dalam pencapaian perorangan.

Di dalam epik dan mitologi Yunani penuh dengan pencapaian perorangan, dan perorangan-perorangan ini tidak perlu direnungkan dari sudut masyarakat atau komunitas, bahkan tidak perlu memikul beban moralitas kelompok, perorangan melakukan pencapaian yang tidak mungkin tergantikan oleh orang lain: Medea di tengah keputus-asaan terhadap cinta berlinang airmata mencelakakan anaknya demi membalas dendam; tubuh muda Icarus jatuh mati demi mengejar cita-citanya untuk terbang tinggi; sakit derita tubuh Prometheus yang tiada habis dicabik-cabik cakar tajam elang, dan sebagainya dan seterusnya. Sastra Yunani Kuno menurunkan berbagai cerita tentang [ orang ], mungkin itulah jiwa sesosok-sesosok patung Yunani yang didirikan.

Seni rupa Cina pada periode ini mungkin masih berusaha mencari bentuk bersama dari [ orang ].

[ Orang ] di sini bukan perorangan, [ orang ] hanya salah satu unsur rangkaian kecil di dalam susunan masyarakat yang sangat besar. Mereka bekerja, perang, bertani atau berpesta, samasekali tidak ada wajah [ perorangan ], tidak ada khas perorangan, hanya merupakan satu unsur dasar [ orang ]

Seandainya menggunakan epik Yunani [ Odissei ] atau [ Iliad ] melihat [ Kitab Puisi ] Cina, juga akan merasakan perbedaan antara perorangan dan pahlawan, dengan keseharian dan rakyat jelata. Di dalam [ Kitab Puisi ] sangat sedikit pahlawan, juga jarang ada tragedi yang menusuk hati dan menggetarkan tulang. [ Kitab Puisi ] lebih banyak adalah lelaki dan perempuan yang berada di pematang atau di tepi sungai, mereka tidak memiliki nama di dalam catatan sejarah, mereka adalah orang biasa dan bersikap pasrah, hidup turun-temurun di atas tanah pertanian, ada harapan terhadap cinta, ada kesedihan akan hilangnya cinta, ada perang, ada pengungsian, namun hampir tidak ada peristiwa yang begitu luar biasa hingga harus menggunakan epik memuji dan meratapnya.

Di dalam [ Kitab Puisi ] penuh dengan nuansa muda-mudi yang sederhana:

Bujang kelana bujang lapuk,

peluk kain dagang sutera,

bukan datang dagang sutera,

mengitariku dia berkupu-kupu.

( 氓之蚩蚩,抱布贸丝, 匪来贸丝,来即我谋 )

di dalam [ Kitab Puisi ] kita tidak akan menemukan balas dendam cara Medea, juga tidak ada Echo yang bersembunyi ke dalam gua menjadi gema yang gelisah dan menyiksa diri sendiri. Kesedihan yang ada di dalam [ Kitab Puisi ] adalah seperti perputaran musim, tetap begitu tenang dan terkendali seperti [ orang ] yang hidup di atas tanah pertanian, tidak akan ada tragedi yang menyesakkan:

Ai, murbei sudah gugur

yang kuning semua luruh

( 桑之落矣,其黄而陨。 )

Tanpa kemurkaan dan kepedihan yang membahana langit dan mencakar bumi, adalah sangat sulit berkembang menjadi epik yang agung dan pilu menggemuruh; kesedihan dan keriangan di dalam [ Kitab Puisi ] adalah sangat jelata, ada ketergantungan kepada alam di dalam musim yang silih berganti, ada kepuasan dan ketenangan dapat berdiri di atas bumi dari hari ke hari, tidak peduli hidup bisa bagaimana riang dan sedih, kemungkinan besar tidak akan ada pengembaraan dan pertualangan keluatan cara Yunani.

[ Kitab Puisi ] sepenuhnya terpusat pada ketenangan dan kedamaian ‘ orang ‘, seolah di atas bumi yang luas, karena jarak pandang yang terlalu jauh, sehingga tidak dapat melihat jelas apakah sedang gembira atau bersedih. seluruh kegembiraan dan kesedihan orang seperti alam, bagai pohon dedalu di musim semi, juga seperti hujan dan salju di musim dingin, sebab itu tidak akan ada yang luar biasa:

Ai, dulu waktu aku pergi,

ranting dedalu gemulai gemulai;

hari ini aku balik tertegun,

salju hujan bertabur bertabur

( 昔我往矣,杨柳依依。今我来思,雨雪霏霏。)

dan ini:

Hijau hijau kerah abang,

sunyi sunyi hatiku terkapar,

walau aku tidak pergi bersua,

tidak bolehkah abang bocorkan kabar?

( 青青子衿,悠悠我心。纵我不往,子宁不嗣音?)

Kedalaman rindu dan cinta [ orang ] tidak akan lebih dari ini, sudah pasti tidak akan berkembang menjadi darah pembunuhan mengenangi kota ala kuda troya. sudah pasti tidak akan ada jelita Helene yang membinasakan, dan juga pasti tidak akan ada Agamemnon yang membawa kepedihan sepanjang hayat.

Yunani Kuno dengan sistem politik negara-kota memunculkan sosok-sosok unggul, mungkin pahlawan dengan keperkasaannya atau perempuan dengan kecantikannya, mereka adalah [ dewa ] di antara manusia, mereka bijaksana, cerdas dan cakap, mereka menantang nasib, mereka mengharapkan pertualangan lautan; kesepian menjadi semacam kesombongan, mengembara juga menjadi semacam pembuangan diri yang angkuh.

Sedangkan landasan pertanian Cina adalah dibangun di atas rakyat jelata yang berjumlah besar dan tersebar luas, mereka memetik daun murbei, menangkap ikan, bersawah, membuka perigi; di dalam kehidupan mereka jarang ada gejolak-gejolak luar biasa yang aneh atau berbahaya. Mereka bukan sosok pahlawan atau sang jelita, mereka puas menerima posisinya sebagai [ orang ], dan dengan tegar dan nyata menjalani hidupnya. Pertanian sesungguhnya tidak perlu terlalu banyak merintangi bahaya. Pertanian perlu kesabaran, perlu semacam keyakinan dan ketergantungan terhadap tanah, perlu pemahaman dan rasa terhadap peralihan musim, dengan demikian hidup mati dan cinta dendam manusia juga akan seperti tanah dan musim, bersiap-siap menjadi kekal.

Sebuah keganjilan dalam seni rupa Cina purbakala terjadi di Sanxingdui, sebuah situs Zaman Perunggu di Sichuan. Pada 1986 dari situs ini digali keluar sebuah patung perunggu yang tingginya lebih dari dua meter, sangat menyedot perhatian. Patung-patung perunggu dari situs ini umumnya berpenampilan khidmat, memakai topeng emas, menampakkan wibawa manusia dewa atau dukun pemimpin upacara agama, atau pemimpin adat; misterius dan agung, menimbulkan rasa hormat.

Seni rupa Sanxingdui paling tidak ada tiga titik pokok yang tidak ditemui di atas alat-alat perunggu yang ditemukan di Delta Sungai Kuning pada periode yang sama ( Dinasti Shang hingga Dinasti Zhou Barat; 1600 SM – 771 SM ): Pertama, Alat perunggu Delta Sungai Kuning kebanyakan menggunakan bentuk hewan, jarang dengan rupa manusia. Kedua, sebagian kecil patung yang ditemukan di Delta Sungai Kuning umumnya berukuran kecil dan merupakan bekal kubur, ini mungkin menunjukkan dia sebagai pendamping kubur atau budak dalam tingkatan paling rendah, sedangkan yang ditemukan di Sanxingdui berukuran besar, kebanyakan adalah raja atau pemimpin adat yang berpenampilan khidmat. Ketiga, Topeng emas dan tongkat emas Sanxingdui jelas berbeda dengan tradisi penyembahan batu giok di Delta Sungai Kuning.

Disebabkan temuan di Sanxingdui, sumber dan keunikan Budaya Shu ( Berpusat di Dataran Sichuan ) kembali hangat dibahas. Pada jaman purbakala, setidaknya jika ditinjau dari seni rupa, Budaya Shu sangat mandiri, dan tampak berbeda dengan kebudayaan Han yang berkembang di dua sisi Sungai Kuning dan Sungai Huai pada periode yang sama. Dan topeng emas membuat pikiran orang langsung berasosiasi dengan Mesopotamia, Tutankhamun di Mesir, dan topeng emas Agamemnon di Mykenai, Yunani. Bagaimanapun, patung berukuran besar dan topeng emas yang ditemukan di Sanxingdui telah menunjukkan suatu perbedaan yang sangat mencolok dalam estetika tubuh dengan kebudayaan Delta Sungai Kuning, keunikan dan kemandirian [ orang ] seperti lebih mendapat perhatian di dalam Budaya Shu.

Selain seni rupa Budaya Shu di situs Sanxingdui yang berbeda dengan Delta Sungai Kuning, [ orang ] di dalam Budaya Chu ( boleh disebut sebagai budaya Cina Selatan ) juga lebih memiliki kemandirian dan kebebasan. Pada tahun 1973 digali keluar sebuah lukisan di atas kain sutera dari abad ke-5 SM yang diberi nama [ Lelaki Penunggang Naga ] dari kuburan kuno di Changsha, Hunan, lukisan seorang lelaki dengan jubah panjang berlengan lebar, memakai topi, dengan sebilah pedang terselip di pinggang, dia menunggang naga, gayanya luwes, samar-samar membuat teringat deskripsi Qu Yuan terhadap tubuh di dalam puisinya [ Nyanyian Chu ] pada jaman yang sama:

Buat daun teratai dan singhara

sebagai baju, oh

kumpul bunga lotus sebagai gaun

( 製芰荷以為衣兮,集芙蓉以為裳。)

Tinggi menjulang aku bertopi tinggi, oh

seuntai panjang giok berjuntai aku pergi

( 高余冠之岌岌兮,長余佩之陸離。)

Tidak peduli baik dari diksi yang mewah ataupun bentuk kalimat yang mendayu, [ Nyanyian Chu ] sangat berbeda dengan [ Kitab Puisi ]. Di dalam nyanyian-nyanyian Tanah Chu lebih banyak menyuarakan [ perorangan ] dan pribadi yang mandiri. Juga menampilkan sosok unggul yang berbeda dengan rakyat jelata umumnya.

[ Nyanyian Chu ] sarat dengan deskripsi rasa sayang [ orang ] terhadap tubuhnya. Topi tinggi di atas kepala menjulang bagai puncak gunung, untaian giok yang tergantung di tubuh bergoyang-goyang, petik dan kumpul teratai dan lotus buat pakaian. Cinta dan rasa sayang terhadap tubuh [ perorangan ] menunjukkan gaya Tanah Chu yang romantis.

Di suatu tempat yang hangat dan makmur di Tanah Selatan, di antara sungai-sungai yang tenang meliuk lewat, orang bisa demikian taruh harapan, boleh demikian memanjakan tubuh dan masa muda yang indah dan ceria, juga boleh demikian bersedih terhadap tubuh yang melorot, layu dan tua:

Ranting bercabang daun lebat bunga memerah,

semoga tunggu saat matang aku datang memetik;

walau daun layu bunga gugur juga tidak bersedih,

hanya pilu seluruh bunga rerumput hilang wangi.

( 冀枝葉之峻茂兮,願俟時乎吾將刈。

雖萎絕其亦何傷兮,哀眾芳之蕪穢。)

Budaya Chu di Selatan telah melepaskan kekangan budaya agraris, sudah ada petualangan, sudah ada pengembaraan, sudah ada semangat yang berkobar, juga ada pilu dalam keputus-asaan, seni rupa di dalam Budaya Chu menampakkan wajah yang berubah-ubah, panjang gemulai, anggun, di dalam harapan menunjukkan adanya kepercayaan diri akan eksistensinya.

3.

Penemuan patung-patung terakota dari Dinasti Qin ( 221 SM – 206 SM ) pada tahun 1970-an memberikan data-data yang sangat penting buat sejarah seni rupa Cina. Patung-patung yang digali dari makam Kaisar Qin Shihuang umumnya adalah prajurit, menampilkan sisi maskulin yang keras, menjadi perbedaan yang sangat mencolok dengan Budaya Chu yang halus gemulai.

Patung-patung terakota ini adalah bekal kubur, dan sebagai bekal kubur, penciptaan patung-patung ini bukan untuk dinikmati orang hidup, jadi tidak ada motivasi buat apresiasi. Penemuan patung terakota Qin adalah suatu kecelakaan. Di dalam pandangan kaisar jaman kuno, makam raja adalah sesuatu yang luar biasa rahasia, tidak mudah ditemukan, juga tidak ada maksud dipamerkan untuk umum seperti di masa sekarang. Patung-patung ini menampakkan mimik dan gerak tubuh yang cerdas dan cekatan, suatu kekaleman dan percaya diri yang diperoleh dari latihan yang ketat dan beraturan dalam jangka waktu yang panjang, sehingga penonton dapat melalui patung-patung ini membuktikan keunikan-keunikan tertentu di dalam budaya Qin.

Dalam keadaan normal, patung bekal kubur seharusnya tidak terlihat oleh orang hidup. Oleh sebab itu, pembuatan patung-patung terakota Qin yang begitu persisi dan realis bukan berasal dari motif kesenian dan apresiasi. Kepala, badan, dan empat tungkai patung-patung ini dibuat dengan cetakan, hanya dengan demikian patung-patung ini baru dapat diproduksi secara massal. Tetapi, patung-patung pada saat yang sama juga sangat menekankan keunikan satu per satu. Maka setelah dicetak, perlu lagi diberi sedikit pemolesan, memberi alis dan mata, kumis dan janggut, gaya rambut yang berbeda dengan halus dan terperinci.

Cara produksi dengan membaurkan [ massal ] dan [ terperinci ] ini mencerminkan budaya Qin yang dibawah politik Legalisme demikian haus [ kebenaran ]. Arus utama kebudayaan Cina, baik itu Konghucuisme ataupun Taoisme, selalu mendudukkan [ kebajikan ] jauh di atas [ kebenaran ]. Konghucuisme dengan sepenuh kekuatan mengejar hubungan antar manusia dan ketertiban yang harmonis berdasarkan etika, Taoisme justru di atas etika berusaha keras melepaskan perorangan dari ikatan masyarakat. Baik Konghucuisme maupun Taoisme, sama-sama berusaha berpikir dengan sebuah hati yang bermoral. Sedangkan [ hukum ] yang menjadi pijakan Legalisme bagaimanapun tetap diletakan di bawah moralitas di dalam arus utama kebudayaan ini.

Dinasti Qin adalah suatu jaman di mana negera dibangun di atas landasan hukum yang sangat sedikit ditemui di dalam sejarah Cina. Pelatihan hukum yang ketat membuat budaya Qin memiliki semangat menaati aturan yang objektif. Realisme di dalam patung-patung terakota Qin pada dasarnya adalah semacam aturan objektif dalam [ mencari kebenaran ]. Patung-patung ini begitu terperinci, tinggi dan lekuk tubuh patung dibentuk sesuai dengan orang nyata, juga parasnya, letak tulang alis, bentuk mata, tonjolan tulang pelipis, bentuk bibir dan potongan rambut, semuanya begitu terperinci. Ini jelas berbeda dengan seni rupa Cina pada umumnya yang lebih menekankan penangkapan image.

Semangat Dinasti Qin dalam mengatur negara dengan hukum benar-benar tercermin di atas patung-patung terakota, dan sebab itu patung-patung ini memancarkan gaya yang maskulin, wibawa, serius dan tegas yang jarang ditemui di dalam seni rupa Cina. Garis lekuk tubuh patung penuh dengan garis lurus dan tegang, terutama di sudut-sudut potongan rambut, hampir semuanya membentuk sudut 90 derajat, tajam dan samasekali tidak menyisakan tempat buat melengkung, sehingga patung-patung yang khidmat ini seolah menyimpan semacam kekuatan membunuh. Sangat mengerikan.

Patung-patung ini kurang bermakna apabila dipandang satu per satu, sulit merasakan kekuatannya. Kita baru merasakan kekuatan yang mendesak dan mendominasi ketika sudah berada di makam Qin Shihuang, melihat ribuan prajurit terakota terbentang dalam barisan-barisan yang panjang dan rapat, ini seharusnya dipandang sebagai satu karya utuh.

Tidak seperti patung Yunani yang selalu menonjolkan keindahan tubuh yang khas, yang tersendiri, misalnya, keindahan terhormat ketika seorang atlet menerima mahkota laurel, keindahan Appolo sebagai dewa cahaya yang tiada duanya, keindahan Afrodit ketika terlahir di dalam air yang tak tergantikan…Indah adalah sesuatu yang jarang, yang minoritas. Sedangkan kekuatan patung terakota Qin adalah bersifat kelompok, adalah tekad yang mengkristal di dalam kehidupan bersama, perorangan tidak bisa terlepas dari kelompok.

Lokasi deretan prajurit-prajurit terakota Qin tentu juga adalah lokasi kebudayaan Qin, setiap keunikan patung menghilang. Di tempat ini, hanya terasa kekuatan Dinasti Qin yang pamer kuasa pamer wibawa, samasekali tidak ada perorangan.

Apakah mungkin suatu hari dari tempat ini akan digali keluar patung Qin Shihuang? Dia adalah tuan yang mengerahkan berpuluh ribu prajurit terakota, dia adalah pemilik sebuah Dinasti yang menggemparkan, tapi tubuhnya, di mana tubuhnya?

Berbeda dengan makam-makam kuno di Mesir, di sana firaun selamanya akan menjadi pemeran utama di dalam seni rupa, selalu hadir dengan patung yang besar dan bernilai. Tetapi di Cina, sampai hari ini patung yang diekskavasi dari makam-makam kuno kebanyakan adalah bekal kubur: Prajurit, kerani, budak. Di dalam barisan budak yang berjejal bagaimanapun tidak bisa menemukan tubuh tuannya.

Berdiri di lokasi barisan patung terakota Qin, menunggu tuannya yang tidak bisa ditemukan, [ tubuh ] akhirnya hanya tenggelam di dalam debu waktu. Atau mungkin [ waktu ] yang sesungguhnya adalah tuan di sini, dia mengauskan semua tubuh! Prajurit-prajurit terakota yang awalnya berwarna-warni dan berkilau kini sudah retak dan pudar, menampakkan dasar tanah kuningnya. Mereka putus tangan patah kaki, atau kehilangan kepala, namun masih tetap tegar berdiri. Patung-patung terakota Qin telah menunjuk arah pemikiran kepada sejarah seni rupa Cina, antara perorangan dan kelompok, antara budak dan tuan, antara kehormatan negara dan kebebasan pribadi…

Dan indah, di dalam debu waktu berubah menjadi gema kosong. Ketika sebuah dinasti dalam semalam lenyap, kemewahan sebuah makam kaisar tertimbun, menunggu beberapa ribu tahun kemudian baru pelan-pelan siuman satu kali. Setelah bangun, seolah semua tubuh yang pernah hidup ada begitu banyak kata-kata yang ingin diungkapkan, namun seperti sudah lupa cara mengeluarkan suara, mereka terus membisu, membiarkan orang tunjuk sana tunjuk sini.

Hukum, objektivitas, realisme jaman Qin, di dalam sejarah seni rupa Cina bagai mata sekejap

Tunggu hingga berdirinya Dinasti Han ( 206 SM – 220 Masehi ) yang sengaja menggunakan Budaya Chu dari daerah selatan sebagai landasan, untuk mengimbangi kekerasan Qin, memoles sudut-sudut tajam, mengubah garis-garis lurus dan kaku menjadi garis-garis lembut melengkung, menciptakan semangat Dinasti Han yang moderat.

Patung-patung terakota dari makam Han Jingdi ( Kaisar Jing Dinasti Han ) yang baru diekskavasi pada akhir tahun 1980-an dengan jelas menunjukkan metamorfosis dalam seni rupa Cina setelah terpaut sekitar setengah abad dengan patung terakota Qin. Patung-patung yang sering disebut patung terakota Yangling ini membulatkan sudut-sudut tajam potongan rambut, raut wajahnya juga tidak lagi tegang seperti patung terakota Qin. Di wajah yang tembam dan lembut itu muncul sebuah senyum yang kalem dan bahagia.

Senyuman di wajah patung terakota Yangling mengisyaratkan semacam pelepasan. Catatan sejarah tentang Han Jingdi yang tidak perlu menggunakan hukuman selama empat puluh tahun dia bertahta, seperti bisa dicerminkan dari sesosok-sesosok patung dengan wajah tersenyum. Setelah memasuki Dinasti Han, patung-patung terakota yang sebagai bekal kubur seolah memiliki kesempatan untuk menjadi tubuhnya sendiri. Atau mungkin kita sudah terlalu optimis, di dalam seni rupa Cina, patung terakota, bagaimanapun hanya budak bekal kubur, tubuh yang mandiri apakah benar-benar memiliki kesempatan tersadarkan?

Boikot Bayar Pajak: Cara Cerdas NU Mendorong Reformasi Birokrasi?

Gerundelan Ragil Koentjorodjati

peduli sesama
Gambar diunduh dari AJAR

Istilah ‘Boikot Bayar Pajak’ tiba-tiba tampak seksi untuk dikomentari usai dilontarkan Ketua Umum PBNU. Sebagaimana dikabarkan di media, NU mempertimbangkan mengkaji kembali kewajiban membayar pajak sebagai salah satu alternatif ‘solusi’ yang ditawarkan Nahdlatul Ulama dalam menyikapi birokrasi yang belum menunjukkan tanda-tanda adanya kemajuan dalam reformasinya. Patut diduga isu ini menjadi seksi karena ada nama NU yang mengusungnya. Anda tahu, NU adalah salah satu organisasi massa terbesar di Indonesia. Tawaran solusi sederhana dari NU atau mungkin semacam gurauan ala Gusdurian pun bisa tiba-tiba menjelma serupa ancaman bagi pihak-pihak tertentu. Rakyat dengan mudah dapat menangkap sikap-sikap resisten pihak-pihak tertentu terhadap perubahan. Tentu masyarakat berhak bertanya: mengapa?

Sebetulnya isu boikot pajak di Indonesia bukan hal yang baru. Pada tahun 2010, Faisal Basri pernah mengeluarkan ajakan pembangkangan sipil yang salah satunya mengajak boikot pajak sebagai pilihan terakhir. Sebagai pilihan terakhir, tentu ada pilihan-pilihan yang dapat dilakukan lebih dulu. Hal tersebut senada dengan rekomendasi hasil Munas NU kali ini. Kyai Masdar Farid Mas’udi dalam opininya di Kompas juga kembali menegaskan: opsi boikot pajak secara massal dan menyeluruh tak pernah menjadi opsi yang secara sadar akan diambil oleh siapa pun, termasuk oleh kiai-kiai yang sehari-hari hidup bersama dan di tengah-tengah rakyat jelata yang sangat rentan dengan guncangan. Sebelumnya, Alissa Wahid, anggota Komisi Rekomendasi Munas, menyatakan bahwa NU tidak mengajak rakyat untuk memboikot pajak. Masyarakat semestinya bertanya: mengapa terjadi pergeseran makna “tawaran solusi” menjadi “tindakan mengajak”.

Rekomendasi NU Membongkar Mitos-Mitos Pajak

Mitos-mitos pajak barangkali dimulai dari Pasal 23A UUD 45 yang menyatakan: pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang, sebagai dasar pengumpulan pajak. Jelas bahwa pasal ini tidak hanya mengatur pajak, tetapi juga mengatur pungutan lain. Artinya ada penerimaan negara di luar pajak. Sudah jamak diketahui bahwa pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Itu merupakan fakta di APBN Indonesia. Tahun 2012 ini, penerimaan pajak ditarget mencapai 1000 trilyun. Tentu itu bukan beban yang ringan yang harus dipikul aparat pajak sebagai pengelola, juga beban berat yang harus dipanggul seluruh rakyat. Dan beban itu dari tahun ke tahun akan menjadi semakin berat sebab target penerimaan pajak akan terus ditingkatkan namun di sisi lain penerimaan negara bukan pajak tidak bertumbuh secara signifikan. Ada bagian keuntungan negara di setiap BUMN. Ada penerimaan dari biaya administrasi di setiap lini instansi. Ada bagian negara di setiap hasil-hasil kekayaan alam. Adalah mitos ketika ada pendapat bahwa negara tidak dapat berjalan tanpa pajak. Sebab fakta menunjukkan banyak sumber penerimaan yang belum dikelola secara optimal. Bolehlah masyarakat beranggapan menarik pajak adalah cara termudah menghimpun penerimaan negara. Pemerintah tampak tidak mau repot mereformasi birokrasi pengelolaan sumber penerimaan negara bukan pajak dan dari kekayaan alam. Wajar jika NU kemudian melempar isu mengkaji kembali kewajiban membayar pajak sebab reformasi birokrasi di berbagai lini di rasa macet. Bukan soal pajaknya, tapi anggaplah solusi alternatif pajak adalah zakat. Sepanjang reformasi birokrasi tidak berjalan, maka istilah korupsi pajak akan berganti menjadi korupsi penerimaan negara bukan pajak atau bisa jadi korupsi zakat.

Mitos lain menyatakan bahwa masih sedikit jumlah pembayar pajak di Indonesia. Mitos ini dilandasi jumlah pemilik Nomor Pokok Wajib Pajak yang melaporkan Surat Pemberitahuan Pajak sebagaimana disampaikan pihak Direktorat Jenderal Pajak pada acara talk show di TVRI dan MetroTV. Hal ini menjadi kurang relevan ketika dihadapkan fakta yang menunjukkan bahwa bayi yang baru lahir sudah terbebani pajak, meskipun yang membayar orang tuanya. Beban pajak ini timbul ketika terjadi konsumsi atas barang seperti pakaian, peralatan bayi dan sebagainya. Pajak ini dikenal dengan istilah Pajak Pertambahan Nilai. Selain melalui Pajak Pertambahan Nilai, kontribusi warga negara pada penerimaan negara juga melalui Pajak Bumi dan Bangunan. Siapa saja yang menempati tanah atau bangunan, baik langsung maupun tidak langsung, ikut berkontribusi membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Nyaris semua warga negara (kecuali mereka yang berada di luar sistem) membayar pajak. Fakta menunjukkan justeru rakyat jelata menjadi penanggung pajak yang utama.

Ada berita menarik terkait dengan para pembayar pajak yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. Tahun 2010 Wakil Ketua Komisi XI DPR RI mengungkapkan setidaknya Rp 1.200 trilyun nilai transfer pricing yang keluar dari Indonesia dengan potensi kehilangan pajak mencapai Rp 120 trilyun (Kompas.com). Bukti lain menunjukkan pada tahun 2007, dari 4.850 perusahaan penanaman modal asing (PMA) hanya 30% yang membayar pajak penghasilan. PMA yang tidak mau membayar pajak, sebagian besar melakukan rekayasa laporan keuangan untuk menutupi praktik transfer pricing atau manipulasi harga. Dari 999 perusahaan yang diaudit oleh Ditjen Pajak, 252 diantaranya tidak melampirkan laporan keuangan auditan (Fiscal News.com).

Secara kalkulasi ekonomis, maka potensi pajak yang hilang merupakan beban yang harus ditanggung seluruh warga, khususnya para pekerja dan konsumen barang atau jasa yang dipasarkan di Indonesia. Para pekerja menanggung pajak penghasilan dan konsumen menanggung pajak pertambahan nilai. Rekomendasi NU menjadi cukup mewakili dari sudut pandang kelas bawah ketika eksploitasi sumber daya alam dan manusia sudah sangat memprihatinkan. Reformasi birokrasi menjadi mutlak harus dilakukan dengan pemihakan kepada rakyat jelata sesuai mandat Pasal 33 dan 34 UUD 45.

Pajak untuk Keadilan

Pencurian uang pajak secara sederhana dapat diuraikan seperti ini. Ambil contoh target penerimaan pajak 2012 sebesar Rp 1000 trilyun. Jika uang sudah terkumpul sebesar Rp 1000 trilyun lalu kemudian berkurang menjadi Rp 900 trilyun, jelas bahwa ada yang mengambil sebesar Rp 100 trilyun. Dengan kata lain, karena sumber pemasukan APBN dan APBD didominasi penerimaan pajak, maka setiap kebocoran penggunaannya dapat dikategorikan sebagai pencurian uang pajak. Boros anggaran, korupsi di berbagai lini dan tingkat instansi, adalah tindakan-tindakan yang menciderai rasa keadilan masyarakat. Mungkin benar bahwa banyak sekolah dibangun, rumah sakit dibangun, jalan dan jembatan dibangun, namun harus dipahami bahwa masyarakat masih tetap harus membayar mahal untuk pelayanan yang diterima, masih banyak jalan tidak terurus, retribusi jalan tol semakin mahal, barang-barang publik bergeser menjadi barang privat. Fenomena ini menciderai rasa keadilan sebab biaya yang digunakan didapat dari pajak. Maka rekomendasi NU ini juga harus dibaca sebagai paksaan untuk melakukan reformasi pada instansi pemerintah baik pusat maupun daerah.

Jika yang dimaksud adalah penggelapan potensi pajak dengan cara kongkalikong wajib pajak-konsultan-petugas pajak, maka fenomena Gayus dan kawan-kawan, harus diakui sebagai bukti nyata kegagalan reformasi birokrasi. Penggelapan potensi pajak dapat dilakukan siapa saja dengan saling bekerja sama satu sama lain. Logika ini juga dapat disubstitusi misalnya penggelapan potensi penerimaan negara bukan pajak, penggelapan potensi penerimaan asli daerah, penggelapan laba BUMN dan penjualan aset-aset negara serta kekayaan alam. Namun adalah tidak benar logika ‘jika semua orang mencuri kemudian Anda pun berhak mencuri’. Sebab semua tindakan ini menciderai rasa keadilan masyarakat. Komitmen perbaikan yang dilakukan Ditjen Pajak patut diapresiasi merujuk hanya instansi ini yang berani bekerja sama dengan KPK secara langsung, melawan praktik-praktik tidak sehat.

Anda tahu ada sebuah ungkapan ‘pajak untuk pembangunan’. Ungkapan ini telah menjelma menjadi sebuah rerangka berpikir bahwa pajak melulu masalah mengumpulkan uang. Rekomendasi NU dapat dipandang sebagai konsekwensi ketika beban pajak justeru banyak ditanggung lapis bawah masyarakat. Rekomendasi NU pada intinya menuntut pemerintah, baik pusat maupun daerah konsisten melaksanakan reformasi berpihak pada kepentingan warga bangsa. Salah satu acuan yang dapat ditawarkan adalah menanamkan konsep berpikir pajak untuk keadilan.

Pajak untuk keadilan dapat dimaknai sebagai usaha menempatkan pajak untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagai alat mencapai keadilan, maka segala daya upaya baik peraturan, proses pengumpulan dan juga fungsi-fungsi yang dijalankan, semestinya menempatkan aspek keadilan sebagai tujuan utama, memenuhi rasa keadilan masyarakat. Rasa keadilan dapat dicapai jika masyarakat merasakan manfaat pajak. Jika ini terjadi, maka ide pembangkangan sipil atau boikot pajak tidak akan muncul meski kini Anda tahu warga bangsa tetap dapat berjalan tanpa pajak.

Referensi:

Fiscal News.com, Banyak PMA Lakukan Rekayasa Keuangan untuk Hindari Pajak, 3 Maret 2007.
Kontan, BI Endus Transfer Pricing Bunga Bank, 30 Juni 2009.
Kompas.com, Transaksi “Transfer Pricing Rp 1.200 T, 20 April 2010.
Kompas.com, Perihal Boikot pajak, 28 September 2012.
Fimadani.com, Rekomendasi Munas NU tentang Pajak, 17 September 2012.
Kompasiana.com, Saatnya Pembangkangan Sipil, 6 September 2010.

Arak, Alkitab Terjemahan, Taoisme, Socrates, dan Lain-lain

Gerundelan John Kuan

 Buddhisme pantang arak, Taoisme tidak.     Taoisme bukan saja tidak pantang arak, bahkan seperti ada semacam ungkapan: Arak merawat hidup. Perkara ini terlalu rumit, sulit dibela.
     Namun di dalam Kitab Puisi ( Shijing ) ada sebuah puisi [ Bulan Tujuh ] dengan bait-bait begini:

bulan sepuluh panen padi
demikian kita buat arak musim semi
agar umur panjang alis melambai

Menurut Zheng Xuan ( 127 – 200 ), penafsir kitab kuno dari Dinasti Han yang sangat berpengaruh ini, menggunakan padi menyuling arak adalah tindakan benar, [ sebagai alat untuk membantu merawat usia ], Zhu Xi ( 1130 – 1200 ), filsuf terkenal dan juga penafsir kitab kuno dari Dinasti Song memberikan anotasi yang kurang lebih serupa. Pokoknya ada mengabarkan berita-berita merawat hidup, terutama diperlukan ketika merawat orang berumur. Tao Yuanming ( 365 – 427 ), sering juga dipanggil Tao Qian, penyair kita yang doyan arak ini memberi peringatan dalam puisinya, minum arak belum tentu bisa merawat hidup: bukan alat panjang umur! Katanya. Tetapi ada teks lain menulis: bukanlah alat pendek umur! Teks-teks simpang siur ini membuat maksudnya tidak jelas, tapi kalau menunjukkan tidak baik buat tubuh pasti tidak salah. Perkara ini makin rumit, sulit ada kesimpulan adil.
     Saya pernah membaca sebuah syair yang bercerita tentang perbedaan pandangan Buddhisme dan Taoisme terhadap arak, dan sebagainya dan seterusnya, ditutup dengan dua baris ini:

Minum arak belajar dewa,
pantang arak belajar Buddha.

Sikap ini memang sedap dan nyaman, namun baik dewa ataupun Buddha, itu hanya alasan saja, jadi boleh dikatakan sudah sejajar dengan permintaan Guru: sesuka hati tanpa harus melampaui norma. Silakan buka Lunyu: Bab II pasal 4

*
     Ada juga biksu yang ingin mencicipi arak dan daging, tentu sangat tidak patut, maka arak disebut [ sup prajna ], ikan disebut [ bunga rajutan air ], dan ayam disebut [ sayur penyusup pagar ]
     Su Shi ( 1037 – 1101 ), penyair Dinasti Song yang jujur, romantis, tapi sengsara ini terpaksa kritik:
” Membohongi diri sendiri, hanya menjadi bahan tawa dunia. ”
     Kemudian menambahkan: ” Ada juga orang demi kebohongan memainkan pena dengan nama-nama indah, apa bedanya dengan ini? ”
     Saya juga pernah diajak mencicipi berbagai macam daging olahan gluten di restoran vegetarian, tapi sering saya tolak, tidak sedap sambil makan terkenang-kenang Su Shi. Urusan ini sampai di sini saja, terlalu sensitif, tidak baik dilanjutkan.

*
     Ketika Torres berumur dua tahun, anak Spanyol ini dipastikan sebagai reinkarnasi Lama Thubten Yeshe, kemudian dikukuhkan sebagai pemimpin biara, itu adalah kejadian tahun 1987, dan ini sudah pernah saya tulis.
     Anak lelaki ini lahir di Granada, Andalusia, dunia tua agama Katolik. Namun, dia ternyata adalah reinkarnasi Lama Yeshe, kemudian menetap di Nepal, terkesima dan antusias ini juga pernah saya ceritakan.
     Beberapa tahun kemudian, saya pernah membaca berita Lama cilik kita ini menerima undangan Taipei. Kalau tidak salah waktu itu dia baru enam tahun. Para tukang gossip berbodong-bondong pergi bertamu, tentu membawa hadiah. Menurut desas-desus hadiah yang paling disukai Lama cilik kita yang berumur enam tahun ini, masih juga segala macam mainan, samasekali tidak berbeda dengan anak-anak lelaki umur enam tahun umumnya.
     Ini adalah satu hal yang hangat dan menyentuh hati, di dalam dunia nyata kita.
     Dia pernah menunjuk dan memastikan satu per satu benda-benda kudus dari hidup lalunya yang belum selesai, mahkota, tongkat, japa malas, jubah, dan sebagainya. Mungkin itu cara ajaibnya menunjukkan dirinya adalah Lama reinkarnasi, bisa dipahami. Sekarang dia menyukai mainan-mainan plastik, warna-warni pesawat terbang, mobil, dinosaurus, dan makhluk-makhluk aneh lain, terutama Ninja Turtle ( Waktu itu Transformers belum kesohor, Ben-Ten dan kawan-kawan Jepang yang lain juga belum ) yang disukai setiap anak lelaki. Ini juga sepenuhnya bisa dipahami. Selain sebagai reinkarnasi Lama, Torres tetap adalah seorang anak lelaki sehat berumur enam tahun dari Granada.

*
     Di dalam Perjanjian Baru tidak banyak menemui kisah tentang masa kanak-kanak Yesus. [ Injil Matius ] setelah menceritakan tanda-tanda kudus kelahirannya, selanjutnya adalah Yohanes Pembaptis tampil, berkotbah di padang gurun Yudea, katanya: ” Kerajaan Allah sudah dekat, bertobalah kalian. ” Kemudian adalah Yesus dibaptis di Sungai Yordan. [ Injil Matius ] dimulai dengan Yesus dibaptis, jadi sudah dewasa: Begitu keluar dari air, seketika melihat langit retak terbuka, Roh Kudus bagai merpati, turun di atas tubuhnya, lalu ada suara datang dari Langit berkata, kaulah anakKu yang Kukasihi, Aku berkenan padamu. Selanjutnya adalah percobaan empat puluh hari itu.
     Narasi [ Injil Yohanes ] kian padat dan ringkas. Dan salah satu bagian yang menceritakan percakapan Yesus dengan ibunya, adalah untuk mengubah air di dalam tempayan batu menjadi anggur, dan ini adalah mujizat pertama yang ditunjukkan Yesus. Saat itu Yesus telah memiliki pengikut, jadi juga sudah dewasa. Awalnya ibu Yesus berkata kepadanya: ” Mereka kehabisan anggur. ” Ternyata Yesus menjawabnya: ” Ibu, aku apa pula sangkut-pautnya dengan kamu? Waktuku masih belum tiba. ”
     Yesus ketika berumur dua belas tahun sudah mengucapkan kata-kata luar biasa, kisah ini dapat ditemui di dalam [ Injil Lukas ]. Paskah tahun itu, orang tuanya seperti biasa berangkat ke Yerusalem merayakan. Sehabis hari raya, di dalam perjalanan pulang ke Nazaret, mereka sangka Yesus ada di dalam rombongan mereka. Setelah berjalan satu hari, baru menyadari dia tidak ada, buru-buru kembali ke Yerusalem mencarinya. Lewat tiga hari, akhirnya menemukan dia duduk di dalam bait Tuhan bertanya jawab dengan guru-guru. Ibunya berkata: ” Anakku, mengapa engkau berbuat demikian kepada kami? Lihat, ayahmu dan aku begini cemas datang mencarimu! ”
     Yesus yang dua belas tahun berkata: ” Mengapa engkau mencari aku? Tidakkah engkau tahu aku harus selalu dalam urusan Bapa-ku? ”

*
    Maksud Yesus mengenai [ selalu dalam urusan Bapa-ku ], adalah [ bertanggung jawab terhadap Tuhan ]
    Begini sadar diri dan serius, luar biasa, beberapa kata ini dengan [ aku apa pula sangkut-pautnya dengan kamu ] di kemudian hari saling menyahut, membuat orang tercengang dan salah tingkah, tentu ketakutan, dan murung. Ketika Yesus masih di dalam gendongan, ibunya membawa dia keluar, bertemu Simeon; orang yang benar dan saleh itu. Simeon sudah tahu dia adalah Kristus, mengucapkan banyak kata-kata pujian, terakhir berkata kepada ibunya: ” Hatimu juga akan ditusuk tembus sebilah pisau. ”
     Namun, [ Injil Lukas ] dengan jelas menulis, Yesus sejak pulang dari Yerusalem, patuh kepada orang tuanya. Namun, hati yang ditusuk tembus sebilah pisau, adalah sakit tak terperikan seorang ibu yang harus mengalami anaknya menderita, menembus dosa, berdarah, mengorbankan diri.

*
     [ Ibu, aku apa pula sangkut-pautnya dengan kamu? Waktuku masih belum tiba ], Bagian ini saya terjemahkan langsung dari Alkitab Bahasa Mandarin terbitan awal abad ke-20, kemungkinan adalah terjemahan dari Versi King James, ternyata agak berbeda dengan New American Standard. Versi Bahasa Inggeris terbaru ini seandainya saya yang menerjemahkan, akan begini: ” Kamu jangan beritahu apa yang mesti aku lakukan. Waktuku masih belum tiba. ] Artinya, Yesus masih dalam masa persiapan, sesaat itu masih belum ingin menunjukkan dia mampu menciptakan mukjizat. Namun, beberapa waktu kemudian dia terpaksa juga menunjukkan, maka air pun menjadi anggur, itulah mukjizat pertama yang dia tunjukkan.

     Yesus patuh pada orang tuanya.

     Versi Bahasa Inggeris menggunakan kata sifat obedient, buat menegaskan ketika menghilang dalam perjalanan dari Yerusalem menuju Nazaret, serta kata-kata yang dilontarkan kepada ibunya di bait Tuhan memang sedikit tidak patut, setelah pulang bersama, sekarang dia sudah baik, sudah patuh pada orang tuanya.

*
     Perjanjian Baru dalam terjemahan Bahasa Mandarin menggunakan kata ini: 顺从 ( baca: shùn cóng; artinya patuh ), tidak menggunakan kata: 孝顺 ( baca: xiào shùn; mungkin saya boleh artikan: berbakti ), saya rasa para penerjemah pasti tidak begitu suka dengan kata 孝 ( berbakti ) ini, konsep ini, tradisi besar ini. Dan memang, ‘ berbakti ‘ adalah ide dasar dan implementasi dalam ajaran Ru ( Konghucuisme ), sangkut-pautnya sangat luas dan dalam, setiap sudut bersenggolan dengan agama Kristen ( misalnya penyembahan leluhur ), seandainya bisa menghindari kata ini, lebih baik dihindari saja. Para penerjemah Perjanjian Baru pasti sangat jelas dan bijak.

*
     Para penerjemah awal itu bukan saja bijak, tetapi juga sangat menguasai pengetahuan Cina Klasik, kadang-kadang bahkan sangat berkesan dan dalam.
     [ Injil Yohanes ] dalam Versi King James begitu mulai sudah berkata, pada mulanya adalah Logos; Logos ini bersama-sama dengan Tuhan, dan Logos itulah Tuhan. Pada mulanya Tuhan dan Logos adalah bersama-sama. Kemudian melanjutkan, Tuhan melalui Logos menciptakan segala benda.
     Logos di dalam puisi maupun prosa Yunani Kuno, seperti karangan Homer, Thucydides, Pindar, Plato dan sebagainya, artinya tidak keluar dari [ kata ], [ bahasa ], [ ungkapan ], [ gagasan ], [ janji ], [ percakapan ], [ kisah ], [ sejarah ], lalu berkembang menjadi [ pikiran ], [ sebab-musabab ], dan [ penalaran ] sejenis pandangan-pandangan yang sangat abstrak.
     [ Injil Yohanes ] berkata Logos pada mulanya sudah ada. Tetapi dalam terjemahan Bahasa Inggeris Versi King James tidak tahu bagaimana memanggilnya, sebab dia bukan cuma [ kata ], juga bukan cuma [ gagasan ], sebaliknya dia seperti mengandung makna yang pertama dan memiliki berbagai penjabaran yang kedua. Oleh sebab itu Versi King James kewalahan, lebih baik tidak usah diterjemahkan saja, langsung disebut Logos. Di dalam versi New American Standard yang lebih mengarah ke bahasa sehari-hari, lalu mengubah kata Yunani itu menjadi Word, dengan begitu hanya dapat menangkap makna [ kata ], sekalipun dengan huruf kapital, dan membawa sedikit aroma misterius.
     Berbagai macam semangat melakukan percobaan ini perlu didukung, namun hasilnya seperti kurang memadai. Terus terang, kalau dibandingkan dengan versi terjemahan Bahasa Mandarin, masih kalah. Coba lihat pembukaan [ Injil Yohanes ]: Pada mulanya adalah Tao; Tao ada bersama-sama Tuhan, Tao itulah Tuhan. Tao ini pada mulanya bersama-sama Tuhan, segala benda melalui dia diciptakan…

*
     Entah dapat ilham dari mana, begitu saja sudah bisa memancing masuk kata [ Tao ], sempurna, semua kegalauan dalam terjemahan Bahasa Inggeris langsung terurai. Bukan demikian saja, bahkan bisa menghubungkan ajaran agama Kristen dengan intisari budaya Cina pra-Qin, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, ujung pangkal semuanya Tao, dan bukan hanya umat-umat biasa yang memuji, saya duga cendekia-cendekia tradisional juga ikut terpukau, siapa tahu.

*
     Lao Zi: ” Ada sesuatu berbaur jadi, sebelum Langit dan Bumi lahir…… Aku tidak tahu namanya, kusebut saja Tao. ” Kemudian: ” Tao melahirkan satu, satu melahirkan dua, dua melahirkan tiga, tiga melahirkan segala benda.
     Ini dengan [ Tao itulah Tuhan. Tao ini pada mulanya bersama-sama Tuhan, segala benda melalui dia diciptakan ] walau ada perbedaan tingkatan, namun sepintas akan membuat orang sangka membicarakan hal yang sama. [ Injil Yohanes ] memang berbeda dengan penulis Injil yang lain, gigih menyatakan Yesus adalah Logos Tuhan, menjelaskan Yesus adalah anak Tuhan, sebagai juru selamat, Tuhan melalui dia memberi orang hidup kekal, dan sebagainya dan sebagainya. Konsep ini ( bagi orang-orang terpelajar dalam tradisi Konghucuisme ) adalah tidak masuk akal, sebab di dalam ajaran Ru tidak ada jurusan ini. Namun, Dao De Jing pasal 4 ternyata juga blak-blakan: [ Tao adalah hampa, dan bila digunakan, hindari penuh. Begitu dalam! Bagai muasal segala benda./ Tumpulkan ketajaman, uraikan kekusutan, seimbangkan terang, berbaur ke dalam debu./ Begitu bening! Tao seakan terus ada, aku tidak tahu dia anak siapa, seakan tampil sebelum raja Langit. ]
     Seperti pernah mengenalnya?
     Bisa jadi banyak orang-orang terpelajar tradisional menyangka ini adalah itu, sama-sama ——— Guru berkata: Pagi mendengar Tao, malam sudah boleh mati! Silakan buka Lun Yu Bab IV pasal 8.

*
     Menerjemahkan Logos yang berasal dari Yunani menjadi Tao, kemudian ditambah dengan berbagai penjelasan, tentu sangat bijak dan cerdas, juga tampak maksud di baliknya.
     Namun, mesti juga tahu [ Tao yang bisa diucap, sudah bukan lagi Tao]

*
    Saya masih terus melacak perihal anak Spanyol yang Lama reinkarnasi itu, sudah bertahun-tahun tapi belum luntur, salah satu sebab adalah saya suka semacam transcendental mysticism yang dibawanya.
    Menurut sebuah berita yang saya baca ketika dia berkunjung ke Taiwan, adalah untuk mengumpulkan sumbangan buat mendirikan patung besar Buddha Maitreya di India.
    Patung besar Buddha Maitreya? Tidak tahu seberapa besar. Saya juga sering bertemu dengan patung-patung Buddha yang sangat besar. Selalu merasa patung tidak usah terlalu besar; besar belum tentu indah. Saya pernah melihat sebuah patung kecil Buddha Maitreya di luar Kuil Lingyin ( 灵隐寺 ) di Hangzhou, indah sekali.
    Karya seni di luar seni patung religi juga demikian, besar belum tentu indah.
    Walau patung perunggu di sudut-sudut kota Paris tak terhitung, tetapi patung Jeanne d’Arc yang tidak seberapa besar tetap sangat mengesankan sekalipun berada di antara gedung-gedung megah. Dia dengan baju perang di atas kuda, memancarkan semacam kharisma, ini adalah keindahan ekstrim yang lain.

*
    Venus de Milo.
    Saya rasa yang belajar seni lukis pasti pernah melukisnya. Rupa Venus tidak seragam, yang ini ditemukan pada tahun 1820 di Milos, sekarang disimpan di Museum Louvre. Patung ini tidak terlalu besar, sempurna di dalam keindahan yang cacat, dewi cinta ini mungkin jauh lebih kecil daripada yang dibayangkan.
    Di Museum Louvre juga ada patung Socrates setengah badan, dan Apollo, dan Athena, kalau tidak salah. Apollo, dewa matahari ini tidak berbeda dengan umumnya patung Yunani, telanjang bulat; Athena lilit sehelai kain panjang yang tipis, kerutannya sangat alamiah, kaki memakai sandal. Athena disebut sebagai dewi pelindung kota Athena, tetapi lebih sering sebagai dewi pelindung semua kota di Yunani.

*
    Athena.
    Athena di dalam mitologi Yunani sangat tidak lazim.
    Dewa utama Olimpus, Zeus selalu takut isterinya Metis akan melahirkan seorang anak yang lebih kuat dari dia, suatu hari setelah bersetubuh, dia menelan isterinya utuh-utuh ke dalam perut, walaupun katanya telah dijelma jadi serangga. Tidak tahu lewat berapa lama, Zeus sakit kepala, memerintah Hephaestus ( ada yang bilang Prometheus ) dengan kapak membelahnya, dari batok kepala yang terbuka, keluar seorang bayi perempuan, yaitu Athena
     Athena selain sebagai dewi pelindung kota, juga sebagai dewi seni dan kerajinan ( terutama tenun dan anyaman ), dan dewi pencipta suling. Dia bermata biru, dingin jelita, selalu dalam pakaian perang, pegang tombak dan perisai. Ini adalah rupa yang sering ditemui. Beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat Athena yang tampak samping di dalam sebuah buku, dari tembaga tua, penuh ditutupi bercak, namun sangat indah, membuat orang tidak berani terus menatap.

*
     Apollo tentu adalah dewa matahari, juga merangkap pengobatan, musik, seni panah. Kadang-kadang dia juga sebagai dewa pelindung ternak dan pertanian. Apollo adalah lambang tertinggi kebenaran dan moral, melindungi kebaikan, mengusir kejahatan, menetap di Delfi sebagai Orakel.
     Ketika Socrates dituduh merusak generasi muda Athena, tetap tampil sendiri di pengadilan membela diri. Dia berkata: ” Saya bisa terkenal, tidak lebih karena saya bijaksana melampaui orang. ” Riuh rendah seketika di dalam luar pengadilan.
     ” Kebiijaksanaan yang seperti apa? Hanyalah kebijaksanaan manusia biasa! ” Socrates melanjutkan: ” Saya mungkin saja memiliki kebijaksanaan yang begini, tetapi yang dimiliki oleh orang-orang yang tadi saya sebut itu bisa jadi adalah kebijaksanaan manusia luar biasa, siapa tahu; kebijaksanaan begitu saya tentu tidak punya. Mengatakan saya memiliki kebijaksanaan manusia luar biasa adalah tidak benar, berarti sedang menghancurkan karakter saya. Harap tenang, saudara-saudara, sekalipun kalian  sangka saya sedang berbual. Berikutnya saya akan menceritakan suatu hal tapi bukan pengalaman sendiri, sebenarnya sumbernya sangat bisa dipercaya. Saya ingin meminjam nama dewa Delfi untuk menunjukkan kebijaksanaanku, yang masih ada, atau semacamnya. Kalian pasti sudah tahu Chaerephon, dia adalah kawan saya sejak kecil, juga adalah kawan kalian yang bersama-sama pulang dari pembuangan, bukankah begitu? Wataknya kalian pasti sangat jelas, segala hal tanpa tedeng aling-aling. Suatu kali dia pergi ke Delfi dan berusaha bertanya kepada Orakel ——— harap tenang, mohon jangan ribut, saudara-saudara ——— dia bertanya pada Apollo, apakah ada orang yang lebih bijak dari saya, Orakel berkata memang tidak ada orang lebih bijak daripada Socrates. Sayang Chaerephon sudah mati, saudaranya ada di pengadilan ini dan bisa menjadi saksi ”
    Demikianlah hubungan Socrates dan Apollo. Percakapan di atas dikutip dari catatan Plato.

*
    Ketika Socrates maju ke depan pengadilan membela diri usianya sudah tujuh puluh tahun, yaitu 399 Sebelum Masehi
    Dewan juri pengadilan kali itu sangat ramai, mencapai 501 orang. Di antara mereka selain orang-orang Athena yang mengadukan Socrates, juga ada sahabat-sabahat dan murid-muridnya yang mendukung. Musuh-musuh Socrates biasanya disebut kaum sofis. Hari itu Plato dan Xenophon termasuk sahabat-sahabat dan murid-muridnya yang ikut duduk di dewan juri.
     Seusai perkara, Plato berdasarkan pendengaran sendiri menulis [ Apologia ]

*
    Hubungan Xenophon dan Socrates ——— dan Apollo.
    Xenophon yang ingin ikut Cyrus berperang ke Persia, bertanya kepada Socrates. Socrates tahu Cyrus berhubungan baik dengan Sparta, jika menganjurkan muridnya ikut berperang, pasti akan disalahkan orang-orang Athena, dia lalu menyuruh Xenophon berangkat ke Delfi meminta petunjuk Apollo. Xenophon yang sudah kukuh pendirian, bertanya kepada Apollo: ” Aku mesti berdoa dan melakukan persembahan kepada dewa yang mana, agar bisa dengan terhormat pergi perang, dan selamat pulang? ”
     Apollo berkata: ” Berdoa dan lakukan persembahan kepada dewa yang bersangkutan sudah cukup ”
     Xenophon beritahu Socrates perihal tanya jawab dengan Apollo ini, Socrates memarahi dia kenapa tidak bertanya perjalanan ini berbahaya atau tidak, malah membuat keputusan sendiri,  bertekad ingin pergi. ” Baiklah! ” Kata Socrates: ” Sebab kamu sudah bertanya demikian, maka ikutilah petunjuk dewa! ”

*
     Xenophon berangkat berperang ke Persia di tahun 401 Sebelum Masehi. Pangeran Persia Cyrus mengerahkan sepuluh ribu prajurit Yunani yang terutama terdiri dari orang Sparta, menerjang ke timur, tujuannya adalah untuk merebut tahta dari saudaranya. Pasukan ini langsung menusuk masuk, mereka menyeberangi Sungai Eufrat tiba di Babylon, tanpa rintangan berarti. Namun dalam Pertempuran Cunaxa hancur tercerai-berai. Cyrus mati dalam perang, prajurit-prajurit Yunani berputar ke arah utara, bergerak mundur menyusuri Sungai Tigris, makin dalam terjerumus di sekitar Laut Hitam, membelakangi air bergerak ke barat, terus terbirit-birit masuk Byzantium, terakhir baru perlahan bergerak balik ke Yunani. Perjalanan ini disebut sebagai salah satu long march terpanjang dalam sejarah manusia. Xenophon di masa tua menyelami hati menulis [ Anabasis ] merekam peristiwa ini.
     Menurut catatan, Xenophon kembali ke Athena adalah tahun 399 Sebelum Masehi, itu adalah tahun Socrates dituduh, membela diri di pengadilan, mati dihukum minum racun.
     Tidak lama setelah Socrates mati, Xenophon juga dibuang, dosanya adalah ikut dalam perang Cyrus ke Persia dan bekerja sama dengan orang Spartan. Kalau begitu, maka yang dirisaukan Socrates sebelumnya bukan samasekali tanpa alasan.

*
     Xenophon muda sangat cerdas, tetapi bukan termasuk paling menonjol
     Suatu hari Socrates gandeng tongkat berputar-putar di jalanan Athena, bertemu dengan Xenophon di lorong sempit, dia lalu rintang tongkat menghalangi Xenophon, sambil tersenyum bertanya: ” Kemana bisa cicip arak, kemana bisa beli sandal ” dan berbagai macam pertanyaan, anak muda agak malu, tetapi jawabannya mengalir lancar. Socrates lalu memutar pertanyaannya, kemana bisa menciptakan manusia yang indah dan bijak. Xenophon tidak bisa menjawab.
     Socrates berkata: ” Ikuti aku, kuajari! ”

Manusia Baru

Gerundelan Ragil Koentjorodjati

pembebasan
gambar diunduh dari shraddhananda.com

Ada satu cerita tentang seorang bocah yang menginginkan mainan baru. Anggaplah mainan itu sebuah boneka Timmy. Anda tahu, Timmy si anak kambing pada kartun Shaun The Sheep cukup digemari anak-anak. Bukan saja karena bentuknya lucu menggemaskan, tetapi juga karakter yang kuat untuk memenuhi rasa ingin tahu, ciri khas anak-anak. Wajar jika si bocah terpikat dan ingin memiliki boneka Timmy ini. Persoalannya, si bocah telah memiliki banyak boneka di ranjang tidurnya. Beberapa telah bau pesing dan sebagian lainnya kotor berdebu.

Memancing rasa tahu si bocah, sang ibu bertanya,”Mengapa harus beli boneka baru? Bukankah yang lama masih bagus?” Karena si bocah tidak menjawab sesuai dengan keinginan ibunya, ia tidak dibelikan boneka baru. Si ibu lebih senang membeli buku-buku pelajaran untuk si anak yang kadang harus dipanggulnya ketika berangkat sekolah. Ya, saya menyebut dipanggul karena memang buku pelajaran dalam satu hari untuk anak SD mendekati berat beras 10 kg. Begitu berat beban yang dipanggul anak-anak SD jaman sekarang. Dan tentu sebagian besar harus buku baru.

Saya tidak hendak melenceng membahas dunia pendidikan kita yang Anda tahu cukup menyedihkan. Lebih menarik minat saya jika membahas pertanyaan “mengapa harus beli boneka baru?” Pertanyaan ini bisa disubstitusi dengan kata-kata lain seperti: mengapa harus buku baru, mengapa harus rumah baru, mengapa harus mobil baru. Jika lebih abstrak lagi: mengapa harus aturan baru, mengapa harus undang-undang baru, mengapa harus agama baru, mengapa harus baru, termasuk di dalamnya “mengapa harus manusia baru?” Apakah yang baru pasti lebih baik dari yang lama?

Jawaban pertanyaan ini bisa ruwet namun juga bisa sederhana, tergantung dari mindset masing-masing orang. Mindset sebagai seperangkat cara pandang konsep berpikir dan bertindak manusia, memegang peran penting dalam menyikapi fenomena-fenomena di abad ini. Kemudian beberapa ajaran menyodorkan konsep “manusia baru” guna menyikapi jaman yang bagi sebagian orang tampak semakin buruk. Manusia baru yang bagaimana?

Beberapa ajaran dan agama menekankan “manusia baru” sebagai “perpindahan manusia lama yang penuh dosa ke manusia baru yang suci.” Konsep pertobatan, penebusan dosa, berdoa, berpuasa, samadhi, bertapa, pada intinya sebagai usaha “menghapus manusia lama menjadi manusia baru.” Lalu mengapa sekian lama kita tidak melihat perubahan yang berarti dari hadirnya manusia baru hasil proses beribadah, berdoa, berpuasa, mati raga dan lain sebagainya itu? Kita masih cukup kesulitan menemukan sebuah hubungan antar manusia yang saling menghormati dan menghargai. Memang negara ini menganut demokrasi, namun masih jauh dari egaliter. Alih-alih menjadi manusia yang hijrah dari keburukan, konsep manusia baru justru membawa manusia “naik kelas” merasa boleh merendahkan yang lain. Simak kejadian akhir-akhir ini soal film dan kartun Nabi Muhammad. Ada perubahan cara pandang (mindset), tetapi tidak bergeser dari fondasi “ke-aku-an” sehingga yang terjadi adalah cara pandang “surga buatku”, “kabar gembira buatku”, atau “alam semesta buatku.” Salah satu tujuan beribadah, berdoa, berpuasa dan mati raga untuk menjadikan manusia sebagai pembawa kabar gembira, sebagai rahmat bagi alam semesta, tidak tercapai. Berdoa dan beribadah sebagai salah satu cara mengubah mindset -cara pandang lama ke cara pandang baru-, berubah fungsi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan diri sendiri semata.

Kembali ke soal Timmy. Karena sang ibu tidak mengabulkan permohonannya, si bocah berdoa, memohon kepada Tuhan agar keinginannya memiliki boneka Timmy dikabulkan. Itu dilakukan sebab guru-guru agama mengajarkan demikian: berdoalah agar Tuhan mengabulkan permintaanmu. Di suatu malam yang sepi, si bocah berdoa dengan keras sehingga seisi rumah mendengarnya, termasuk sang ayah. Keesokan paginya, sang Ayah membelikannya boneka Timmy. Tuhan telah mengabulkan doanya.

Pertanyaan selanjutnya: apakah Jokowi dan Ahok sebagai pemimpin baru akan lebih baik dari pemimpin lama?

Salam pembaharuan! 🙂

Nyanyian Burung Merak di Tepi Sungai Brokat – Puisi-puisi Xue Tao ( 768? – 831 )

Gerundelan John Kuan

Suatu senja di akhir musim semi, seorang ayah duduk bersama anak gadisnya di pekarangan rumah. Mungkin karena tergoda warna pemandangan di depan mata, atau ingin menguji kemampuan anak gadisnya berpuisi, tangannya menunjuk sebatang pohon Wutong di samping perigi sambil mengucapkan sebait puisi:

Di ujung pekarangan ada sebatang Wutong tua,
ranting-rantingnya menerobos ke dalam awan.

Kemudian melirik anak gadisnya yang duduk di sisinya untuk menyambung, gadis kecil berumur delapan tahun itu seketika melengkapi sebait:

Dahan-dahan menyambut burung selatan utara,
dedaunan mengantar angin pergi dan datang.

Sebait puisi ini telah membuat ayah itu terdiam dan sedih, puisi adalah suara hati dan harapan, bagaimana seorang gadis bisa begini terapung dan terombang-ambing? Gadis itu akhirnya memang menjadi perempuan penghibur.
Ini adalah sepenggal cerita masa kecil Xue Tao yang sering ditemukan di dalam berbagai macam buku, tetapi sangat sulit mengetahui kebenarannya. Cerita serupa begini masih bisa ditemui di dalam catatan masa kecil beberapa penyair perempuan Cina Kuno yang lain. Sepenggal catatan pendek begini menyimpan berapa banyak bias gender di dalam masyarakat Cina Kuno, serta posisi perempuan terpelajar di dalam tradisi Konghucuisme selama ribuan tahun. Seandainya sebait puisi di atas keluar dari mulut seorang anak lelaki, maka komentar dan penilaian akan menjadi sangat berbeda. Sebait puisi dari seorang anak berumur delapan tahun yang begini lincah dan ceria, kenapa tiba-tiba berubah menjadi sebuah kutukan? Jawabannya mungkin akan terlalu panjang dan berat juga menyangkut sebuah tradisi yang sangat tua. Sudahlah, saya tebas paku potong besi, tidak usah bahas lagi.

*

Xue Tao lahir di Chang’an antara tahun 768 sampai 770, tidak dapat dipastikan, di dalam catatan sejarah resmi tidak tercantum riwayat hidupnya, sekalipun Xue Tao selalu dianggap sebagai salah satu penyair perempuan Dinasti Tang yang paling berbakat dan penting.
Ayahnya adalah seorang pejabat pemerintah pusat, tetapi beberapa tahun setelah Xue Tao lahir, dia dipindah-tugaskan ke daerah Sichuan, memegang jabatan bendahara di kantor Gubernur Jenderal Sichuan.
Seluruh masa kecil, remaja hingga hari tua Xue Tao dihabiskan di Sichuan. Sichuan pada masa itu termasuk salah satu provinsi otonomi penuh yang disebut Provinsi Militer dalam catatan sejarah. Provinsi-provinsi ini biasanya dipimpin seorang Gubernur Jenderal, mereka selain memiliki tentara sendiri, bebas mengangkat dan menghentikan pejabat-pejabatnya juga tidak perlu menyetorkan pajak kepada pemerintah pusat di Chang’an. Dan satu-satunya hak intervensi pemerintah pusat terhadap Provinsi Militer adalah hak Kaisar mengangkat semua Gubernur Jenderal,  walaupun demikian, pembangkangan dari beberapa Provinsi Militer tetap terjadi sepanjang paruh kedua abad ke-8 hingga abad ke-9. Ini tentu adalah salah satu masalah yang paling mengerogoti keutuhan Dinasti Tang dan terakhir membuatnya ambruk.
Sichuan bukan Provinsi Militer pembangkang, cukup patuh. Tiap tahun tetap menyetor ke pemerintah pusat, tetapi bukan sebagai setoran pajak melainkan sebagai upeti, dan semua Gubernur Jenderal-nya juga diangkat atau ditunjuk oleh Kaisar. Sedikit kepatuhan ini telah membuat Sichuan agak stabil dibandingkan dengan Provinsi Militer lain, sehingga dapat berkembang menjadi daerah yang cukup makmur dan relatif aman di alam Tang yang terus bergolak. Sekalipun gangguan-gangguan di perbatasan Yunnan dan Tibet masih sering terjadi.
Tahun 782 ayah Xue Tao tiba-tiba meninggal dunia, ini adalah petaka yang mengubah jalan hidup Xue Tao. Ada beberapa versi tentang kematian ayahnya; dihukum mati, terbunuh dalam sebuah pemberontakan di Chengdu, atau sakit. Apapun versinya, Xue Tao yang masih berumur 14 tahun akhirnya harus menjalani hidupnya sebagai seorang perempuan penghibur di tempat hiburan yang dikelola oleh pemerintah untuk keperluan pejabat dan tamu-tamunya. Pada masa itu tempat-tempat hiburan begini berkembang pesat di daerah ‘ lampu merah ‘ Chengdu yang gemerlap. Jika ayahnya dihukum mati karena korupsi maka kemungkinan besar Xue Tao dimasukkan ke rumah hiburan milik pemerintah sebagai hukuman, dan lumrah pada masa itu. Jika ayahnya terbunuh dalam sebuah pemberontakan atau meninggal dunia karena sakit, kemungkinan Xue Tao sendiri yang mendaftar ke rumah hiburan milik pemerintah.
Apapun pilihannya atau hanya sekedar menjawab tantangan hidup, Xue Tao memang menjadi seorang perempuan penghibur resmi, masuk ke dalam sebuah dunia di mana perempuan dihargai sebagai pendamping bicara, tempat curhat, seniman, di mana bakat dan kecerdasan lebih diutamakan daripada kecantikan, tempat lelaki rileks atau membuat persekongkolan politik atau persetujuan bisnis atau mencari perempuan pendamping yang secara intelektual tidak mampu dipenuhi oleh isterinya yang terbatas pendidikannya. Tentu, seks juga merupakan bagian dunia ini, tetapi bukan bagian yang terbesar.
Perempuan penghibur di jaman Dinasti Tang tidak sesempit pemahaman sekarang. Perempuan penghibur pada masa itu terbagi dalam berbagai tingkatan sesuai keperluan, Xue Tao termasuk perempuan penghibur resmi, dia bekerja, diatur dan dilindungi pemerintah, dia juga harus membayar pajak. Perempuan-perempuan penghibur resmi juga sering tampil dalam acara-acara resmi, sehingga kesempatan mereka berkenalan dengan lelaki-lelaki yang memiliki kuasa dan terdidik lebih terbuka.
Xue Tao dengan bakatnya yang begitu menonjol dalam usia muda belia tentu telah mencuri perhatian tokoh-tokoh penting Sichuan. Dan memang, tiga tahun kemudian, dia sudah sering dipanggil untuk mendampingi Gubernur Jenderal Sichuan yang baru menjabat bernama: Wei Gao, dalam acara resmi maupun pesta pribadi. Hubungan mereka sangat khusus, tetapi kita tidak dapat menduga seberapa jauh hubungan tersebut, apakah hubungan kekasih atau teman atau patron. Wei Gao adalah salah satu Gubernur Jenderal Sichuan yang sangat berpengaruh, dia memegang jabatan ini selama 21 tahun, memberikan Sichuan ketenteraman dan kemakmuran yang jarang ada pada periode itu di dataran Cina.
Dua tahun kemudian, Wei Bao membantunya melepaskan diri sebagai perempuan penghibur. Setelah memperoleh kebebasan dia memilih menetap sendiri di tepi Sungai Brokat, usianya baru dua puluh tahun. Ini adalah sebuah pilihan yang sangat berani, pada jaman itu seorang perempuan muda berani memilih hidup sendiri sebagai veteran perempuan penghibur adalah tantangan yang sulit kita bayangkan. Dia tetap mencari hidup dengan menulis puisi, mendampingi Gubernur Jenderal dalam acara resmi maupun pesta pribadi hingga Wei Gao mendadak meninggal dunia di tahun 805. Pada masa itu selain sebagai pendamping Gubernur Jenderal dalam acara-acara resmi, Xue Tao juga mempunyai sebuah jabatan setengah resmi: nujiaoshu ( semacam sekretaris ), disebut tidak resmi karena pengangkatan ini tidak disetujui pemerintah pusat. Sekalipun setengah resmi, dan tugas jabatan ini juga sangat ringan, tetapi dia mungkin merupakan perempuan pertama yang masuk dalam birokrasi pemerintah dalam sejarah Cina. Mendampingi Gubernur Jenderal dalam acara resmi dan memegang jabatan jiaoshu setengah resmi ini terus dilakukan Xue Tao hingga hari tua, dia melewati sebelas periode Gubernur Jenderal.
Awal musim semi 809, melalui seorang teman Xue Tao berkenalan dengan Yuan Zhen. Sebagai penyair dan kaligrafer, nama Xue Tao sudah lama menyebar keluar daerah Sichuan, cukup terkenal di kalangan sastrawan dan kaum terpelajar, dan Yuan Zhen adalah sebiji bintang yang sedang bersinar di dunia sastra dan politik. Menurut cerita, dalam waktu singkat Xue Tao sudah jatuh cinta pada Yuan Zhen yang muda, berbakat dan flamboyan itu. Seandainya cerita ini benar, siapa bisa sangka perempuan sangat matang ini akan bertemu dengan sepotong cintanya yang paling mewah di saat begini. Dia 40 tahun dan Yuan Zhen 31. Seandainya cerita ini benar, maka kita pasti juga tahu hubungan ini tidak akan berhasil, terlalu banyak rintangan yang mesti dilalui, lagipula Yuan Zhen terkenal sebagai penyair Tang yang paling playboy. Tidak tahu ada berapa banyak perempuan telah membasuh muka dengan airmata demi dia. Sepotong kisah cinta ini sudah terlalu banyak kali ditulis ulang dan sangat sulit dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Dalam catatan pendek ini saya rasa tidak perlu lagi dipanjang-lebarkan.
Tidak sulit untuk memahami mengapa Xue Tao hidup sendiri hingga akhir hayat, terlepas dari benar tidaknya pengaruh hubungannya dengan Yuan Zhen yang singkat dan cepat menjadi masam itu. Dia jelas adalah seorang perempuan yang memiliki pikiran sangat mandiri, sekalipun untuk ukuran jaman sekarang. Bagi seorang perempuan yang sejak umur 14 tahun sudah menghidupi diri sendiri, saya kira dia juga sangat mandiri secara ekonomi. Ditambah namanya yang kian berkibar dan lingkungan pergaulannya, semua ini tentu membuat dia sulit menemukan pasangan yang cocok.
Di usia senja, Xue Tao lebih banyak menghabiskan waktu mempelajari ajaran Tao, sering berpenampilan sebagai pendeta Tao, hidup menyepi di tepi Sungai Brokat. Tetapi ini bukan pertapaan, dia masih melayani undangan-undangan dari Kantor Gubernur Jenderal, menerima teman-temannya dari dunia sastra dan politik hingga hidupnya berakhir. Dia meninggal dunia pada tahun 831, menikmati hidup 63 tahun. Xue Tao mungkin adalah penyair Tang Tengah yang paling luas pergaulannya. Dia pernah mendampingi sebelas orang Gubernur Jenderal Sichuan, dia kenal dan saling bertukar puisi dengan hampir semua penyair penting Tang Tengah, seperti: Bai Juyi, Yuan Zhen, Wang Jian, Zhang Ji, Liu Yuxi, Du Mu…
*

Puisi-puisi Xue Tao jarang ditemukan di dalam antologi-antologi yang disusun kemudian, termasuk antologi puisi Tang yang paling populer: Antologi 300 Puisi Tang. Di dalam Antologi Lengkap Puisi Tang terdapat satu bab puisi Xue Tao yang berisi 89 puisi. Jika melihat Antologi yang berisi 42.863 buah puisi dari 2529 penyair ini, dan hanya ada sekitar 600 buah puisi yang ditulis oleh 130 penyair perempuan, maka 89 buah puisi Xue Tao adalah jumlah yang luar biasa. Konon, Xue Tao juga pernah menerbitkan sebuah buku puisi yang diberi nama: Kumpulan Puisi Sungai Brokat, berisi 500 buah puisi-puisinya, sayang buku ini lenyap ditelan jaman.
Selain puisi, jejak-jejak Xue Tao masih bisa kita temui di sebuah taman bernama Taman Tatapan Sungai, yang berada di tepi Sungai Brokat, Chengdu. Pada masa Dinasti Qing ( 1644 – 1912 ) dibangun sebuah pagoda bernama Pagoda Tatapan Sungai untuk mengenang penyair ini, tidak jauh dari Gubuk Du Fu dan Kuil Zhuge Liang. Di dalam taman ini juga ada sebuah sumur yang diberi nama Sumur Xue Tao, dan rumahnya kemungkinan juga berada di dalam taman, sayang sudah tidak berbekas. Rumah penyepian ini dia beri nama: Pagoda Resital Puisi
Puisi-puisi terjemahan dalam catatan ini tetap tidak saya bahas seperti catatan-catatan terjemahan puisi Cina Klasik sebelumnya, biar pembaca yang budiman sendiri menilai dan menikmatinya.

Angin

Sehabis mengejutkan anggrek, wangi lembut bersemilir
jauh, terbang menyentuh senar kecapi jadi satu denting.

Pucuk pepohonan terang bersih, daun-daun berebut jatuh
gemericik, sepanjang setapak hutan pinus, malam sejuk sepi


猎蕙微风远,飘弦唳一声。
林梢明淅沥,松径夜凄清。
Menatap Musim Semi
1.

Bunga mekar, siapa berbagi nikmat
Bunga gugur, siapa berbagi pilu.
Ingin tanya, di mana rindu paling mengaduk
saat bunga mekar atau saat bunga gugur.

2.

Petik rumput dan ikat, satu simpul kekasih
buat kukirim yang tahu nyanyian hati
Baru saja potong kusut gelisah musim ini,
ai, burung terperangkap musim semi menjerit lagi

3.

Bunga di dalam angin, hari ditiup tua. Musim
terindah kita, seakan telah pupus dan jauh
Tiada orang mengikat simpul hati, percuma
petik rumput mengikat simpul kekasih.
4.

Bagaimana menahan, bunga rekah sedahan
penuh, berkepak berguling jadi dua buah rindu.
Untaian giok bening gantung di cermin pagi,
tahu atau tidak dia, hei, angin musim semi?
春望词四首

1.

花开不同赏,花落不同悲。
欲问相思处,花开花落时。
2.

(扌监)草结同心,将以遗知音。
春愁正断绝,春鸟复哀吟。
3.

风花日将老,佳期犹渺渺。
不结同心人,空结同心草。
4.

那堪花满枝,翻作两相思。
玉箸垂朝镜,春风知不知。
Dalam Pembuangan ke Tanah Perbatasan Mengenang Tuan Wei
( dua nomor pilih satu )
Pernah dengar kota perbatasan pahit
empedu, habis mencicip baru tahu
Kian malu, telah kupetik irama dari balik
pintumu, nyanyi bersama prajurit di tanah jauh

罚赴边有怀上韦令公二首

闻道边城苦,而今到始知。
却将门下曲,唱与陇头儿。

Menjawab Orang Bercengkerama dengan Bambu Sehabis Hujan
Saat hujan musim semi tiba di langit selatan,
bisa cermati lagi —— o, betapa ganjil —— gerak lekuk
embun beku dan salju. Seluruh tumbuhan sedang rindang
hijau berbaur, tinggal dia sendiri tegar hampakan hati.
Di situ tujuh bijak hutan bambu bertahan mabuk arak dan puisi,
daunnya sejak dulu berbintik airmata pilu Sang Permaisuri.
Bila tahunmu masuk musim dingin, tuan, kau pantas kenal
dia lagi, hijau dingin kelabu, beruas langka dan kukuh

Catatan:
Tujuh bijak hutan bambu adalah tujuh orang sastrawan yang melawan pemerintah Dinasti Jin ( 265 – 420 ) dengan tidak menerima jabatan apapun dari Kaisar, lebih memilih cara hidup yang agak bohemia, sering berkumpul di hutan bambu minum arak sambil berpuisi.

Sang Permaisuri adalah isteri Raja Shun yang dipercaya hidup pada abad ke-23 SM, karena sedih akan kematian suaminya, menurut legenda percikan airmatanya telah menempel jadi bintik-bintik di daun bambu yang kemudian dikenal sebagai bambu berdaun bintik

酬人雨后玩竹

南天春雨时,那鉴雪霜姿。
众类亦云茂,虚心宁自持。
多留晋贤醉,早伴舜妃悲。
晚岁君能赏,苍苍劲节奇。

Serpihan Bunga Dedalu
Awal Maret bunga dedalu ringan juga gemulai,
angin musim semi goyang membuai baju orang.
Dia aslinya memang benda tiada rasa, sudah
bilang terbang selatan malah terbang utara

柳絮咏

二月杨花轻复微,春风摇荡惹人衣。
他家本是无情物,一向南飞又北飞。

Tepi Sungai
Mendadak angin barat melapor, berpasang-pasang angsa liar
telah tiba, dunia fana, hati dan rupa merosot berdua.
Jika bukan tersebab surat rahasia di perut ikan, ada mantera
cinta, siapa kuat mimpi bersambung mimpi tegak di tepi sungai.

江边

西风忽报雁双双,人世心形两自降。
不为鱼肠有真诀,谁能夜夜立清江。

Jalan-jalan ke Pinggiran Kota di Musim Semi: Buat Suhu Sun
Pagi ini biarkan mata bermain wangi semerbak,
sehelai kain bunga melingkar gaun ujung berenda.
Sepenuh lengan sepenuh kepala sepenuh genggam,
biar orang tahu aku baru pulang melihat bunga.

春郊游眺寄孙处士二首

今朝纵目玩芳菲,夹缬笼裙绣地衣。
满袖满头兼手把,教人识是看花归。

Buat Seseorang di Jauh
( dua nomor pilih satu )
1.

Sekali lagi habicus jatuh, gunung Tanah Su
masuk musim gugur,
buka sepucuk surat bersulam syair, hanya bersua sedih.
Di kamar perempuan, kami tidak tahu apapun
tidak pedang tidak kuda,
saat bulan tinggi, kembali daki menara janda menatap jauh.

赠远二首

芙蓉新落蜀山秋,锦字开缄到是愁。
闺阁不知戎马事,月高还上望夫楼。

Tentang Kuil Pucuk Awan
1.

Konon lumut di Kuil Pucuk Awan, saat angin tinggi
matahari dekat, terbebas dari segala debu dunia.
Awan lintas memercik mewarna dinding padma,
seolah sedang menunggu penyair dan bulan mustika.
2.

Konon bunga di Kuil Pucuk Awan, terbang di udara,
berputar di tangga batu, menyusuri lengkung sungai.
Kadang juga bisa mengunci cermin Chang’er, sang bulan
mengukir awan semu merah di istana Ratu Langit Barat.

赋凌云寺二首
闻说凌云寺里苔,风高日近绝纤埃。
横云点染芙蓉壁,似待诗人宝月来。
闻说凌云寺里花,飞空绕磴逐江斜。
有时锁得嫦娥镜,镂出瑶台五色霞。

Antar Seorang Teman
Malam negeri sungai, pucuk gelagah berselaput embun
beku, bulan gigil gunung berpijar, serentak hijau kelabu
Siapa bilang seribu li dimulai malam ini, jarak mimpi
sepanjang jalan menuju gerbang perbatasan.

送友人

水国蒹葭夜有霜,月寒山色共苍苍。
谁言千里自今夕,离梦杳如关塞长。

Kirim Sajak Lama Buat Yuan Zhen
Terangsang mengaduk puisi siapa juga punya,
hanya aku sendiri tahu menangkap lekuk rinci
angin dan cahaya, bersenandung bunga di bawah bulan,
sedih akan yang pupus dan layu, atau tulis dedalu
di pagi gerimis, demi rerantingnya lengkung berayun.
Perempuan bagai giok hijau simpan di dasar rahasia,
tapi aku tetap sesuka hati menulis di kertas syair merah.
Tumbuh menjadi tua, siapa bisa rangkum karya lama
dan memperbaiki seluruh kesalahan, maka aku kirim
sajak ini buatmu, tampak seolah mengajar seorang bocah

寄旧诗与元微之
诗篇调态人皆有,细腻风光我独知。
月下咏花怜暗淡,雨朝题柳为欹垂。
长教碧玉藏深处,总向红笺写自随。
老大不能收拾得,与君开似好男儿。

Abelard, Heloise, Birahi dan Reinkarnasi

Gerundelan John Kuan

tragedy love story
Gambar diunduh dari http://www.derekdelintfansite.com

Sudah beberapa kali saya melepaskan kesempatan mengunjungi Cina, selalu merasa sebaiknya menjaga sedikit jarak, mungkin dengan begini akan lebih bagus terhadap panoramanya, produk budayanya, atau orang-orang yang hidup di dalam sejarahnya. Pernah seorang teman bertanya seandainya saya berkunjung ke Cina lagi, paling ingin kemana, saya menjawab Yicheng dan Tibet.    Yicheng dan sekitarnya adalah daerah pengembaraan dan tempat Li Bai menumpang hidup di masa tua. Nama tempat ini agak jarang disebut, ia terletak di barat laut provinsi Hubei, atau mungkin saya kasih titik koordinat saja: 111°57′-112°45′ bujur timur, 31°26′-31°54′ lintang utara.

Dan Tibet, adalah demi berbagai lapis perbandingan sejarahnya dan letak geografinya, tentu juga demi agamanya.

*

Reinkarnasi lama, saya kira, adalah satu hal yang paling misterius di dunia moderen ini. Dan yang percaya akan hal ini kelihatannya sungguh tidak sedikit ——— bahkan yang tidak percaya agama Buddha Tibet juga mengakuinya dalam diam. Ini adalah salah satu sisi yang memancarkan kebaikan dunia manusia, saya berharap akan terus berlangsung. Kadang-kadang penganut agama Kristen terhadap perihal tertentu bisa menjadi sangat ketat dan sempit, seringkali memiliki semacam gaya ‘ ketika menguasai sebuah perdebatan, akan mengejar hingga lawan kehabisan nafas ‘, tetapi terhadap reinkarnasi lama, seperti tidak ada orang yang tampil meragukannya. Mengikuti perkembangan ini, tampaknya kelanjutannya tidak ada masalah besar.

 

*

Reinkarnasi lama biasanya seperti tidak keluar dari lingkup Dataran Tinggi Tibet.

Pada 3 Maret 1984 Lama Yeshe mencapai nirwana di San Fransisco, tanggal 12 Februari tahun berikutnya ada seorang bayi laki-laki lahir di Granada, Andalusia Spanyol, ternyata adalah reinkarnasi sang lama. Granada adalah dunia agama Katolik Spanyol kuno, Federico Garcia Lorca pernah menulis sebuah puisi, judul dan temanya mengambil ‘ Santo Mikael ‘, dengan Malaikat Agung Santo Mikael sebagai malaikat pelindung Granada. Saya pernah coba menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia, puisinya sekitar enam puluh baris, bait pertama dan bait terakhir kira-kira begini:

 

Dari pagar balkon juga bisa kelihatan

bayang antara barisan keledai dan barisan keledai

penuh memikul bunga matahari, telah mendaki

gunung, gunung, gunung

 

……

 

Santo Mikael, raja segala benda Langit

raja diraja sejak dahulu kala

penuh dengan keagungan orang Berber

jeritan dan keanggunan jendela balkon

 

bagaimana seorang lama bisa memilih reinkarnasi di dunia seperti di atas? Tetapi menurut cerita, semasa hidup lama Yeshe pernah beberapa kali ke Granada menyebarkan Darma, dan kedua orangtua anak lelaki itu: Osel Hita Torres, adalah pengikut agama Buddha Tibet, ah, rupanya mereka adalah murid-muridnya!

Ketika Osel Hita Torres berumur dua tahun, dia dibawa orangtuanya ke India, Dalai Lama menatapnya dari dekat, memastikan bahwa anak Spanyol ini memang reinkarnasi lama Yeshe, maka prosesi masuk kuil dilakukan, dia menjadi pemimpin Kuil Kopan di Nepal, melanjutkan posisi lama Yeshe sebelumnya. Di seluruh dunia bukan sedikit orang yang tahu hal ini, saya kira, dan semua orang membelalakkan mata lihat, diam-diam mengakui maknanya yang penuh misteri itu, tanpa hingar-bingar.

Ini sungguh mitologi moderen yang paling menyentuh, sebuah kitab wahyu besar yang sulit dijelaskan. Saya sampai tidak tahan menulis sebuah puisi, meniru gaya nyanyian rakyat. Mengapa menggunakan gaya ini? Rupanya Malaikat Agung Santo Mikael yang di bawah pena Lorca membimbing saya, Granada yang dia lindungi membimbing saya.

 

     Datanglah datanglah, datang sampai di Andalusia

     Carilah daku carilah daku di Granada yang jauh…

 

*

Rasa kesunyian yang diberikan agama kepada manusia dapat saya bayangkan, bahkan saya percaya saya dapat menghargai kesunyian begini. Asketisme adalah sesuatu yang mulia, hal ini saya setuju juga, maka membaca karya sastra Barat abad pertengahan, masih bisa memahami.

Konon, agama juga memberi orang rasa khidmat dan puas. Mengenai ini saya masih belum bisa memahami. Kadang-kadang di dalam filem menunjukkan adegan demikian, misalnya seorang prajurit yang telah mengalami duka dan luka pelan-pelan bersujud menghadap angin dan awan di padang luas berdoa, rendah hati, lelah, dan di jauh seperti ada cahaya ilahi berpijar, menciptakan semacam rasa khidmat dan puas, seperti juga sangat mengharukan. Namun saya berpikir kembali, yang membuat hati tersentuh, bukan ‘ seperti ada cahaya ilahi berpijar ‘, bagi saya, yang menggetarkan hati, rupanya adalah efek yang dihasilkan dari crescendo musik latar.

*

Kesunyian relijius membuat orang tetap memiliki kesempatan kontemplasi, memang bagus.

Membuang dan menutup hawa nafsu seharusnya juga merupakan satu bagian dari kesunyian.

Saya sering berpikir: yang paling sulit di dalam kehidupan biara, pasti adalah membuang dan menutup hawa nafsu. Seorang lelaki atau perempuan di masa remaja karena hasutan sisi rohani meninggalkan kehidupan duniawi, masuk ke dalam kesunyian relijius, menjadi biarawan, memutuskan akar dari perasaan dan emosi alamiah, menekan birahi, bagaimanapun adalah sesuatu yang sulit dipercaya.

Walaupun sulit dipercaya, namun saya memilih sikap tidak begitu curiga ——— memang sulit, tetapi bukan samasekali tidak mungkin.

*

Perancis di abad ke-12 ada seorang teolog bernama Abelard, dengan pengetahuan yang luas dan penampilan yang menarik menjadi sangat terkenal di seluruh Eropa, kemudian karena hubungan percintaan dengan muridnya, seorang gadis bernama Heloise, dia menikah dan mempunyai anak secara rahasia, melanggar sumpahnya, mereka masing-masing dikurung di dalam biara, seumur hidup tidak bisa bertemu. Ada yang menceritakan bahwa di masa tua Abelard menulis surat kepada teman, menyayangkan cinta lamanya yang makin kabur; hal ini diketahui Heloise, lalu menulis surat mengutarakan cintanya yang masih tumbuh merambat. Setelah keduanya meninggal dunia, surat-surat cinta mereka dicetak dan dibaca, menjadi salah satu kisah legendaris abad pertengahan yang paling memilukan dan memukau. Penyair Inggeris abad ke-18 Alexander Pope menulis sebuah puisi panjang: Eloisa to Abelard, membayangkan penerimaan dan penolakan Heloise terhadap cinta dan nafsu, membuat orang tercengang. Salah satu bagian seperti begini:

 

Datanglah, Abelard! Apa yang membuat kau takut?

Obor Venus tidak dibakar untuk yang mati.

Kemampuan alamiah tidak teledor, hanya agama tidak perbolehkan;

sekalipun kau mati jadi dingin, Eloisa tetap mencintaimu.

Ah putus asa ini, lidah api tak padam! Seperti demi yang mati membakar

terang, percuma cahaya yang hangatkan tempat abu tulang.

 

Setiap kali aku beralih pandang, apa pula itu?

Paras yang akrab, ke arahnya aku terbang mengejar,

bangkit dari dalam pepohonan, bangkit di depan altar,

menodai jiwaku, membuat sepasang mataku berenang liar,

Berkeluh demi kau, meniup mati lampu doa subuh,

kau diam-diam ikut campur di antara aku dan tuhan,

di dalam setiap himne aku seperti bisa mendengar dirimu,

sebiji rosari dihitung, setetes airmata lembut jatuh,

dan di saat gulungan awan harum dari tungku membumbung,

suara organ penuh berisi naikkan jiwaku berkibar,

begitu teringat dirimu, semua kekhidmatan menghilang,

biarawan, lilin panjang, gereja, berenang di depan mataku:

jiwaku yang terempas karam di dalam lautan lidah api,

dan altar menyala, malaikat-malaikat geleng menoleh.

 

Aku menelungkup di dalam kesedihan yang rendah, di sini

butiran kelembutan, kebajikan berkumpul di dalam kelopak mata,

aku gementar berdoa, berguling di dalam debu dunia,

mulai tahu di kedalaman jiwa kehormatan berpijar bagai cahaya fajar ———

Datanglah, kau yang paling sempurna, jika berani

dengan diri melawan Langit, merebut hatiku,

datanglah, dengan lirikan sepasang mata yang menggoda

sirnakan seluruh gambaran benderang sepenuh langit!

Bawa seluruh kehormatan, kesedihan, airmata itu pergi,

bawa seluruh pengakuanku yang tak berbuah dan doa pergi,

renggut aku, satu tarikan ke atas, renggut aku dari tempatku yang diberkati,

bantu setan-setan merebut paksa diriku dari sisi tuhan!

 

Tidak, tinggalkan aku jauh-jauh bagai kutub selatan buat kutub utara!

biarkan Gunung Alpen memisahkan kita, lautan luas menggemuruh.

Jangan datang, jangan tulis surat, tolong jangan mengingat diriku,

juga jangan seperti aku karena dirimu hati menjadi pedih!

Sumpah dapat dibatalkan, aku akan menghapus kenangan masa lalu,

lupakan aku, buanglah aku, sungguh-sungguh membenciku.

Mata yang indah, tampang memikat ( aku bisa melihatnya )

adalah paras yang telah lama aku cinta dan harap, selamat tinggal!

Oh cahaya kehormatan khidmat, oh kebajikan seindah Langit,

kelupaan suci membebaskan kegelisahan rendah!

Harapan yang segar merekah, gadis riang lembut punya Langit,

dan Keyakinan, kekekalan dini kita!

Silakan masuk, setiap tamu yang damai, yang ramah,

terima diriku dan selimuti aku di dalam peristirahatan kekal.

 

 

Come, Abelard! for what hast thou to dread?

The torch of Venus burns not for the dead.

Nature stands check’d; Religion disapproves;

Ev’n thou art cold–yet Eloisa loves.

Ah hopeless, lasting flames! like those that burn

To light the dead, and warm th’ unfruitful urn.

 

What scenes appear where’er I turn my view?

The dear ideas, where I fly, pursue,

Rise in the grove, before the altar rise,

Stain all my soul, and wanton in my eyes.

I waste the matin lamp in sighs for thee,

Thy image steals between my God and me,

Thy voice I seem in ev’ry hymn to hear,

With ev’ry bead I drop too soft a tear.

When from the censer clouds of fragrance roll,

And swelling organs lift the rising soul,

One thought of thee puts all the pomp to flight,

Priests, tapers, temples, swim before my sight:

In seas of flame my plunging soul is drown’d,

While altars blaze, and angels tremble round.

 

While prostrate here in humble grief I lie,

Kind, virtuous drops just gath’ring in my eye,

While praying, trembling, in the dust I roll,

And dawning grace is op’ning on my soul:

Come, if thou dar’st, all charming as thou art!

Oppose thyself to Heav’n; dispute my heart;

Come, with one glance of those deluding eyes

Blot out each bright idea of the skies;

Take back that grace, those sorrows, and those tears;

Take back my fruitless penitence and pray’rs;

Snatch me, just mounting, from the blest abode;

Assist the fiends, and tear me from my God!

 

No, fly me, fly me, far as pole from pole;

Rise Alps between us! and whole oceans roll!

Ah, come not, write not, think not once of me,

Nor share one pang of all I felt for thee.

Thy oaths I quit, thy memory resign;

Forget, renounce me, hate whate’er was mine.

Fair eyes, and tempting looks (which yet I view!)

Long lov’d, ador’d ideas, all adieu!

Oh Grace serene! oh virtue heav’nly fair!

Divine oblivion of low-thoughted care!

Fresh blooming hope, gay daughter of the sky!

And faith, our early immortality!

Enter, each mild, each amicable guest;

Receive, and wrap me in eternal rest!

 

Bait pertama di atas dengan cahaya api melambangkan cinta, disebut ‘ obor Venus ‘, adalah biarawati memohon Abelard datang, masuk ke dalam hati dan pikirannya, hidup nyalakan cinta dan birahinya, membuka kemampuan alami hidup dan nafsu. Bait kedua makin jelas menggambarkan yang siang malam dibayangkan Heloise adalah paras Abelard, sekalipun di depan altar juga tidak sirna, sehingga merasa Abelard telah masuk mengacau penglihatannya, berdiri di antara dia dan tuhan. Empat baris di awal bait ketiga, Heloise sendiri merasa terguncang oleh lindungan tuhan, merasa telah kehilangan kekuatan hati buat memikirkan Abelard, maka kian tidak peduli dengan bergelora memanggil nama Abelard, memohon dia dengan cintanya melawan tuhan, merebut hatinya, menghapuskan gambaran-gambaran malaikat di depan matanya, lalu bergabung dengan setan, merampas dirinya dari dekapan tuhan. Sekarang kita tahu nafsu adalah tidak baik, atau setidaknya di depan altar adalah sesuatu yang buruk, yang berlumuran dosa, yang dikuasai setan ——— dan Heloise dengan lantang meminta Abelard bersama setan, menuntaskan cinta dan birahinya terhadapnya. Ini adalah klimaks dari cinta yang menggelora dan gila, membuat pikiran orang terombang-ambing. Bait terakhir dimulai dengan [ Tidak ], Heloise jatuh dari puncak kegilaan cinta ke dalam kenyataan yang mati senyap, kembali ke dalam kesunyian yang mengelilingi biara, lelah, takut, lemah, hilang rasa, memohon malaikat menerimanya sebagai seorang biarawati yang taat, dan [ menyelimutinya di dalam peristirahatan kekal ].

Puisi Pope ini, telah memiliki kerangka discovering psychology, beberapa ratus tahun setelahnya, bagi yang pernah bersentuhan dengan psikologi analisis Freud, pasti akan melihat isyarat-isyarat seksualitas yang kuat di dalamnya. Dengan sedikit lebih dekat memperhatikan penggalan puisi yang tidak sampai lima puluh baris ini, dapat menguak gambaran yang diberikan Pope, mungkin adalah semacam proses masturbasi, adalah proses segelombang-segelombang menggulung naik gemuruh tumpukan fantasi seks Heloise. [ Merebut paksa diriku dari sisi tuhan ] tentu adalah klimaks, selanjutnya pelan-pelan surut, masuk ke alam kegelisahan, bimbang, penyesalan, dan putus asa.

*

Sesuai data sejarah sastra, ketika Heloise digoda, dirinya masih seorang gadis muda, sedangkan Abelard sudah lama melampaui parobaya. Setelah skandal ini meletus, Abelard dikebiri, dikurung di biara, Heloise juga dikurung di biara perempuan, membawa kenangan yang tak terkira.

Bagi Abelard, menghadapi [ biarawan, lilin panjang, gereja ] tidak terlalu sulit, walaupun masa lalu membuat sedih dan putus asa. Bagi Heloise, semua itu adalah hukuman tambahan yang dipaksakan dunia luar kepadanya: dia kehilangan kekasih, anak, dusun dan ladang, disekap di balik tembok biara; masa lalu tentu membuat orang sedih dan putus asa, yang terpampang di depan mata juga membuat sedih dan putus asa.

 

*

Umpama Heloise tidak mengalami sepenggal kisah dengan Abelard itu, umpama dia sejak gadis dan masih perawan sudah dibawa masuk ke biara sebagai biarawati, dia tentu tidak akan mempunyai nafsu yang begitu kuat bagai arus pasang naik. Kita seperti bisa begitu mengumpamakan, namun juga belum pasti.

Dengan demikian, kesunyian seharusnya adalah ritme kehidupan yang paling alamiah. Dia menengadah ke arah tuhan dan malaikat, khusuk mendengar lonceng doa subuh, bayang cahaya lilin panjang membawa damai hening dan ketaatan. Di bawah situasi begini, Heloise mungkin tidak akan mengalami pertentangan antara tubuh dan jiwa. Kemungkinan akan begini, namun juga belum pasti. Hal ini begitu sulit, begitu sulit benar-benar dipahami.

*

Mengekang nafsu di mulut dan perut, kekuasaan dan harta, nama dan lain-lain bisa dipahami, bisa dilaksanakan, hanya mengekang birahi adalah tantangan paling besar dalam hidup, dan yang bisa benar-benar teguh melaksanakannya sepanjang hidup sungguh sangat sedikit.

*

Apakah tuhan juga perlu mengekang birahi?

*

Maksud saya tuhan yang esa, apakah dia perlu mengekang birahi? Saya pikir, tuhan, yang esa itu, awalnya juga tidak mengekang birahi, kalau tidak dia tentu hanya menjadi tuhan bagi biarawan-biarawan yang teguh dan suci, dan tidak akan sejak awal sudah menjadi tuhan yang kita menengadah bersama.

 

*

Agama mendidik penganutnya dengan ‘ pengekangan nafsu ‘ yang terkandung di dalamnya, adalah hal yang baik. Seandainya ingin melalui pengekangan nafsu, meraba ke arah pertapaan, kesunyian, kehampaan, maka pasti harus ada sedikit ketentuan ——— yang disebut terakhir itu bukan setiap orang memerlukannya. Menurut saya, melakukan pengekangan nafsu, manusia masih bisa terus berkembang biak dan berkelanjutan, namun terhadap yang lain-lain mungkin agak sulit diduga.

Kecuali kita sungguh percaya perihal reinkarnasi itu.